
Rumah Sakit Bichat Claude Bernard, Paris.
Di ruang perawatan lantai empat, seorang gadis tampak sedang duduk di tepi ranjang pasien. Mata birunya yang jernih tampak sangat fokus dan serius, jari-jari lentiknya mengoleskan obat pada luka sobek di bagian dagu pria yang duduk di depannya dengan sangat hati-hati. Sesekali bibir tipisnya meniup-niup udara ketika mendengar desisan pelan terdengar dari mulut pria itu.
“Sudah kubilang panggil perawat saja, kenapa tidak mau?” gerutu gadis itu dengan kedua alis bertaut di kening, “Lagi pula kenapa ceroboh sekali? Sudah kubilang tidak perlu mencuci muka, tidak ada yang akan memperhatikan wajah jelekmu itu. Sekarang lihat, semuanya jadi basah dan harus diobati ulang.”
Hansel mengulum senyum mendengar omelan Cecille. Gadis bodoh itu ... apakah tidak tahu kalau ia sengaja membasahi lukanya? Tentu saja ia lakukan demi mendapat perhatiannya.
“Dilihat dari dekat, kamu cukup imut. Sayangnya ... terlalu cerewet.”
“Huh?” Cecille mendongak dan menatap Hansel, tidak mengerti arah pembicaraan yang tidak sinkron itu. Sedetik kemudian, ia melotot dan berseru, “Coba kamu katakan sekali lagi?!”
Cecille menekan plester dengan keras di dagu Hansel, membuat pria itu berjengit dan berseru, “Aw! Sakit!”
“Rasakan!” Cecille mencibir dan berjalan menuju meja, mengambil tasnya yang ada di sana dan bersiap untuk pergi.
Melihat gerak-gerik gadis itu, Hansel tidak bisa menahan diri dan bertanya, “Kamu mau ke mana?”
“Pulang. Memangnya ke mana lagi?”
“Oh. Aku pikir kamu ingin kembali mengintai di hotel, atau menjenguk secret admire-mu di penjara,” goda Hansel sambil mengelus dagunya yang sakit. Ia mendapat tiga jahitan di bahu dan dua jahitan di pelipis. Untunglah luka di dagunya tidak terlalu dalam sehingga tidak perlu dijahit.
Mata Cecille menyipit. Ia bersedekap dan membalas dengan angkuh, “Dengan perilaku dan mulut setajam ini, pantas saja kekasihmu menikah dengan orang lain.”
Serangan balasan itu sangat presisi. Hansel hampir tersedak. Namun, sedetik kemudian, ia berhasil menguasai diri dan menjawab, “Pria yang kamu cintai menikah dengan orang lain, pria yang tidak kamu cintai mengejarmu seperti orang gila. Tidakkah menurutmu itu sangat ironis?”
“Kamu ...!”
Cecille mengepalkan tangan kuat-kuat. Rasanya ia ingin menghantamkan tasnya ke kepada pria menjengkelkan di atas ranjang itu. Namun, mengingat pria itu sudah mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya, maka ia menahan diri dan mencoba untuk mengalah.
“Katakanlah apa pun yang kamu mau kalau itu membuatmu merasa nyaman. Aku pergi dulu.”
“Tunggu!”
Langkah kaki Cecille tertahan di udara.
“Ada apa?” tanyanya tanpa membalikkan tubuh.
“Temani aku ....”
“Tidak ada waktu,” jawab Cecille. Ia tidak menoleh sama sekali, mengangkat dagunya tinggi-tinggi dan kembali berjalan menuju pintu.
“Kamu tidak kasihan kepadaku? Setidaknya karena sama-sama sedang patah hati, hibur aku sebentar. Aku janji tidak akan menggodamu lagi,” bujuk Hansel dengan nada suara yang rendah dan mengandung sedikit permohonan.
Cecille melirik sekilas. Pertentangan batin bergejolak dalam dadanya, ingin tetap pergi atau mengabulkan permintaan pria di atas ranjang itu. Akhirnya setelah menghela napas dan mengembuskannya keras-keras, Cecille membalikkan tubuh dan meletakkan tasnya kembali di atas meja.
Di seberang sana. Emosi yang kompleks begolak sesaat di bawah kelopak mata Hansel, tidak tampak di permukaan, hanya sebentar ... disusul senyum tumpul yang tersungging di bibirnya selama beberapa detik. Tepat saat Cecille berjalan ke arahnya, ekspresi wajah pria itu kembali datar.
“Katakan, apa yang bisa kulakukan untuk menghiburmu?” tanya Cecille seraya mengangkat alisnya dan menatap Hansel dengan mimik acuh tak acuh.
“Sebuah pelukan?”
Cecille memutar bola matanya dan berkata dengan ekspresi bosan, “Trik lama yang ketinggalan zaman.”
Hansel terkekeh pelan kemudian memberi isyarat agar gadis di hadapannya itu duduk di kursi.
Cecille ingin menolak, tapi mengingat perutnya pun belum terisi apa-apa sejak semalam, akhirnya ia mengangguk pelan. Lagi pula makanan yang disajikan terlihat cukup lezat.
“Apakah tidak apa-apa kalau aku ikut makan? Nanti kamu kurang tidak?” tanya Cecille, sedikit ragu ketika menyadari menu di atas troli memang disiapkan khusus untuk satu orang.
“Tidak apa-apa, kalau kurang ... kamu boleh mentraktir aku makan di luar,” jawab Hansel dengan santai.
Lagi-lagi Cecille memutar bola matanya. Apakah pria di hadapannya itu sedang mengajaknya berkencan? Benar-benar memanfaatkan kesempatan dengan sangat baik.
“Aku ambilkan untukmu,” kata Hansel sembari turun dari ranjang.
“Tidak usah! Aku saja,” sela Cecille cepat. Ia mengambil troli yang berada di dekat jendela dan mendorongnya mendekat ke tepi ranjang.
“Kamu mau yang mana?” tawarnya.
“Kamu pilihkan. Aku makan apa saja, tidak terlalu pilih-pilih.” Hansel menilai dalam hati, rupanya gadis di hadapannya itu tidak semanja yang ia pikirkan, masih bisa meladeni orang lain dengan lumayan baik.
Sementara itu, di seberang troli, Cecille terdiam sejenak. Entah mengapa rasanya hubungan mereka tiba-tiba terasa terlalu harmonis, seperti sepasang kekasih yang sedang pergi piknik. Dan ia telah bersikap seperti seorang kekasih yang perhatian!
Pemikiran itu membuat rona merah menjalar di pipi Cecille. Ia buru-buru mengambil sepiring Beef Bourguignon, nasi, dan Bisque, kemudian meletakkannya di depan Hansel. Ia sendiri memilih sebuah piring berisi Croque Monsieur, sandwich berisi ham dengan lelehan keju yang tampak menggiurkan.
“Terima kasih,” kata Hansel sambil tersenyum, “Bagaimana kamu tahu aku makan nasi? Kamu memesannya kepada perawat?”
“Eng. Bukankah katamu kamu lama tinggal di Jepang? Aku tahu orang Asia tidak bisa hidup tanpa nasi.”
Ucapan yang tidak tahu merupakan sindiran atau pujian itu pada akhirnya tetap membuat Hansel tertawa lepas. Ia tidak marah sama sekali, justru semakin tertarik kepada gadis yang tampak acuh tak acuh dan bermulut setajam silet itu.
Pria itu lalu menyuap nasi dan potongan daging sapi, kemudian mencoba sesendok krim sup berwarna kecokelatan dalam mangkuk. Rasanya gurih dan lembut. Bumbunya jauh berbeda dengan yang biasa ia makan di Jepang, tapi cukup bisa diterima oleh lidahnya.
“Apa ini?” tanyanya penuh rasa ingin tahu.
“Bisque,” jawab Cecille singkat.
“Enak. Terbuat dari apa?”
“Rebusan kerang dan udang yang telah dipanggang lebih dulu, lalu dimasak dengan kuah krim, wine, dan rempah-rempah.”
Hansel mengangguk sekilas dan menyuap sup lagi. Aneh, tiba-tiba suasana hatinya berubah menjadi lebih baik. Entah karena rasa makanan yang lezat, atau karena ditemani oleh seorang gadis cantik ... atau karena ia sudah mulai bisa merelakan Sakamoto Keiko?
Pemikiran itu membuat gerakan Hansel mendadak terhenti. Ia baru menyadarinya, sejak menolong Cecille, menemaninya ke penjara untuk membuat pernyataan, sampai pergi ke rumah sakit untuk diobati, ia tidak mengingat Keiko sama sekali.
Bagaimana bisa? Padahal ia pikir mungkin tidak akan pernah bisa melupakan mantan tunangannya itu, tapi sekarang ....
Hansel diam-diam melirik gadis yang kini sedang menikmati sepiring salad. Di bawah bias cahaya matahari pagi, gadis itu terlihat semakin menarik. Perlahan garis bibir Hansel melengkung ke atas. Tekad di hatinya semakin bulat.
Sementara itu, Cecille yang sedang fokus menghabiskan sarapannya sama sekali tidak mengatahui apa yang sedang direncanakan oleh pria di hadapannya.
***