Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Kamu Cemburu?



Ketika membuka mata, hal pertama yang dilihat oleh Cecille adalah langit-langit yang terasa asing. Cahaya keemasan yang menembus kaca jendela membuatnya tahu bahwa hari sudah pagi. Ia menggerakkan kepala perlahan, tapi rasa pusing membuatnya mendesis dan mengernyit dalam. Sekarang seluruh tubuhnya terasa sakit. Sangat sakit hingga ia tidak berani bergerak. Bibirnya kering dan pedih, lututnya ngilu, lengannya nyeri, lambungnya seperti diiris dan ditaburi garam. Sungguh sangat menyiksa.


Gadis itu berusaha mengumpulkan kepingan memori yang menghantam kepalanya bertubi. Ia mabuk, muntah di kamar mandi, lalu ... Bryan ....


Tubuh Cecille bergerak gelisah. Rasanya aroma keparat itu masih menempel di tubuhnya. Lidah dan tangan yang menggerayangi tubuhnya dengan kurang ajar. Kemudian ....


“Sudah bangun?”


Cecille berjengit ketika mendengar suara yang familiar itu datang dari sisi kanan. Ia mencoba bangun, tapi hanya membuat pandangannya menggelap. Akhirnya hanya bisa menutup mata dan bergumam pelan.


Setelah semua efek alkohol habis dan berhasil mengingat kejadian semalam membuat Cecille semakin tidak berani membuka mata dan menatap wajah Hansel. Ia menahan napas ketika sebuah telapak tangan yang besar dan hangat menempel di keningnya, membuat tubuhnya menegang karena gugup.


“Demamnya sudah turun.”


Terdengar suara langkah kaki menjauh, lalu kembali mendekat. Tak lama kemudian, telapak tangan yang besar dan hangat itu kembali menyusup ke bawah lehernya dan menopangnya dengan kokoh. Sebuah bantal diselipkan di balik punggung, membuatnya bisa bersandar dengan nyaman.


“Masih pusing tidak? Mana yang tidak nyaman?”


Dengan mata tertutup, aroma pria yang maskulin tertangkap hidungnya dengan lebih jelas, menggelitik dan membuatnya merasa ... nyaman?


Tidak. Ini aneh. Tidak mungkin. Ini pasti halusinasinya saja. Pria menjengkelkan itu ... pria menjengkelkan yang sudah menyelamatkannya ... lagi ....


Cecille membuka matanya perlahan. Wajah pria di hadapannya terlihat cemas. Sebuah ekspresi yang alami dan tidak dibuat-buat.


“Ini di mana?” tanyanya pelan, lalu terbatuk karena kerongkongannya terasa sangat kering.


Hansel buru-buru menyodorkan gelas berisi air di tangannya dan membantu Cecille untuk minum.


Setelah Cecil mendorong gelas menjauh dari wajahnya, Hansel baru menjawab, “Di ruanganku. Lantai atas Berlyn’s Club.”


“Oh ....”


“Tenang saja, aku membawamu lewat lift barang, tidak ada yang melihat kecuali manajer dari bagian registrasi member.”


“Oh ....”


Cecille masih sedikit linglung. Ia mencoba menggali kembali memorinya, tapi semua terhenti saat bayangan darah yang menggenang membuat perutnya mual. Ia tidak bisa mengingat apa pun setelah itu.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Hansel, “Mana yang sakit?”


“Apa dia mati?” Cecille balik bertanya.


Sorot mata Hansel yang lembut berubah dingin. Ia menggertakkan gigi dan menjawab, “Setelah semua yang dilakukannya, kamu masih mencemaskannya? Memikirkan apakah dia hidup atau mati?”


“Aku tidak mau kamu dipenjara kalau dia sampai mati.”


“Oh ....”


Hansel bungkam sejenak. Tadinya ia mengira Cecille bertanya karena mencemaskan Bryan yang sudah dihajarnya sampai babak belur. Siapa sangka ternyata gadis itu justru mengkhawatirkannya. Segera seulas senyum tipis muncul di wajahnya.


“Dia tidak mati. Aku sudah meminta manajer mengurungnya di ruang VIP-ku, menunggu orang tuamu datang. Terserah bagaimana mereka menanganinya nanti.”


Mengurung orang yang sekarat di ruang VIP? Pria ini benar-benar sinting ....


“Ini kedua kalinya aku menolongmu. Kalau sampai ada yang ketiga kali, kamu harus memberiku kompensasi,” goda Hansel saat melihat gadis di depannya sedang terbengong.


“Aku akan meminta orang tuaku untuk membayarmu. Sebutkan nominalnya.”


“Apakah menurutmu aku kekurangan uang?”


Cecille tidak ada tenaga untuk meladeninya, jadi hanya bisa mendesah pelan, “Lakukan apa pun yang kamu mau kalau terpaksa harus menolongku lagi nanti. Di mana tasku? Aku harus menghubungi orang tuaku.”


“Aku tidak terpaksa menolongmu,” sanggah Hansel sebelum berjalan ke kursi dan mengambilkan sebuah tas berwarna abu-abu, “Untung masih ada saat kuminta pelayan untuk memeriksanya di toilet.”


“Terima kasih.”


“Aku ambilkan sarapan? Ada bubur dan pancake. Mau yang mana?” tawar Hiro.


“Jangan terlalu baik kepadaku, nanti kekasihmu salah paham.”


Langkah Hansel terhenti, alisnya bertaut di kening. Kekasih? Seingatnya ia tidak ... oh, kekasih ....


Mata pria itu mendadak bersinar, lengkungan bibirnya hampir tak terlihat, tapi senyuman itu mencapai dasar hatinya.


“Kamu cemburu?” tanyanya tanpa membalikkan tubuh, tidak ingin memberi kesempatan kepada Cecille untuk menangkap basah seringai licik di wajahnya.


Cecille mencibir dan membalas, “Heh. Cemburu? Kadar percaya dirimu terlalu tinggi. Aku hanya tidak mau merusak hubungan kalian.”


Hansel mengambil nampan berisi bubur dan susu hangat, lalu menyerahkannya kepada Cecille sambil bertanya, “Kenapa kamu sangat memperhatikan apakah hubunganku akan rusak atau tidak, tapi begitu gigih ingin merebut seorang pria yang sudah memiliki istri?”


Pertanyaan yang menohok itu membuat jantung Cecille tenggelam. Raut wajahnya terlihat kaku dan masam. Kalau bukan karena Hansel sudah menolongnya dua kali, ia pasti sudah merobek mulut pria itu dengan tangannya sendiri. Mulut yang sangat tajam dan lancang.


Gadis itu menatap Hansel dengan sorot permusuhan yang tidak ditutup-tutupi ketika menjawab, “Itu karena aku mencintainya, bukan kamu. Aku tidak peduli kamu mau tidur dengan wanita mana pun atau—“


“Benarkah? Lalu kenapa semalam kamu minum seperti gadis bodoh dan hampir dikerjai oleh pengagum rahasiamu yang sinting itu?”


“Itu karena ... karena ... kamu menjengkelkan! Kamu membuatku kesal! Aku ... aku–aduh!” Cecille memejamkan mata. Telinganya berdenging dan kepalanya terasa berputar.


“Sudah, jangan marah-marah. Hubungi orang tuamu agar menjemput ke sini dan mengurus bajingan di bawah sana. Takutnya kalau terlambat, dia sudah mati.”


Bedebah ini benar-benar ... apanya yang jangan marah-marah? Kamu yang membuatku marah, Sialan!


Cecille memeriksa isi tasnya. Menghela napas lega ketika menyadari semuanya masih seperti semula, tidak ada yang hilang atau rusak. Gadis itu lalu menghubungi nomor telepon sang Marquess dan menceritakan semuanya secara singkat, membuat pria tua itu hampir pingsan karena serangan jantung.


“Kamu tunggu di sana, jangan cemas, tidak akan ada yang peduli meskipun bajingan itu mati hari ini. Berani kabur dari penjara dan ingin mencelakai putriku lagi. Kali ini aku tidak akan melepaskannya!”


Suara ayahnya yang bergaung dari ponsel membuat Cecille bisa sedikit menarik napas lega. Ia menarik memutuskan sambungan telepon dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Saat itulah ia baru menyadari bahwa pakaiannya telah diganti dengan sebuah baju tidur berbahan sutra yang tidak terbuka, tapi potongannya tetap menampilkan lekuk tubuhnya dengan sangat jelas.


Gadis itu mendongak dan menatap kemeja Hansel yang juga telah berganti model dan warna.


Tidak!


Apakah semalam aku tidur bersamanya?


***