Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Interogasi musuh



Kediaman Keluarga Nakamura.


Rasa sakit yang berdenyut di sekujur tubuhnya menarik kesadaran Clark kembali. Pria itu mengerang pelan dan berusaha untuk membuka matanya yang terasa berat. Otaknya bekerja keras untuk mengumpulkan kepingan informasi yang berhamburan. Hal terakhir yang ia ingat adalah ....


Sialan. Ini semua adalah jebakan. Aku harus memberitahukannya kepada Andrew.


Clark mengerang pelan ketika mencoba menggerakkan kedua tangannya. Rasa sakit kembali mendera tulang rusuk dan pergelangan tangannya, sakit yang teramat sangat. Hal itu juga membuatnya sadar kalau ia sedang terikat. Tidak terdengar suara apa pun di sekitarnya. Akan tetapi, kesunyian itu justru menyalakan alarm tanda bahaya di kepalanya. Oleh karena itulah ia memaksa untuk membuka mata meski rasa sakit dan tidak nyaman menyiksa seluruh panca inderanya.


Cahaya yang menyilaukan langsung menyambut ketika kelopak matanya berhasil sedikit membuka, membuat pupil matanya menyipit untuk menyesuaikan dengan sinar yang tertangkap oleh retina. Ketika matanya sudah mulai bisa beradaptasi, Clark membuka mata sepenuhnya untuk mengamati keadaan sekitar.


Hal pertama yang ia sadari adalah rompinya sudah dilepas. Pria itu melirik ke bawah dan mendapati sepatunya pun sudah dilepas. Matanya mencari dalam ruangan dan menemukan barang-barangnya itu ditumpuk di sudut ruangan.


Clark meronta, tapi sangat susah untuk membebaskan diri karena kedua tangannya terikat ke belakang, sedangkan kedua kakinya diikat menjadi satu di depan. Bangku besi yang ia duduki terasa dingin dan menggigit punggungnya yang hanya dilapisi kemeja tipis.


Pria itu lalu mengedarkan pandangannya, mencoba mencari kemungkinan adanya jalan keluar. Namun, ia lalu menyadari bahwa ia terkurung dalam sebuah ruangan yang terbuat dari kaca. Rasanya seperti berada dalam sebuah aquarium. Dilihat dari dimensi dan ketebalannya, jelas itu bukan kaca biasa.


Ada sebuah selot yang mengunci pintu dengan kerangka besi sekitar 3 meter di depannya. Meski di dalam kotak kaca itu terang benderang, di tapi luar cukup gelap. Tidak ada pencahayaan yang memadai sehingga Clark tidak bisa melihat apa yang ada di luar sana dengan cukup jelas.


“Leon?” panggil Clark ketika melihat Leon terikat dengan posisi yang sama dengannya.


Pemuda itu berada di ruang terpisah yang dibatasi oleh sekat kaca, tampaknya ia belum sadarkan diri.


Clark mencoba untuk berdiri dan hendak menghampiri dinding pembatas, tapi kakinya terantuk sehingga ia terguling bersama kursi ke atas lantai. Rahang Clark menghantam lantai marmer itu dengan cukup keras. Ia menggertakkan gigi untuk meredam erangan karena rasa sakit yang hampir lolos dari mulutnya.


Berengsek! Ikatannya terlalu kencang!


“Leon!” teriak Clark lagi, berharap rekannya itu bisa mendengar suaranya dan segera sadar.


Sambil berseru memanggil nama Leon, Clark terus bergerak dan meronta, mencoba meloloskan tangannya dari ikatan. Akan tetapi, gesekan yang timbul justru membuat kulit tangannya terasa pedih. Akhirnya pria itu menyerah dan membiarkan tubuhnya tergeletak seperti itu di atas lantai.


Ceklek.


Suara pintu yang terbuka menarik perhatian Clark. Ia segera menggeserkan tubuhnya dan menghadap ke sumber suara. Seorang pria yang mengenakan mantel bulu berwarna merah marun masuk diikuti setengah lusin pasukan bersenjata lengkap.


Clark langsung meneriaki orang itu, “Kamu! Berengsek! Aku akan—“


Bugh!


“Uhuk!”


Sebuah tendangan mendarat di perut Clark dan membuatnya terpental hingga menghantam tembok. Ia meringkuk dan terbatuk cukup lama hingga napasnya tersengal-sengal. Dengan susah payah ia mendongak, menatap pria bermantel bulu yang sedang bersedekap dengan ekspresi wajah yang dipenuhi cemoohan.


“Katakan, di mana mereka,” ujar pria itu dengan suara yang terdengar sangat tenang. Namun, jika didengarkan dengan saksama, suara itu juga penuh dengan ancaman.


Clark mendengkus dan mencibir sinis. Sayang sekali semua perlengkapannya sudah dilucuti, kalau tidak ... ia pasti sudah meledakkan tempat ini dalam hitungan detik.


Melihat Clark yang tidak mau bekerja sama, salah seorang pengawal kembali maju dan melayangkan tendangan ke wajahnya.


Clark hanya bisa memiringkan tubuhnya untuk menghindari serangan itu. Sayangnya, serangan itu berhasil mengenai dadanya. Tidak hanya satu kali, tapi tendangan itu datang bertubi-tubi, menghantam setiap bagian tubuhnya dengan sangat keras hingga rasanya ia sudah hampir muntah darah


“Katakan, di mana gadis itu?”


Clark terkekeh dan membalas tatapan musuhnya tanpa merasa gentar sedikit pun.


“Bunuh saja aku. Kau tidak akan mendapatkan jawaban apa pun dari mulutku,” jawabnya seraya tersenyum penuh ejekan.


“Benarkah?” Pria yang menjulang di atas tubuh Clark menambah tekanan pada kakinya hingga setiap tarikan napas Clark benar-benar terasa menghancurkan paru-parunya.


Pria itu menjentikkan jari sambil menggeser kepala Clark dengan kakinya. Tidak lama kemudian, dua orang pria bertubuh besar keluar dari ruangan itu dan menghampiri kotak kaca tempat Leon berada. Salah seorang dari mereka lalu mengeluarkan pistol dan mengarahkannya ke kepala pemuda yang masih belum sadar itu.


“Masih tidak mau bekerja sama?”


Clark menggertakkan giginya, antara menahan rasa sakit dan amarah yang membuncah dalam dadanya.


“Aku tidak tahu di mana mereka berada. Kalau pun tahu, aku tetap tidak akan memberitahukannya meskipun kamu mengancam dan menyiksaku dengan cara apa pun,” ujar Clark dalam satu tarikan napas, mengabaikan rasa sakit yang mengoyak sendi dan menyiksa syarafnya.


“Begitu? Kamu juga tidak peduli pada nyawa pemuda itu?”


Clark meronta dan ingin mengangkat kaki untuk menendang lawan bicaranya, tapi lagi-lagi sebuah tendangan lebih dulu mendarat di perutnya. Kali ini gumpalan darah benar-benar menyembur dari mulut Clark. Kepalanya terasa berputar dan berdenyut hebat, sedangkan telinganya berdenging cukup lama. Bahkan untuk membuka mata saja sudah hampir menghabiskan semua sisa tenaganya.


Pandangan Clark mengabur, entah karena efek pukulan yang diterimanya atau karena cairan merah yang menetes dari ujung-ujung rambutnya mengalir melalui matanya.


“Aku memberimu satu kesempatan terakhir. Katakan, di mana—“


“Bos,” sela salah seorang pengawal yang memegang ponsel. Ia mendekat dan berbisik di telinga atasannya, membuat pria bengis itu menyeringai puas.


“Sayang sekali. Aku sudah tidak membutuhkan informasi darimu lagi,” ujar pria bermantel bulu itu kepada Clark dengan seringai penuh kemenangan di wajahnya. Ia menunduk dan tampak menikmati ekspresi terkejut di wajah Clark.


“A-apa maksudmu?” seru Clark dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Apakah lokasi Andrewd dan Keiko berhasil ditemukan? Sepertinya tidak mungkin. Andrew pasti sudah mengatur semuanya dengan sangat baik. Tidak mungkin dia akan ditemukan dengan mudah.


“Kau diamlah di sini dan nikmati pertunjukan yang menarik sebentar lagi.”


“Berhenti! Kau—“


“Tutup mulutnya! Berisik sekali.”


“Hemph!”


Clark tidak dapat berteriak lagi ketika mulutnya ditutup dengan lakban. Ia sungguh harus memperingatkan Andrew, tapi ... bagaimana caranya? Ia harus bagaimana ....


Pria itu hanya bisa menatap musuhnya berjalan keluar dengan santai tanpa bisa melakukan apa pun. Perasaan tidak berdaya seperti ini sungguh menyiksanya.


Ia benar-benar harus melakukan sesuatu, tapi apa?


***


Halooo,maaf telat update.


Mulai hari ini saya akan up setiap jam 7 ya, biar kalian nggak begadang nungguin. Terima kasih ❤️