Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Terima kasih, Mr.Roux



Setelah melewati terowongan pertama, Naoko membanting setir dan berbelok menuju underpass. Ia melaju ke belakang sebuah truk kontainer berwarna hitam yang sedang melaju pelan.


Pemuda itu menekan tombol on di saluran komunikasinya dan berseru, “Aku di belakangmu!”


“Copy that. Bersiap untuk transfer muatan,” jawab Satoru.


Naoko menekan kakinya ke atas pedal gas dan secara bertahap menambah kecepatan. Di depan, lampu sein mobil kontainer berkedip-kedip. Terdengar suara dengungan yang cukup keras ketika pintu bagian belakangnya terbuka. Percikan api terlihat seperti kembang api saat sebuah lempengan baja diturunkan dari bagian belakang kontainer dan terseret di jalan raya.


“Berpegangan!” seru Naoko seraya mengarahkan mobil van yang sudah dimodifikasi itu mendekati kontainer.


Suaranya bergema melalu mini spekaer yang terpasang di sudut atas mobil. Clark dan Jovanka langsung berpegangan pada sisi mobil, sedangkan Andrew meraih tangan Keiko dan menjaganya seperti seorang bodyguard yang posesif.


Mata Jovanka memicing melihat interaksi antara Andrew dan Keiko. Jika dilihat dari gerak-geriknya, jelas perlakuan Andrew pada gadis Jepang itu jauh berbeda dibandingkan sikap Andrew terhadapnya. Wanita itu menggertakkan giginya dan menatap tajam pada dua sejoli di depan sana. Ia sudah berusaha menahan diri untuk tidak berkomentar sejak tadi karena posisi mereka yang masih dalam bahaya, tapi sekarang ....


“Mengapa kamu menolong gadis it—“


Bruk!


“Aw!”


Jovanka memekik keras ketika goncangan mobil yang sedang berpindah ke kontainer membuatnya tersungkur. Ia meringis dan berusaha untuk bangun dengan susah payah. Clark yang menyaksikan semua itu hanya bisa terkekeh hingga matanya berair. Bahkan tatapan tajam Jovanka yang tertuju padanya tidak bisa membuatnya diam. Melihat wanita itu bangkit dengan tertatih membuatnya semakin terbahak keras.


"Sorry, Miss. Tapi Naoko sudah mengingatkan kita untuk berpegangan," ujar Clark di sela tawanya.


Jovanka mendelik dan mengabaikan Clark. Sialan. Kedua telapak tangannya terasa pedih.


Di ruang kemudi, Naoko mematikan mesin mobil dan menarik tuas di sisi kirinya. Alat pengunci otomatis muncul dari lantai mobil kontainer dan mengait roda-roda mobil van hingga terdengar bunyi “klik” yang cukup keras. Pemuda itu menarik napas lega. Misinya berjalan sempurna. Kini mobil-mobil yang mengejar tadi tidak akan akan berhasil menemukan mereka.


“Keiko, kamu baik-baik saja?”


Keiko terkesiap dan melepaskan diri dari pelukan Andrew. Ia lupa ada Hiro yang sejak tadi terduduk di sudut ruangan. Gadis itu tertegun ketika menyadari separuh tubuh tunangannya bersimbah darah.


“Hiro!”


Sambil bergegangan di sisi mobil, Keiko menghampiri Hiro yang bersandar pada body mobil dengan mata sedikit terpejam. Tunangannya itu terlihat benar-benar menyedihkan. Napasnya terdengar terputus-putus dan berat.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Keiko seraya menyeka keringat di kening Hiro.


“Aku baik,” jawab Hiro pelan, “Apa kamu terluka?”


“Tidak. Aku baik-baik saja.”


Cahaya kekuningan dari lampu di atap mobil membuat Keiko bisa melihat Hiro terluka. Sepertinya masih ada satu butir peluru yang bersarang di belikat pria itu. Dengan cepat Keiko merobek ujung gaunnya dengan gigi, lalu mengepalkannya dan menekannya pada luka Hiro.


Raut kecemasan memenuhi wajah mungilnya. Ia tidak tahu kalau Hiro tertembak. Tadi terlalu gelap di dalam gedung. Sekarang ia sedikit merasa bersalah karena sama sekali tidak memikirkan kondisi pria itu sejak tadi.


“Jangan banyak bergerak. Kamu sudah kehilangan banyak darah,” ujar Keiko ketika melihat wajah tunangannya yang pucat pasi.


Mereka bertunangan. Memangnya apa yang kau harapkan? Dasar bodoh, rutuk Andrew dalam hati.


Jovanka mengamati drama di hadapannya dengan penuh rasa puas. Rasa sakit di telapak tangannya akibat menghantam permukaan mobil tadi mendadak hilang. Wanita itu menyunggingkan seringai tipis. Setidaknya ia merasa sedikit tenang karena gadis Jepang itu tidak lagi menempel pada Andrew. Lagipula, ia tidak akan melepaskan mereka begitu saja.


“Mengapa kamu menyelamatkan gadis itu, Andrew? Dia tidak ada dalam list operasi kita,” tegur Jovanka seraya melirik ke arah Keiko yang masih membantu menekan luka di belikat Hiro.


Andrew mendengkus sebelum menjawab, “Lalu apa? Kau akan membiarkannya mati di atas sana?”


“Itu bukan urusanku!” sergah Jovanka, “Tugas kita adalah membawa keluar Kobayashi Hiro hidup-hidup. Tindakanmu ini hanya akan menambah masalah, kau tahu itu? Dia adalah putri seorang mafia. Bagaimana kalau dia kembali kepada ayahnya atau ayah tunangannya, lalu membocorkan identitas kita?”


“Dia tidak akan—“


“Aku tidak akan melakukannya!” sanggah Keiko, memutus perkataan Andrew yang belum selesai.


“Aku bukan orang yang tidak tahu membalas budi,” sambungnya lagi seraya membalas tatapan sinis Jovanka. Ia tidak merasa gentar sedikit pun.


Ia lalu menoleh ke arah Andrew dan berkata, “Aku tidak tahu siapa kalian sebenarnya. Tapi, ke mana pun kalian akan membawa kami ... tolong selamatkan tunanganku.”


Suara Keiko terdengar lirih, bahkan hampir tidak terdengar di antara deru mesin yang berdengung kencang. Namun, kalimat yang diucapkannya menancap dalam dan kuat di hati Andrew. Tiba-tiba ia merasa kalah sebelum berperang. Gadis itu memikirkan keselamatan tunangannya. Itu memang hal yang wajar, tapi tetap saja ... rasanya menyakitkan mendengar orang yang kau cintai lebih mengkhawatirkan orang lain.


Meski demikian, Andrew tetap berdiri dengan tenang. Ia menatap lurus ke manik bulat Keiko dan menjawab, “Tenang saja, kami akan menyelamatkan tunanganmu. Kami masih membutuhkan informasi darinya.”


Keiko ingin membuka mulut dan menjawab lagi, tapi Hiro menekan pergelangan tangannya dan menggeleng pelan. Melihat wanita yang dicintainya itu masih hidup saja sudah lebih dari cukup. Mau atau tidak mau, suka atau tidak ... ia memang harus berterima kasih kepada Andrew.


“Terima kasih, Mr. Roux ... atau siapa pun dirimu. Terima kasih karena telah menyelamatkan wanita milikku,” ujar Hiro sebelum benar-benar kehilangan kesadarannya.


“Hiro! Hiro!” teriak Keiko dengan panik.


Meskipun memiliki kemampuan medis, saat ini tidak ada peralatan yang menunjang sama sekali. Ia tidak bisa melakukan tindakan apa pun.


“Berapa lama lagi kita akan sampai?” tanyanya seraya mendongak, menatap penuh harap pada Andrew.


Pria itu melirik jam di pergelangan tangannya dan berkata, “Sepuluh menit lagi. Tenanglah, dia tidak akan mati.”


Setelah menjawab Keiko, Andrew memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan bersandar di sisi mobil. Kalimat Hiro terus bergema dalam gendang telinganya, seperti kaset rusak yang terus diputar berulang-ulang.


Wanita milikku ....


Wanita milikku ....


Wanita milikku ....


***