
Napas Andrew dan Keiko sedikit terengah ketika akhirnya tiba di pintu depan penginapan. Jarak dari Sungia Kikuchi ke tempat itu rupanya lumayan jauh dibandingkan jika dari Kuil Omiya. Andrew mengeluarkan sapu tangan dan menyeka keringat yang menetes di kening dan pipi Keiko.
“Lelah?”
“Lumayan,” jawab Keiko sambil tersenyum tipis, “Tapi sepadan dengan kesenangan tadi. Aku tidak menyesal.”
“Bagus.” Andrew ikut tersenyum puas. “Ayo, masuk. Aku akan meminta Tuan Kenjiro untuk menyiapkan makanan lagi. Kamu pasti lapar, ‘kan?”
“Hum. Jangan lupa sampanye tadi.”
“Siap, Nona.”
Kedua orang itu berjalan bersisian dengan wajah semringah memasuki halaman depan, seolah tidak terjadi apa pun saat mereka berada di Sungai Kikuchi tadi. Wajah Keiko sudah berseri-seri, keningnya tidak lagi berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu. Hal itu membuat Andrew ikut merasa lega.
Ketika melewati lobi depan, seorang pria berwajah campuran menyambut mereka dengan ramah.
“Selamat datang kembali, Mr.Roux dan Nona Keiko. Silakan, Tuan kami sudah menyiapkan hidangan untuk menjamu Anda berdua. Tentu lelah setelah mengikuti festival di Kuil Omiya, bukan?”
Andrew berhenti sejenak dan memperhatikan pria bertubuh atletis itu dengan ekspresi yang rumit. Jari telunjuk mengetuk-ngetuk meja kayu di depan pria itu beberapa kali, membuat Keiko menatapnya dengan sedikit heran.
“Katakan kepada Tuan Kenjiro, tidak perlu repot-repot. Kami sudah makan di luar tadi.” Akhirnya Andrew membuka suara sambil tersenyum tipis. “Sampaikan salamku untuk Tuanmu, kami mau istirahat dulu. Besok adalah hari yang panjang, kami ingin menyimpan energi untuk itu.”
Sekarang Keiko benar-benar merasa heran mendengar perkataan Andrew, bukankah tadi pria itu mengatakan hendak meminta Tuan Kenjiro menyiapkan makanan. Akan tetapi, meskipun heran dengan tingkah Andrew, Keiko tetap menjaga raut wajahnya tetap tenang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Sayang sekali ... tapi kalau itu adalah keputusan Anda, nanti akan saya sampaikan. Selamat beristirahat, sampai jumpa lagi,” balas pelayan itu sambil membungkuk dengan sopan.
Andrew melambaikan tangannya dan segera menarik tangan Keiko untuk kembali berjalan. Mereka berdua melewati selasar yang tampak sunyi, membawa hawa sedikit aneh dan asing yang membuat gugup.
Keiko meremas jemari Andrew kuat-kuat. Ia menoleh dan mengamati keadaan sekeliling yang temaram. Lampu-lampu di beberapa bagian tidak dinyalakan. Bahkan lampu di depan kamar mereka yang sudah tampak di depan pun terlihat remang-remang.
Tiba-tiba Andrew menoleh dan mendekatkan wajahnya ke pipi Keiko. Gerakannya di bawah cahaya bulan terlihat seperti hendak mencium gadis itu, tapi sebenarnya pria itu sedang berbisik, “Baby, bersiaplah ... mungkin sebentar lagi kita akan diserang.”
“Ap-apa maksudmu?” desis Keiko pelan.
Andrew menangkup pipi Keiko, tangan kanannya yang lebar hampir menutupi separuh wajah gadis itu. Ia lalu memiringkan kepalanya dan mendekatkan wajah ke bibir kekasihnya. Dilihat dari sudut mana pun, mereka berdua benar-benar tampak seperti sedang berciuman dengan sangat intens.
“Pelayan tadi, ada gagang senjata yang tersembul dari balik punggungnya. Selain itu, dia mengenakan kemeja hitam polos di balik celemeknya. Kemarin, seragam pelayan yang menjamu kita berwarna biru tua dengan logo penginapan di bagian dada.Kemungkinan besar ruang makan sudah dipasangi jebakan. Mungkin juga sudah ada yang menunggu di kamar kita. Kamu bisa berakting, ‘kan? Ikuti saja gerakanku nanti.”
“Um,” gumam Keiko sambil menahan napas. Posisi Andrew yang begitu dekat membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih, “Kamu menjauh dulu sedikit.”
Andrew terkekeh pelan dan melepaskan dagu kekasihnya. Ia lalu menggandeng tangan gadis itu dan kembali berjalan menuju kamar mereka. Sambil berjalan, dengan sangat hati-hati satu tangan pria itu turun ke pinggang dan melepaskan kait sabuknya, memegang ujungnya dengan mantap. Sementara itu, tubuh Keiko menegang ketika mereka semakin dekat ke kamar. Pundaknya terlihat naik dan sedikit kaku.
Andrew menggeser sikunya hingga mengenai pinggul gadis itu dan berkata, “Relaks sedikit, Baby ... kita bahkan belum mulai ....”
Ketika tiba di depan pintu kamar Keiko, Andrew langsung mendesak tubuh Keiko ke dinding kayu dan melakukan gerakan mencium seperti tadi. Namun, kali ini ia meraih tangan Keiko dan menuntunnya hingga menyentuh ujung ikat pinggangnya.
“Lepaskan,” bisik pria itu dengan sangat pelan, “Bilah di dalamnya bisa membelah baja.”
Keiko menarik lepas ikat pinggang Andrew, lalu memegang ujungnya dengan hati-hati.
“Bagaimana denganmu?” balas gadis itu tak kalah lirih.
“Jangan khawatirkan aku.” Andrew menggerakkan kepalanya dan memberi isyarat agar mereka masuk ke kamar, “Lepaskan syal dan jasku, lemparkan ke lantai,” imbuhnya lagi.
Keiko melakukan semua yang diperintahkan oleh Andrew dengan patuh. Ia tidak bergeming ketika Andrew balas melepas syal yang melilit di lehernya dan mendaratkan sebuah kecupan di pipinya. Pria itu lalu mendorong pintu hingga terbuka dan menarik tubuh Keiko masuk. Ia menggeleng ketika melihat Keiko hendak menekan saklar di dekat pintu.
Jantung Keiko berdentam-dentam. Ia tahu perkataan Andrew benar, sudah ada yang menunggu mereka di dalam kamar. Pintunya tidak terkunci, padahal ia yakin sudah menguncinya sebelum pergi tadi sore. Ia menggenggam ujung sabuk Andrew semakin erat tatkala menyadari ada sekelebat bayangan yang bergerak di samping lemari baju.
Ekor mata Andrew menangkap gerakan Keiko dan melirik ke sudut ruangan. Sesosok bayangan tampak di balik gorden. Pria itu menahan tangan Keiko ketika merasakan gerakan gadis itu yang hendak maju ke lokasi penyusup.
Andrew menggeleng pelan dan menunduk, menyentuh tombol di sisi sepatunya dan mengambil mini gun yang ada di dalam rongga sepatu. Ketika ia kembali bangkit, tangannya sudah teracung lurus ke depan. Namun, sebelum ia sempat menarik pelatuk, sosok di depan sana sudah lebih dulu bersuara.
“Keiko, ini aku.”
Refleks, Keiko langsung menampik tangan Andrew yang sedang terarah ke sasaran. Mata bulatnya bersinar dalam kegelapan, memancarkan kombinasi antara sedikit rasa tidak percaya juga sedikit rumit. Dengan sangat hati-hati, kaki gadis itu melangkah maju satu per satu, tangannya terulur seolah hendak menyentuh bayangan di samping lemari.
“Keiko!” seru Andrew memperingatkan.
Namun, gadis itu seolah tidak mendengar panggilannya, terus maju hingga hanya berjarak sekitar tiga langkah dari sosok yang kini sudah keluar dari persembunyiannya.
***
Haiii, Kesayangan!
Mampir yuk ke cerita baruku, judulnya “Teror Arwah Penasaran”.
Kalian bisa cek di profilku atau ketik di kolom pencarian.
Cerita ini lebih ringan dan jumlah bab-nya nggak panjang, tapi ... tentu saja penuh misteri dan tak ketinggalan actionnya dikit, hehe ....
Aku bakal up tiap hari
see you there ...