
Berlyn’s Club-Ruang VVIP.
Entah sudah berapa kali Cecille berjalan mondar-mandir dalam kamar bernuansa merah dan hitam itu. Sesekali ia mendongak dan merutuki kebodohannya. Mulanya ia sedikit tidak peduli, menantang batas antara kegilaan dan rasa ingin tahu. Namun, sekarang ia benar-benar menyesal. Seharusnya minggu lalu ia langsung meminum pil kontrasepsi yang dibelikan oleh Hansel. Sekarang sudah terlambat lima hari dari periode bulanannya. Selama ini siklusnya tidak pernah terlambat, tidak pernah satu kali pun.
Semuanya gara-gara Hansel Roux! Binatang buas itu ....
“Tidak.”
Cecille berhenti. Ia menariki rambutnya dan menutup mata frustasi. Ini bukan salah Hansel sepenuhnya. Ia sendiri yang bodoh. Bisa-bisanya ia membiarkan pria itu menidurinya lagi, tanpa efek obat apa pun. Ia melakukannya dengan kesadaran penuh dan ... um, sangat menikmatinya.
Sialan ....
Benar-benar sialan.
Seharusnya waktu itu ia langsung menendang Hansel setelah pria itu menggendong dan membaringkannya di ranjang, bukannya berguling bersamanya di atas ranjang dan membiarkan pria itu menciumnya ... lalu bercinta sepanjang hari seperti orang gila yang sedang kasmaran. Pria sinting itu bahkan tidak membiarkannya turun dari ranjang!
“Aaargh ...!”
Cecille meraung dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Sekarang ia tidak memiliki nyali untuk menggunakan test pack yang baru saja dibelinya di apotik. Ia sama sekali tidak berani mencoba benda itu di rumah, takut papa dan mamanya memergoki, tapi di sini pun ia tidak sanggup. Bagaimana kalau ia benar-benar hamil? Apa yang harus ia lakukan?
Drrrt.
Suara dari getaran ponselnya yang tergeletak di atas meja membuat Cecille hampir terjungkal karena terkejut. Ia mengambil benda itu dan melihat nama pengirim pesan.
Hansel Roux.
Cecille memutar bola matanya dengan kesal. Ini adalah pesan keseratus sekian yang dikirimkan oleh pria itu. Yeah, sejak percintaan mereka yang gila-gilaan minggu lalu, Hansel selalu menghujaninya dengan pesan hampir setiap hari. Untuk sesaat ia mempertimbangkan untuk memasukkan nomor pria itu ke daftar hitam, atau mendaftarkannya ke grup khusus untuk gigo*lo, lihat bagaimana pria itu mengatasi pesan acak yang masuk ke ponselnya.
Akan tetapi, ada hal yang lebih mendesak yang membuat Cecille mengurungkan niat itu. Ia sudah meminum begitu banyak air mineral sejak tadi, dan kini ada dorongan yang sangat mendesak untuk buang air kecil. Wanita itu melirik ke bungkusan biru muda yang tergeletak di atas meja. Akhirnya setelah bertarung dengan rasa cemas dan gugup dalam hatinya, Cecille membulatkan tekad dan meraih test pack sebelum berjalan ke kamar mandi.
“Kumohon ... jangan ...,” bisik Cecille seraya mengamati perubahan warna indikator pada lempengan sepanjang sepuluh sentimeter di tangannya.
Itu adalah dua menit terlama dan paling menakutkan dalam hidupnya. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan Cecille saat satu garis samar muncul, bersisian dengan satu garis merah cerah yang sangat menusuk mata. Saat garis samar itu semakin terang seperti cahaya matahari yang bersinar di luar sana, Cecille sudah tidak punya tenaga untuk menopang tubuhnya lagi. Menurut apoteker tadi, test pack itu adalah yang paling akurat dibandingkan merk lainnya. Itu berarti ... ia benar-benar hamil?
Tangan Cecille gemetar. Ia menggenggam test pack di tangannya erat-erat.
Bayi montok bermata biru ....
Entah mengapa di saat seperti ini tiba-tiba kalimat Hansel yang konyol terngiang di telinga Cecille, terus berulang seperti kaset rusak yang tidak mau berhenti.
Wanita itu duduk di kloset dan menenangkan diri, memikirkan langkah apa yang harus ia ambil selanjutnya. Pergi ke rumah sakit untuk aborsi atau mengabari Hansel lebih dulu?
Tertatih, Cecille berjalan keluar dari kamar mandi dan terduduk di sofa. Wajahnya pucat pasi. Meski sempat terpikir akan hasil akhir seperti ini, sesungguhnya ia tidak benar-benar mengharapkan kehamilan. Ia hanya merasa ... entah, mungkin sedikit penasaran ... apakah Hansel Roux akan benar-benar bertanggung jawab seperti yang diucapkannya. Oleh sebab itulah ia sengaja tidak meminum pil kontrasepsi itu. Namun, sekarang rasanya ia sedikit menyesal, sedikit tidak siap ....
Drrrt.
Satu lagi pesan masuk. Kali ini Cecille membuka ponselnya dan membaca semua pesan itu. Sorot matanya yang tegang perlahan melembut ketika melihat isi pesan yang rata-rata sama, menanyakan apakah dirinya baik-baik saja. Cecille bahkan bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajah pria itu ketika membaca pesan terakhirnya.
Bodoh. Kamu benar-benar bersembunyi dan mengabaikanku selama satu minggu penuh. Di mana kamu? Apa kamu baik-baik saja?
Setelah mengetik dan menghapus teks pesannya beberapa kali, akhirnya Cecille hanya mengambil gambar test pack dan mengirimkannya tanpa keterangan apa pun.
Satu detik setelah pesan terkirim, ponsel Cecille bergetar tanpa henti. Hansel meneleponnya, tapi ia sama sekali tidak tahu harus mengatakan apa kepada pria itu. Akhirnya ia menekan tombol daya dan membiarkan layar ponselnya menjadi gelap, segelap isi kepalanya saat ini.
Cecille mendongak. Hidungnya terasa masam dan pedih. Tangannya terkepal erat saat memikirkan penantiannya selama bertahun-tahun yang berakhir seperti ini. Ia tidak punya muka untuk bertemu Andrew Roux. Sudah berkali-kali ia mangkir dari janji temu mereka untuk menyelesaikan sengketa lahan karena ia merasa malu jika harus bertemu dengan pria itu.
Sekarang di rahimnya bahkan ada janin dari pria yang baru dikenalnya selama beberapa minggu. Betapa konyolnya. Ia pasti merupakan wanita paling tolol yang ada di muka bumi ini.
“Memang bodoh ... sangat bodoh, Cecille ... kamu adalah perempuan paling tolol.”
Wanita itu terus memaki dan mencibir dirinya sendiri selama beberapa saat sebelum akhirnya bangkit dari sofa. Ia pergi mencuci muka, lalu menegakkan bahu dan berjalan keluar. Keputusan sudah diambil.
Anak ini tidak boleh lahir.
***