
“Jangan diam saja. Katakan sesuatu,” desak Andrew ketika Keiko tetap diam tanpa ekspresi. Ia benar-benar tidak bisa menebak isi hati gadis itu.
“Apakah kamu sedang menyatakan cinta kepadaku?” goda Keiko sambil tertawa kikuk, mencoba menghilangkan kecanggungan di antara mereka.
Rasa gugup Andrew tiba-tiba berkurang. Ada binar yang terpantul dari matanya yang dalam dan teduh ketika sebuah senyuman tipis muncul di wajahnya.
“Ya,” jawabnya sambil menatap Keiko lekat-lekat, “Aku memang mencintaimu.”
Keiko mengulurkan tangan untuk menyelipkan anak rambut yang meriap tertiup angin ke balik daun telinga. Ia sungguh tidak tahu harus merespon bagaimana. Sepertinya kali ini Andrew Roux memang benar-benar sedang serius. Sikapnya yang seperti ini membuat Keiko sedikit merasa kesulitan. Jika pria itu hanya sedang menggodanya, maka ia bisa menahan debaran dalam dadanya dan mengingatkan diri sendiri bahwa pria itu tidak sedang serius. Akan tetapi, jika seperti ini maka ....
“Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu, akan menjagamu dengan baik seumur hidupku, tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu. Jadi ... beri aku kesempatan, ya?” pinta Andrew lagi dengan sorot mata yang sangat lembut dan tulus, sungguh berbeda dengan ekspresi dingin dan datar yang sering ia perlihatkan kepada orang lain.
Keiko menghela napas dalam-dalam. Sejujurnya,ia tidak mau munafik ... beberapa hari bersama Andrew Roux membuatnya merasakan hal yang sedikit berbeda. Ia juga tidak mau menampik bahwa wajah pria itu memang sangat tampan. Dengan kepribadian yang cukup baik, ia rasa pria itu cukup sempurna untuk dijadikan sebagai calon pendamping. Namun, apakah ini tidak terlalu cepat? Mereka baru saling mengenal selama tidak lebih dari satu bulan.
Meski yakin Andrew bukan salah satu komplotan dari orang-orang yang mengincarnya, ia tetap membutuhkan waktu untuk membuktikan bahwa pria itu memang tertarik kepadanya, bukannya karena wajah dan sifatnya yang mirip dengan seseorang dari kehidupan masa lalunya. Itu juga kalau pernyataan pria itu mengenai kehidupan mereka sebelumnya sebagai sepasang suami-istri benar adanya.
Di sisi lain, Andrew kembali merasa gugup dan gelisah. Ia bahkan sudah hampir berlutut untuk memohon, tidak keberatan sama sekali kalau harus kehilangan harga dirinya. Persetan dengan ego dan harga diri. Ia sudah menunggu selama seumur hidupnya untuk momen ini, tidak mungkin melepaskannya hanya karena gengsi dan rasa malu. Sampai kapan pun ... apa pun yang terjadi ... ia tidak akan melepaskan Sakamoto Keiko.
“Apakah aku seburuk itu sampai kamu tidak bisa menjawab permintaanku?” tanya Andrew setelah mendesah pelan.
“B-bukan begitu ... aku ... aku hanya ....”
Keiko menurunkan pandangannya, tidak berani beradu dengan manik gelap Andrew yang teduh dan menghanyutkan. Ia takut pendiriannya akan goyah sehingga membuatnya menghambur ke dalam pelukan pria itu.
Gadis itu juga tidak bisa menjelaskan emosi yang berkecamuk di dalam hatinya. Segala pertimbangan dan hal-hal yang masih mengganjal di antara mereka. Salah satunya adalah masalah mengenai organisai rahasia dan para mafia yang masih mengincar mereka. Bagaimana bisa berpikir jernih dalam situasi seperti ini?
Saat Keiko baru hendak membuka mulutnya dan menjelaskan, Andrew sudah lebih dulu berkata, “Aku memiliki kemampuan untuk membahagiakanmu seumur hidup. Semua wanita menginginkanku, tapi aku hanya ingin dirimu. Hanya kamu ... bahkan jika harus mati dan mengulang kehidupan yang baru, aku akan tetap mencarimu dan mencintaimu seorang.”
Keiko mengatupkan bibirnya dan mematung. Hatinya benar-benar sudah hampir meleleh. Garis pertahan terakhirnya sudah hampir runtuh. Keteguhan dalam dirinya perlahan goyah. Ia mati-matian menahan diri untuk tidak menghambur ke dalam pelukan Andrew Roux dan mengiyakan permintaan pria itu.
Lagi-lagi Andrew mendesah pelan karena Keiko tetap membisu. Ia sama sekali tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu. Pria itu lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Mata indahnya berkilat jenaka ketika menambahkan, “Kita sangat cocok bersama. Kamu sangat cantik dan menawan. Aku sangat kaya, tampan, dan pintar. Apakah itu masih tidak cukup?”
“Menjengkelkan!” gerutu Keiko sambil membalikkan tubuh dan menuruni bukit dengan cepat.
Ia mengabaikan seruan Andrew dari balik tubuhnya. Lebih lama berada di dekat pria itu bisa membuatnya semakin sakit kepala. Lebih baik pulang dan menyusun rencana untuk menjebak para penjahat yang masih berkeliaran di luar sana.
“Pelan sedikit!” tegur Andrew ketika melihat Keiko berjalan terlalu cepat. Ia takut gadis itu akan tergelincir dan melukai diri sendiri.
Mendengar suara bariton di belakangnya justru membuat Keiko semakin ingin melarikan diri. Dengan begitu ia tidak harus menjawab pertanyaan dan permintaan pria itu ... um, setidaknya untuk sekarang. Masalah jika nanti pria itu mengulang pertanyaan yang sama, ia bisa memikirkan cara lain untuk melarikan diri lagi.
“Kyaaa!”
Tiba-tiba tubuh Keiko tersentak dan hampir terjerembab ketika memijak tanah yang tidak rata dan licin. Tubuhnya limbung karena kehilangan keseimbangan.
“Awas!” teriak Andrew seraya melompat maju dan menggapai tangan Keiko yang menggapai-gapai di udara.
Refleks, pria itu mengulurkan tangan yang satu lagi untuk menopang punggung Keiko. Sialnya, kakinya justru menginjak tanah licin yang tadi membuat Keiko hampir terjungkal. Terlalu terlambat untuk menghindar. Kakinya terempas ke depan dengan kencang dan menyeret tubuh Keiko bersamanya.
Suara pekikan kedua orang itu mengejutkan seekor tupai dan katak yang sedang mencari makan di bawah pohon. Segerombolan burung terbang menjauh karena terkejut, meninggalkan Andrew dan Keiko yang jatuh terguling di atas tanah.
Dengan sigap Andrew merangkum tubuh Keiko ke dalam dekapannya, menggunakan tubuhnya sendiri sebagai tameng agar tubuh Keiko tidak menghantam tanah dengan terlalu keras.
Rasa sakit menghantam siku dan punggung pria itu, tapi ia tidak melepaskan pelukannya pada tubuh Keiko sama sekali. Gadis itu tidak boleh terluka, sedikit pun tidak boleh.
***
Kalian mau Keiko jawab apaaa😂😂
**atau ga usah jawab?
*kabuuurr** 🤣