Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Tuan Muda Nakamura



Setelah berjalan 50 langkah, tubuh Andrew didorong untuk berbelok ke arah kanan. Ia kembali berjalan mengikuti derap kaki penjaga yang ada di depannya sambil terus menghitung dalam hati. Dua puluh langkah dan belok ke kanan, 15 langkah dan kembali berbelok ke kanan. Akhirnya iring-iringan itu berhenti sebentar. Tak lama kemudian terdengar suara gesekan benda berat yang bergeser.


“Jalan!” perintah salah seorang pria yang berada di belakang tubuh Andrew.


Lagi-lagi tubuh Andrew kembali didorong dengan kasar hingga tersentak ke depan. Ia maju beberapa langkah, lalu mendadak kerah bajunya ditarik oleh seseorang hingga tubuhnya tertahan. Suara benda yang bergeser kembali terdengar. Tubuh Andrew sedikit terhuyung, kemudian meluncur ke bawah. Dari suara mesin dan lembaman terhadap tubuhnya, ia dapat menebak jika saat ini sedang berada dalam sebuah lift yang sedang menuju ke ruang bawah tanah.


Beberapa saat kemudian suara dengungan menghilang, lift pun berhenti bergerak. Andrew digiring keluar, tersaruk-saruk melewati beberapa anak tangga yang hampir membuatnya terjungkal. Setelah perjuangan singkat yang membutuhkan konsentrasi penuh, akhirnya Andrew memijak lantai datar. Namun, setelah berjalan sebentar, ia langsung ditarik dan dipaksa untuk berlutut. Ia tetap menurut tanpa memberikan perlawanan sedikit pun.


“Buka penutup matanya!”


Suara pria yang familiar bergema dalam ruangan. Andrew mengernyit. Pria itu tadi tidak berjalan bersamanya, apakah dia menggunakan pintu yang lain? Itu berarti tidak hanya ada satu akses untuk masuk ke ruang bawah tanah.


Cahaya yang menyilaukan langsung menerpa ketika penutup mata Andrew dibuka oleh salah satu pengawal. Ia mengangkat tangan untuk menghalau cahaya. Setelah matanya bisa beradaptasi, ia menurunkan tangan dan melihat ke sekeliling. Selain dua lusin pengawal yang tadi menggiringnya ke tempat itu, tidak ada lagi pasukan lain yang berjaga di sana. Tampaknya pemilik rumah sangat yakin bahwa sudah memenangi pertarungan.


Andrew mengedarkan pandangan lagi. Ternyata ruangan bawah tanah itu sangat luas. Bentuknya seperti kubah dengan diameter sekitar 100 meter. Ada pilar-pilar dari marmer yang menopang dasar bangunan dengan kokoh. Ada sebuah bangunan mirip altar yang berdiri setinggi satu meter di bagian tengah kubah, kurang lebih sekitar 15 langkah dari posisi Andrew sekarang berada.


Cahaya lampu yang menyilaukan datang dari balik altar itu, membuat orang yang berdiri di sana hanya terlihat seperti siluet, wajahnya tidak terlihat karena membelakangi cahaya.


Sudut bibir Andrew berkedut sekilas ketika mendapati bayangan Jovanka berdiri di sisi kiri altar. Wanita itu menatap lurus ke depan, tidak mau melihat ke arah Andrew sama sekali. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini, Andrew tidak ingin tahu sama sekali. Baginya, seorang pengkhianat sama sekali tidak layak untuk dipedulikan.


Ia lalu mengalihkan pandangan ke sebelah kanan. Ada dua buah kotak kaca seperti aquarium. Clark dan Leon ada di dalam sana. Penampilan keduanya benar-benar berantakan, tergeletak di atas lantai tanpa daya. Darah mengering di lantai dan beberapa bagian tubuh mereka. Menilik dari hal itu, bisa dipastikan mereka telah dihajar habis-habisan.


“Selamat datang di kediamanku, Mr.Roux. Sudah selesai mengamati tempat ini?” Pria yang berdiri di belakang altar akhirnya membuka mulutnya dan bersuara. Intonasi suaranya jelas menunjukkan kepuasan dan kesombongan.


Andrew terkekeh dan menatap ke arah pria yang berdiri dengan pongah di hadapannya itu. Ia kemudian membalas, “Apakah kamu tidak pernah diajari tata krama untuk menjamu tamu, Tuan Muda Nakamura? Atau ... haruskah kupanggil Ryuchi?”


Sosok di seberang sana membeku sekejap. Tubuhnya menegang ketika Andrew menyebutkan namanya tanpa keraguan sedikit pun. Padahal ia sengaja menyalakan lampu untuk menghalangi pandangan pria itu, juga mengubah penampilannya dan menggunakan alat pengubah suara. Namun, mengapa Andrew Roux masih bisa mengenalinya? Apakah pria itu sudah menebaknya dari awal?


Setelah bisa menguasai dirinya, Ryuchi memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mematikan lampu sorot yang ada di belakang tubuhnya. Dalam sekejap cahaya dalam ruangan menjadi lebih redup sehingga semuanya terlihat dengan lebih jelas. Kini Andrew bisa melihat ada tubuh yang tergeletak di atas altar dengan masih memakai seragam rumah sakit.


“Tak kusangka, kemampuan Mr.Roux memang sehebat itu, hum ...,” ujarnya Ryuchi sambil bertepuk tangan dan turun dari altar untuk menghampiri Andrew.


“Memang lumayan,” balas Andrew dengan sombong, sama sekali tidak mau bersikap rendah hati, “Jika dibandingkan dengan kemampuan Tuan Muda Nakamura, jelas aku lebih unggul.”


“Sepertinya aku harus mengingatkanmu, kamulah yang menjadi tawanan di sini. Kalau memang kamu secerdas itu, seharusnya ini semua tidak akan terjadi,” ejek Ryuchi setelah tawanya mereda.


“Benarkah?” balas Andrew dengan tenang, “Seharusnya kamu juga tahu, aku menjadi tawanan dengan sukarela, bukan karena kehebatanmu. Kamu sudah terkepung. Menyerahlah.”


“Hentikan omong kosongmu itu! Cepat, beritahukan kepada atasanmu untuk menyiapkan pesawat. Lengkap dengan pilot dan bahan bakar yang terisi penuh. Kamu akan ikut denganku sebagai jaminan.”


“Rasa percaya dirimu terlalu tinggi, Ryuchi. Aku mengikuti permainanmu ini hanya karena penasaran ... mengapa repot-repot mengatur semua jebakan, mengorbankan begitu banyak orang, omong kosong mengenai tiga dinasti utama dengan segel rahasia?”


Ryuchi menghela napas dalam-dalam, seolah pertanyaan Andrew itu adalah sebuah hal yang tidak perlu dipertanyakan.


Meski demikian, ia tetap menjawab, “Tentu saja karena kamu mengacaukan semuanya. Seharusnya mereka berdua sudah mati di pesta amal itu. Mengenai segel, itu bukan omong kosong. Hanya saja, aku sudah lebih dulu mengetahuinya sebelum kalian berhasil memecahkan kodenya. Aku menyebarkan desas-desus bahwa aku masih mencari segel itu tentu saja untuk memancing kalian keluar dari tempat persembunyian.”


Mata Andrew berkilat ketika mendengar jawaban itu. Ia tahu yang dimaksud “mereka” oleh Ryuchi adalah Keiko dan Hiro. Jadi, malam itu kalau ia tidak ada di sana ... Keiko pasti sudah mati.


“Mengenai orang-orang yang mati, mereka hanya bidak yang ikut bergabung dengan sukarela. Kalau mereka mati, itu adalah risiko dari ambisi mereka sendiri,” lanjut Ryuchi tanpa merasa bersalah sama sekali.


“Oh ... lalu mengapa kamu sangat menginginkan nyawa Sakamoto Keiko? Bukankah kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau?”


Ryuchi menyeringai lebar dan menjawab, “Tentu saja karena kamu sudah membuatku kesal, jadi aku rasa menyiksanya di depanmu akan sangat menyenangkan. Selain itu, salahkan ayahnya yang sudah bersekongkol dengan si licik Kobayashi untuk membunuh orang tuaku, hanya agar bisa menguasai semuanya. Kau tahu ... dinasti terkuat itu selalu ada tiga, tapi mereka ingin membuatnya hanya ada dua! Mimpi! Selama aku masih hidup, aku tidak akan membiarkannya!”


“Tak kusangka rupanya Tuan Ryuchi sangat pendendam, bahkan tidak bisa membiarkan kami hidup dengan tenang meskipun sudah mendapatkan apa yang diinginkan,” sindir Andrew seraya tersenyum tipis.


“Tentu saja aku dendam! Aku ditinggalkan sebatang kara! Dan kau baru saja membunuh satu-satunya orang yang merawatku sejak kecil!” teriak Ryuchi sambil mengangkat kakinya, hendak melayangkan sebuah tendangan ke arah Andrew.


Akan tetapi, Andrew bergerak lebih gesit, menangkap pergelangan kaki Ryuchi dan dan memutarnya sekuat tenaga. Gerakan itu membuat tubuh Ryuchi tersentak dan terbanting ke atas lantai dengan sangat keras.


“Bed*bah!” umpat Ryuchi seraya merangkak untuk bangun.


Wajahnya memerah karena amarah. Ia merasa dipermalukan di hadapan anak buahnya. Seumur hidup, ia sudah merendahkan harga dirinya dan berlaku sebagai bawahan yang patuh di hadapan Hiro. Ia menahan semua tingkah arogan pria itu demi pembalasan atas semua perlakuan tidak adil yang diterimanya.


Akan tetapi, Andrew Roux mengacaukan semuanya, membunuh kepala pelayan yang sudah ia anggap sebagai ayah kandungnya, lalu kini mempermalukannya. Benar-benar tidak bisa dimaafkan.