Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Aku makan sedikit, ya?



Di dalam presidential suite, sepasang suami istri yang menghabiskan malam membara masih bergelung dengan nyaman di dalam selimut. Kaki dan tangan saling mengait, sama sekali tidak mengetahui kericuhan yang terjadi di luar hotel semalam.


Keiko benar-benar kehabisan tenaga. Entah berapa kali Andrew membolak-balik tubuhnya di atas ranjang, pada akhirnya ia hanya bisa pasrah dan membiarkan suaminya melakukan apa pun yang dia mau.


Ketika akhirnya Andrew selesai, ia bahkan sudah tidak sanggup membuka mata. Samar-samar ia bisa merasakan suaminya itu membantunya membersihkan diri dan memakaikan baju tidur. Setelah itu, ia tidak ingat apa-apa lagi.


Reaksi alami dari bagian bawah tubuhnya membuat Andrew terbangun. Ia membuka mata dan mengerang pelan, tapi tiba-tiba terdiam ketika menyadari ia sedang memeluk Keiko.


Pria itu tidak berani bergerak, takut akan membangunkan Keiko yang tampak masih pulas. Wajah wanitanya itu tampak merona dan segar. Bekas gigitannya meninggalkan corak merah cerah di leher dan belahan dada. Andrew tersenyum puas. Ia yakin ada lebih banyak bercak merah yang ia ciptakan di balik piyama istrinya.


Tiba-tiba gesekan lembut yang terjadi saat Keiko merapatkan tubuh dan menyandarkan kepala ke dadanya membuat bara yang redup kini kembali menyala. Namun, mengingat tadi malam ia sudah membuat istrinya hampir pingsan, ia hanya bisa menahan napas dan berharap gairah yang tersulut bisa segera mereda.


Pria itu ingin bangun dan berendam air dingin, tapi Keiko menempel di dadanya seperti bayi koala. Aroma samar yang menguar dari tubuh istrinya membuat hidungnya terasa gatal. Rasa hangat dari sentuhan antar kulit mereka membuat seluruh tubuhnya kesemutan, sedangkan bagian tubuh yang lain semakin membengkak.


Sial ....


Keiko mengernyit meski matanya tetap terpejam. Tekanan di bagian perutnya terasa semakin jelas, dan itu cukup mengganggu. Karena merasa sedikit tidak nyaman, ia mengangkat tangan dan ingin menyingkirkan benda yang mengganjal itu. Siapa sangka gerakannya itu membuat ******* napas tertahan lolos dari mulut Andrew.


“Sakamoto Keiko ... jangan menguji kesabaranku,” desis pria itu seraya menatap tangan istrinya dengan sorot yang dipenuhi kabut tebal.


“Eng ...”


Keiko menggeliat dan bergumam mendengar suara serak yang terdengar dari atas kepalanya. Embusan napas yang panas dan berantakan menerpa kening dan rambutnya. Tak lama kemudian, kesadarannya perlahan terkumpul dan membuatnya terjaga.


Mata bulat Keiko berkedip dengan waspada, lalu dengan sangat hati-hati ia melirik ke bawah, mencoba mencari tahu benda apa yang sedang menekan punggung tangannya. Pupil matanya bergetar ketika menyadari apa yang ada di bawah sana. Seketika tubuhnya memberi reaksi yang membuatnya secara refleks berguling menjauh.


Melihat respon istri mungilnya yang lucu, Andrew mengangkat alisnya, cahaya di matanya terlihat seperti bintang pagi yang bersinar terang. Ia menunjukkan ekspresi terluka ketika bergumam dengan suara rendah, “Setelah menggunakannya sampai puas semalam, sekarang kamu berniat untuk mengabaikannya?”


Keiko melotot. Menggunakan apanya? Mengapa perkataan suaminya seolah mengisyaratkan bahwa dirinya yang memanfaatkan ... benda itu ....


Benda itu ... Keiko melirik sekilas ke arah gundukan besar di balik celana suaminya, lalu buru-buru memalingkan wajahnya yang memerah ke sisi lain.


Itu ... benar-benar besar ... merobek tubuhnya hingga hancur berkeping-keping, tapi kemudian memberikan sensasi yang membuatnya melayang.


Keiko menggigit bibir dan berusaha menghilangkan gambaran erotis tadi malam, tapi itu benar-benar merupakan pengalaman yang sulit dilupakan ....


“Kemari,” panggil Andrew seraya menepuk bagian kosong di depannya.


“Tidak mau!” balas Keiko sambil menggeleng cepat.


Meskipun sangat nikmat, tapi seluruh tubuhnya masih sakit dan pegal. Rasanya seperti baru saja diinjak oleh seekor gajah.


Um ... gajah dengan belalai yang imut tapi mematikan. Tiba-tiba rona merah di wajah Keiko menjalar sampai di leher dan daun telinga. Rasanya ia ingin memaki dirinya sendiri yang sudah berpikiran mesum sepagi ini.


Andrew berguling satu kali dan melingkarkan tangannya ke pinggang Keiko.


“Apa yang sedang kamu pikirkan, istriku?” tanyanya seraya menjentikkan jari telunjuknya ke kening Keiko.


“T-tidak ada,” elak Keiko cepat. Ia mendorong tubuh Andrew sambil bergumam, “Kamu geser dulu sedikit ....”


Andrew mengulum senyum melihat istrinya yang salah tingkah dan malu, membuatnya semakin ingin menggodanya.


“Diam!” Keiko mengangkat tangan untuk menutup mulut suaminya.


Alih-alih menyingkirkan telapak tangan mungil yang menghalangi mulutnya, Andrew justru menekan pergelangan tangan istrinya, lalu menjulurkan lidah dan menjilatnya perlahan.


Mata Keiko terbelalak lebar. Rasanya ia baru saja disengat listrik ribuan volt, bergelenyar dan membuatnya lemas. Dengan panik ia mencoba untuk menarik tangannya kembali, tapi suaminya justru menggeram dan menyerang lehernya. Entah bagaimana tiba-tiba pria itu sudah mengungkung tubuhnya dengan lengan yang kokoh, lalu mencecap batang lehernya kuat-kuat. Gundukan keras di sela paha suaminya itu pun kini menggesek perutnya dengan keras!


“Istriku sangat enak, aku makan sedikit, ya?” bisik Andrew seraya menjilat cuping telinga Keiko.


Keiko terkesiap dan menegang, tidak berani bergerak, tidak berani bernapas, hanya bisa menatap langit-langit dengan ekspresi yang memelas.


“Itu ... masih sakit ...,” balasnya dengan suara yang sangat lirih. Ia sungguh tidak bisa membayangkan kalau Andrew memakannya sepagi ini. Mungkin ia benar-benar tidak akan bangun dari ranjang seharian!


Andrew menopang tubuhnya dengan kedua tangan, lalu menjauhkan wajah dan memandang istrinya dengan sorot yang lembut.


“Sangat sakit?” tanyanya.


“Um.” Keiko mengangguk cepat, tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk melarikan diri dari serigala buas yang sedang mengincarnya.


“Sangat sakit,” imbuhnya lagi untuk meyakinkan suaminya.


“Aku panggilkan dokter?”


“Tidak perlu. Nanti akan membaik sendiri, kamu biarkan aku istirahat dulu, ya.”


“Setelah istirahat boleh?”


Wajah Keiko berubah merah jambu. Percakapan ambigu macam apa ini?


Melihat wajah Keiko yang terlihat sangat kesusahan, akhirnya Andrew terkekeh pelan dan berguling turun dari tubuh istrinya.


“Tidak menggodamu lagi,” gumamnya seraya mendaratkan sebuah kecupan di kening Keiko, “Ingin makan apa? Aku panggilkan room service?”


Perubahan tiba-tiba itu membuat Keiko linglung sekejap, menatap suaminya yang sudah pergi ke sisi sofa dan menyalakan panel untuk menghubungi bagian room service.


“Tidak mau sarapan?” tanya Andrew ketika melihat istrinya masih berbaring dan menatap ke arahnya dengan ekspresi yang lucu. “Kalau tidak mau, aku akan menganggap kamu sudah cukup beristirahat dan—“


“Sarapan! Sarapan ... aku mau sarapan ....” sela Keiko cepat. Ia bangun dan berdiri di tepi ranjang.


“Aku pergi mandi dulu, kamu pesan saja, aku tidak pilih-pilih makanan,” lanjutnya lagi sebelum terbirit-birit menuju kamar mandi.


Lengkungan di bibir Andrew tampak lebih dalam. Istri mungilnya yang pemalu tampak sangat menggemaskan. Ia lalu menunduk dan menatap bukit miliknya yang terasa semakin tegang dan ngilu.


“Kamu tahan sedikit, nanti malam baru kita makan lagi. Pagi ini berendam air dingin saja.”


***