Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Detik Berbahaya



Beberapa mil dari pulau kecil itu, Andrew berseru dan memanggil nama Keiko, berharap gadis itu bisa mendengar suaranya. Garry baru saja mengirimkan citra satelit langsung ke ponselnya sehingga ia bisa melihat api berkobar dan melalap separuh bagian pondok kayu.


Seluruh tubuh Andrew ikut gemetaran sampai-sampai ponsel hampir terlepas dari tangannya. Matanya nanar menatap citra satelit yang menampilkan pemandangan pulau kecil dari atas. Semuanya kacau balau dan hancur berantakan. Bahkan Kim pun tergeletak tak berdaya.


Bodoh! Bagaimana bisa sampai kecolongan seperti ini? Ia sudah mengatur semuanya dengan sangat baik, sudah menyembunyikan petunjuk sehingga tidak mudah untuk ditemukan, tapi ....


Ia langsung memerintahkan untuk putar haluan saat mendapat pesan dari Kim bahwa pulau diserang. Akan tetapi, sayangnya jarak yang ia tempuh sudah cukup jauh saat ia menerima kabar itu sehingga tidak bisa langsung bergerak untuk menyelamatkan Keiko.


Tunggu. Kim ....


Sekejap mata Andrew berkilat penuh harapan. Jemarinya bergerak cepat di layar ponsel. Ia mengakses program khusus yang sudah disambungkan ke ponselnya dan mengaktifkannya, mengisi kode enkripsi sebelum menyentuh huruf “OK” yang muncul di layar.


“Gunakan kecepatan maksimal!” teriak Andrew kepada pilot. Sekarang hanya bisa berharap agar masih bisa tiba di pulau sebelum terlalu terlambat.


Di sisi lain, Mr.Durrant bergetar karena amarah. Ia belum cukup puas meski melihat seluruh bangunan sudah hancur berkeping-keping. Seperti dirasuki oleh iblis, ia kembali berteriak kepada anak buahnya untuk meluncurkan RPG.


“Hancurkan semuanya! Jangan ada yang tersisa!” teriak pria itu seraya mengacungkan tangan ke arah rumah pondok.


Keiko tercekat mendengar teriakan itu. Jika misil menghantam reruntuhan ini satu kali lagi, sudah pasti ia tidak akan selamat. Tidak ada lagi ruang yang tersisa. Lebih mustahil lagi untuk berlari keluar dan mencari tempat berlindung. Ia mungkin tidak akan sampai di balik pohon yang terdekat sekalipun.


“Sial!” umpat Tuan Sergio ketika menyadari senjatanya tidak bisa digunakan lagi.


Dua orang anak buahnya yang berlindung tidak jauh darinya pun mengangkat kedua tangan mereka dengan tidak berdaya. Mereka semua kehabisan amunisi.


Tuan Sergio mengerang dan merosot ke tanah. Apakah mereka semua akan dihabisi kali ini? Benar-benar tidak ada harapan ....


“Tembak sekarang!” teriak Mr.Durrant sambil berkacak pinggang. Seringai penuh kepuasan tersungging di wajahnya yang kejam dan penuh ambisi.


Boom!


Suara ledakan yang dahsyat membuat Keiko sedikit terlonjak karena terkejut. Ia memejamkan mata erat-erat dan menanti rasa sakit mendera tubuhnya. Namun, tidak ada apa pun yang terjadi padanya. Rasa sakit itu tak kunjung datang. Tanah di sekitarnya pun bergeming, seolah tidak sedang terjadi apa pun.


Gadis itu membuka matanya perlahan dan melihat keadaan di sekitarnya masih baik-baik saja. Lalu, dari mana asal suara ledakan tadi. Dengan sangat hati-hati ia mengubah posisi dan mengintip melalui celah kecil di antara sofa. Matanya terbelalak lebar ketika mendapati lokasi tempat Mr.Durrant dan anak buahnya bersembunyi tadi sudah rata dengan tanah.


Tidak. Bukan hanya rata, tapi ada lubang yang cukup besar di sana. Pepohonan yang menjadi tempat berlindung pria itu sebelumnya tumbang dan gosong.


Keiko memperhatikan dengan cermat selama beberapa detik, tapi tidak ada pergerakan sama sekali dari arah sana. Antara lega yang tak terkira sekaligus keheranan, gadis itu beringsut dari tempat persembunyiannya dan merangkak keluar. Seluruh wajahnya tertutup oleh debu, sedangkan tubuhnya penuh dengan luka. Pakaiannya koyak di beberapa bagian. Secara keseluruhan, penampilannya itu terlihat benar-benar mengenaskan.


Siapa ... siapa yang melakukannya?


Keiko mencoba untuk berdiri, tapi tubuhnya limbung dan terhuyung ke depan. Tangannya menggapai mencari pegangan, tapi hanya udara kosong yang teraih.


“Nona Keiko!” teriak Kim seraya melambung tinggi. Dalam satu entakan kaki, ia sudah tiba di hadapan Keiko dan menahan tubuh gadis itu dengan kedua tangannya.


“Kim?” panggil Keiko dengan suara yang sangat lemah. Ia benar-benar sudah kehabisan tenaga.


“Tenanglah. Semua sudah baik-baik saja. Maaf, saya sedikit terlambat,” ujar Kim seraya memeriksa tubuh Keiko.


"Anda tertembak?" tanya Kim ketika melihat luka di pinggang Keiko.


Keiko terpana melihat tubuh Kim yang hanya dibalut celana kargo dan sport bra. Dengan penampilan seperti itu, sama sekali tidak terlihat bahwa dia adalah seorang humanoid.


"Kamu tidak apa-apa?" Keiko balik bertanya. Seingatnya tadi Kim menggelepar akibat serangan Mr.Durrant. Tubuh Kim pun tak kalah compang-camping dari dirinya.


"Tidak apa-apa. Jangan khawatir, hanya lecet saja," jawab Kim seraya membopong tubuh Keiko dan mulai berjalan menuju tebing.


Untunglah mode darurat segera diaktifkan oleh Kapten Andrew dalam detik-detik terakhir. Kalau tidak, entah apa yang terjadi sekarang ....


“Syukurlah,” gumam Keiko pelan. Meski dengan susah payah, ia berusaha menyunggingkan senyum di wajahnya.


Syukurlah semua baik-baik saja ....


Dari balik pepohonan, Tuan Sergio segera memandu dua orang anak buahnya untuk keluar dan mengambil senjata yang masih terisi amunisi.


“Cepat, periksa ke sana!” perintah pria itu.


“Baik, Kapten!” jawab dua orang anak buahnya bersamaan.


Tuan Sergio berjalan lebih dulu ke lokasi bekas ledakan akibat pelontar misil yang ditembakkan oleh Kim dan memeriksa keadaan di sana. Semuanya benar-benar hancur tak bersisa. Genangan darah yang bercampur dengan tanah menguarkan bau anyir yang pekat. Semakin dekat, bau mesiu tercium semakin kuat, tercampur dengan bau daging gosong yang membuat mual.


Meski pening karena melihat potongan tubuh yang berceceran di mana-mana, Tuan Sergio tetap memaksakan diri untuk memeriksa apakah masih ada musuh yang tersisa.


“Rasakan akibatnya!” seru pria itu ketika melihat kepala Mr.Durrant terpisah sekitar dua meter dari tubuhnya yang menghitam, sedangkan ususnya terburai dari lubang yang cukup besar di bagian perutnya.


Tuan Sergio meludah ke tanah, lalu buru-buru menyusul Kim dan Keiko yang sudah separuh jalan menuju tebing. Anak buahnya mengekor dari belakang, sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri dengan waspada.


“Sepertinya Kapten Andrew sudah dekat,” gumam Kim seraya menatap langit. Ia mempercepat langkah kakinya mendaki tebing. Deru suara helikopter sudah terdengar dari kejauhan.


“Dia ... dia kembali?”


“Tentu saja,” jawab Kim seraya mengulas senyum tipis, “Anda adalah nyawanya, bagaimana mungkin dia meninggalkan Anda seperti ini.”


Keiko terkekeh pelan hingga hampir menangis. Entah karena terharu atau bahagia, tiba-tiba ia menjadi sedikit emosional. Mungkinkah pria itu akan memarahinya karena telah mengabaikan perintahnya dan keluar dari tempat persembunyian.


Setelah tiba di puncak, Kim menurunkan Keiko dan membantunya duduk bersandar pada sebuah pohon. Ia lalu mengaktifkan alat pelacak dan memindai di langit. Dari kejauhan tampak sebuah titik hitam yang semakin membesar. Kim mengontrol alat pemindai dan memperbesar tampilan gambar itu sehingga titik itu berubah menjadi sebuah helikopter yang terlihat jelas. Tunggu, bukan hanya satu. Itu ada dua ... tiga ... enam?


“Nona, Anda sangat beruntung,” ujar Kim seraya tersenyum tipis. Baru kali ini ia melihat Kapten Andrew bersedia melakukan apa pun demi seorang wanita.


“Ada apa?” tanya Keiko dengan heran. Ia sudah hampir mati seperti ini, apanya yang beruntung?


Kim tidak menjawab dan tetap mengawasi langit. Biarlah nanti Kapten Andrew sendiri yang menunjukkan bahwa betapa beruntungnya Nona Keiko.


Dari atas sana, Andrew sudah mengunci lokasi Keiko dengan teropong yang digunakannya. Penampilan gadis itu yang berantakan membuat jantungnya mencelos. Ia merasa gagal dan bersalah. Seharusnya ia bisa melakukan persiapan yang lebih baik lagi agar gadis itu tidak terluka seperti ini.


Untunglah Keiko tidak apa-apa, kalau tidak ... seumur hidup ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


***