
Andrew bangun dan mengikuti pria-pria bersenjata yang cukup bernyali dan terang-terangan menodongkan senjata ke arahnya. Para pengunjung klub malam segera menyingkir ketika Andrew dan pria-pria itu lewat. Beberapa bahkan ada yang langsung keluar dari tempat itu, sementara yang lain tetap acuh tak acuh dan meneruskan kegiatan mereka masing-masing.
Andrew mengekor di belakang salah seorang pria bersenjata, berjalan di sepanjang koridor yang terletak di samping bar. Lampu-lampu semakin temaram ketika mereka mencapai ujung lorong. Salah satu pria di hadapan Andrew mendekatkan wajah ke kotak kecil di tembok. Suara “bip” yang cukup keras terdengar tak lama kemudian.
“Masuk!” seru salah seorang pria dari belakang sambil mendorong punggung Andrew dengan ujung pistolnya.
Andrew melangkah masuk diiringi pria-pria yang menyanderanya. Sekilas ia memerhatikan ruangan yang cukup besar di hadapannya. Tampaknya ini adalah ruangan untuk pengunjung yang memiliki akses khusus. Ada sebuah rak kaca dengan puluhan botol whiski berjejer rapi di dalamnya. Terdapat sebuah mini bar di samping rak minuman itu. Lalu ada satu set sofa berwarna gelap di hadapan mini bar. Mata Andrew memicing. Tidak ada siapa pun di dalam ruangan itu.
“Jadi, di mana bos kalian?” tanyanya seraya menoleh kepada pria yang berdiri di sisi kanannya.
“Diam dan duduklah!” perintah pria itu seraya menunjuk ke sofa.
Setelah menghela napas pelan untuk menahan emosinya, Andrew berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Ia bersandar dengan santai dan menatap tajam ke arah pria-pria di hadapannya tanpa gentar sedikit pun. Mereka berjumlah lima orang. Sebenarnya hanya dengan melihat raut wajah khas Amerika Latin, Andrew sudah tahu untuk siapa orang-orang di hadapannya ini bekerja.
Namun, satu hal yang menimbulkan tanya dalam benak Andrew adalah bagaimana orang-orang ini bisa mengenali dirinya? Ia hanya bisa berharap Jimmy menyadari kepergiannya dan tetap memantau Hiro dengan baik ... tapi, jika Robert yang menyuruh orang-orang ini untuk menangkapnya, maka ada kemungkinan ia bisa bertemu dengan Hiro.
Andrew menoleh ke pintu ketika benda itu bergeser dan terbuka lebar. Ekspresi wajahnya tidak berubah ketika melihat siapa yang digiring masuk. Baru saja ia memikirkan Hiro dan sekarang pria itu sudah duduk di sebelahnya. Benar-benar konyol.
Seolah ada persetujuan tak kasat mata di antara mereka, Andrew dan Hiro sama-sama diam. Mereka bertindak seakan tidak saling mengenal satu sama lain. Para pria bersenjata yang menggiring mereka masuk berbaris rapi di dekat dinding dengan posisi siaga penuh.
Tidak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Seorang pria bertubuh tambun dengan gaya pakaian yang cukup mencolok berjalan masuk. Tangan kanannya memegang cerutu Kuba, sedangkan bibirnya yang tebal mengembuskan asap yang menyerupai awan kumulus.
Robert menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, “Kalian bisa berhenti pura-pura tidak saling mengenal.”
Pria itu mengangkat jari telunjuknya dan melanjutkan, “Tidak perlu mengelak. Aku tahu kalian bekerja sama.”
Hiro mengabaikan perkataan Robert dan membalas, “Aku akan mengembalikan semua barangmu dalam waktu satu minggu. Jangan ganggu orang lain yang tidak ada hubungannya dengan masalah di antara kita."
Tawa mengejek yang bernada rendah menggema dalam ruangan. Robert Castillo terkekeh-kekeh hingga perutnya yang buncit ikut bergetar di balik kemeja hawai yang dikenakannya.
“Maksudmu, tunanganmu?” Sorot mata Robert berkilat licik. “Setelah kamu mengembalikan barang-barangku dengan utuh, aku akan mempertimbangkan untuk tidak mengganggunya lagi. Bagaimana menurutmu?”
Hiro bangun dan hendak menerjang ke arah Robert, tapi dua orang penjaga menjegal gerakannya dengan cepat.
Bugh!
Brak!
Sebuah tendangan mendarat di perut Hiro sehingga membuatnya terpental dan menghantam kursi di depan mini bar. Ia menggapai untuk mencari pegangan, tapi sebuah pukulan kembali mengempaskan tubuhnya ke lantai. Pria itu terbatuk-batuk dan menyeka cairan hangat dan anyir yang menetes dari sudut bibirnya. Napasnya terasa sesak.
Andrew duduk dengan tenang dan mengamati semua itu tanpa perubahan ekspresi yang cukup berarti. Alat perekamnya sudah ia nyalakan sejak memasuki ruangan itu. Jadi, apa pun yang ia lihat saat ini sudah pasti terlihat juga oleh rekan-rekannya yang lain. Ia hanya perlu menunggu hingga bantuan datang dan ....
Boom!
Ledakan yang cukup keras di pintu membuat semua orang yang ada dalam ruangan terpental, termasuk Andrew yang memanfaatkan momen itu untuk berguling mendekati Hiro. Ia menarik tangan pria itu untuk berlindung di balik mini bar.
“Tetap di sini,” ujar Andrew sambil menatap dengan waspada ke arah lubang besar yang tadinya adalah lapisan pintu baja.
Tidak mungkin Jimmy dan Jovanka bergerak secepat ini ....
Dsing!
“Merunduk!” seru Andrew sembari menahan punggung Hiro agar tetap rata dengan lantai.
Hiro yang tidak memiliki senjata apa pun hanya bisa telungkup dengan patuh. Suara tembakan dan teriakan bersahut-sahutan tanpa henti. Andrew memutar bulatan kecil di sisi jam tangannya, mencoba untuk berkomunikasi dengan timnya. Namun, hanya suara statis bernada tinggi yang terdengar, bergema dan menyakiti gendang telinganya. Instingnya mengatakan bahwa ada yang tidak beres.
Ia membidik ke pintu, mengincar sosok-sosok yang bergerak di balik debu dan asap tebal yang kini semakin menipis. Ia melepaskan kunci pengaman dan bersiap untuk menembak.
“Tunggu!” desis Hiro seraya menahan lengan Andrew. Ia menajamkan penglihatan dan melihat dengan jeli ke arah pria yang sedang memberi perintah dari depan sana.
“Itu Ryuchi!” serunya lagi sambil bangun dan hendak berlari menghampiri sekretarisnya itu.
"Hey! Berhenti!"
Andrew mencekal pergelangan tangan Hiro dan mengawasi Ryuchi dengan awas.
"Malam itu, dia berada di dekatmu bukan?" tanya Andrew tanpa melepaskan cekalannya, "Bagaimana bisa dia tidak terluka sama sekali? Ini mencurigakan."
"Lepaskan aku!" teriak Hiro sambil berkelit cepat hingga jemari Andrew terlepas dari lengannya. Ia tidak mau mendengar omong kosong dari mulut Andrew.
Ini kesempatannya. Satu-satunya kesempatan baik yang ia miliki. Jantungnya berdebar penuh semangat ketika Andrew mengatakan mereka akan pergi Zeotrope. Ia tahu Ryuchi atau ayahnya akan memasang mata-mata untuk mencari tahu keberadaannya. Dan sekarang harapannya terkabul. Mana mungkin ia menyia-nyiakannya begitu saja.
"Jangan gegabah! Hati-hati Kobayashi!" seru Andrew untuk memperingatkan Hiro, tapi pria itu sudah merunduk dan berlari di antara desingan peluru yang masih terdengar di mana-mana.
Tiba-tiba saluran komunikasi Andrew bergemerisik, lalu suara Clark yang terputus-putus terdengar oleh Andrew.
".... Drew. Membelot ... Kobayashi ... semua ... dibunuh!"
Alarm di kepala Andrew langsung berbunyi, mengumpulkan kepingan informasi dan kejanggalan yang mengganggu pikirannya.
"Kobayashi! Menyingkir!" teriak Andrew seraya menerobos keluar.
Boom!
Ledakan kedua terdengar, memporak-porandakan isi ruangan yang sudah kacau balau. Tubuh Andrew melayang sepersekian detik sebelum terpelanting ke atas sofa. Pistolnya terlepas dan melenting entah ke mana. Sambil terbatuk-batuk, ia mencoba untuk bangun ... lalu melihat Robert Castillo berkelebat di antara reruntuhan dan menghilang.
Sial. Mr. Tanaka pasti akan sangat kesal kalau sampai pria itu lolos.
"Kobayashi!" seru Andrew ketika melihat tubuh Hiro yang bersimbah darah tergeletak di dekat reruntuhan tembok.
"Dasar bodoh! Sudah kukatakan untuk hati-hati," rutuk Andrew seraya mencoba untuk bangkit. Ia meringis ketika pedih berdenyut di sekujur tubuhnya, tapi ia harus bangun ... harus menolong ....
Ryuchi menyeringai lebar sambil mengarahkan senjata ke arah Hiro.
"A-apa yang k-kau lakukan ...."
Napas Hiro tersengal-sengal. Darah mengalir dari hidung dan mulutnya. Kepalanya seakan hampir meledak. Matanya tidak bisa fokus menatap bayangan Ryuchi yang menjulang di hadapannya.
"Masa kejayaan keluarga Kobayashi sudah berakhir. Serahkan tampuk kekuasaan kepadaku dan beristirahatlah dengan tenang," ujar pria itu seraya menarik pelatuk.
Dor!
***
Haii....
kalau kalian suka, jangan lupa like, komen, dan vote yaa... biar Andrew dan Keiko makin semangat menghibur kalian😍😍😍
tengkyuuu