
Dalam keremangan malam yang hanya diterangi cahaya bulan, sesosok bayangan dengan pakaian serba hitam mengendap-endap di lorong yang sepi. Ia berjalan menjauhi jalanan utama dan keramaian.
Sosok itu berjalan dengan mantap, tanpa ragu berbelok ke kanan atau kiri ketika menjumpai tikungan, seolah ia sudah sangat hafal rute itu di luar kepala.
Sebenarnya, bukan kebetulan pula sekarung uang yang berhamburan dari langit di depan rumahnya membuat orang-orang berebut memunguti pecahan yen tersebut, saling sikut dan saling dorong, mengabaikan situasi di sekitar mereka. Ada seseorang yang sudah mengatur hal itu untuk mengalihkan perhatian.
Bayangan hitam itu menyelinap dan bersembunyi di balik pohon wisteria yang berjajar rapi. Setelah yakin tidak ada yang mengikuti, ia melanjutkan langkahnya menuju sebuah mobil van hitam yang terparkir di dekat rumpun perdu. Dengan cepat ia membuka pintu dan duduk di kursi penumpang.
“Kapten Clark,” sapa seorang pemuda berambut cepak yang duduk di balik kemudi.
“Leon,” balas Clark sambil mengangguk singkat, “Cepat jalan.”
“Baik. Pakai sabuk pengaman Anda, Kapten.”
Pemuda itu memutar anak kunci dan menyalakan mobil. Dalam hitungan detik, mobil itu melesat melalui jalanan yang sepi menuju arah selatan Tokyo. Clark melepaskan jaket hitamnya dan melemparkan benda itu ke bangku belakang.
Kini seluruh peralatan taktis yang melekat di tubuhnya terlihat jelas. Ada dua buah pistol semi otomatis dalam rompi yang membungkus tubuhnya. Selain itu, ada juga peledak C4 yang sudah dimodifikasi sehingga ukurannya hanya sebesar kelereng. Sebuah belati multifungsi terselip di dada. Begitu juga peralatan tempur lainnya yang menempati rompi. Semuanya memiliki fungsi masing-masing yang tidak dapat diremehkan.
Clark melepaskan rompi itu untuk sementara dan meletakkannya di atas pangkuan dengan hati-hati. Membutuhkan waktu satu jam perjalanan selama satu jam untuk sampai di kota yang ia tuju, tapi tetap tidak boleh lengah. Ia harus tetap siaga. Oleh karena itulah ia lebih memilih jalur darat ketimbang jalur udara. Lebih sulit untuk menghindar jika musuh menyerang di udara. Jika melewati jalur darat, Garry sudah menyiapkan beberapa opsi cadangan jika sampai kepergiannya lebih dulu diketahui oleh pihak musuh sebelum ia sampai di tujuan.
Tangan Clark mengeluarkan ponsel dari saku celana, lalu mengaktifkan mode guard yang terpasang di benda itu. Dengan begitu, siapa pun yang mendekat dan mengikuti lebih dari 15 menit maka akan terdeteksi dan menyalakan alarm di ponselnya.
“Apakah Garry sudah mengirimkan koordinat kepadamu?” tanya Clark kepada pemuda yang sedang fokus mengemudi di sampingnya.
“Sudah, Kapten. Rute mobil telah disetel secara otomatis menuju Kota Kamakura, juga rute cadangan jika ada pemindahan jalur,” jawab Leon.
“Bagus.” Clark meluruskan punggungnya dan bersandar. “Meski suka pamer, kemampuan pemuda itu memang cukup berguna,” sambungnya lagi.
Ia mencibir ketika mengingat ide Garry untuk mengalihkan perhatian dengan cara menyebar uang dari atas helikopter. Memang terkesan sombong dan kekanakan, tapi ternyata cara itu cukup ampuh. Orang-orang yang ribut dan berkemurun di depan tempat tinggalnya membuat pasukan yang ditugaskan untuk mengawasinya sedikit teralihkan, begitu juga dengan Jovanka yang selalu mengintai dari apartemen di depannya. Wanita itu sekarang pasti sedang mengumpat dan kelabakan mencarinya.
Selain itu, kematian Mr.Tanaka pun cukup berpengaruh terhadap pengawasan yang dilakukan kepada dirinya. Orang-orang di markas utama terlalu terkejut akan berita kematian pria itu yang sangat mendadak dan dengan cara yang tidak terbayangkan.
Untungnya Kim mengirimkan semua visual secara online. Wanita itu meretas ke dalam seluruh jaringan internet pada detik-detik terakhir, merekam ekspresi Mr.Tanaka yang ketakutan dan semua sumpah serapah yang keluar dari mulutnya saat malaikat maut akan menjemput. Tak ada satu pun jasad yang ditemukan dari insiden itu, termasuk milik Mr.Tanaka. Semuanya luruh menjadi abu.
“Huh, siapa suruh menjadi orang jahat. Rasakan akibatnya,” gerutu Clark pelan. Pria itu memijit pelipisnya pelan. Ia benar-benar kurang tidur beberapa hari ini.
Mengenai perihal Kim yang meledakkan dirinya sendiri dan meretas ke dalam sistem internet, pemerintah dengan cepat menutupi berita itu dan mencoba mencari tahu bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi. Seorang humanoid menyusup ke dalam organisasi mereka tanpa ketahuan sama sekali, tentu mencoreng wajah mereka. Keamanan organisasi dipertanyakan.
Berdasarkan penggalan rekaman yang disiarkan oleh Kim, tidak ada yang bisa mengusut apa yang terjadi sehingga terjadi bentrokan antara wanita itu dan Mr.Tanaka. Banyak yang berspekulasi bahwa Mr.Tanaka mengetahui identitas Kim dan ingin memerasnya, ada pula yang menduga bahwa pria itu itu ingin memanfaatkan Kim untuk melakukan sesuatu yang jahat tetapi wanita itu menolak. Apa pun itu, semua rahasia sudah terkubur di bawah puing-puing yang rata dengan tanah. Tidak ada satu pun saksi mata tersisa untuk menceritakan bagaimana kejadian yang sebenarnya.
Lamunan Clark buyar ketika merasakan ponselnya bergetar. Ada panggilan dari Andrew. Dengan cepat Clark menjawab panggilan itu.
“Halo, aku—“
“Di mana kamu?” tanya Andrew dari seberang sana, hampir bersamaan dengan ucapan Clark.
“Sedang dalam perjalanan, sesuai arahanmu,” jawab Clark
“Bagus. Berhati-hatilah. Markas sudah mengetahui kepergianmu. Mereka sudah mengirimkan pasukan untuk mengejarmu. Jangan sampai putus kontak dengan Garry, untuk sekarang dia adalah mata dan kaki-tanganmu.”
Clark menyeringai. Jarang-jarang Andrew menghubunginya secara langsung hanya untuk menyampaikan pesan untuk berhati-hati. Biasanya pria itu hanya memberikan instruksi dan membiarkannya melakukannya tanpa mau repot-repot menelepon seperti ini.
“Apa kamu sedang mengkhawatirkanku?” tanya Clark ingin menggoda sahabatnya.
“Ya, karena kamu masih berguna. Aku masih membutuhkan tenagamu. Jika kamu mati sekarang, tidak ada lagi yang bisa membantuku.”
Sambungan telepon langsung terputus sebelum Clark sempat menjawab. Pria itu terbengong dan menatap ponselnya dengan ekspresi tidak berdaya.
“Apakah itu artinya tidak apa-apa jika aku mati setelah misi ini selesai? Dasar bedebah sialan!” umpat Clark dengan kesal, berusaha keras untuk tidak membuka jendela dan melempar ponselnya keluar.
“Apa yang kau tertawakan?” serunya lagi ketika menyadari Leon sedang menutup mulutnya dengan satu tangan.
“Tidak, Kapten,” jawab pemuda itu cepat. Bahunya bergetar menahan tawa.
“Tutup mulutmu dan menyetirlah dengan benar!” perintah Clark seraya melayangkan tinju ke bahu Leon.
“Siap, Kapten!”
Meski masih ingin tergelak, pemuda itu berusaha untuk fokus dan menjalankan mobil di keheningan malam. Jalanan yang panjang dan berliku membentang di hadapan mereka. Entah apa yang sedang menghadang di depan sana, tapi pemuda itu cukup optimis bahwa mereka bisa menemukan petunjuk. Andrew Roux adalah penyelamatnya, dan inilah waktu untuk membalas kebaikan pria itu.
***