
Ketika melewati koridor, para karyawan yang berpapasan dengan mereka hampir pingsan karena terkejut. Siapa yang tidak mengenal putri tunggal Marquess of Alrico? Gadis cantik bak dewi yang angkuh dan suka bersikap semena-mena itu kini berjalan bersama bos mereka. Astaga ... ini pasti merupakan sebuah kekeliruan.
Hansel berhenti di depan beberapa orang yang menatapanya dan Cecille dengan terang-terangan dan menegur, “Apakah kalian tidak ada pekerjaan? Kalau tidak, pergi ke bagian HRD untuk mengurus gaji terkahir kalian.”
“A-ada, Bos. K-kami pergi sekarang.”
Hansel mendengkus sekilas kemudian melanjutkan langkahnya menuju pintu hitam di ujung lorong. Ia membukanya dan mempersilakan Cecille masuk, lalu mengarahkannya untuk duduk di sofa abu-abu sisi kanan.
“Apa yang ingin kamu makan?” tanya pria itu seraya menyodorkan buku menu kepada Cecille.
Cecille memilih beberapa appetizer, main course, dan dessert, lalu mengembalikan buku menu kepada Hansel. Dalam hati ia kembali memuji, kantor itu benar-benar lumayan bagus, tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya.
“Katakan, apa yang ingin kamu bicarakan,” kata Hansel setelah memilih makanannya sendiri dan menyerahkan menu itu kepada pelayan.
“Pembicaraan kita sebelumnya ....”
Kening Hansel berkerut.
“Yang mana?” tanyanya. Ada banyak hal yang sudah mereka bicarakan sebelumnya.
“Bantu aku mendapatkan kembali Andrew Roux, maka kamu bisa mendapatkan kembali kekasihmu.”
Hansel tiba-tiba terdiam. Ia pikir gadis di hadapannya itu sudah melupakan niat itu, tapi sepertinya ia salah. Rupanya Cecille lebih keras kepala daripada yang ia kira.
“Kamu tidak mengambil pelajaran dari kasus Bryan?” tegur Hansel dengan mata menyipit, “Sesuatu yang dipaksakan, hasilnya tidak akan berakhir bagus.”
Cecille menggeleng dengan keras kepala dan membantah, “Pasti bagus kalau kamu mau bekerja sama.”
Selera makan Hansel tiba-tiba hilang. Meski begitu, ia masih menahan diri dan memberi muka kepada Cecille dengan tidak meninggalkannya saat itu juga.
“Karena kamu bilang datang untuk makan siang, maka mari makan dengan tenang. Setelah itu, apa pun yang kamu lakukan ... tidak ada hubungannya denganku. Tapi ingat, jangan pernah memikirkan untuk menggunakan trik kotor terhadap Keiko, kalau tidak ... aku tidak akan melepaskanmu.”
Sorot mata yang tajam dan mengintimidasi itu membuat Cecille gentar. Ia menggertakkan gigi dan memalingkan wajah. Tampaknya sekarang ia harus berjuang sendirian.
Makan siang yang seharusnya menyenangkan itu akhirnya terasa kaku dari awal sampai akhir. Hansel bahkan tidak mau berbasa-basi untuk sekadar mengantar Cecille ke lobi. Pria itu langsung meminta Betty yang memesan taksi untuk Cecille setelah keluar dari ruang makan.
“Tidak usah memesan taksi, sopirku menunggu di bawah,” tolak Cecille ketika melihat Betty sudah bersiap memesan taksi.
“Eng.” Hansel hanya bergumam sekilas dan langsung masuk ke kantornya.
Cecille berusaha tetap memasang ekspresi angkuh dan arogannya meski Hansel jelas-jelas mengabaikannya sejak tadi. Ia berbalik dan berderap cepat menuju lift sambil memaki Hansel dalam hati.
Pria bodoh itu, jelas-jelas aku ingin membantu, tapi malah mengacuhkan dan mengancamku. Lihat saja nanti ....
Setelah mencapai lantai dasar, Cecille keluar dari lift dan berjalan dengan langkah panjang-panjang menuju mobil yang sudah menunggu di depan lobi.
“Pergi ke Berlyn’s Club!” imbuhnya lagi sambil menoleh, melihat gerbang utama Injan Entertainment yang semakin mengecil.
“Kamu akan menyesal, Hansel Roux!” desisnya dengan mata memerah.
Ia pikir Hansel akan mudah diajak berdiskusi ketika sudah tidak mabuk. Siapa sangka pria itu justru menjadi sangat galak, bahkan berani mengancamnya!
Seumur hidup, kedua orang tuanya menjaga dan merawatnya dengan sangat baik, bahkan jika ia berulah dan merajalela, tidak ada yang berani menegur, apalagi memarahinya! Akan tetapi, Hansel Roux ini ... berani-beraninya ... bahkan mengacuhkannya di depan semua orang!
Cecille mendongak untuk menghalau butiran air yang sudah menggenang di pelupuk matanya, lalu mengulurkan tangan untuk menyusut hidungnya yang terasa masam dan pedih. Ia merasa sangat tertindas. Benar-benar sangat marah dan sakit hati.
Sementara itu, di lantai 12 Injan Entertainment, suara yang keras terdengar dari ruangan sang CEO. Betty yang menyadari wajah bosnya tidak bagus setelah makan siang dengan Nona Cecille hanya bisa terpaku di depan pintu. Baru saja ia mencoba untuk masuk dan menanyakan apa yang terjadi, tapi sebuah vas bunga melayang ke arahnya seperti UFO. Untung ia bisa menghindar tepat waktu. Oleh karena itu, demi keselamatan nyawanya, ia tidak berani melakukan apa pun lagi, juga tidak tahu harus menghubungi siapa untuk meminta bantuan. Hanya bisa pasrah ....
Hansel yang merasa emosinya menjadi buruk hanya bisa menggeram dan melempar semua benda yang ada di dekatnya ke sembarang arah. Hari yang baik apanya?
Umpatan dan kata-kata kotor tidak berhenti meluncur dari mulutnya. Apa yang membuatnya kesal? Ia sendiri tidak mengerti. Apakah karena tidak ingin Cecille melukai Keiko demi ide gilanya itu, atau karena gadis sialan itu masih berusaha untuk mendapatkan Andrew?!
Sialan! Benar-benar gadis sialan!
Datang dan merusak mood-nya, lalu pergi begitu saja. Rasanya ia ingin ...
Ingin ....
Hansel menyugar rambutnya dan mengempaskan tubuhnya ke atas sofa dengan keras. Ia tidak tahu ingin melakukan apa terhadap gadis sialan itu agar bisa melepaskan Andrew. Benar-benar membuat orang frustasi dan kesal!
Pria itu meraih jasnya dengan asal-asalan dan membuka pintu dengan kasar, membuat Betty yang masih berdiri di depannya melompat karena terkejut.
“B-bos, a-ada yang bisa saya bantu?” tanya gadis itu takut-takut.
“Di mana bar yang buka 24 jam?”
“Eng ... itu ... ada Berlyn’s Club dan Amethis, tapi Berlyn’s Club lebih eksklusif.”
“Oke.”
Oke? Apanya yang oke? Betty mengernyit dan ingin bertanya, tapi bosnya sudah melangkah pergi dengan tergesa.
Hansel melonggarkan dasinya dan duduk dengan asal-asalan dalam mobil. Bahkan tanpa memakai sabuk pengaman, ia menginjak pedal gas dalam-dalam dan mengikuti arahan dari GPS menuju Berlyn’s Club. Mabuk dan memukuli seseorang sepertinya bisa meredakan emosinya.
Suara ban yang berdecit menarik perhatian para karywaran. Mereka mulai berkerumun dan bergosip. Nona muda sang Marquess datang makan siang bersama CEO Hansel, lalu keluar dari ruang makan dengan wajah cemberut dan pergi dengan cepat. Sekarang CEO Hansel pun pergi seperti orang yang kerasukan iblis. Apakah sang CEO menjalin hubungan asmara dengan Nona Cecile? Lalu sekarang mereka sedang bertengkar?
Tanpa bisa ditahan, rumor itu beredar cepat dan berkembang melebihi apa yang bisa dibayangkan oleh siapa pun.
***