Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Menjaganya



Ketika melihat Keiko terburu-buru mengikuti Hiro, Andrew hanya bisa menghela napas panjang. Ia melompat turun dan menatap hingga gadis itu menghilang di ujung lorong. Ia merasa kesal, tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Lagipula, untuk apa kesal? Ia sendiri tidak mengerti.


“Kenapa menantapnya seperti itu?” tanya Jovanka sinis, “Kamu menyukainya? Kamu sadar siapa dirimu dan siapa dia?”


Andrew mendengkus dan menjawab, “Tolong bedakan urusan pekerjaan dan urusan pribadi, Miss. Masalah pribadiku, sama sekali bukan urusan Anda.”


Perkataan Andrew berhasil membuat Jovanka bungkam. Wanita itu hanya bisa mengatupkan rahangnya erat-erat dan menatap Andrew dengan sorot menyala-nyala. Mungkin jika tatapan mata bisa menyemburkan api, maka Andrew sudah habis terbakar.


Clark hanya bisa menutup wajah dengan tangannya. Ia tidak bisa berkomentar apa pun. Dua orang itu sudah dewasa, mereka bebas melakukan apa pun. Lagipula, ia tidak mau ikut campur dalam urusan percintaan yang rumit itu.


Tiga orang itu menoleh ketika seorang pria yang memakai topi baret menghampiri mereka. Pria berambuk cepak itu berkata, “Mr. Tanaka sudah menunggu. Silakan ikuti saya.”


Jovanka menahan semua keluhannya lalu mengekor di belakang petugas tadi. Ia bertekad akan mencari tahu mengenai Andrew dan Sakamoto Keiko setelah semua urusan di sini selesai. Kalau ia tidak bisa memiliki Andrew, maka tidak ada satu orang pun yang boleh memiliki pria itu.


Andrew mengabaikan Jovanka yang berderap maju seperti seekor banteng yang terluka itu, lalu berjalan mengikutinya.


Clark berusaha menyamakan langkahnya dengan Andrew, lalu berbisik, “Drew, sebaiknya kamu punya jawaban yang masuk akal ketika nanti Mr. Tanaka menanyakan alasanmu menyelamatkan gadis itu.”


“Hum,” gumam Andrew sekilas. Tentu saja ia sudah memikirkannya matang-matang. Ia sudah merencanakan semuanya.


Naoko turun dari mobil dan menyusul rekan-rekannya. Ia cukup lega karena misi berjalan tanpa kendala yang cukup berarti, meski jantungnya hampir merosot dari rongga dada saat mobil-mobil penjahat itu mengejar di belakangnya. Untunglah mereka terhalang beberapa detik oleh lampu merah, seperti yang sudah diatur sebelumnya.


Pria itu mengamati bangunan di hadapannya sekilas. Sepertinya bangunan itu adalah semacam rumah sakit militer. Kalau mengikuti rencana semula, seharusnya mereka menuju save house setelah keluar dari gedung tadi. akan tetapi, kondisi Hiro yang kehilangan cukup banyak darah membuat Mr. Tanaka mengubah lokasi pertemuan. Mungkin pria tua itu tidak ingin mengambil resiko kehilangan sumber informasi yang cukup berharga. Selain itu, Hiro dapat digunakan sebagai umpan untuk memancing Robert Castillo, Markas Pusat tentu saja tidak mau kehilangan kesempatan itu.


Mata Andrew jeli mengawasi ruang-ruang berpintu putih yang berjejer di sepanjang selasar. Ada penjaga di setiap sudut ruangan. Mereka membawa jenis senjata yang sama. Senjata yang biasa digunakan oleh pasukan khusus untuk melindungi aset. Kamera CCTV di mana-mana, juga akses masuk berupa tanda pengenal biometrik membuat Andrew yakin bahwa tempat ini lebih dari sekedar tempat perawatan semata.


Sepertinya Clark juga memiliki pemahaman yang sama dengan sahabatnya. Ia mengunci mulutnya rapat-rapat, tidak berkomentar sedikit pun meski benaknya dipenuhi tanya. Meski terlihat sedikit ceroboh, pria itu tahu kapan waktunya untuk diam dan mengikuti arus tanpa banyak melawan.


Setelah berbelok tiga kali dan melewati penjagaan berlapir, akhirnya mereka berhenti di depan sebuah pintu baja. Pengawal mendekatkan wajahnya pada kotak besi di dekat pintu, membuat sensor menyala dan memindai retinanya.


Bip.


Lampu berubah hijau. Tak lama kemudian, pintu baja itu bergeser ke kanan.


“Silakan,” ujar sang pengawal seraya memberi jalan untuk Jovanka yang berada paling depan.


“Terima kasih,” ujar wanita itu seraya berjalan masuk.


Andrew dan Clark mengekor memasuki ruangan serba putih yang cukup luas itu tanpa banyak cakap. Ada sebuah meja rapat berbentuk persegi panjang di tengah ruangan. Jimmy dan Satoru sudah lebih dulu tiba. Mereka berdua duduk di seberang Mr. Tanaka yang sedang berbicara di ponselnya.


Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Mr. Tanaka memasukkan benda itu ke saku celana, lalu menepuk-nepuk tangannya sekilas.


“Baiklah. Harus aku katakan kerja kalian cukup bagus, meski ada sedikit pelanggaran kecil,” ujar pria itu seraya menatap ke arah Andrew, “Apakah ada penjelasan yang masuk akal, Mr. Roux?”


Mendengar pertanyaan itu membuat Jovanka menyeringai puas. Ia bersedekap dan menunggu jawaban Andrew. Sejujurnya, ia ingin melihat pria itu diberi sanksi karena telah melanggar perintah.


“Miss Sakamoto adalah kelemahan Kobayashi Hiro. Kita bisa menggunakan kelemahannya agar pria itu mau bekerja sama,” jawab Andrew sambil membalas tatapan Mr. Tanaka, “Jika kita membiarkan gadis itu mati di sana, bukankah itu hanya akan membuat kita menjadi musuh pria itu? Apakah Anda mau bekerja sama dengan orang-orang yang menyeret Anda keluar tanpa menyelamatkan orang yang Anda cintai?”


Mr.Tanaka memicing, keningnya berkerut dalam. Apa yang disampaikan oleh Andrew sangat masuk akal. Ia bahkan tidak memikirkan hal itu sama sekali. Jari-jarinya yang kurus mengetuk-ngetuk tepian meja pelan. Setelah terdiam cukup lama, akhirny Mr. Tanaka berkata, “Baiklah. Aku serahkan urusan ini padamu.”


Andrew mengangguk pelan. “Terima kasih, Sir,” ujarnya seraya tersenyum tipis.


Sementara itu rahang Jovanka mengetat hingga suara giginya yang beradu terdengar oleh Clark. Pria itu hanya bisa menarik napas dan menyugar rambutnya.


Bedebah licik itu memang sangat pintar berimprovisasi. Pantas saja Ketua sangat menyukainya, gerutu Clark dalam hati.


“Aku memberimu izin dan akses untuk melakukan apa saja agar Kobayashi Hiro mau bekerja sama,” imbuh Mr. Tanaka seraya menyerahkan sebuah kartu platinum kepada anak buahnya itu.


“Baik.” Andrew menerima kartu akses itu sambil tersenyum puas. Matanya berlikat tajam ketika melirik ke arah Jovanka yang sudah hampir meledak di kursinya.


“Kita akan mengatur rencana selanjutnya setelah Kobayashi setuju untuk bekerja sama. Sekarang beristirahatlah, pengawal memberi kunci kamar kalian masing-masing.”


“Baik, Sir.”


Seringai di wajah Andrew semakin lebar ketika ia berjalan keluar ruangan. Jovanka lebih dulu berderap pergi meninggalkan pasukannya, tapi Andrew tidak mau ambil pusing.


“Sir, ini kunci kamar Anda,” ujar seorang pengawal wanita yang berhenti di depan Andrew, “


“Terima kasih.” Andrew membaca name tag wanita itu, lalu melanjutkan, “Miss Kim, aku membutuhkan bantuanmu.”


“Siap, Kapten,” jawab wanita itu dengan serius.


Andrew meminta wanita itu untuk mendekat, lalu berbisik di telinganya. Kim mengangguk-angguk, lalu memberi hormat sebelum meninggalkan selasar.


Jangan takut, Baby. Aku akan menjagamu ....


***