Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Harmonis (?)



Di ruang santai villa Kota Dinan, Keiko duduk bersandar dengan nyaman di atas sofa sambil memakan potongan buah apel. Sesekali ia melihat layar televisi yang sedang menayangkan Infotainment dalam negeri. Di sebelahnya--hampir satu meter jaraknya--Andrew duduk di sebuah kursi yang terpisah dengan memakai penutup wajah yang biasa digunakan untuk pesta topeng. Pria itu sudah duduk dengan postur seperti itu selama hampir satu jam, menemaninya istrinya dalam diam.


Sekilas pemandangan itu tampak harmonis, tapi saat Andrew sedikit bergerak atau bersuara, maka Keiko akan langsung melemparkan tatapan kejam ke arahnya. Kalau sudah begitu, Andrew akan kembali diam dan duduk dengan tenang, berusaha sebaik mungkin untuk menjadi patung. Istrinya itu semakin kejam akhir-akhir ini. Selain menyuruhnya untuk tidur di kamar tamu, ia juga tidak boleh mendekat sama sekali. Hal itu bukan tanpa alasan, Keiko akan muntah setiap kali berada di dekatnya. Katanya aroma tubuhnya membuat Keiko pusing dan mual. Padalah ia tidak memakai parfum atau deodoran sama sekali selama masa kehamilan istrinya itu, tapi tetap saja ... hanya bisa menjaga jarak aman seperti ini.


Saat Keiko sedang serius menonton televisi, Andrew yang bosan diam-diam mengambil sepotong buah apel, memfotonya dan mengirimnya kepada Clark dan Garry. Tak lama kemudian, ponselnya bergetar karena pesan dari kedua sahabatnya itu.


Clark:


Hanya buah saja, apa bagusnya?


Garry:


Boss, kamu sedang diet atau tidak punya uang untuk membeli makanan?


Andrew membaca kedua pesan itu sambil menaikkan alisnya. Beberapa saat kemudian, ia mengetik pesan balasan kepada dua orang itu.


Itu istriku yang kupas.


Ia menambahkan banyak emot smirk dan wajah sombong sebelum mengirimnya.


Di dua negara yang berbeda, Clark dan Garry sudah hampir membanting ponsel mereka ketika membaca pesan yang masuk. Andrew jelas-jelas sedang pamer dan menyindir mereka berdua!


Kalian juga cepatlah menikah agar ada yang mengurus, jangan gunakan tangan kanan kalian terus menerus, nanti bisa impot*n. Lihat aku, sebentar lagi akan menjadi ayah.


Satu lagi pesan masuk dari Andrew. Kali ini bahkan ada lebih banyak lagi emot smirk dan kacamata!


Clark langsung melempar ponselnya ke sudut ruangan, sedangkan Garry membaca pesan itu berulang-ulang dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah. Menikah benar-benar mengubah karakter seseorang. Dulu Andrew Roux tidak pernah mengirim pesan yang kurang kerjaan seperti ini. Dia bahkan akan repot-repot mengetik pesan sepanjang ini. Apakah dia sekarang benar-benar sedang santai dan menikmati hidup?


Diam-diam kedua orang itu merasa iri dan sakit hati karena keberuntungan Andrew. Alangkah bagusnya jika mereka juga bisa memiliki istri!


“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Keiko ketika menyadari suaminya sedang menunduk dan menatap ponsel di tangannya.


“Tidak ada,” jawab Andrew cepat, kemudian menyembunyikan ponselnya di dalam saku celana. Keiko bisa memarahinya jika tahu apa yang baru saja ia lakukan.


Tingkahnya itu membuat kening Keiko berkerut karena curiga. Sikap suaminya itu terlihat seperti seorang anak kecil yang sedang kedapatan melakukan kesalahan.


“Kenapa gerak-gerikmu sangat mencurigakan?”


“Mana ada? Aku hanya sedang membahas pekerjaan,” elak Andrew seraya mengusap tengkuknya untuk menutupi kebohongannya.


“Kamu sibuk? Kalau begitu pergi saja, aku bisa—“


“Tidak. Tidak sibuk. Aku akan duduk dengan tenang.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Andrew benar-benar duduk diam seperti patung.


Keiko menghela napas dan kembali menonton televisi. Ini hari Minggu dan Andrew sedang tidak ada pekerjaan, itu membuat suaminya terus menempelinya seperti permen karet yang kering. Benar-benar menjengkelkan. Ia tidak tahan melihat pria itu yang terus menatapnya seperti seekor anak anjing yang mengharap dielus oleh majikannya, jadi menyuruhnya untuk duduk jauh dan memakai topeng. Entah mengapa semakin hari saat melihat wajah suaminya membuat emosinya semakin tidak stabil. Apalagi saat melihatnya tersenyum atau tertawa, rasanya ia benar-benar ingin menendang atau memukulinya sampai babak belur.


“Breaking news untuk hari ini, putri dari Marquess of Alrico akan segera melangsungkan pernikahan dengan CEO dari Injan Entertainment, Hansel Roux. Kabar kedekatan mereka memang sudah berembus sejak beberapa minggu lalu, saat mereka kedapatan berada di kantor polisi bersama karena kasus penyerangan yang dialami oleh Nona Cecille. Namun, sungguh tidak terduga ketika kabar pernikahan ini dirilis di kediaman sang Marquess beberapa waktu lalu. Tidak ada yang menyangka bahwa progres kedekatan mereka akan secepat ini.”


Suara penyiar berita di televisi membuat Keiko yang sedang mengomel dalam hati langsung melongo. Dagunya hampir terlepas. Ia menatap TV di hadapannya tanpa berkedip saat wajah Marquess of Alrico muncul di layar, di sampingnya ada Cecille dan Hansel. Wajah Cecille tampak malu-malu, sedangkan Hansel menggenggam tangannya dengan lembut. Keiko benar-benar terpana karena belum pernah melihat ekspresi Hansel yang seperti itu. Pria itu terlihat seperti sosok yang berbeda dengan Hiro yang dikenalnya dulu.


Tiba-tiba Keiko teringat ucapan suaminya beberapa hari lalu mengenai Cecille yang menjebaknya dan Hansel yang datang ke kamar club. Apakah itu berarti mereka benar-benar tidur bersama? Astaga ... ini terlalu mengejutkan.


Ia menoleh dengan cepat ke arah Andrew dan bertanya, “Kamu yang mengatur semua ini?”


“Ini terlalu tiba-tiba ...,” gumam Keiko seraya menatap layar TV kembali. Wajah Hansel dan Cecille sekarang di close-up, lalu kamera menyorot kedua tangan mereka yang saling bertaut.


“Kamu cemburu?” tanya Andrew tiba-tiba. “Aku juga bisa mengadakan konferensi pers dan menggenggam tanganmu seperti itu kalau kamu mau.”


Keiko memutar bola matanya dan mendengkus.


“Apanya yang cemburu? Aku hanya terkejut.”


“Mungkin wanita itu hamil, makanya langsung diadakan pernikahan,” cetus Andrew sambil lalu.


Pernyataan Andrew membuat Keiko lebih tercengang lagi. Ia tidak memikirkannya sampai ke sana. Akan tetapi, sepertinya itu alasan yang paling masuk akal. Tiba-tiba ia ingin menelepon Hansel dan menanyakan apa yang terjadi. Namun, apakah itu tidak terlihat sedikit berlebihan? Ia tidak pernah menghubungi mantan tunangannya itu sejak ia menikah dengan Andrew.


Akhirnya Keiko hanya bersandar ke sofa dan mengembuskan napas dengan lega. Begini juga bagus ... sangat bagus ... akhirnya pria itu menemukan kebahagiaannya sendiri, ia tidak perlu mencemaskannya lagi ....


Keiko melirik ke arah suaminya dan menepuk sisi sofa yang kosong di sebelahnya.


“Kemari,” panggilnya.


Andrew langsung melompat bangun dan duduk di sebelah istrinya tanpa menunggu dipanggil dua kali. Ia terlalu bersemangat sehingga ia hampir menubruk tubuh wanita itu.


Keiko tertawa dan berkata, “Pelan sedikit. Siapa yang mengejarmu?”


Wanita itu mengulurkan tangan untuk membuka topeng Andrew dan mendaratkan kecupan ringan di pipinya.


“Terima kasih, aku senang kamu melakukannya untuk Hiro. Dia juga berhak untuk bahagia.”


Andrew menyeringai lebar seperti orang bodoh karena dipuji dan dicium seperti itu. Ia baru hendak mengulurkan tangan untuk memeluk Keiko, tapi diurungkannya saat melihat wajah istrinya sudah memucat. Tak lama kemudian, Keiko berjalan cepat menuju kamar mandi dan muntah dengan hebat.


“Kim, cepat bantu Nyonya!” teriak pria itu dengan ekspresi tak berdaya.


Andrew tidak tahu harus melampiaskan kekesalan kepada siapa, akhirnya hanya bisa memarahi kedua anaknya yang masih berada di dalam perut istrinya. Kedua bayi itu benar-benar minta dihajar. Lihat bagaimana ia memukuli pantat mereka ketika lahir nanti.


***


Malam hari saat mata Keiko sudah hampir terpejam, Andrew berlutut di sisi ranjangnya dan berbisik, "Baby, katakan ... aku tampan tidak?"


"Sangat tampan. Ada apa?" gumam Keiko dengan mata masih terpejam.


"Kata pembaca, Hansel lebih romantis dariku. Hati mereka sekarang terbagi dua. Kamu bilang, apa aku harus mengirim orang untuk memukuli Hansel?"


Keiko mengembuskan napas tak berdaya mendengar suaminya yang sedang merajuk.


"Ck. Jangan seperti anak kecil. Bagiku kamu tetap yang paling tampan. Sini ...."


Andrew langsung melompat naik dan bergelung di sisi Keiko dengan nyaman. Seulas senyum licik tersungging di bibirnya. Trik kecil seperti ini ternyata sangat bermanfaat, setidaknya malam ini ia bisa tidur bersama istrinya!