Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Suami-istri yang harmonis



Di dalam kamar, Andrew sedang membuka laptop dan mengunduh informasi yang baru saja dikirim oleh Garry. Ia menekan tombol enter untuk membuka file yang baru saja terunduh. Sebuah tampilan hologram melayang di atas meja kerjanya. Semua berkas ia baca dan pelajari dengan sangat teliti, tidak ingin melewatkan celah sekecil apa pun.


Pria itu menandai beberapa bagian, termasuk latar belakang dan persamaan waktu di beberapa lokasi sekaligus. Ia mencatat nama-nama tempat di mana orang-orang itu melakukan pertemuan dengan Jovanka maupun Mr.Tanaka, juga kontak mereka dengan orang-orang suruhan Ryuchi.


Manusia-manusia licik itu ... huh, mereka hanya saling menjerat dalam tipuan-tipuan klasik yang penuh intrik, hanya tinggal menunggu siapa yang lebih dulu terperosok ke dalam jebakan.


Andrew menutup mata dan memijit pelipisnya sebentar. Kepalanya benar-benar pening. Tak disangka orang-orang itu sangat haus akan kekuasaan, bahkan menghalalkan segala cara untuk menduduki puncak tertinggi.


Sepertinya mereka tidak dapat mengerti jika posisi tertinggi hanya bisa didapat dengan kerja keras yang disertai dengan kemampuan. Cara-cara yang kotor—apalagi dengan menggunakan trik murahan bersama para kriminal—hanya akan menyeret seseorang ke lembah kehancuran.


Bip. Bip. Bip.


Lampu indikator di ponsel Andrew berkedip-kedip disertai nada dering khusus. Ia segera menekan tombol hijau untuk menerima panggilan itu. Dalam sekejap separuh tubuh Clark muncul di hadapan Andrew dalam tampilan empat dimensi.


“Andrew, kamu tidak akan percaya dengan apa yang baru saja kutemukan!” seru Clark begitu melihat wajah Andrew berada di hadapannya.


Mata Andrew menyipit menyaksikan antusiasme sahabatnya. Ia bertanya, “Apa yang membuatmu begitu bersemangat?”


“Lihat ini!”


Clark menekan sebuah benda yang menyerupai remote control di tangannya. Dalam sekejap percakapan antara Jovanka dan seorang pria botak bergema dalam kamar Andrew. Mikro kamera yang ditempel oleh Clark di jam tangan wanita itu bekerja dengan sangat baik, menampilkan seluruh wajah pria botak yang berwajah dingin dan kejam.


Kali ini Andrew benar-benar tidak dapat menutupi rasa terkejut dari wajahnya. Ia mengenali pria yang merupakan salah satu petinggi EEL di Rusia itu. Pria botak itu bernama Mr. Durrant, orang yang mengepalai operasi militer di Rusia baru-baru ini. Benar-benar tidak disangka pria yang terlihat tenang dan berdedikasi itu memiliki ambisi seperti ini. Kekejamannya terlihat mengerikan ketika menendang Jovanka tanpa ampun.


Tidak ada informasi mengenai Mr.Durrant dalam file yang dikirim oleh Garry, yang berarti pria itu bekerja dengan sangat hati-hati. Lalu mengapa dia tiba-tiba lepas kendali dan langsung mendatangi Jovanka? Pasti ada hal mendesak yang memaksanya melakukan hal itu.


“Aku lihat kamu cukup terkejut,” ujar Clark dengan penuh kesombongan, “Informasi ini tidak kamu dapatkan dari Garry, ‘kan?”


Andrew mendengkus sebagai jawaban. Ia melirik sahabatnya itu dengan acuh tak acuh sambil berkata, “Berhati-hatilah, jangan sampai mereka tahu kalau kamu sedang memata-matai mereka. Orang-orang itu bukan tipe yang mudah diatasi. Jangan bertindak tanpa konfirmasi dariku.”


“Well ... well ... well, Mr.Roux, apakah Anda sedang mengkhawatirkan aku?” goda Clark sambil tersenyum genit.


“Jangan terlalu banyak memuji diri sendiri. Aku hanya tidak ingin kehilangan sumber daya yang masih bisa digunakan,” sergah Andrew sambil memasang ekspresi jijik di wajahnya.


Clark melotot. Sahabatnya itu lebih banyak diam, tapi ketika mambuka mulut maka hanya kata-kata sindiran setajam pedang yang menusuk hati yang dilontarkan. Clark baru saja akan membalas perkataan Andrew ketika terdengar suara ketukan pintu disertai suara yang cukup jelas dari luar.


“Andrew, makan malam sudah siap.”


Keheningan yang canggung menguar di udara. Suara Keiko membuat Andrew melupakan apa yang sedang ia pikirkan selama beberapa detik. Ia tidak tahu harus menjawab gadis itu atau memutuskan panggilan dengan Clark lebih dulu.


Sementara itu Clark sudah hampir jungkir balik di hadapan sahabatnya. Separuh tubuhnya dalam bentuk hologram itu bergerak naik turun seperti orang yang sedang melompat-lompat, matanya membulat dan mulutnya bergerak seperti sedang memekik.


Mendengar perkataan Clark membuat wajah Andre menjadi suram, tatapan matanya menjadi lebih dalam dan berbahaya.


“Coba kamu katakan sekali lagi,” perintah pria itu sambil menatap lekat ke pantulan hologram yang hanya berjarak sekitar tiga langkah dari hadapannya.


Mendengar adanya ancaman dalam nada suara Andrew membuat Clark menyadari bahwa ia sudah bercanda kelewat batas. Ia segera membuat gerakan mengunci mulut lalu berkata, “Aku tahu aku salah. Maafkan aku, oke?”


Tanpa menunggu jawaban Andrew, Clark langsung memutuskan sambungan panggilan dan menarik napas dalam-dalam. Ia baru ingat kalau Keiko baru saja melarung abu jenazah ayahnya ke laut. Meski tampak tenang, ia tahu situasi yang dialami Andrew juga pasti tidak mudah. Malah bisa dikatakan, situasi sahabatnya itu lebih sulit karena melibatkan gadis yang dia cintai.


Sementara itu di sisi lain, Andrew menenangkan dirinya sebelum membuka pintu. Mau tidak mau ucapan Clark mempengaruhi dirinya: hidup rukun seperti sepasang suami istri yang sudah lama menikah.


Sayangnya, pernikahannya dengan Kinara Lee di kehidupan sebelumnya tidak bertahan selama yang ia harapkan. Sedangkan di kehidupan sekarang, ia tidak tahu apakah bisa memenangkan hati Sakamoto Keiko atau tidak karena belum ada progres yang signifikan sampai saat ini. Sungguh sebuah ironi yang konyol kalau tidak bisa dibilang tragis.


“Maaf, apa aku mengganggumu?” tanya Keiko dengan sedikit rasa bersalah ketika melihat wajah Andrew yang kusut menyembul dari balik pintu.


“Tidak,” sanggah Andrew cepat, “Ayo, aku sudah lapar.”


“Hum.”


Dua orang itu berjalan ke ruang makan dengan tenang. Andrew duduk di seberang Keiko, lalu mengambil piring dan menyendok nasi. Aroma masakan menggelitik indera penciuman dan membangkitkan selera untuk makan. Pria itu mengulurkan tangan untuk mengambil sayuran di ujung meja, tapi Keiko lebih dulu menjepit sayur itu dengan sumpit dan mengulurkan kepadanya.


Gerakan tangan Andrew terhenti, begitu pun dengan Keiko. Mereka sama-sama terpaku sesaat, yang membedakannya adalah senyum Andrew membuncah sedangkan wajah Keiko memerah karena malu.


“Terima kasih.”


“Maafkan aku.”


Dua perkataan itu terdengar hampir bersamaan disertai gerakan kaku dan gugup dari Keiko yang bingung hendak meletakkan kembali sayur dalam sumpitnya, atau tetap menyerahkannya kepada Andrew. Untunglah Andrew lebih dulu berinisiatif untuk menyodorkan mangkuknya sehingga kecanggungan itu sedikit berkurang.


“Maafkan kelancanganku,” ujar Keiko sambil menunduk. Ia mengumpat dalam hati. Apa yang dipikirkannya sehingga bisa bertindak sembrono seperti itu? Rasanya benar-benar seperti sedang memasak dan melayani suami untuk makan.


“Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan meski kamu melakukannya setiap hari,” jawab Andrew dengan santai.


Ia menyendok nasi dan memakan sayur yang baru saja diambilkan oleh Keiko. Rasanya perkataan Clark tidak terlalu berlebihan. Kehidupan ini terasa seperti suami-istri yang hidup harmonis. Mendadak ia tidak terlalu kesal lagi kepada sahabatnya yang bermulut lancang itu.


Karena cukup bahagia, Andrew tidak menyadari Keiko yang hampir tersedak mendengar jawabannya tadi. Gadis itu membenamkan wajah dalam-dalam hingga hidungnya hampir menyentuh permukaan meja.


Melakukannya setiap hari. Bukankah itu sama saja mereka seperti suami-istri?


***