Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Renungkan kesalahanmu



“Tunggu. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Keiko sambil menatap suaminya lekat-lekat. Itu sedikit aneh karena Andrew bereaksi berlebihan.


“Eng ... aku ... sebenarnya ....” Andrew tersenyum kaku.


Haruskah ia menceritakan kejadian semalam kepada Keiko? Wanita hamil itu sedang sangat sensitif sekarang, takutnya jika ia jujur ... entah apa yang akan dilakukan oleh istrinya itu. Namun, jika ia tidak mengakuinya, bagaimana jika Keiko mengetahuinya dari orang lain? Dari Cecille misalnya? Apa yang terjadi jika Cecille menambahkan detail yang tidak terjadi?


Jemari Andrew bergerak gelisah, meregang dan merapat beberapa kali sebelum terkepal di sisi tubuhnya. Keputusan yang benar-benar sulit, tapi harus ia lakukan.


“Ada apa, Andrew?” desak Keiko yang mulai cemas melihat respon suaminya. “Apakah terjadi sesuatu tadi malam? Terjadi masalah dengan perusahaan?”


“Itu ... sebenarnya ... aku bertemu Cecille di club.”


“Apa?”


“Dia menjebakku.”


“Apa?!”


Keiko bangun dari sofa. Mendengar kata “menjebak” membuat otaknya berasumsi ke mana-mana. Ia sudah hampir menangis. Ia merenggut piyama Andrew dan memeriksa tubuh pria itu bolak-balik.


“Apa yang dia lakukan kepadamu?” desis Keiko dengan mata memerah.


“Kamu tenang dulu, Sayang ....” Andrew semakin gugup. Ia berusaha meraih bahu Keiko tapi wanita itu menolak dengan keras.


“Itukah sebabnya kamu tersenyum seperti orang bodoh sepagi ini?” tanya Keiko sambil meninju dada Andrew.


“Tidak. Tidak. Bukan itu!” sanggah Andrew cepat. “Kamu dengarkan penjelasanku dulu, oke?”


“Bukan itu lalu apa?”


“Dia menjebakku, tapi aku menukar gelas minumannya saat dia sedang mengambil dokumen di meja sebelah ranjang.”


“Apa? Ada ranjang juga?! Perempuan sialan itu—“


“Sayang ... jangan marah-marah, nanti bayi kita terkejut,” bujuk Andrew seraya memapah Keiko agar kembali duduk.


“Jangan sentuh aku!” Keiko mendorong tangan suaminya menjauh. Sekarang ia merasa 1000 kali lebih kesal melihat wajah suaminya.


“Ada ranjang, tapi tidak terjadi apa-apa di antara kami. Dia melepaskan pakaiannya dan menempel padaku, tapi aku mendorongnya dengan keras,” lanjut Andrew. Setiap patah katanya ia ucapkan dengan hati-hati sambil memperhatikan perubahan mimik wajah istrinya.


Keiko menggeram dan meremas sofa dengan kuat. Ia memelototi suaminya.


“Berani-beraninya ....”


“Aku bersumpah tidak terjadi apa-apa di antara kami, Baby. Kalau kamu tidak percaya, kamu boleh bertanya kepada Hiro ... eng, maksudku Hansel. Aku langsung pergi ketika dia datang ke club.”


“Hiro?”


Andrew mengusap ujung hidungnya dengan gugup. Entah mengapa saat ini rasanya apa pun yang ia katakan atau jelaskan akan tetap membuat istrinya marah. Oleh karena itu, ia hanya bisa pasrah dan menerima semua yang akan terjadi kepadanya setelah mengatakan semua kejujuran.


“Aku memanggilnya untuk membantu Cecille ...,” gumam Andrew pelan. “Mungkin semalam mereka sudah tidur bersama.”


“Jangan salahkan aku, Cecille sendiri yang meminta untuk memanggilkan Hiro. Aku hanya mengikuti permintaannya saja. Kalau setelah itu mereka benar-benar tidur bersama, bukankah itu bagus? Tidak ada lagi pengganggu di antara kita.”


Selesai mengatakan kalimat itu, wajah Andrew berubah menjadi berseri-seri, seolah ia baru saja melakukan sesuatu yang luar biasa dan patut mendapatkan pujian.


Keiko masih berusaha mencerna semua informasi itu di kepalanya. Sejak kapan Hiro dan Cecille saling mengenal? Bahkan sampai pada tahap bersedia untuk tidur bersama. Keiko merasa ia ketinggalan terlalu banyak informasi. Namun, seperti kata Andrew, bukankah itu bagus? Sekarang tidak akan ada lagi yang mengganggunya ataupun Andrew. Jika Hiro bisa bersama Cecille, alangkah bagusnya ....


“Baby, kamu marah kepadaku?” tanya Andrew pelan. Ia berlutut di depan Keiko dan mencoba menarik perhatian wanita yang sedang termenung itu.


Suara Andrew yang dalam dan magnetis menarik kembali kesadaran Keiko. Matanya menyipit dan memperhatikan suaminya dengan teliti. Tadi pria itu bilang Cecille telan*jang dan berusaha menggodanya.


Hmph ... meski dia menolak ... tetap saja sudah bersentuhan ....


Mendapat tatapan seperti itu membuat Andrew seketika menjadi waspada. Rasanya seperti narapidana yang akan dijatuhi vonis hukuman oleh hakim.


“Di mana dia menyentuhmu?” tanya Keiko.


“Um ... itu ... di sini ... juga di sini ....” Andrew bangun dan menunjuk lengan, kaki, dan pinggangnya dengan takut-takut. Istrinya belum pernah terlihat semenyeramkan sekarang. Wanita itu terlihat seperti seekor singa betina yang siang menerkam kapan saja.


“Di mana pakaian yang kamu pakai tadi malam?”


“Sudah aku buang ....”


Bagus. Keiko mengangguk puas. Setidaknya suaminya memiliki kesadaran untuk membuang sampah itu. Kalau tidak ... ia sendiri yang akan mengoyaknya.


“Malam ini kamu tidur di kamar tamu,” ujar Keiko dengan penuh penekanan di setiap katanya.


“T-tapi, Baby—“


“Renungkan kesalahanmu.” Keiko memalingkan wajahnya. “Pergi mandi. Jangan ada sedikit pun jejak yang tertinggal.”


Andrew ingin mengatakan bahwa tadi malam ia sudah mandi dan berendam di bathtub selama hampir satu jam, tapi akhirnya ia menelan kembali semua kalimat pembelaan diri itu dan berjalan menuju kamar mandi dengan patuh.


“Siapa yang menyuruhmu mandi di sini? Pergi mandi di kamar tamu.”


Suara Keiko membuat kaki Andrew yang sedang melangkah terhenti di udara. Ia membalikkan tubuh dan menatap Keiko dengan wajah memelas.


“Istriku ... jangan terlalu kejam, ya?” bujuknya. Wajahnya terlihat seperti sudah akan menangis saat itu juga, tapi Keiko sungguh tidak peduli.


Wanita itu mengernyit dan berwajah masam ketika membalas, “Cepat pergi, melihat wajahmu hanya membuatku semakin kesal.”


Andrew mengembuskan napas pelan-pelan. Jujur salah, tidak menceritakannya pun salah. Pria itu berjalan keluar dari kamar utama dengan wajah merana. Padahal ia masih harus bertemu dengan Cecille untuk legalisir penyerahan lahan yang sudah mereka sepakati semalam. Kalau begini, haruskah ia menceritakannya kepada Keiko juga? Atau sebaiknya ia diam-diam saja pergi dan mengurusnya? Benar-benar dilema ....


Sementara itu, di dalam kamar Keiko masih duduk di sofa dan memikirkan Hiro yang memiliki hubungan dengan Cecille.


Sebenarnya Cecille sangat cantik dan anggun ... kalau saja perempuan itu tidak terus-terusan mencoba merebut suaminya, mungkin mereka bisa berteman. Namun, perempuan licik itu bahkan berani menggunakan trik dan ingin menjebak suaminya.


Keiko mendengkus dan memarahi Cecille dalam hati. Ia berharap perempuan itu benar-benar menjalin hubungan dengan Hiro agar tidak terus menerus menargetkan suaminya. Kalau tidak ... mungkin ia yang akan turun tangan sendiri untuk membereskannya.


***