
Sudah hampir pukul 07.00 ketika Andrew mengajak Keiko kembali ke landasan.Dengan seringai lebar yang sangat cerah, mereka berdua berjalan bersisian dan jemari saling bertaut.
Namun, saat memasuki pesawat, Keiko sedikit terkejut melihat Hiro sedang duduk di sofa dengan wajah tertekuk masam. Sebuah botol infus tergantung di sebelahnya, tersambung dengan jarum yang ditusuk di punggung tangannya. Wajah pria itu terlihat sedikit pucat, tapi aura yang terpancar dari tubuhnya jelas sedikit mengintimidasi dua orang perawat yang berada di dekatnya. Tidak ada yang berani bersuara sama sekali.
Ketegangan semakin meningkat ketika Andrew dan Keiko melangkah masuk bersama-sama. Mendadak tekanan udara turun drastis, menciptakan suasana yang canggung dan sedikit membuat sesak napas. Tatapan yang dilemparkan Hiro kepadanya membuat Keiko merasa seperti tertangkap basah oleh suami saat sedang berselingkuh. Mendadak ia merasa sedikit cemas, padahal ia tidak merasa telah melakukan kesalahan apa pun terhadap pria itu.
Akan tetapi, hal itu tidak berlaku untuk Andrew yang melenggang dengan santai sambil menggandeng tangan Keiko menuju sofa. Ia memasang ekspresi acuh tak acuh, seolah keberadaan Hiro tidak ada dalam jarak jangkuan pandangannya. Sejenak ia mengusap telapak tangan Keiko ketika menyadari kekasihnya itu sedikit gugup dan terintimidasi oleh sikap Hiro, seolah ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Setelah memastikan Keiko sudah duduk dengan nyaman di atas sofa, Andrew membuka panel komunikasi dan meminta pramugari untuk membawakan sarapan.
“Dari mana saja kalian?” tanya Hiro dengan memasang wajah curiga. Ia berharap melihat Keiko ketika membuka mata, tapi apa yang didapatkannya? Alih-alih menemukan Keiko, ia justru dibari tahu bahwa gadis itu diajak pergi oleh Andrew. Seketika hatinya merasa kesal juga tidak rela.
Kening Andrew berkerut dalam, sedangkan mimik wajahnya terlihat sangat tidak puas mendengar pertanyaan Hiro. Ia mengetukkan jarinya ke paha dengan tidak sabar, seolah ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya.
“Mengapa pasien dibiarkan berkeliaran? Aku pikir tadi dia sudah sekarat dan hampir mati,” ujarnya seraya melempar tatapan menyalahkan kepada salah seorang perawat yang berada paling dekat dengannya.
“Maaf, Mr.Roux. Saat sadar, Tuan Muda ini bersikeras untuk keluar dan mencari Nona Keiko,” jawab perawat itu tanpa berani mengangkat wajahnya. Tuan Hiro memang sulit ditangani, tapi Mr.Roux lebih susah untuk ditenangkan. Ia sungguh merasa nasibnya sangat sial karena berada di antara dua orang itu.
Hiro yang merasa diabaikan oleh Andrew menjadi semakin kesal. Gemerutuk geliginya yang beradu terdengar jelas dalam ruangan. Ia memutuskan untuk meminta penjelasan kepada Keiko saja. Akan tetapi, ketika ia menoleh ke arah gadis itu, hal pertama yang menarik perhatiannya adalah sebuah cincin bertahtakan berlian yang tampak berkilauan di jari manisnya. Pantulan cahayanya terasa seperti duri yang menusuk mata Hiro, tajam dan menyakitkan. Benda itu tidak terlihat ketika Keiko masuk tadi, sepertinya terhalang oleh tangan Andrew.
“Dari mana kamu mendapatkannya?” tanya Hiro menuntut jawaban. Seingatnya, Keiko tidak memiliki cincin dengan model seperti itu. Ia juga tidak melihat Keiko memakainya saat mengobatinya kemarin. Itu berarti, gadis itu baru saja mendapatkannya.
Mata Hiro memicing. Apakah Andrew yang baru saja memberikannya?
Andrew yang juga mendengar pertanyaan itu lebih dulu menjawab dengan acuh tak acuh, “Aku yang memberikannya. Ada masalah?”
“Ke mana cincin pertunangan kita?” tanya Hiro kepada Keiko tanpa memedulikan perkataan Andrew. Ia menganggap suara rivalnya itu bagaikan angin lalu. Di matanya kini hanya terpantul bayangan cincin di jari manis Keiko yang semakin lama terlihat semakin menjengkelkan.
“Aku ... Hiro, aku sudah menjelaskan kepadamu sebelumnya. Aku tidak ....“ Keiko tampak serba salah. Ia menoleh untuk meminta pertolongan kepada Andrew. Bagaimana harus menjelaskan kepada Hiro bahwa mereka berdua benar-benar sudah tidak mungkin menjalin hubungan percintaan?
“Hiro, biarkan aku memperjelas semuanya.” Andrew menyilangkan kakinya ke atas paha dan duduk seperti seorang kaisar yang sedang memberikan titah.
“Keiko tidak ada hubungan lagi denganmu. Sesuai kesepakatan sebelumnya, kamu sudah menyerahkannya kepadaku sebelum kita ke Zeotrope, kalau kamu masih bisa mengingat dengan jelas. Itu berarti secara otomatis hubungan kalian sudah berakhir.”
“Sekarang dia sudah resmi menjadi kekasihku. Aku dan dia menjalin hubungan secara fair karena izin darimu, jadi tidak ada satu pun di antara kami yang mengkhianati kamu. Kamu tidak berhak untuk mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dia lakukan lagi. Sekarang satu-satunya orang yang berhak berada di dekatnya dan melindunginya adalah aku. Oleh karena itu, Keiko tidak berutang penjelasan apa pun kepadamu.“
Sebelum Hiro sempat membalas semua ucapannya barusan, Andrew segera menambahkan
lagi, “Pikirkan baik-baik sebelum menjawab. Orang-orang EEL bisa kapan saja datang dan menjemputmu hanya dengan satu kali panggilan dariku.”
“Kamu sedang mengancamku?!” sergah Hiro sambil mengacungkan telunjuknya. Matanya semerah darah. Kalau bukan karena kondisi tubuhnya yang sedang lemah, ia pasti sudah benar-benar menerjang ke depan dan berkelahi dengan Andrew.
“Tidak. Mana ada aku mengancammu? Aku tidak pernah mengancam. Aku hanya sedang memberitahumu saja,” jawan Andrew dengan santai. Ia lalu membuka nampan yang baru saja dibawakan oleh pramugari dan mengambil setangkai cherry.
“Cobalah, ini sangat enak. Rasanya manis dan segar, sangat bagus dinikmati sebagai hidangan pembuka,” ujar Andrew kepada Keiko. Ia menggigit satu butir cherry, kemudian menyodorkan satu lagi ke mulut gadis itu.
Keiko tidak ingin semakin memancing emosi Hiro, jadi ia mengambil buah cherry dari tangan Andrew dan mendorong bahu pria itu agar tidak terlalu menempel dengannya.
“Aku bisa sendiri,” gumam Keiko sambil menepis tangan Andrew, “Menjauh sedikit.”
Ia memberi isyarat dengan sorot matanya kepada Andrew untuk berhenti memprovokasi. Sebenarnya, ia bukannya tidak sakit kepala dengan sikap Hiro. Akan tetapi, saat ini ada banyak orang luar. Ia tidak ingin membuat keributan dan menjadi bahan tontonan bagi para perawat dan pramugari di sekitar mereka.
Sayangnya, Andrew tidak mau bekerja sama. Raut wajahnya terlihat seperti tidak berdosa ketika bertanya, “Kenapa? Kamu takut mantan tunanganmu marah?”
Keiko yang sudah mengunyah buah di mulutnya langsung tersedak. Ia memukul-mukul dadanya sambil terbatuk pelan.
“Pelan sedikit, tidak ada yang berebut makanan denganmu, dasar bodoh ....” Andrew menepuk-nepuk pundak Keiko, lalu menyodorkan segelas air. Nada suaranya menjadi sangat lembut dan sarat kasih sayang.
Keiko meneguk habis isi gelas itu, kemudian memelototi Andrew dengan kesal. Pria itu benar-benar menjadi sangat menjengkelkan jika sedang cemburu. Hiro juga sama saja! Benar-benar keras kepala seperti batu! Sekarang, bagaimana ia harus menghadapi dua orang pria yang kekanakan ini?
.***
Jangan lupa vote untuk Mr.Roux yang nakal ini yaa 😆