
Detik demi detik terasa berjalan sangat lambat. Andrew masih berlutut di atas zabuton dengan tenang. Keheningan yang mencekam masih terasa, seolah menarik paksa seluruh pasokan udara dari rongga dada. Meski demikian, Andrew tidak bergerak sama sekali dari posisi semula.
Ia sudah menunggu selama 20 menit. Seharusnya itu adalah waktu yang cukup untuk ... ah, itu dia. Deru baling-baling helikopter terdengar dari kejauhan. Andrew menyipit dan menoleh ke arah jendela. Sayangnya, helikopter tidak terlihat dari tempatnya berada, mungkin melewati sisi lain dari bangunan kastil.
Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Andrew. Ia mendongak dan mendapati kepala pelayan kembali ke ruangan itu sambil tersenyum lebar. Jelas sekali kalau hatinya sedang senang. Mungkin karena berhasil mendapatkan sesuatu?
Andrew mengulas senyum tipis dan berkata, “Tampaknya tuan rumah terlalu sibuk hingga tidak bisa menyapa tamu.”
Kepala pelayan melambai-lambaikan tangannya di udara dan membalas, “Jangan dimasukkan ke dalam hati. Ini adalah keteledoranku, Aku lupa memberitahu bahwa Anda sudah tiba.”
“Oh ... begitukah ....”
“Ya. Mari, saya antar ke tempat—“
“Jadi bukan di sini?” sela Andrew seraya berdiri dan merapikan ujung jasnya dengan hati-hati.
“Sekali lagi, ini adalah kesalahan saya. Mari—“
Kepala pelayan itu belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika tiba-tiba Andrew melesat ke arahnya. Ia hanya berkedip satu kali karena terkejut, lalu ketika ia membuka mata, Andrew sudah berdiri satu langkah di hadapannya. Pria tua itu tidak berani bergerak, sebilah pedang tipis sudah menempel di lehernya. Sorot matanya yang terkejut dan gugup melirik ke bawah, kemudian menyadari dari mana pedang itu berasal. Ikat pinggang kulit Andrew Roux sudah tergeletak di lantai. Rupanya bungkus luar ikat pinggang itu adalah sarung dari sebuah pedang yang lempengan bajanya setipis kertas.
Bagaimana bisa senjata itu tidak terdeteksi? Apakah kulit sabuk memiliki lapisan khusus untuk mengecoh metal detector?
“K-kamu ... ka-kamu ....” Pria tua itu tergagap. Rasa sakit menyengat di pangkal lehernya ketika ia mencoba untuk berbicara.
“Jangan mencobai batas kesabaranku,” desis Andrew dengan nada penuh ancaman, “Katakan, di mana mereka.”
Setelah pulih dari rasa terkejutnya, sang kepala pelayan akhirnya terkekeh pelan. Ia tidak peduli meski tindakannya itu membuat lukanya semakin dalam, darah merembes dari leher dan membasahi pakaiannya.
“Anda sungguh berpikir bisa keluar dari sini hidup-hidup, Mr.Roux?” ejek pria tua itu dengan mata berkilat kejam, “Tuan Muda Nakamura sudah mempersiapkan semua ini selama 15 tahun. Tidak ada celah untuk keluar.”
Andrew mencibir sinis dan membalas, “Maka ... mari kita lihat bagaimana ini akan berakhir.”
Kepala pelayan mengeluarkan sapu tangan putih dari saku jasnya dan menyeka darah yang masih terus mengalir. Sementara itu, tangan Andrew yang terjulur dan memegang pedang tidak bergeser satu senti pun.
Setelah mengusap darah di lehernya, kepala pelayan membuang sapu tangan itu ke lantai, lalu membuka kelima jarinya di sisi wajahnya.
“Mr.Roux, saya rasa Anda harus tahu, hanya dengan menjentikkan jari saya, maka nyawa kedua rekan Anda itu ... pst, hilang tak berbekas.”
“Benarkah?”
Kepala pelayan belum sempat bereaksi ketika Andrew menggerakkan pedangnya secepat kilat, menebas jari-jari pria tua itu hingga rata seperti kayu yang baru saja ditebang.
Darah memercik mengenai wajah kepala pelayan. Matanya melotot tak percaya menatap jari tangannya yang kini terserak di atas lantai.
Bugh!
Andrew mengangkat kaki dan menendang pria tua itu hingga terpental dan menabrak rak buku. Teriakan penuh kesakitan dan kebencian menggema dalam ruangan itu. Napas kepala pelayan terengah-engah, matanya semerah darah yang berceceran di mana-mana.
Pria tua itu mendesis seperti seekor ular berbisa yang sedang terluka, “Dasar berengsek. Beraninya kamu—“
Andrew melompat maju dan menginjak dada pria tua itu sambil berseru, “Hemat tenagamu, Pak Tua. Katakan, di mana mereka!”
“He-he-he ....” Kepala pelayan terkekeh dan meludah ke lantai. Wajahnya pias, giginya bergemulutuk menahan sakit. Meski demikian, ia mengeraskan hati, mengumpulkan tenaganya dan berseru sekuat tenaga, “Pengawal!”
Brak!
Pintu terempas dan terbuka lebar. Empat orang pria bertubuh kekar menerobos masuk sambil mengacungkan pistol. Namun, Andrew lebih dulu berguling dan mengayunkan pedangnya ke arah kaki mereka.
Krak!
Suara tulang berderak dan patah disertai lolongan kesakitan yang menyayat hati. Sambil meraung, keempat pria itu mengangkat tangan dan hendak menembakkan peluru
Namun, lagi-lagi Andrew lebih gesit menebak gerakan mereka. Ia tidak memberikan kesempatan kepada musuh untuk menyerang. Dalam satu kali tebasan, tangan-tangan yang teracung itu terlepas dari tubuh yang tergeletak di atas lantai. Genangan darah membanjiri tempat itu serupa sirup mapel yang kental dan lengket.
“Sayang sekali, kalian terlalu membosankan,” ujarnya seraya menarik pelatuk.
Dor!
Dor!
Dor!
Dor!
Kepala keempat orang pengawal itu tersentak ke belakang sebelum lunglai ke atas lantai. Cairan putih pekat bercampur dengan darah menguarkan bau amis yang membuat mual. Sang kepala pelayan yang melihat kebrutalan Andrew perlahan menyusutkan tubuhnya ke tembok.
“K-kamu ... kamu gila ... kamu akan menyesalinya!” serunya dengan suara gemetaran, “Sebentar lagi Tuan Muda akan datang dan—“
Crash!
Kepala pria tua itu menggelinding di atas lantai sebelum sempat menyelesaikan ucapannya. Mata birunya masih terbelalak lebar, memancarkan sorot kengerian ketika detik-detik terakhir nyawa terlepas dari raganya.
Derap langkah kaki dari kejauhan membuat Andrew waspada. Tidak ada tempat untuk bersembunyi dalam ruangan itu sehingga mau tidak mau ia harus keluar.
Andrew menunduk dan menekan sol sepatunya. Bola-bola alumunium seukuran kelereng menggelinding keluar. Ia memungut semuanya, lalu menyimpan beberapa dalam saku jasnya.
Ia menunggu suara langkah kaki itu semakin mendekat, kemudian mengulurkan tangan dari bawah dan melempar bola-bola itu ke arah penjaga yang sedang berlari ke arahnya.
Para pria bersenjata lengkap itu terkejut melihat tiga buah kelereng mengilap yang menggelinding ke arah mereka. Namun, belum sempat merespon, suara tembakan terdengar memekakkan telinga. Peluru dari pistol Andrew melesat dan menghantam bulatan-bulatan kecil itu.
Boom!
Suara ledakan yang dahsyat menggetarkan lantai dua. Lubang yang cukup besar terbentuk di lantai, tertutupi oleh genangan darah dan potongan tubuh yang gosong dan bercampur dengan bau mesiu.
Andrew melongok dan memeriksa. Tidak ada satu pun yang tersisa. Ia mengeluarkan ponselnya dan memeriksa pergerakan di luar gerbang utama. Sepertinya pasukannya pun sudah mulai bergerak dan merangsek masuk. Suara pertempuran terdengar samar-samar dari kejauhan.
Bagus sekali.
Andrew berdiri, menggenggam pistol dan pedangnya erat-erat, kemudian menyusup keluar. Ia hendak berlari menuju anak tangga. Akan tetapi tiba-tiba sebuah suara yang tenang sekaligus kejam terdengar dari balik tubuhnya.
“Mr.Roux, lancang sekali mengacau di kediamanku. Atau mungkin, gadis ini sudah tidak berarti lagi untukmu?”
Andrew membeku sejenak sebelum membalikkan tubuh dengan sangat hati-hati. Matanya menyipit untuk menyesuaikan dengan cahaya dari lampu sorot yang diarahkan ke wajahnya.
Samar-samar, di antara cahaya terang yang menyakiti matanya, Andrew masih bisa melihat pria jangkung di ujung lorong menggendong tubuh Keiko yang masih mengenakan pakaian rumah sakit.
“Lepaskan dia,” ujar Andrew seraya menjatuhkan pistol dan pedangnya.
Pria di ujung lorong terkekeh pelan dan berkata, “Suruh anak buahmu untuk mundur. Tidak ada yang boleh mendekati kediamanku dalam radius lima kilometer. Kalau tidak, kamu tanggung sendiri akibatnya!”
“Baik,” jawab Andrew dengan tenang. Ia mengambil ponselnya dan memberikan perintah kepada anak buahnya agak mundur seperti yang dipinta oleh pria di ujung lorong.
“Bagus sekali. Sekarang, ikut denganku,” perintah pria itu lagi.
Andrew tidak mengucapkan sepatah kata pun saat satu lusin pasukan datang dan melucuti semua senjata yang tersisa dari tubuhnya. Salah seorang dari mereka menutup matanya dengan secarik kain hitam, lalu mendorong punggungnya agar berjalan. Ia hanya bisa mengandalkan nalurinya untuk melangkah, mendengar sepatu boot yang berderap di sisi kiri dan kanannya. Sebuah popor senjata bisa ia rasakan sedang menempel di tengkuknya, dingin dan berat.
Namun, yang bisa ia lakukan sekarang adalah mengikuti arus dan mengalah kepada musuh ....
***
Kalau suka, like dan vote yang banyak yaa.. makasih 😍