
Cheers? Dia bersulang denganku? Sungguh bernyali besar!
Mata Keiko membulat dan menatap tidak percaya ke arah Andrew, seolah-olah pria itu adalah makhluk asing yang baru datang dari planet Mars.
Bisa-bisanya dia mengajakku bersulang di depan Hiro! Dia pasti sengaja melakukannya!
Keiko membuang muka dan berpura-pura tidak melihat tingkah Andrew tadi. Ia tahu pria itu menyadari bahwa Hiro adalah tunangannya dan sengaja berulah. Benar-benar menyebalkan!
“Maafkan sikap tunangan saya, Mr. Roux. Dia memang sedikit tertutup, tidak suka bertemu orang baru,” ujar Hiro ketika melihat Andrew menegur Keiko, tapi gadis itu justru memalingkan wajah.
“Tidak masalah,” balas Andrew dengan santai, “Tidak semua orang senang berbaur dan bersosialisasi.”
“Masudmu, seperti dirimu?” goda Jovankan seraya terkekeh pelan dan menggelayut manja di tangan Andrew, “Sangat sulit membujukmu untuk hadir di acara sosial seperti ini, kau tahu?”
Mendengar perkataan Jovanka membuat Hiro ikut terkekeh. Ia menggosok-gosok kedua tangannya dan berkata, “Jadi rumor itu benar? Penerus Phoenix.Co sangat sulit untuk ditemui. Benar-benar suatu keberuntungan bagiku bisa menemui Anda.”
Andrew mengangkat gelasnya sekali lagi dan membalas, “Itu karena ambisi ayahku yang sulit diredam. Mau tidak mau, aku hanya bisa menuruti keinginannya.”
“Well, kalau begitu kita bernasib sama. Ayahku sengaja memintaku datang dan menggantikannya agar tidak canggung ketika mengambil alih bisnis keluarga nanti. Begitu katanya.”
Dua pria itu lalu tertawa bersama, seolah apa yang baru saja mereka ucapkan adalah sebuah lelucon besar. Sementara itu di lain pihak, Clark sangat ingin memukul kepala sahabatnya saat ini juga. Untunglah ada Jovanka yang bertugas menjadi tunangannya, kalau tidak ... mungkin Hiro sudah curiga karena berani menggoda Sakamoto Keiko.
Keiko memutar gelas berisi cocktail di tangannya sambil mengamati pantulan dalam cermin yang tergantung di hadapannya. Melihat wanita berambut pirang yang menempel erat di lengan Andrew membuatnya sedikit jengah. Kening Keiko berkerut dalam ketika wanita itu mendongak dan mengusap sudut dagu Andrew dengan lembut.
Jadi dia sudah memiliki kekasih? Aku pikir ....
“Seharusnya aku bersikeras tidak ikut datang tadi,” gerutu Keiko pelan.
Kalau bukan ayahnya yang memaksa agar ia menemani Hiro, seharusnya ia bisa bersantai di rumah dan menikmati malam yang tenang. Sekarang selain harus berbasa-basi dengan semua tamu yang tidak dikenalnya sama sekali, ia harus menyaksikan pria bernama Andrew itu pamer kemesraan dengan kekasihnya. Benar-benar sangat mengganggu.
Kenapa kamu harus marah? Huh? Bahkan jika dia mau berciuman dengan wanita itu, sama sekali bukan urusanmu, Keiko. kenapa harus merasa terganggu? Memangnya kalian memiliki hubungan apa? Hanya karena dia menyelamatkanmu, mengantarmu dengan selamat sampai ke hotel, lalu memberimu unlimited access berarti dia tertarik padamu. Jangan bersikap bodoh.
Gadis itu sudah memutuskan, setelah pulang nanti ia akan memberi ultimatum pada Hiro bahwa ia tidak akan mengikuti acara semacam ini lagi. Hanya menjadi pajangan untuk dipamerkan pada orang-orang itu sangat menjengkelkan.
Akan tetapi, benarkah pria itu dan Hiro ingin menjalin kerja sama? Jika benar begitu, bukankah itu berarti mereka akan semakin sering bertemu? Jika ia terus ikut dalam pertemuan-pertemuan itu dan harus bertemu juga dengan Andrew, maka ....
Tapi kalau aku tidak ikut, bagaimana aku bisa memperingatkannya agar menjauh dari Hiro? Aku tidak ingin dia menjerumuskan dirinya sendiri dalam bahaya.
Keiko melirik sekilas ke arah sofa, lalu turun dari bangku bar.
“Aku ke toilet sebentar,” pamitnya pada Hiro sebelum berjalan menuju pintu.
Andrew tetap menatap lurus ke depan, membuat tubuh Clark yang sempat menegang akhirnya kembali relaks. Sepertinya kekhawatirannya terlalu berlebihan. Ia lega karena Andrew tidak bertingkah konyol seperti tadi.
“Ryuchi, tolong antar Keiko,“ perintah Hiro.
“Baik, Tuan,” jawab Ryuchi yang sejak tadi sibuk menggerakkan jari di atas gadget-nya, mungkin menyusun jadwal atau mencatat tamu penting yang berpotensi menjadi “sapi perah” untuk Tuan Kobayashi.
Pria itu meletakkan tabletnya dan hendak menghampiri Keiko, tapi perkataan Keiko menghentikan gerakannya.
“Tidak perlu, Ryu. Aku bisa sendiri.”
Ia berjalan ke arah kiri, mengikuti petunjuk bertuliskan “rest room” yang menempel menggantung di langit-langit. Ia berjalan cepat menuju ruangan di ujung lorong.
Ruangan itu terlihat cukup sepi. Toilet untuk pria ada di sebelah kanan, sedangkan ruangan khusus perempuan ada di seberangnya. Keiko segera mendorong pintu dan masuk ke dalam bilik berukuran 3x4 meter itu.
“Huh ... benar-benar melelahkan,” gumam Keiko seraya mendongak dan memejamkan mata.
Kedua tangannya menumpu di atas wastafel berwarna putih gading. Setelah merasa debaran jantungnya sudah sedikit stabil, gadis itu kembali membuka mata dan menatap lurus ke cermin. Wajahnya yang biasa putih kini sedikit merona.
Sebenarnya ia datang ke sini hanya untuk melarikan diri. Mengamati pantulan Andrew dan kekasihnya dari lama-lama membuatnya merasa gerah. Apakah karena pengaruh cocktail yang ia minum? Sepertinya kadar alkohol minuman itu tidak terlalu besar.
“Aku bisa menghabiskan lima botol sake tanpa merasakan apa pun. Lalu kenapa sekarang tiba-tiba seperti ini?”
Pufff ....
Keiko membasuh tangannya, lalu menepuk-nepukkannya ke pipi, berharap itu bisa menyegarkan kembali pikirannya yang kusut. Setelah menunggu selama sekitar dua menit, gadis tiu menarik daun pintu dan melangkah keluar. Namun, langkah kakinya terhenti tiba-tiba.
“Kamu?” desisnya lirih, “Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Oh ... ini ....”
Andrew menunjuk bercak merah kekuningan pada ujung lengan kemeja putihnya dan melanjutkan, “Tidak sengaja menyenggol minuman kekasihku.”
Mata Keiko menyipit. Jari telunjuknya teracung dan menunjuk ke seberang.
“Toilet laki-laki ada di sana,” ujarnya dengan penuh penekanan.
“Oh.”
Andrew mengunci tatapan Keiko hingga gadis itu mulai salah tingkah. Dengan sangat perlahan, pria itu maju satu langkah, menunduk ke arah Keiko hingga aroma gadis itu menggelitik indera penciumannya.
“Aku pikir, kamu sengaja ke toilet agar aku menyusul,” bisik Andrew dengan sangat pelan.
Keiko menahan napas. Memang itu tujuannya, tapi ...
Dengan sangat cepat Adrew menarik tubuhnya kembali dan mundur dua langkah hingga membuat Keiko terkesiap. Akhirnya paru-parunya bisa kembali mengedarkan oksigen dengan normal.
“Maafkan kekeliruanku, Nona,” ujar Andrew sebelum membalikkan tubuh.
“Jauhi Hiro. Jangan terima perjanjian bisnis apa pun yang dia tawarkan. Ini untuk kebaikanmu sendiri.”
Andrew berhenti melangkah ketika mendengar perkataan gadis di belakangnya. Seringai tipis menghiasi wajahnya. Tidak sia-sia ia sengaja menyenggol gelas Jovanka tadi. Sedikit rasa hangat menelusup dalam hatinya karena ternyata gadis itu mengkhawatirkannya.
Apakah ini artinya aku memiliki kesempatan?
***
Kalau suka tolong like yaa,makasihh🥰