
Keiko mengekor di belakang Alfred tanpa melepaskan genggaman Andrew. Cemas dan gugup membuatnya tidak bisa berkonsentrasi. Apakah ada sesuatu yang buruk akan terjadi? Mengapa air muka Andrew tampak keruh? Siapa Cecille? Mengapa Andrew tidak pernah mengungkit nama itu sebelumnya?
Berbagai pertanyaan dan dugaan memenuhi tempurung kepala Keiko, tapi gadis itu hanya bisa menahannya sendiri. Tidak mungkin ia meminta penjelasan kepada pria di sampingnya sekarang.
Sementara itu, Andrew tak kalah peningnya dibandingkan Keiko. Ia benar-benar sudah melupakan keberadaan Cecille. Tidak. Akan lebih tepat jika mengatakan bahwa keberadaan Cecille tidak pernah ada dalam hati dan pikirannya sama sekali, jadi ... bagaimana ia bisa mengingatnya? Kalau saja Alfred tidak menyinggungnya barusan, ia benar-benar tidak ingat siapa itu Cecille.
Pria itu melirik ke samping sekilas. Wajahnya terlihat semakin suram saat mendapati ekspresi Keiko yang berubah-ubah, sepertinya gadis itu mulai berpikir yang aneh-aneh lagi. Ia menghela napas, lalu menunduk dan berbisik di dekat telinga Keiko, “Jangan cemas, tidak akan ada hal buruk yang terjadi.”
Keiko mengernyit, menggigit bibir dan tidak menjawab apa pun. Entah mengapa kali ini instingnya mengatakan bahwa perkataan Andrew tidak sepenuhnya benar. Sepertinya ada sesuatu yang akan terjadi. Menilik dari gerak-gerik dan mimik wajah Alfred tadi, tampaknya masalah ini cukup serius. Cecille ... dari namanya jelas dia adalah seorang perempuan. Apakah dia adalah mantan kekasih Andrew? Atau ... jangan-jangan ....
“Kalian sudah datang. Mari, duduk dan bicara sebentar.”
Suara Marco Roux mengembalikan kesadaran Keiko. Ia segera tersenyum dan menyapa, “Paman ....”
Marco Roux melambaikan tangannya dan memasang wajah cemberut sambil berkata, “Paman apanya? Panggil ayah, sebentar lagi kalian akan menikah, untuk apa terlalu sungkan?”
Keiko tersandung kakinya sendiri dan hampir terjungkal. Untunglah Andrew mencekal pergelangan tangannya dengan erat hingga ia tidak perlu mengalami hal yang memalukan di depan semua orang.
“Hati-hati,” gumam Andrew seraya menepuk-nepuk punggung Keiko dan membantunya duduk di sofa.
Keiko meremas jemarinya dan menatap Andrew dengan sorot mata yang meminta penjelasan. Mengapa ayahnya tiba-tiba membicarakan mengenai pernikahan?
“Ayah, jangan menakuti Keiko. Kami baru saja berkencan, dia belum siap untuk—“
“Lalu kamu ingin menikah dengan Cecille?” tukas Marco Roux dengan mata menyipit. Jika bukan karena ada Keiko yang memisahkan mereka, ia mungkin sudah akan memukul putranya itu.
“Apa? Tentu saja tidak! Siapa yang mau menikah dengannya?” sanggah Andrew cepat.
“Maka dengarkan aku. Sejak awal, dia adalah calon tunanganmu. Dia sudah menunggu begitu lama ....” Marco lalu menoleh ke arah Keiko dan bertanya, “Bedebah cilik ini tidak menceritakannya kepadamu?”
Keiko menggeleng pelan. Tiba-tiba jantungnya seolah merosot ke bawah, memberi rasa sakit di ulu hatinya. Andrew Roux sudah memiliki calon tunangan? Lalu mengapa ....
“Baby, jangan salah paham. Aku tidak pernah mencintai gadis itu. Ayahku yang selalu memaksaku untuk bertunangan dengannya,” jelas Andrew yang tiba-tiba merasa sedikit cemas. Susah payah ia mendapatkan gadis itu, jangan sampai Keiko salah paham dan meninggalkannya. Jadi, ia buru-buru menambahkan, “Aku bersalah karena tidak menjelaskan kepamu sebelumnya. Itu karena aku benar-benar tidak mengingatnya.”
Andrew lalu menoleh ke arah ayahnya dan berkata, “Ayah, kamu harus menjelaskan dengan benar. Jangan setengah-setengah seperti itu.”
“Ya ... ya ... ya ... itu salahku karena memaksamu. Aku pikir kamu gila karena terus meracau tentang gadis dalam mimpimu. Aku pikir kamu hanya berkhayal. Aku bahkan sempat mengira kamu sengaja mengarang alasan karena sebenarnya tidak memiliki perasaan cinta untuk wanita, melainkan ... kamu tahu apa maksudku.” Marco Roxu melambaikan tangannya di udara lagi.
“Tidak. Aku tidak mengerti. Apa maksud ayah?”
“Aku pikir kamu menyukai laki-laki! Itu sebabnya aku terus memaksamu untuk menjalin hubungan dengan Cecille. Siapa sangka ....”
“Apa?!” Andrew tercengang. Bisa-bisanya ayahnya memiliki pemikiran seperti itu tentang dirinya! Dari sisi mana ia menyukai laki-laki?
Marco Roux lalu melirik Keiko, masih sedikit tidak percaya jika gadis itu nyata.
“Siapa sangka kamu benar-benar membawanya pulang,” sambungnya dengan ekspresi yang tidak berdaya, “Kalau sudah begini, sebaiknya segera urus akta nikah kalian saja. Dengan begitu, sang Marquess dan putrinya tidak akan dapat memaksa. Kalau perlu, katakan saja bahwa Keiko sudah mengandung anakmu.”
“Apa?!?” Suara Andrew dan Keiko hampir menyentuh langit.
“Memangnya kamu ingin dia menggunakan trik untuk mengikatmu?” seru Marco Roux dengan intonasi tak kalah tinggi, “Hanya itu satu-satunya cara untuk memutuskan perjanjianku dengan ayahnya!”
Andrew meremas kepalanya yang tiba-tiba terasa membesar dua kali lipat. Ia lalu menghela napas panjang dan menoleh ke arah Keiko. Melihat ekspresi wajah gadisnya yang tidak terbaca membuat Andrew semakin kalut. Ia mengepalkan tangan, menimbang sesaat, lalu berdiri dan menarik Keiko untuk ikut dengannya.
“Aku akan berdiskusi dulu dengan Keiko, kami akan segera memberitahu hasilnya kepada Ayah,” ujar Andrew sebelum menarik tangan Keiko menjauh.
Keiko mengikuti Andrew seperti orang linglung. Sampai akhirnya ketika mereka berhenti di selasar yang sepi dan Andrew memanggil namanya, Keiko baru mendongak dan menatap pria itu dengan raut wajah yang sedikit kacau. Ia memang mencintai Andrew Roux, tapi pernikahan ... apakah itu tidak terlalu cepat?
Seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Keiko, Andrew menggenggam tangan Keiko dengan hati-hati dan meminta persetujuan gadis itu, “Bagaimana menurutmu? Ayahku benar, satu-satunya cara menghentikan Cecille adalah dengan membuat akta nikah. Apa kamu tidak keberatan? Kita bisa tetap tidur terpisah kalau kamu belum siap. Aku akan mencarikan rumah untukmu di pinggir kota, atau di mana pun yang kamu inginkan. Atau, kalau kamu ada ide yang lebih baik, katakan saja ....”
Otak Keiko mendadak buntu dan kosong. Ia bukannya tidak memikirkan jalan keluar lain sejak tadi. Namun, tidak ada yang dirasanya cukup baik. Kalau hanya mengatakan bahwa mereka sudah lebih dulu bertunangan, gadis bernama Cecille itu tentu bisa menemukan celah untuk mematahkannya, atau memaksa Andrew untuk lebih dulu menikahinya. Jika ia dan Andrew berpisah untuk sementara waktu dan berpura-pura tidak saling mengenal agar tidak memancing kecurigaan, itu lebih mustahil lagi ... Cecille pasti akan memanfaatkan kesempatan itu untuk menjerat Andrew.
Tidak.
Tidak boleh!
Keiko menggelengkan kepalanya keras-keras. Hatinya tidak rela jika memikirkan bahwa Andrew akan bersama gadis lain, meski karena terpaksa sekalipun.
“Aku rasa ayahmu benar ... aku ... aku menyetujuinya,” gumam Keiko sambil menunduk dan memilin ujung blusnya. Tiba-tiba ia merasa sedikit gugup dan malu.
“Terima kasih, Baby.”
Andrew mendesah dan menyugar rambutnya. Akhirnya napas yang tertahan di tenggorokannya sejak tadi bisa ia embuskan dengan lega. Sedikit gemetar, ia menunduk dan mencium bibir Keiko keras-keras. Semua rasa khawatirnya menghilang sudah.
Sambil tertawa, Andrew menggandeng Keiko kembali ke aula utama kemudian berseru, “Dia bersedia, Ayah!”
***
Yuhuu, bonus untuk kalian, Kesayangan 🥰
btw,otor pasti lebih semangat lagi kl kelen dengan murah hati mau mampir ke "Teror Arwah Penasaran" dan kasih jempol di sana
*ngerayu
😂😂😂