
Meski awalnya mengira akan sulit tidur, tapi rupanya karena terlalu lelah, pada akhirnya Keiko tertidur seperti orang mati. Ia tidur dengan tenang dengan posisi yang sama dalam waktu yang cukup lama. Hingga ketika terdengar ketukan dan suara bernada rendah dari balik pintu, gadis itu menggeliat dan menyingkirkan selimut dari tubuhnya.
“Nona Keiko.”
Keiko duduk di tepi ranjang, mengumpulkan separuh nyawanya yang masih melayang-layang di udara sebelum menjawab, “Ya, aku datang.”
Ia berjalan ke pintu dan membukakannya. Begitu pintu terbuka lebar, Keiko hampir tidak bisa melihat siapa yang baru saja memanggilnya karena terhalang oleh bertumpuk-tumpuk papper bag dan kotak-kotak kecil lainnya.
“Marry? Sofie?” panggil Keiko sedikit ragu.
“Ya, Nona. Bolehkah kami masuk? Tuan Andrew meminta kami untuk mengantar barang-barang ini untuk Anda.”
“Oh, ya ampun ... masuklah.”
Keiko segera membantu kedua pelayan itu membawa barang-barang yang menggunung di depan pintu kamarnya ke dalam.
Sesekali matanya menumbuk merek yang tertera di bungkusan dan menghela napas dalam-dalam. Ia tahu setidaknya harga paling murah dari beberapa brand itu mencapai ribuan dollar. Berapa akumulasi dari semua barang-barang ini? Sepertinya dapat digunakan untuk membeli apartemen di pusat Kota Tokyo.
“Di mana Andrew?” tanya Keiko setelah semua barang telah selesai dibawa masuk.
“Sedang berbincang dengan Tuan Besar di ruang tamu, Nona. Tuan Muda berpesan agar Anda segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit,” jawab Marry.
“Oh, oke ... terima kasih.”
“Sama-sama, Nona. Kami ada di luar jika Anda membutuhkan sesuatu,” balas Sofie dengan sopan.
Setelah kedua pelayan itu keluar, Keiko menengok jam dinding yang tergantung di atas kepala ranjang. Rupanya sudah hampir pukul lima sore.
“Aku tertidur selama itu?” gumam Keiko sedikit tak percaya. Rasanya ia baru menutup mata sebentar.
Gadis itu membuka beberapa papper bag dan memeriksa isinya. Itu adalah baju-baju yang sangat cantik, sandal dan sepatu, make up dan produk perawatan wajah, juga beberapa set pakaian dalam. Keiko hanya bisa menggigit bibir dan mendesah tak berdaya.
Ia lalu membongkar sebuah koper hitam yang tadi diseret masuk oleh Marry. Setelah membuka resletingnya, gadis itu sedikit terkejut ketika mendapati bahwa isi koper adalah beberapa set pakaiannya dari Jepang! Bagaimana Andrew melakukannya? Mungkinkah dia menyuruh Kim untuk mengambilkannya sebelum kembali ke Paris?
Mau tak mau Keiko tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala. Andrew Roux benar-benar terlalu memanjakannya.
“Andrew, betapa beruntungnya aku ...,” desahnya pelan. "Kebaikan apa yang telah aku lakukan di masa lalu sehingga mendapat suami sebaik kamu?"
Keiko mengambil sebuah gaun biru muda berbahan satin dari dalam koper dan meletakkannya di atas tempat tidur. Setelah itu, ia bergegas pergi mandi.
Gadis itu membersihkan diri dengan cepat, berganti pakaian, memoles sedikit cream wajah dan pelembab bibir, lalu merapikan rambutnya di depan cermin. Ia mengambil salah satu tas selempang mungil berwarna dust pink yang ada dalam papper bag, memasukkan ponsel dan pelembab bibir ke dalamnya, kemudian bergegas keluar dari kamar. Ia tidak mau membuat Andrew terlalu lama menunggu.
“Nona, Anda sudah siap?” tegur Marry yang terkejut melihat majikannya membuka pintu dan keluar dengan wajah segar.
“Ya. Apakah aku bisa meminta tolong kepada kalian untuk membereskan benda-benda di kamarku? Aku tidak sempat ....”
“Dengan senang hati, Nona.”
“Terima kasih.”
Keiko tersenyum cerah dan berjalan menjauh. Rambutnya yang diikat ekor kuda bergerak ke kanan dan ke kiri seirama gerakan kakinya. Sesekali ia menyapa dan tersenyum kepada para pelayan yang berpapasan dengannya.
Ketika menuruni anak tangga, ia melihat ada seorang pria yang berusia sekitar 40-an sedang duduk di samping Andrew, sementara Tuan Marco menyaksikan dua orang di depannya dengan serius. Tampaknya mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting, Keiko jadi sedikit ragu untuk menghampiri mereka. Namun, sepertinya Andrew bisa merasakan kehadirannya. Pria itu menoleh dan sekejap kemudian mata mereka saling menatap.
“Kamu sudah datang. Bagus sekali. Cepat ke sini.” Andrew melambaikan tangan, memberi isyarat agar Keiko mendekat.
“Apa aku mengganggu kalian?” tanya gadis itu sebelum duduk di sisi Andrew.
“Tidak, justru kami membutuhkan tanda tangan darimu,” jawab Andrew cepat. Ia menyodorkan satu tumpuk dokumen ke hadapan Keiko.
“Kamu baca dulu,” jawab Andrew dengan sorot mata yang berbinar secerah cahaya matahari.
Keiko menerima berkas dan membaca tulisan dengan huruf kapital yang tercetak di sampul depan: SERAH TERIMA SAHAM PHOENIX.CO.
Kerutan di kening gadis itu semakin dalam. Apa hubungan serah terima saham Phoenix.Co dengan dirinya? Meski heran, Keiko tetap membuka lembaran di tangannya dan membaca dengan teliti.
Di samping, Andrew memperhatikan setiap perubahan ekspresi istrinya dengan penuh minat. Ia sudah tidak sabar menanti reaksi dan respon Keiko.
“Andrew ... apa ini?” tanya Keiko dengan suara sedikit bergetar. Matanya hampir melompat keluar ketika membaca nama yang tertera di bawah keterangan transfer saham Phoenix.Co sebesar 53%.
Itu adalah namanya!
Tertulis dengan huruf kapital dan tinta hitam yang tebal: SAKAMOTO KEIKO.
“Hadiah pernikahan,” jawab Andrew sambil menyeringai puas. Sikapnya seolah baru saja memberikan sebuah mainan seharga 20 dollar, bukannya separuh saham perusahaannya.
“H-hadiah apa?”
Keiko menatap Andrew dan Marco Roux bergantian, takut jika kedua orang itu sedang mengerjainya.
“Itu adalah gabungan saham milik ayah dan milikku, hadiah pernikahan dari kami untukmu,” jawab Andrew dengan santai. Senyum lebar tak juga hilang dari wajahnya.
“A-ayah ....”
“Sudahlah, cepat tandatangani,” ujar Marco Roux saat melihat menantunya yang tiba-tiba menjadi gagap, “Aku sudah tua, tidak ingin mengurusi hal-hal remeh seperti itu lagi. Ada kalian yang akan mengurusnya, aku tidak akan cemas lagi. Sekarang aku hanya inging menunggu cucu-cucuku lahir dan bermain bersama mereka sepanjang hari.”
“T-tapi ini ... aku ... aku tidak bisa menerimanya.” Keiko masih tidak percaya melihat namanya yang tertulis dengan jelas di atas kertas.
Seluruh kantor cabang, anak perusahaan, ekspor-impor, pajak ... astaga, bagaimana bisa ia menerima seluruh tanggung jawab itu?
“Aku tidak mengerti hal-hal yang berkaitan dengan perusahaan,” lanjutnya lagi dengan suara yang melemah. Kali ini Andrew Roux benar-benar sudah menakutinya.
“Tidak perlu pikirkan itu. Jika kamu menandatanganinya, secara resmi kamu adalah pemilik perusahaan, aku adalah anak buahmu. Kamu hanya perlu memerintahku saja, aku yang akan bekerja untukmu.” Andrew menggosok-gosok kedua tangannya dengan sangat puas.
“Jangan khawatir, Nona. Transaksi ini legal dan dilakukan di bawah kesadaran penuh Tuan Marco dan Tuan Andrew, Anda jangan cemas,” jelas pria berkacamata yang sejak tadi diam di samping Andrew.
“Aku adalah Lyod Baron, pengacara yang mengurus masalah transfer saham ini. Kalau ada yang Nona belum mengerti, silakan tanyakan saja kepadaku,” sambungnya lagi.
Keiko tercengang. Ini bukan lelucon ....
***
Nah, halunya udah keterlaluan belum? 😂😂😂
Btw, kalau sempat tolong mampir ke cerpen otor ya, judulnya: Gadis yang Tinggal di Neraka.
kalian bisa klik "temukan" di aplikasi, pilih "cerpen", pilih sub " flyyourimagine", pilih "terbaru".
Tinggal klik deh judulnya.
selamat membaca, semoga suka😊