
Keiko berjalan menuju kamarnya dengan langkah panjang-panjang. Ia ingin segera sampai di sana dan beristirahat. Namun, ketika ia berbelok dari ujung lorong, ia melihat Andrew masih berdiri di depan pintu kamar. Pria itu berdiri seperti posisinya yang tadi saat ia tinggalkan bersama Hiro.
“Kamu ... kenapa belum tidur?” tanya Keiko sembari menghampiri kekasihnya itu.
Andrew menatap Keiko lekat-lekat sebelum membalas, “Bagaimana kondisinya? Apakah lukanya cukup parah?”
Gadis itu menggeleng pelan, “Tidak,” jawabnya.
“Tapi Mr.Roux, memukul orang yang sudah menolong kita, itu sangat tidak beradab, apalagi dia sedang terluka,” sambung gadis itu lagi sambil bersedekap.
Andrew mendengkus pelan dan membuang muka.
“Siapa suruh dia memprovokasi aku,” gerutunya pelan.
Mendadak wajah Keiko menjadi serius. Ia menarik tangan Andrew untuk masuk ke kamar, kemudian menutup pintu dan berjalan menuju tengah ruangan.
Gadis itu melipat tangan di depan dada dan kembali bertanya, “Katakan, perjanjian apa yang kamu miliki dengan Hiro? Kenapa tidak memberitahu kepadaku mengenai hal ini?”
“Um ... itu ....” Andrew mengusap bagian belakang kepalanya sekilas. “Saat aku meninggalkannya di Zeotrope, aku memang tidak tahu apa-apa. Tapi, sebelum kita ditahan di ruang interogasi, aku sempat mengirim pesan kepada Clark. Aku menyuruhnya menginformasikan kepada anak buahku agar melepaskannya kalau lebih dulu bertemu dengannya daripada orang-orang EEL. Bukankah aku sudah berjanji kepadamu untuk menjaganya?”
Mata Keiko menyipit. Sekarang gadis itu berkacak pinggang dengan gestur tubuh yang terlihat sedikit mengintimidasi.
“Lalu, mengapa kamu menyuruhnya jangan pernah muncul? Mengapa tidak menceritakannya kepadaku, membiarkanku percaya bahwa dia sudah mati?”
“Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa dia sudah mati,” elak Andrew seraya mengangkat kedua tangannya ke depan dada, suaranya memelan ketika melanjutkan, ”Aku hanya bilang ... aku belum mendapat kabar ....”
“Itu sama saja!” sergah Keiko kesal.
Gadis itu menudingkan jari telunjuknya ke dada Andrew dan kembali berseru, “Kamu membohongiku!”
Bahu Andrew merosot, ekspresinya terlihat sangat merana dan sedih.
“Jangan marah kepadaku, ya ...,” bujuk pria itu, “Aku hanya tak ingin kamu bersikeras mencarinya dan membahayakan nyawamu. Aku bisa gila kalau terjadi sesuatu terhadapmu. Maafkan aku, Baby ....”
Keiko mendesah pelan. Rasa kesalnya sudah sedikit berkurang mendengar penjelasan Andrew. Kekasihnya itu benar, ia pasti akan berusaha mencari Hiro kalau tahu pria itu masih hidup.
“Setelah semuanya selesai, bahkan setelah Ryuchi ditangkap, kenapa masih tak bilang kepadaku?” tanya gadis itu dengan intonasi suara yang sedikit melembut.
“Itu karena aku tidak mau dia mengambilmu kembali. Lihat, kalian baru saja bertemu dan dia langsung memintamu terang-terangan di depanku. Bajingan itu—“
“Diam!” sela Keiko, kembali kesal, “Kalian berdua benar-benar ... memangnya kalian pikir aku ini mainan yang bisa kalian perebutkan? Aku juga punya pemikiranku sendiri.”
“Tapi dia bisa saja mempengaruhimu,” balas Andrew tetap keras kepala, “Lihat, kalian baru bertemu beberapa menit dan kamu sudah mulai bertengkar denganku.”
Keiko menghela napas dan memijit keningnya yang pening. Kedua pria itu bisa sungguh bisa membuatnya kehilangan kewarasan.
“Andrew Roux, aku bukan anak kecil. Kalau dia bisa mempengaruhi pemikiranku, aku tidak akan berada di sini bersamamu. Mengerti?”
Andrew terdiam sejenak. Itu benar. Kalau Keiko bisa dipengaruhi dengan mudah oleh Hiro, mungkin Keiko tidak akan datang menemuinya untuk memperjelas semua masalah ini. Pria itu menarik napas dalam-dalam dan maju satu langkah. Kedua tangannya terentang lebar dan merengkuh Keiko dalam dekapannya.
“Maafkan aku, Baby ... aku hanya cemburu melihat kalian berdua. Aku takut dia akan merebutmu dariku,” gumam Andrew sambil mengusap kepala Keiko dengan penuh rasa sayang, “Aku hanya takut kehilangan dirimu ... jangan tinggalkan aku, ya?”
“Aku—“
Boom!
“Apa itu?” seru Keiko, terkejut karena suara ledakan yang cukup keras terdengar dari lantai dasar.
Brak!
Pintu kamar tehempas dan terbuka lebar. Wajah Hiro yang cemas muncul dari balik daun pintu, tangannya bergerak memberi isyarat agar Andrew dan Keiko keluar.
“Sial. Bagaimana mereka melakukannya?” umpat Andrew, buru-buru mengambil kotak perlengkapannya yang berada di atas kasur dan berlari keluar sambil menarik tangan Keiko.
“Mungkinkah tembakan saat kita kabur dari penginapan tadi adalah alat pelacak yang diarahkan ke mobil? Bukan peluru ...,” tebak Keiko dengan napas memburu. Tubuhnya benar-benar sudah lelah berlarian ke sana kemari.
Andrew dan Hiro sama-sama terdiam beberapa saat. Itu memang bisa saja alat pelacak. Benar-benar sial. Mengapa mereka tidak memeriksanya saat turun dari mobil tadi?
“Mungkin saja,” gumam Hiro seraya berbelok ke sisi kanan lorong, “Aku ceroboh sekali.”
Dor!
Dor!
“Brengsek!”
Andrew dan Hiro sama-sama mengumpat. Tangan mereka hampir bersamaan mencekal lengan Keiko dan menyeretnya agar menyingkir dari lorong, berlindung di salah satu sudut yang merupakan tikungan ke lorong yang lain.
Dari arah tembakan tadi, muncul beberapa orang dengan tangan teracung, memegang senjata laras panjang dan semi otomatis dalam berbagai variasi. Mereka menatap lurus ke arah tikungan tempat Andrew dan Hiro bersembunyi, kemudian melangkah maju satu per satu.
Dengan cepat Andrew mengeluarkan bulatan aluminium dari metal case, melemparkannya ke arah para penyerangnya, lalu merebahkan tubuh dan membidik dari bawah.
“Berlindung!” serunya kepada Keiko sebelum menarik pelatuk.
Dor.
Boom!
Boom!
Ledakan keras melemparkan tubuh pria-pria itu jatuh kembali ke lantai satu. Lubang besar menganga di depan sana, menyisakan bau amunisi menguar di udara.
“Ayo, cepat!” Hiro bangun dan kembali berlari menyusuri lorong. Ia berhenti di depan sebuah pintu hitam yang ada di ujung dan meletakkan ibu jarinya di sebuah panel yang ada di sisi pintu. Tak lama kemudian, pintu itu bergeser dan terbuka lebar.
“Turun dan larilah ke arah kanan. Di sana—“
Andrew menarik tangan Hiro dan berkata, “Ikutlah dengan kami.”
“Tapi aku—“
“Diam! Waktu kita tidak banyak. Cepatlah.” Keiko ikut mencekal pergelangan tangan Hiro dan menyeretnya melangkah melewati pintu.
Mereka bertiga berlari menuruni tangga darurat, menginjak tanah dengan hati-hati dan merunduk di balik semak-semak. Dari dalam ruangan, terdengar jelas suara perkelahian dan tembakan.
Adrenalin membuat jantung Keiko memompa darah lebih cepat, rasa lelahnya terlupakan begitu saja. Kini gadis itu sibuk fokus untuk menemukan jalan keluar dari tempat itu.
“Mereka belum mengitari area ini. Ayo, sebelum orang-orang tadi memberi tahu kepada rekannya ke arah mana kita lari,” kata Hiro seraya mengintai keadaan dengan waspada. Ia menghela napas panjang, berharap nyeri di pinggangnya bisa sedikit berkurang, kemudian mulai berjalan cepat dengan posisi tetap merunduk.
Keiko dan Andrew mengekor dengan hati-hati. Mereka menyusuri halaman belakang hingga menemukan sebuah pagar kecil yang ada di sela tanaman merambat.
“Lewat sini,” ujar Hiro. Ia membuka pintu pagar dan menyelinap ke baliknya dengan cepat.
Andrew membiarkan Keiko lewat lebih dulu, kemudian ia menyusul di belakangnya. Tiga orang itu berlari menjauh, menyusuri jalan setapak ke arah pepohonan yang tinggi menjulang.
Di kegelapan malam, pohon-pohon itu tampak seperti raksasa yang menyeramkan. Keiko menepis rasa takutnya dan terus berlari. Ada Andrew dan Hiro di sisinya, semua pasti akan baik-baik saja, bukan?
***
Jangan lupa like dan votee yaaa
makasihhh, *lopeee**😍*