Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Rusak karena cinta



Setelah helikopter tidak terlihat lagi, barulah Keiko mengalihkan pandangannya dari langit. Ia mendesah pelan dan menoleh ke arah Kim. Ia ingin bertanya apakah wanita itu mengingatnya atau tidak, tapi tadi wanita itu memanggilnya dengan sebutan Nona Keiko, itu berarti dia masih ingat, 'kan? Apakah semua file dari Kim yang lama sudah terunduh ke tubuhnya yang baru? Keiko menghela napas lagi karena tidak tahu harus merasa tersanjung atau pusing karena perhatian Andrew.


“Kim? Aku boleh memanggilmu begitu?” Akhirnya Keiko bertanya sambil menatap wanita di hadapannya. Ia sudah terbiasa dengan nama itu. Pasti rasanya akan aneh kalau memanggilnya dengan nama yang lain tapi wajah dan “sifatnya” sangat mirip dengan Kim.


Wanita itu mengangguk dan menjawab, “Anda bisa memanggilku begitu, Nona.”


“Baik. Ayo, turun. Akan aku perkenalkan kepada Tuan Sergio dan anak buahnya,” ajak Keiko sambil lebih dulu membalikkan tubuh dan mulai berjalan menuruni tebing.


Kim mengekor di belakang Keiko dengan patuh. Tidak lupa ia membawa sebuah ransel hitam berisi senjata terbaru yang diciptakan oleh Phoenix. Co. Memang benar seperti dugaan Keiko, Andrew sudah meminta agar semua informasi yang ada dalam Kim yang sebelumnya agar diunduh dan dimasukkan ke dalam sistem humanoid yang terbaru ini, membuatnya secara otomatis bersikap dan merespon seperti Kim.


Kebetulan sekali Tuan Sergio dan empat orang anak buahnya sedang berkumpul di depan pondok kayu. Keiko menghampiri mereka dan memberi tahu bahwa Kim akan tinggal bersama mereka di sana. Ia hanya menjelaskan secara garis besar, tidak memberitahukan kepada orang-orang itu bahwa Kim adalah humanoid.


Setelah perkenalan singkat itu, Keiko mengajak Kim untuk masuk ke rumah, sedangkan Tuan Sergio dan anak buahnya langsung berpencar untuk berjaga di sekitar dermaga dan tebing.


“Um, sepertinya kamu bisa menempati ruangan ini,” ujar Keiko seraya berhenti di sebuah kamar yang bersebelahan dengan kamarnya. Andrew tidak memberitahu ruangan mana yang bisa dipakai oleh Kim. Ia pun lupa bertanya, jadi seharusnya tidak apa-apa Kim menempati ruangan yang kosong itu, ‘kan?


“Baik. Terima kasih, Nona,” balas Kim seraya membungkuk dengan hormat.


“Aku tidak tahu kamu makan atau tidak, tapi kalau lapar ... kamu bisa mencari makanan di dapur,” kata Keiko sambil menunjuk ke pintu dapur.


Kim terkekeh pelan dan menjawab, “Aku mengerti. Jangan khawatir, Nona. Aku bisa mengurusnya.”


“Oke. Kalau begitu, aku juga mau mandi dulu.” Keiko tersenyum dan masuk ke kamarnya. Ia memang belum mandi.


Mengingat tadi Andrew tadi hampir menciumnya membuat Keiko menutup wajah dengan kedua tangannya. Untung saja Tuan Sergio datang tepat waktu, kalau tidak ... astaga, bagaimana kalau pria itu menciumnya tadi? Ia bahkan belum menggosok gigi!


Gadis itu melemparkan diri ke atas ranjang dan berguling-guling di atasnya. Ia masih belum percaya bahwa dirinya sudah menerima Andrew Roux sebagai kekasih!


Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang?


Drrrt. Drrrt. Drrrt.


Keiko mengambil ponsel yang bergetar dalam saku celananya dan segera memeriksa pesan yang masuk. Matanya bulatnya melotot ketika membaca nama dari pengirim pesan itu: Suamiku.


“Suami? Sejak kapan aku menikah?” desis Keiko, buru-buru duduk dan memeriksa nomor pengirim pesan itu.


Satu-satunya orang yang sempat memegang ponselnya tadi hanya Andrew. Apakah pria itu yang menulis namanya sendiri dalam kontak telepon seperti ini?


“Benar-benar tidak tahu malu,” gerutu Keiko sambil menggelengkan kepalanya. Ia sungguh merasa tidak berdaya.


Ia baru tahu kalau Andrew Roux memiliki sisi yang kekanakan dan norak seperti ini. Meski begitu, ia tidak ingin mengganti nama kontak itu. Biarkan saja sebagai bukti kalau Andrew Roux pun bisa bersikap imut dan tidak tahu malu.


Keiko segera mengunduh tautan yang terlampir. Rupanya itu adalah foto mereka berdua saat di atas tebing tadi. Keiko mengulum senyum dan mengusap wajah Andrew yang berbinar bahagia di foto itu.


“Dia benar-benar sangat tampan,” gumam Keiko pelan.


Seringai di wajah gadis itu semakin lebar saat mengusap layar ponsel untuk melihat foto yang lain. Jemarinya berhenti saat menemukan satu pose saat Andrew sedang menunduk dan menoleh ke arahnya sekilas. Dari sudut pengambilan foto itu, tampak jelas bahwa Andrew sangat melindunginya. Sorot mata pria itu saat menatap Keiko terlihat sangat tulus dan ... dipenuhi cinta?


Keiko kembali berbaring sambil mendekap ponsel di dadanya. Hatinya terasa hangat sampai-sampai rasanya ia ingin menangis. Rasa haru yang ia tidak mengerti tiba-tiba membuncah dalam dadanya, membuat jantungnya berdentam-dentam seperti simfoni musim semi.


Drrrt.


Baby, terima kasih untuk kesempatan yang kamu berikan untukku. Aku berjanji akan menjaga dan membahagiakanmu seumur hidupku. Tunggu aku kembali, ya. Aku mencintaimu.


Keiko menggigit bibir dan membaca pesan itu berulang kali. Ia tidak bosan meski kata-kata itu sudah hampir ia hafal di luar kepala. Ia bisa membayangkan wajah Andrew yang serius ketika mengetik pesan itu. Mungkin guratan-guratan halus muncul di keningnya. Atau mungkinkah matanya berbinar penuh cinta ketika sedang merangkai kata?


“Astagaaa ....”


Keiko menangkup pipinya dan menarik napas dalam-dalam. Seumur hidup ia belum pernah merasa seperti ini. Jutaan kupu-kupu kembali hadir dalam perutnya, beterbangan ke sana kemari, menggelitik dan memberi sensasi yang aneh. Tiba-tiba terbersit dalam benak Keiko untuk mengisengi Andrew. Ia pun mengambil ponsel dan menulis pesan balasan untuk pria itu.


Baiklah, suamiku. Berhati-hatilah. Aku akan menunggumu dengan tenang di sini. Cepat kembali.


Sambil terkekeh jail, gadis itu mengirim pesannya. Dalam hati ia berharap bisa melihat ekspresi Andrew ketika membaca pesannya. Apakah pria itu tersedak dan mematung, atau menjerit seperti bocah laki-laki yang mendapat hadiah? Atau sama seperti dirinya yang terus tersenyum seperti orang bodoh dan membaca pesannya berulang-ulang?


Keiko mendesah pelan dan bergumam kepada dirinya sendiri, “Sakamoto Keiko, kamu benar-benar sudah habis ... otakmu pasti sudah rusak karena cinta ....”


***


Di garis pantai Kota Chiba.


Sekitar tiga mil dari rumah tebing tempat Keiko dan Andrew bersembunyi sebelumnya, tampak tiga orang pria mengawasi udara dengan menggunakan teropong. Kemudian tatapan mereka mengikuti radar yang terus berkedip dan menujukkan satu bulatan kuning yang menjauh dari pulau kecil di tengah laut lepas. Salah satu pria itu berjalan menghampiri Mr.Durrant yang sedang menunggu di dekat mobil ranger hitamnya.


“Kapten, target sudah bergerak. Kapan kita akan menyerang?” tanyanya sambil menyodorkan panel hitam, menunjukkan bulatan kuning yang semakin menjauh dari jangkauan radar.


Mr.Durrant menyeringai puas. Dugaannya benar, Andrew Roux bersembunyi di antara gugusan pulau kecil yang ada di laut Jepang. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah menunggu dengan sabar sampai pria itu keluar dari persembunyiannya. Menilik dari kebiasaan pria itu, tidak mungkin dia membawa putri Sakamoto Zen bersamanya. Oleh karena itu, sekarang adalah waktu yang tepat untuk menyergap, bukan?


“Segera siapkan pasukan!” perintah pria itu kepada anak buahnya. Seringai puas di wajahnya yang licik terlihat sangat menyeramkan.


“Baik, Kapten!”


Kali ini tidak boleh gagal. Ia sudah menunggu dan menyusun rencana dengan teliti, tidak boleh ada celah untuk gagal sama sekali.


***


Aaa... terharu banget baca support dari kalian semua🥺


makasih yaaa...


untuk teman2 yang mau bantu up level Andrew-Keiko bisa bantu share link atau bantu promo di FB ya🙏


Tidak harus, bagi yg berkenan saja...


Pokoknya saya baca komentar kalian aja udah seneng banget🥰


makasiiihh...


❤️❤️