Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Itu bukan dia



Andrew memakai setelan terbaiknya, lalu memeriksa pantulan dirinya dalam


cermin dengan teliti. Setelah tidur hampir seharian, kini tubuhnya terasa lebih


segar. Alarm yang dipasangnya pukul enam membangunkannya tepat waktu. Setelah meminum


secangkir kopi pahit dan seporsi dumpling kukus—camilan yang sepertinya kini


menjadi makanan favoritnya—sekarang ia siap untuk menjalankan rencana yang


sudah disusun oleh Mr. Tanaka.


Pria itu memasang dasi dan memeriksa ulang alat penyadap yang tersemat


di baliknya. Kali ini ia memilih spy glass berbentuk softlens yang dapat


dioperasikan melalui ponsel. Memakai kacamata hitam di malam hari akan terlalu


mencolok. Ia berkedip beberapa kali seraya mengaktifkan aplikasi khusus yang terpasang


di ponselnya untuk memastikan tidak ada kendala teknis.


Scanning ....


Bip. Bip. Bip.


Connected.


Tidak ada masalah dalam semua perangkatnya. Sekarang hanya perlu


sedikit keberuntungan agar identitasnya tidak terbongkar sebelum semuanya


selesai.


“Kamu sudah siap?” tanya Clark yang melongok dari balik pintu, “Kenapa


cepat sekali? Acara amal itu baru akan diadakan pukul delapan.”


Andrew memutar bola matanya ketika melihat Clark yang belum berpakaian


dengan rapi. Ia menunjuk jam tangannya dan berkata, “Ini sudah hampir pukul


tujuh, Clark. Aku akan meninggalkanmu kalau belum siap dalam ... sepuluh menit.”


“Hey, relaks, Drew. Jaraknya tidak terlalu jauh. Kita bisa sampai dalam—“


“Sepuluh menit.”


“Oke. Sepuluh menit. Tunggu aku.”


Andrew mengabaikan ekspresi sahabatnya yang terlihat sedikit tidak rela


dan berjalan keluar dari kamar. Mereka harus tiba di lokasi lebih awal untuk


mempelajari situasi. Setidaknya mereka bisa mengawasi tamu-tamu yang datang


sebelum acara dimulai. Jika tiba setelah acara dimulai, mereka bisa saja kehilangan


kesempatan yang berharga.


Clark tergesa merapikan pakaiannya, memasang alat komunikasi dan


beberapa perangkat lain sambil menggerutu pelan. Ia tidak pernah bisa


menyesuaikan diri dengan kedisplinan Andrew yang menurutnya sedikit berlebihan,


tapi ia juga tidak pernah memiliki keberanian untuk membantah sahabatnya itu.


“Clark!”


Suara yang menyerupai geraman dari balik pintu membuat Clark


berjengit karena terkejut.


“Tunggu sebentar! Sedikit lagi!” balasnya setengah berteriak. Ia belum


selesai menyisir rambut.


Andrew mendorong pintu kamar mandi hingga terbuka. Ia menatap tajam ke


arah  Clark sambil bersedekap.


“Kenapa tidak memberitahuku kalau ada Jovanka di depan? Kamu sengaja


ingin menjebakku?” tuduh Andrew dengan sedikit kesal. Ia hampir saja terjungkal


ketika melihat wanita itu duduk di ruang tamu dengan gaun malam yang


mempertontonkan separuh tubuhnya.


“Oh. Ya. Aku lupa. Maaf, tadinya aku ingin memberitahumu,” jawab Clark


seraya merapikan rambutnya dengan pomade.


Tadinya ia masuk untuk memberitahu Andrew mengenai kedatangan Jovanka,


tapi sahabatnya itu justru memarahinya dan membuatnya gugup. Jangan salahkan


kalau ia jadi lupa dengan tujuan semula.


“Kenapa dia ke sini?” tanya Andrew dengan nada tidak suka yang sangat


kentara.


“Aku tidak tahu. Kenapa tidak kamu tanyakan langsung padanya?” goda


Clark seraya mengedipkan mata, “Jujurlah, dia sangat cantik malam ini.”


Refleks tangan Andrew terangkat dan meninju bahu Clark dengan cukup


keras.


“Aw! Aku bercanda! Hanya bercanda!” seru Clark sambil berusaha


menghindar ketika melihat tangan Andrew sudah kembali melayang di udara.


“Kita sama-sama tahu apa alasan dia ke sini. Atau, apakah kamu ingin


berpura-pura tidak tahu?” tanya pria itu seraya mengusap-usap bahunya yang


terasa sakit.


“Berisik sekali! Cepatlah!” desis Andrew kesal. Untunglah tadi ia langsung berputar dan


kembali ke kamar sebelum Jovanka sempat mengatakan apa pun. Melihat gairah


dalam sorot mata wanita itu membuat seluruh tubuhnya meremang.


“Aku heran kenapa pria dingin dan kaku sepertimu digilai oleh banyak


wanita. Mereka tidak pernah menyadari pesona dan kharismaku,” gerutu Clark


sambil melirik sahabatnya dari cermin. Ia merapikan dasi, lalu menyelipkan sebuah pistol mini yang menyerupai pemantik di balik jas.


“Berikan kunci mobil,” ujar Andrew seraya menyodorkan tangan, tidak


berniat merespon perkataan Clark yang menjengkelkan itu.


“Apa? Tapi ... kenapa?”


“Aku yang menyetir. Kamu duduklah dengannya di belakang.”


“T-ta-tapi ....”


“Cepatlah,” desak Andrew seraya melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah


hampir setengah delapan.


Clark hanya bisa menghela napas. Ia menyerahkan kunci mobil pada Andrew


sambil berkata, “Ayo, berangkat.”


Dua pria itu berjalan beriringan menuju ruang tamu. Wajah Jovanka yang


suram mendadak berseri ketika melihat Andrew berjalan ke arahnya.


“Maaf aku datang tanpa memberi tahu kalian lebih dulu. Kendaraanku tiba-tiba


mogok di dekat sini, jadi aku putuskan untuk mampir. Kalian tidak keberatan, ‘kan?”


Andrew mendengkus pelan dan berjalan keluar tanpa mau repot-repot untuk


berbasa-basi. Memang ia akui, malam ini Jovanka terlihat sangat cantik, tapi


tetap saja ... potongan gaun yang membuat tungkai jenjang wanita itu terekspos tidak


membuatnya tertarik sama sekali.


“Tidak masalah. Ayo, jalan,” balas Clark seraya menyeringai kikuk.


Pria itu merasa sungkan karena sikap Andrew yang bar-bar dan sedikit keterlaluan.


Selain itu, bongkahan kenyal yang separuh menyembul di balik gaun backless yang dikenakan Jovanka


membuat ia sedikit tidak fokus. Ia tidak mengerti mengapa Andrew sama sekali


tidak tertarik dengan wanita di sampingnya itu.


Jika Jovanka mengejarnya seperti mengejar Andrew sekarang, maka ia


tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Ia benar-benar tidak mengerti dengan


jalan pikiran sahabatnya itu. Lagipula, bukankah Sakamoto Keiko sudah memiliki


tunangan?


Memangnya dia mau merebut gadis itu dari tunangannya? Sungguh tidak


masuk akal, gerutu Clark dalam hati.


“Di mana Jimmy?” tanya Clark ketika mereka sudah duduk di dalam mobil.


“Dia dan dua anak buah Mr. Tanaka sudah ada di posisi. Mereka sudah ada


di sana sejak satu jam lalu.”


“Oh.” Clark mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda ia mengerti.


Sepanjang perjalanan, Clark berusaha mencairkan suasana yang kaku di


dalam mobil.  Hal itu karena Jovanka yang


terus berusaha menarik perhatian Andrew, tapi pria itu bersikap seperti fosil


dari zaman batu. Ia hanya terus memerhatikan navigasi di layar GPS dan terlihat


sangat serius ketika mengemudikan mobil.


Ketika mereka akhirnya tiba di tempat yang dituju, Clark mengembuskan


napas lega karena tidak harus menjadi penengah lagi. Ia memerhatikan gedung


berwarna abu-abu yang terlihat cukup megah di depan sana. Beberapa mobil


terlihat mengantri dan menurunkan tamu-tamu yang mengenakan pakaian hasil karya


designer kelas dunia.


Andrew menepikan mobil ke dekat pintu masuk dan menyerahkan kunci mobil


pada petugas valet. Ia merapikan jasnya dan hendak berjalan masuk. Akan tetapi, tiba-tiba


tanpa aba-aba Jovanka melingkarkan tangan di lengannya.


“Miss?” tegur Andrew menyerupai desisan pelan.


“Ingat tugas kita di sini, Drew,” jawab Jovanka seraya tersenyum semanis


mungkin.


Clark terbatuk pelan dari belakang. Ia sungguh tidak menyangka Jovanka


seagresif ini. Namun, tidak ada yang bisa dilakukannya. Tugasnya malam ini adalah menjadi


asisten Andrew Roux, satu-satunya penerus Phoenix.Co.


Andrew ingin berdebat, tapi ia tahu Jovanka ditugaskan untuk menjadi tunangannya


oleh Mr. Tanaka. Itulah kesepakatan mereka kemarin. Semuanya harus terlihat


senatural mungkin. Oleh karena itu, setelah menarik napas dalam-dalam, Andrew


menggamit lengan Jovanka dan mulai berjalan masuk.


Setelah kartu undangan mereka


diperiksa, tiga orang itu langsung diarahkan menuju aula utama di lantai 12


oleh penjaga yang bertugas di lobby utama.


Aula itu benar-benar luas. Dua lantai dimodifikasi sedemikian rupa


sehingga menjadi satu ruangan megah yang dipenuhi ornamen klasik dan langka. Rangkaian


bunga dan beberapa hidangan pembuka yang mahal tersusun rapi di atas meja-meja


panjang. Segala jenis minuman ringan dan beralkohol ada di sana.


Belum ada banyak tamu yang datang. Alat pelacak yang sudah diatur


secara otomatis oleh Andrew langsung memindai wajah orang-orang dalam ruangan, lalu menampilkan


identitas mereka dalam bentuk hologram yang hanya dapat dilihat olehnya.


“Orang-orang ini, mereka adalah para milyuner dari seluruh penjuru


dunia,” ujar Jovanka sedikit takjub. Ia memiliki alat pendeteksi yang sama


dengan Andrew.


“Hum,” gumam Andrew hampir tak terdengar.


Ia mendongak untuk memindai ruangan di atasnya. Ada satu anak tangga


bergaya minimalis yang menghubungkan lantai bawah dan atas. Ada dua lorong di ujung


anak tangga, ke arah kanan dan kiri. Agak ke tengah, ada sebuah ruangan kaca


yang tembus pandang. Apa pun yang dilakukan orang-orang di sana dapat terlihat


dengan cukup jelas dari bawah. Beberapa pria bersetelan serba hitam berdiri


dengan sikap waspada, sesekali berbicara pada alat komunikasi mereka.


“Sepertinya itu semacam ruang untuk menjamu tamu VIP,” ujar Jovanka


yang menyadari ke mana arah tatapan Andrew.


Wanita itu terus menempel pada Andrew, tidak ingin melepaskannya sama


sekali. Ia tidak akan melepaskan kesempatan emas ini begitu saja. Ia bahkan


sudah memiliki sebuah rencana ... ketika acara ini berakhir nanti ....


“Selamat malam, Tuan Kobayashi.”


Sapaan yang cukup keras itu menarik perhatian Andrew. Meski begitu, ia


tidak terburu-buru menoleh. Setelah menghitung sampai sepuluh dalam hati, ia


baru menggerakkan kepalanya perlahan untuk mencari di mana posisi Kobayashi


Sora.


Akan tetapi, ketika akhirnya ia bersitatap dengan sosok yang dicarinya itu, ia


hampir kehilangan kendali.


Kenapa tua bangka itu tidak datang?


“Itu bukan dia,” ujar Clark dari balik tubuh Andrew, seolah bisa mengetahui


isi kepala sahabatnya.


Itu memang bukan dia.