Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Rahasia Jovanka



Setelah kembali ke apartemen yang disewanya, Jovanka membanting pintu dengan kesal. Ia berdiri sebentar di dekat jendela dan menatap gerbang rumah di seberang jalan yang sudah tertutup rapat.


Wanita itu mengumpat dalam bahasa Rusia dan Jepang, lalu meninju tembok di samping jendela dengan kesal. Ia tahu Clark sedang menyembunyikan sesuatu, tapi ia tidak bisa menemukan apa itu. Meski terlihat ceroboh dan sembrono, pria itu sangat penuh dengan tipu muslihat.


Saat ini Jovanka berada di jalan buntu. Ryuchi belum tertangkap, Robert Castillo sudah mati, Andrew melarikan diri bersama gadis Jepang itu, sedangkan Clark bungkam. Ia sungguh tidak tahu harus bertindak bagaimana. Jika ia salah melangkah atau salah mengambil keputusan, maka semuanya benar-benar akan hancur berantakan, dan orang itu sudah pasti tidak akan melepaskannya. Mengingat orang itu membuat Jovanka bergidik dan gemetar ketakutan. Tidak ada yang bisa menandingi kekejaman orang itu.


Drrrt.


Drrrt.


Drrrt.


Suara getaran ponsel di atas meja bergema dalam ruangan yang hening, membuat tubuh Jovanka semakin membeku. Dari bunyi getaran yang berulang setiap satu detik itu, Jovanka tahu itu bukan sebuah pesan, melainkan panggilan suara. Dan ia bisa menebak siapa yang melakukan panggilan itu.


Dia adalah orang yang sedang dipikirkan Jovanka saat ini, tentang kekejaman dan ambisinya yang mengerikan. Sialnya, Jovanka terlanjur melakukan perjanjian dengan orang itu. Awalnya wanita itu mengira telah melakukan kesepakatan yang menguntungkan. Siapa yang menyangka pada akhirnya nyawanya ikut dipertaruhkan.


“Sial,” desis wanita itu seraya berjalan dengan langkah kaku mendekati meja.


Ia mengulurkan tangan dan hendak mengambil ponselnya, tapi benda itu tiba-tiba berhenti bergetar. Napas Jovanka yang sempat tertahan di tenggorokan kembali meluncur melewati saluran pernapasan, meninggalkan jejak hangat di udara ketika bibirnya sedikit terbuka. Akan tetapi, semua perasaan lega itu tidak bertahan lama. Suara ketukan di daun pintu membuyarkan ketenangannya.


“Tidak mungkin ... tidak mungkin ...,” gumamnya dengan suara yang menyerupai bisikan.


Ia berbalik dan menatap daun pintu yang berjarak sekitar lima langkah di depannya. Wajah yang selalu terlihat tegas dan berwibawa itu tampak pias, seolah seluruh aliran darah tidak mencapai wajah cantiknya.


Ketukan terdengar semakin kuat dan berirama. Tekanan dari buku-buku jari yang menghantam lembaran kayu cokelat itu terdengar seperti lagu pengiring yang dilantunkan oleh malaikat kematian. Jiwa Jovanka hampir terlepas dari raganya hanya dengan mendengar suara ketukan itu.


“S-siapa di sana?” tanya wanita itu dengan gugup, lalu menyadari bahwa suaranya hampir tidak terdengar.


Ia berdeham dan melangkah ke depan, berhenti tepat di belakang daun pintu dengan gemetar. Wanita itu terlalu takut untuk melihat ke arah layar di sisi kirinya yang merupakan monitor untuk memantau tamu yang mengunjungi ruangannya.


“Aku tahu kamu ada di dalam. Buka pintunya.”


Suara yang serak dan berat itu memasuki gendang telinga Jovanka, membuatnya semakin linglung untuk sesaat.


“Buka pintunya!” seruan yang lebih mirip raungan penuh kemarahan itu membuat tubuh Jovanka sedikit tersentak ke belakang, tapi kembali maju dengan cepat dan membuka pintu tanpa berpikir apa-apa lagi.


Bugh!


Wanita itu menyeringai dengan wajah memucat, tulang punggungnya seakan mau patah. Ia terus meringkuk dan menekan ulu hati dengan napas terputus-putus. Belum hilang semua rasa sakit itu, rambutnya tertarik ke atas dengan keras hingga mau tidak mau tubuhnya ikut bergerak. Ia berdiri dengan sedikit membungkuk, lalu sebuah pukulan menghantam sisi wajahnya dengan cukup keras.


Kepala Jovanka berkunang-kunang, telinganya berdenging dan pandangannya mengabur. Akan tetapi, ia masih mencoba bertahan ... dengan cepat berguling ke bawah kaki orang yang baru saja menghajarnya itu dan memeluknya erat-erat.


“Tuan, saya tahu saya salah ... maafkan, maafkan kelalaian saya ... saya janji—“


“Janji?” sela pria itu seraya menarik kakinya dengan jijik, “Huh! Aku tidak butuh janji!”


Meski terdengar tenang, Jovanka tahu amarah pria di hadapannya sama sekali belum reda, jadi ia hanya bisa terus memohon belas kasihan untuk nyawanya, “T-tuan, sebentar lagi ... beri saya waktu sedikit lagi ... saya akan segera membereskan semuanya.”


Pria yang menjulang tinggi di depan Jovanka mengernyit dengan tidak puas. Waktu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa ia toleransi. Sedikit saja terlambat bergerak, maka semua rencananya selama lima tahun terakhir akan percuma, sia-sia ....


Ia menatap dengan kesal ke arah Jovanka yang masih berlutut di bawah kakinya, lalu menggerakan ujung sepatu untuk mengangkat dagu wanita itu. Suaranya terdengar tanpa emosi, tapi ada sedikit jejak ancaman dan peringatan ketika berkata, “Ingat perjanjian yang sudah kamu sepakati. Kedudukanmu yang tidak berarti itu dapat aku hancurkan hanya dengan satu jentikan jari. Namun, jika kamu berhasil melakukan apa yang aku perintahkan, maka ... untuk ke depannya, tidak akan ada orang yang bisa menggoyahkan posisimu itu. Mengerti?”


Jovanka mengangguk cepat berkali-kali sambil menjawab, “Mengerti, saya mengerti ... Tuan.”


Pria berkepala botak itu mendengkus dengan kesal, lalu berbalik dan pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi. Empat orang anak buahnya yang bertubuh kekar menghancurkan hampir semua barang yang ada di dalam ruangan itu sebelum keluar.


Napas Jovanka tercekat, tubuhnya merosot ke atas lantai, seolah seluruh tulang di tubuhnya telah terlepas dan tak mampu menopang bobotnya lagi. Sorot kengerian melintas di maniknya yang sebiru langit kota Tokyo. Seharusnya ia tidak melakukan perjanjian terkutuk itu. Seharusnya ia tidak bermain-main dengan nyawanya hanya untuk merangkak ke posisi yang lebih tinggi. Kini, semuanya sudah cukup terlambat bukan?


Tidak ada jalan kembali. Tidak ada celah untuk mundur. Ia tahu dirinya tidak punya cukup nyali atau pun keberanian untuk melarikan diri, karena ke mana pun ia pergi, orang itu pasti akan tetap menemukannya. Ketika hal itu terjadi, bahkan kesempatannya untuk bernapas pun sudah tidak ada lagi. Orang itu tidak pernah memiliki belas kasihan. Sedikit pun tidak pernah.


Oleh sebab itu, ia harus terus melangkah maju, menjalankan rencana seperti semula meski tingkat keberhasilannya hanya satu persen sekali pun.


Dengan tangan yang masih gemetaran, Jovankan mengambil ponsel di atas meja dan melakukan panggilan ke nomor asing. Nada tunggu yang panjang membuat napasnya terasa sesak. Rasa sakit yang berdenyut di dada dan wajah membuatnya mengernyit dalam.


Ia tidak pernah dipermalukan seperti ini. Secara alami, ia menimpakan semua kesalahan kepada Keiko. Menurutnya, karena gadis itulah Andrew Roux mengacaukan misi yang sudah diaturnya dengan baik. Seharusnya ... tidak berjalan seperti ini.


“Jalankan rencana kedua,” ujarnya setelah terdengar suara dari lawan bicaranya.


“Baik, Kapten.”


Wanita itu tidak menyadari semua gerak-gerik dan percakapan di dalam apartemennya terekam dengan baik dan terkirim ke sebuah notebook yang berkedip-kedip di dalam kamar Clark. Pria itu menyipit dan mengirimkan semua informasi yang didengarnya kepada Andrew. Mereka harus mempersiapkan strategi sebelum musuh menyerang.


***