Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Menemaninya



Andrew berjalan paling depan, disusul oleh Keiko dan Kim yang paling belakang. Tiga orang itu berjalan menuruni tangga batu yang melingkar di samping rumah tebing. Tangga itu berbentuk setengah lingkaran, berujung di sebuah dermaga kecil di dekat teluk.


Hanya ada dua buah perahu nelayan dan satu buah kapal cepat yang tertambat di sana. Ada seorang pria tua yang memakai topi putih di dekat kapal cepat, tampaknya merupakan orang yang akan mengemudikan kapal laut tersebut. Karena sudah hampir sore, tidak ada terlalu banyak orang di dermaga kecil itu.


“Selamat sore, Tuan, Nona,” sapa pria itu ketika Andrew tiba di hadapannya. Secara refleks ia menegakkan posisi tubuhnya.


“Sore. Apakah semuanya sudah siap?” balas Andrew.


“Ya. Kita dapat berangkat kapan pun Anda memerintahkannya.”


Andrew mengangguk puas dan menoleh ke arah Keiko. “Naik dan lihatlah apakah masih ada yang kurang,” ujarnya seraya menyodorkan tangan untuk membantu gadis itu memasuki perahu motor.


“Baik,” jawab Keiko seraya menyambut uluran tangan Andrew.


Kim mengikuti dari belakang dan membantu Keiko memegangi guci abu untuk sementara. Dari luar kapal itu terlihat kecil, tapi ketika memasuki bagian dalam, Keiko baru menyadari kapal cepat itu cukup luas.


Selain nahkoda dan mereka bertiga, masih ada empat orang pria yang bersiaga di atas perahu. Salah seorang dari pria itu menyerahkan keranjang kecil berisi bunga kepada Keiko. Ada juga dua buah pelampung dan safety rope di lantai. Sebenarnya itu semua sudah lebih dari cukup, jadi Keiko tidak meminta apa-apa lagi.


Andrew memberi isyarat kepada Pak Tua yang akan mengemudikan perahu motor bahwa mereka sudah siap untuk berangkat. Tak lama kemudian, bunyi mesin berdengung pelan. Badan perahu sedikit tersentak sebelum bergerak maju dengan stabil.


Keiko berdiri di anjungan, menoleh sekilas pada rumah tebing yang semakin mengecil di belakang. Ombak memecah di sisi kanan dan kiri perahu, memercikkan air laut dengan cukup keras hingga tampias ke dalam. Keiko berdiri tegak sambil memegang guci abu ayahnya erat-erat. Siluetnya yang tertimpa cahaya matahari senja memberi ilusi seperti seorang putri yang dari negeri dongeng.


Andrew terpaku sesaat menatap keindahan di hadapannya. Dalam ingatannya yang samar-samar, ia pernah berjanji untuk membawa gadis itu pergi berlibur. Sayangnya rencana itu tidak pernah terlaksana. Kinara Lee-nya lebih dulu pergi sebelum ia mewujudkan janji-janji yang tidak pernah sempat ia tepati.


Tenggorokan Andrew mendadak terasa kering dan tidak nyaman, seolah ada sebongkah bara api di dalam sana, mengganjal dan membakar dirinya dari dalam. Kedua tangan pria itu terkepal erat ... sangat erat hingga kukunya hampir menusuk ke dalam telapak tangannya.


Ada ironi yang terpantul dari manik matanya yang kelam. Cemoohan samar tersungging di bibirnya, cibiran sinis terhadap dirinya sendiri karena di kehidupan ini pun ia belum sanggup membuat Kinara Lee-nya bahagia. Entah sudah berapa banyak air mata gadis di hadapannya itu tumpah, dan ia tidak sanggup melakukan apa pun untuk mencegahnya.


Seolah menyadari kalau dirinya sedang diamati, Keiko menoleh ke belakang dan mendapati Andrew berada sekitar lima langkah di belakang tubuhnya. Rambutnya yang sebahu meriap-riap tertiup angin. Dalam jarak itu, bulu matanya yang panjang tampak bergetar samar, entah karena gugup, atau karena rasa sedih.


Tanpa sadar Andrew melangkah maju dan mengulurkan tangan. Ia meraih beberapa helai anak rambut yang mencuat, lalu menyelipkannya di belakang telinga Keiko. Gadis itu terlalu terkejut dengan sikap Andrew. Mata bulatnya menatap pria di hadapannya dengan sorot penuh tanya. Sedangkan Andrew yang menyadari kekeliruannya segera menarik tangannya dengan cepat.


“Maaf,” gumam pria itu seraya mengalihkan pandangannya, “Itu hanya ... um, aku juga tidak tahu kenapa—“


“Tidak apa-apa,” sela Keiko dan memalingkan wajahnya. Ia kembali menghadap ke depan, berusaha meredakan debaran dalam dadanya yang mendadak menjadi tidak beraturan.


Garis pantai terlihat semakin jauh. Hamparan samudra biru membentang luas hingga kaki cakrawala, memberi kesan misterius sekaligus menenangkan. Keiko mendongak untuk menatap langit cerah yang dihiasi beberapa awan putih yang menggantung. Untungnya hari ini tidak mendung atau pun hujan.


“Aku rasa di depan adalah lokasi yang cocok,” ujar Keiko memecah kesunyian.


“Baik,” balas Andrew. Ia menoleh ke arah Kim dan berkata, “Tolong sampaikan kepada Tuan Sergio untuk berhenti di depan.”


“Siap, Kapten,” jawab Kim. Ia bergegas ke ruang kendali dan menyampaikan perintah Andrew.


Pria yang bernama Sergio itu segera memelankan laju perahu motor sebelum akhirnya benar-benar mematikan mesin. Ia menurunkan jangkar untuk mempertahankan posisi perahu agar tetap stabil.


“Aku akan turun,” kata Keiko setelah perahu mengapung dengan tenang.


“Aku akan menemanimu.”


Perkataan Andrew terdengar sebagai pernyataan, bukan sedang meminta persetujuan. Dengan sigap ia mengambil pelampung dan menyerahkannya kepada Keiko. Kim membantu gadis itu memakainya. Ketika ia selesai, Andrew pun telah selesai memakai pelampungnya sendiri.


Meski mereka sama-sama bisa berenang, tapi alat keselamatan itu tetap diperlukan untuk berjaga-jaga jika ada arus dari dasar laut yang menarik mereka ke dalam pusaran.


Dengan cekatan Andrew memasang tali di bagian belakang pelampung, mengaitnya dengan sisi kapal, lalu lebih dulu turun ke dalam air. Ia menyodorkan tangan dan membantu Keiko untuk turun dengan hati-hati. Setelah gadis itu mengapung dengan stabil, Andrew menerima keranjang bunga yang disodorkan oleh Kim.


Pemandangan sore itu sangat mengharukan. Seorang putri mengantar ayahnya ke tempat peristirahatan yang terakhir dalam keadaan yang sangat sederhana. Tidak ada upacara pemakaman yang layak, tanpa sanak saudara ... sebuah proses perpisahan yang sangat menyesakkan.


Matahari sudah hampir mencapai batas cakrawala, cahaya keemasannya memantul dan memberi kesan yang teduh. Keiko meletakkan guci di atas permukaan air dengan hati-hati, lalu memberi penghormatan terakhir sebanyak tiga kali lalu berkata, “Ayah, dendammu akan aku balaskan.”


Air matanya kembali menetes ketika riak air perlahan tapi pasti membawa guci itu menjauh. Ia menerima keranjang yang diserahkan oleh Andrew, mengambil segenggam bunga dan menaburkannya perlahan. Keiko melakukan hal itu sampai guci porselen berisi abu ayahnya perlahan menghilang ke dasar samudra.


Andrew ikut memberikan penghormatan terakhirnya sambil berkata, “Mr.Sakamoto, beristirahatlah dengan tenang. Aku akan menjaga putrimu dengan baik dan membantunya membalaskan dendam Anda.”


Mendengar perkataan Andrew membuat Keiko terisak semakin keras. Ketika ia merasa tidak memiliki siapa-siapa lagi, pria itu berjanji untuk menjaganya di depan abu ayahnya. Sekarang ia tidak merasa sendirian lagi. Tuhan mengambil ayahnya, tetapi mengirimkan seorang pria luar biasa untuk menggantikan ayahnya. Untuk sesaat, gadis itu merasa yakin semua akan baik-baik saja.


***