Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Anak Kunci Rahasia



“Ayahmu sudah beristirahat dalam damai. Ayo pulang,” ujar Andrew seraya mengambil kembali keranjang bunga yang sudah kosong.


“Baik,” jawab Keiko pelan.


Andrew lebih dulu berenang mendekati kapal dan menyerahkan keranjang bunga kepada Kim. Ketika Keiko mendekat, ia mengulurkan tangan ke arah gadis itu.


Keiko menerima uluran tangan Andrew dengan patuh, membiarkan pria itu membantunya naik ke perahu.


Kim segera memberikan sebuah handuk dan berkata, “Silakan ganti pakaian Anda, Nona. Sudah saya siapkan di kabin.”


“Terima kasih,” ucap Keiko sambil tersenyum. Ia masuk ke dalam bilik yang ditunjukkan oleh Kim.


Sebenarnya, perahu motor itu berukuran cukup besar. Keiko baru menyadarinya ketika naik tadi. Dari luar, salah satu alat transportasi laut itu terlihat biasa saja, Keiko bahkan tidak menyangka ada beberapa kabin di dalamnya. Bukan hanya ada satu, tapi ada empat.


Ruangan-ruangan itu saling berhadapan. Ada sebuah kamar mandi di dalam kabin, dilengkapi juga dengan sebuah ranjang berukuran single dan sebuah kabinet kecil yang juga berfungsi sebagai meja rias. Sepertinya Andrew Roux benar-benar memanjakannya dengan menyediakan fasilitas terbaik. Mau tidak mau Keiko merasa sedikit tersanjung.


Gadis itu membasuh tubuhnya dan berganti pakaian dengan sebuah setelan yang sudah disiapkan di atas ranjang. Ia melongok ke luar, hendak bertanya kepada Kim di mana ia harus meletakkan pakaiannya yang basah. Akan tetapi, ketika pintunya terbuka, ia justru berhadapan dengan Andrew yang juga baru saja keluar dari kamar sebelah.


“Ada yang kamu butuhkan?” tanya pria itu ketika melihat ekspresi rumit di wajah Keiko.


“Um ... tidak. Aku hanya mencari Kim,” jawab Keiko sambil melangkah keluar.


“Dia sedang menemui nahkoda. Kita akan segera kembali ke darat,” balas Andrew seraya melipat ujung kemeja hitamnya, “Ada yang bisa aku bantu?”


“Oh.” Keiko terlihat ragu-ragu sejenak sebelum kembali berkata, “Aku hanya ingin bertanya di mana aku harus menyimpan pakaianku yang basah tadi.”


“Letakkan saja di situ, nanti Kim akan membereskannya.”


“Oh. Baiklah ....”


Andrew memberi isyarat dengan kepala agar Keiko mengikutinya. “Kemarilah.”


“Hati-hati,” sambung pria itu lagi ketika merasakan sentakan dari perahu motor yang mulai bergerak.


Keiko hanya bergumam sekilas sebagai jawaban. Meski tidak tahu ke mana Andrew akan membawanya, ia tetap mengikuti dengan patuh. Mereka berjalan ke sebuah ruangan kecil yang sepertinya digunakan sebagai bar. Ada beberapa botol champane dan wiski di etalase kaca, juga tiga buah kursi bar yang disusun berjajar.


Andrew mengarahkan Keiko untuk duduk di single sofa berwarna maroon yang ada di pojok ruangan. Pria itu lalu membuka tutup botol besi di atas meja, lalu menuangkan isinya ke dalam gelas dan menyodorkannya kepada Keiko.


“Apa ini?” tanya Keiko. Ia hanya menatap dengan sedikit curiga ke arah gelas yang masih berada di tangan Andrew. Mengapa ada uap mengepul? Apakah itu adalah minuman beralkohol jenis terbaru?


“Jangan takut, ini hanya air jahe. Sangat bagus untuk menghangatkan badanmu,” ujar Andrew seolah bisa membaca isi pikiran gadis di hadapannya.


“Terima kasih,” ujar Keiko seraya menerima gelas yang disodorkan kepadanya.


“Hum.” Andrew hanya bergumam pelan dan menuangkan cairan merah kecokelatan itu ke gelasnya sendiri.


Keiko mendekatkan benda itu ke wajah sehingga uap panas mengenai kulit pipinya ... ah, rasanya sangat nyaman. Ia meniup-niup isi gelas sebelum meminumnya perlahan. Aliran rasa manis dan hangat membuat wajah gadis itu memerah secara alami.


Gerakan Andrew terhenti, ia bahkan lupa untuk berkedip. Melihat Keiko memejamkan mata dan menikmati air jahe yang dibuatnya tadi membuat semuanya terasa sepadan. Tidak sia-sia ia mempersiapkan semuanya sendiri. Jantungnya berdebar-debar melihat wajah semulus batu giok di hadapannya itu merona, dengan bibir merah yang sedikit terbuka ketika menyesap air jahe ... benar-benar sebuah pemandangan yang membuat orang merasa sedikit kepanasan. Padahal, ia bahkan belum meminum air jahe di gelasnya.


Andrew berdeham dan mengalihkan pandangan, lalu berdiri dengan cepat sambil berkata, “Kamu beristirahatlah di sini, aku akan pergi memeriksa keadaan di luar.”


Pria itu melarikan diri sebelum Keiko merespon semua tindakan dan perkataannya yang sangat cepat itu. Ketika tiba di luar, angin laut menampar-nampar wajahnya, membawa kembali semua kesadaran dan ilusi yang menghipnotisnya di dalam. Sakamoto Keiko ... gadis itu seolah memiliki daya tarik magis yang selalu dapat menyeretnya ke jurang tanpa dasar.


Ia melepas satu kancing kemeja yang paling atas, berharap hal itu dapat mengatasi rasa sesak yang membuatnya seperti sedang tercekik. Jakunnya bergerak naik-turun, menelan ludah dengan susah payah. Ada dorongan gila dalam dirinya untuk menarik Keiko ke dalam dekapannya dan mencicipi bagaimana rasa bibir ranum yang merekah itu. Ia penasaran, apakah rasanya akan sama dengan bayangan samar yang tertinggal dalam kepalanya. Hal itu sungguh membuatnya frustasi.


“Kapten,” sapa Kim ketika melihat atasannya sedang termenung di geladak, menatap gelas di tangannya dengan ekspresi yang cukup rumit.


“Kapten Andrew?” panggilnya lagi ketika pria jangkung itu tidak merespon.


Andrew menoleh dengan linglung dan mendapati Kim yang sedang menatapnya. Ia mengerjap pelan dan menjawab, “Ada apa?”


“Salah satu informan kita mengirimkan berita terbaru. Ryuchi masih memerlukan sebuah anak kunci untuk dapat membuka segel yang akan mengukuhkan kedudukannya sebagai ketua klan yang baru. Rumor yang beredar mengatakan bahwa anak kunci itu telah diserahkan oleh Sakamoto Zen kepada salah satu anggota keluarganya. Itu berarti ....”


Kim tidak mengakhiri ucapannya, tapi ia tahu kaptennya itu pasti mengerti. Satu-satunya garis keturunan keluarga Sakamoto yang tersisa hanya ada satu, Sakamoto Keiko. Apakah gadis itu yang memegang kunci rahasia? Ia tidak tahu. Namun, jika Keiko memang benar memilikinya, apakah gadis itu akan mengakui bahwa dia memilikinya, atau apakah dia akan menyerahkan benda itu dengan sukarela? Ia juga tidak tahu jawabannya. Jadi ... ia akan membiarkan Kapten Andrew yang memecahkan masalah ini.


“Begitu ...,” gumam Andrew pelan.


Pantas saja Hiro mengatakan bahwa orang-orang itu mengincar Keiko. Itu karena Ryuchi hanya akan menjadi pemimpin jika berhasil mendapatkan benda yang berada di tangan Keiko. Masalah apakah Ryuchi akan membiarkan Keiko hidup atau mati setelah mendapatkan benda yang dia cari, itu juga sudah jelas.


Tidak ada satu orang pun anggota dari pemimpin klan sebelumnya yang boleh hidup setelah penetapan ketua klan yang baru. Anggota keluarga dari klan sebelumnya hanya akan menjadi duri dalam daging. Oleh karena itu, anggota keluarga yang tersisa harus dimusnahkan sampai ke akar.


Andrew meneguk air jahe di gelasnya, menikmati sensasi hangat yang mengalir melewati kerongkongannya. Ia sudah bersumpah, selama ia masih hidup ... tidak ada satu orang pun yang bisa menyakiti wanita miliknya.


***


Mr.Roux-nya basah, Gaes. Abis bantuan Keiko


Othor jd pngen ikut mandi juga😂😂😂