
Leon menoleh ke kanan dan kiri. Tidak terlihat satu orang pun di pelataran motel. Dua buah sepeda motor yang tadi malam terparkir di halaman pun sudah tidak ada. Mungkin sudah pergi sejak tadi. Pemuda itu tidak mau ambil pusing. Ia segera masuk dan duduk di balik kemudi. Setelah memanaskan mesin, ia segera mengarahkan mobil van keluar dari tempat parkir.
“Belok ke kiri,” ujar Clark, kemudian kembali menatap kembali layar ponselnya, memperhatikan instruksi yang diberikan oleh Garry.
“Baik, Kapten,” jawab Leon dengan patuh. Ia segera membelokkan kemudi ke arah yang ditunjukkan oleh Clark.
Rupanya arah yang ditunjukkan menuju sebuah gang kecil yang berada di antara deretan pertokoan. Gang itu cukup panjang dan terlihat masih sepi. Mungkin karena masih terlalu pagi sehingga belum ada toko yang buka atau karyawan yang datang. Leon mengarahkan mobil sampai ujung dan berhenti sebentar tanpa mematikan mesin mobil.
“Aman,” kata Clark ketika membaca pesan yang masuk dari Garry. Pemuda itu membantu mengawasi wilayah di sekitar gang melalui CCTV yang ada di beberapa sudut jalan.
“Baik,” ujar Leon seraya menekan bulatan hijau yang berada di dekat dashboard.
Bunyi dengungan halus terdengar ketika body mobil berganti lapisan sehingga kini berubah warna menjadi putih dengan sebuah gambar camera CCTV yang besar di bagian tengahnya. Tulisan “Security Sistem Service” yang cukup besar tertera di bagian bawah gambar itu.
Setelah proses itu selesai, mereka berdua lalu menunggu aba-aba dari Garry di dalam mobil. Seharusnya sekarang pemuda itu sedang meretas ke dalam sistem keamanan dan membuat “kerusakan internal” yang membutuhkan “penanganan darurat”.
Sistem take down.
Clark mengangguk puas ketika membaca pesan dari Garry. Ia menoleh ke arah Leon dan berkata, “Ayo, beraksi.”
“Baik!”
Leon memundurkan mobil dan kembali menuju jalan utama. Kini tidak akan ada yang menyadari ke mana perginya mobil van hitam yang tadi memasuki gang. Penampilan mobil van putih yang kini dikendarai oleh Leon benar-benar terlihat berbeda. Inilah salah satu tujuan mereka menggunakan mobil van dari kota Tokyo, sebagai alat transportasi sekaligus untuk penyamaran.
“Apa pun yang terjadi nanti, jangan gugup. Oke?” kata Clark ketika melihat wajah rekannya yang tampak sangat tegang.
Leon menelan ludah sebelum menjawab, “Mmm ... baik, aku akan berusaha, Kapten.
“Bagus.”
Jarak antara penginapan dan kastil keluarga Nakamura tidak terlalu jauh. Hanya memakan waktu kurang lebih 25 menit untuk tiba di sana. Untuk mencapai tempat itu, mobil harus melewati jalan setapak yang cukup panjang, menembus deretan pohon sakura yang berjajar rapi di sisi kiri dan kanan jalan.
Clark sedikit terpesona dengan pemadangan yang terlihat di sepanjang jalan. Dengan jalan sepanjang itu, tidak terlihat sedikit pun daun-daun kering yang berserakan di pinggir jalan. Ranting dan dahan pohon pun tidak ada yang melengkung melebihi batas. Semuanya sangat tertata dengan rapi.
“Sepertinya keluarga Nakamura memang sangat kaya,” ujar Leon yang sama kagumnya dengan Clark. Ia hampir saja berdecak kagum. Entah berapa banyak tenaga yang disewa untuk merawat lahan keluarga seluas ini.
“Tentu saja,” balas Clark, “Kaya dan berbahaya. Fokuslah, kita hampir sampai.”
“Siap, Kapten,” jawab Leon pelan seraya menatap gerbang yang tingginya sekitar lima meter di depan bundaran.
Ada sebuah air mancur dan patung kuda yang mengangkat kaki depannya di tengah bundaran itu. Leon memutar mengikuti arah jalan dan mengarahkan kemudi menuju gerbang masuk. Ia dan Clark menyipit melihat lambang keluarga yang tercetak di bagian atas gerbang: sebuah piramida terbalik berwarna emas.
Leon menepikan mobil di samping gerbang dan menempelkan ID Card di mesin pengenal yang berada di sana. Mesin itu memindai sebentar, mengkonfirmasi identitas Clark dan Leon sebagai Jasond dan Michael, dua orang petugas dari “Security Sistem Service” yang sebenarnya tidak pernah ada.
Bip.
Mesin itu memberi akses untuk masuk. Leon kembali menginjak pedal gas ketika pintu gerbang bergerak terbuka, memberi ruang bagi mobil van untuk masuk ke kediaman keluarga Nakamura. Seperti jalan setapak yang terpelihara dengan rapi, sepanjang jalan dari gerbang utama menuju kastil keluarga pun luar biasa bersih dan indah. Beragam tanaman yang berasal dari luar Jepang tumbuh dengan subur di sisi kiri dan kanan jalan. Jelas dibutuhkan usaha yang tidak mudah dan dana yang tidak sedikit untuk menjaga keasrian yang menawan seperti itu.
“Selamat pagi, Tuan,” sapa Clark, “Kami dari Security Sistem Service, mendapat panggilan dari—”
“Turun,” sela salah seorang pengawal. Wajahnya yang datar menatap ke arah Clark dan Leon tanpa ekspresi.
Leon mematikan mobil dan keluar dari mobil. Clark turun dari sisi yang lain dan langsung digeledah oleh pengawal berwajah seram yang menyuruh mereka turun tadi.
Dua pengawal itu memindai tubuh Clark dan Leon, lalu memeriksa isi mobil dan kotak peralatan yang dikeluarkan oleh Leon. Mereka ingin memastikan bahwa tidak ada benda-benda mencurigakan atau berbahaya. Setelah yakin semuanya aman, salah satu pengawal itu memberi isyarat agar Clark dan Leon mengikuti mereka ke dalam.
“Kerjakan dengan tenang dan jangan banyak bicara, Kepala Keluarga tidak menyukai keributan,” ujar pengawal seram yang berjalan di depan Clark.
“Baik,” jawab Clark dan Leon serentak.
Tangan Clark bergerak naik seolah hendak merapikan rambutnya, tapi dalam satu gerakan cepat yang tidak terlihat ia mengetuk gagang kacamata itu untuk mengaktifkannya. Dengan cepat benda itu memindai seluruh isi bangunan, mulai dari tata ruang, dekorasi, hingga pajangan-pajangan antik yang berjejer rapi di bufet-bufet kuno dalam aula utama.
Leon menelan ludah dan berusaha agar tidak terlihat gugup. Di setiap sudut ruangan terdapat pria bersenjata yang berdiri dengan posisi siaga, seolah siap menghancurkan siapa saja yang ingin mengacau. Diam-diam ia mengepalkan tangan dan mengumpulkan keberanian. Ia tidak boleh melakukan kesalahan sama sekali. Satu kesalahan bisa membuatnya tidak akan keluar dari tempat itu hidup-hidup.
Clark dan Leon terus mengikuti kedua orang pengawal yang kini berjalan menuju tangga dengan bentuk setengah lingkaran menuju lantai dua. Clark hampir berdecak kagum melihat lantai, dinding, hingga tangga yang terbuat dari marmer asli dengan kualitas terbaik.
Hasil pindaian dari The Eyes menunjukkan bahwa lukisan-lukisan dipajang di dinding merupakan barang langka yang berasal dari abad pertengahan, beberapa benda di yang ada dalam aula utama bahkan merupakan peninggalan Perang Salib dan Revolusi Prancis. Clark sungguh tidak tahu bagaimana keluarga Nakamura bisa memiliki benda-benda itu.
Clark mengembalikan konsentrasinya ketika dua orang pengawal berhenti di sebuah ruangan yang mengalami "gangguan teknis". Pria berwajah kejam yang berjalan di depannya berhenti dan membuka pintu itu, kamudian lebih dulu melangkah masuk. Clark dan Leon mengekor di belakangnya, disusul oleh rekan si pria berwajah kejam tadi.
Begitu memasuki ruangan itu, tatapan Clark langsung jatuh pada seorang pria yang duduk di sudut ruangan. Pria itu duduk di sebuah sofa yang berada di depan jendela kaca. Cahaya matahari yang menyusup masuk lewat celah gorden yang terbuka membuat wajahnya tidak terlihat jelas.
“Selamat datang di rumahku,” sapa pria itu dengan tenang.
Rasa terkejut tidak bisa ditutupi dari wajah Clark. Ia mengenali suara itu.
Clark mematung sejenak sebelum berkata, “Kamu—“
Sebuah pukulan keras merenggut kesadaran Clark sebelum menyelesaikan perkataannya. Leon yang belum sempat memberikan reaksi pun mengalami nasib yang sama.
Pria yang duduk di sofa menyilangkan kakinya dengan santai. Ia memutar gelas di tangannya yang berisi sampanye terbaik dari Paris, menghidu aroma minuman itu sebelum menyesapnya perlahan. Matanya berkilat penuh perhitungan, cukup puas karena rencananya berjalan lancar.
“Bawa mereka ke ruang bawah tanah,” perintah pria itu kepada dua orang pengawalnya.
“Baik, Tuan,” jawab si pria berwajah kejam. Ia segera menunduk dan menyeret tubuh Clark dan Leon keluar dari ruangan itu.
Ribuan mil jauhnya dari tempat itu, Garry panik karena seseorang baru saja meretas balik sistem komputernya. Semuanya mati total. Dengan gugup ia mencoba menghubungi Andrew, tapi saluran teleponnya pun terputus.
“Sial!” umpat pemuda itu seraya melempar ponselnya dengan kesal.
Keringat dingin mulai menetes dari keningnya ketika mencoba membangun ulang firewall dan mengurai virus yang menghancurkan pertahanannya. Ia tidak boleh membiarkan Kapten Andrew masuk dalam perangkap. Tidak Boleh.
***