Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Kabur bersama



Setelah menjalani perawatan selama dua hari, kondisi Keiko sudah jauh membaik. Selang infusnya sudah dilepas sejak kemarin, jahitan di pinggang dan betisnya pun sudah mengering. Semua karena obat-obatan dan perawatan terbaik yang didapatkannya.


Andrew sangat puas dengan pemulihan kondisi Keiko itu. Luka-lukanya sendiri pun sudah jauh lebih baik. Jadi, ketika datang untuk menjenguk di pagi berikutnya, pria itu membawa kejutan untuk kekasihnya. Seulas senyum manis penuh rahasia tersungging di bibirnya ketika memasuki pintu kamar pasien.


“Morning, Baby ... bagaimana kabarmu?” sapanya ketika melihat Keiko sedang berdiri di tepi jendela.


Rupanya gadis itu sedang memperhatikan bunga mawar di dalam vas yang ada di atas meja. Keiko meletakkan kembali vas ke tempatnya dan menoleh ke pintu sambil tersenyum lebar.


“Kamu sudah datang?” balas gadis itu seraya menghampiri Andrew, “Aku baik hari ini, cukup bersemangat karena seseorang berjanji akan membawakan sesuatu.”


Andrew tertawa lepas dan mengulurkan tangan untuk mengacak rambut Keiko pelan. “Aku pikir kamu tidak ingat,” godanya.


“Tentu saja ingat. Aku sudah sangat bosan di sini. Kapan aku bisa keluar?”


“Hum ... kata dokter, nanti sore baru kamu bisa pulang,” jawab Andrew seraya menggandeng Keiko kembali ke sisi ranjang.


Ia menekan pundak Keiko dengan lembut hingga gadis itu duduk di tepian kasur, sedangkan ia sendiri menarik kursi mendekat dan duduk di hadapan kekasihnya itu.


“Nanti sore, ya? Masih lama sekali. Aku bosan ....” Keiko pura-pura merajuk dan menunjukkan mimik wajah yang tidak enak dilihat.


Tingkahnya itu lagi-lagi membuat Andrew tertawa lepas. Ia baru melihat sisi lain dari Sakamoto Keiko yang kekanakan seperti itu, benar-benar menggemaskan. Ia mengangkat tangan dan memberi kode agar Keiko mendekat ke arahnya, seolah ingin memberitahu sebuah rahasia kepada gadis itu. Keiko mendekat dengan penuh rasa penasaran.


“Ada apa?” bisiknya pelan ketika merasa sudah cukup dekat dengan Andrew.


“Masih kurang dekat,” ujar Andrew saat masih ada jarak tiga jengkal di antara mereka.


Bibir Keiko mengerucut, meski demikian, ia tetap menggeser wajahnya mendekat ke mulut Andrew.


“Bagaimana kalau kabur denganku?” bisik pria itu ketika pipi Keiko yang lembut dan kenyal hampir menyentuh ujung hidungnya.


“Kabur?” Mata Keiko membulat sempurna, ia menoleh dengan cepat hingga ujung hidungnya menggesek ujung dagu Andrew. “Kabur ke mana?”


Deg. Deg. Deg ....


Dua telaga bening yang kelam itu seolah memerangkap jiwa Keiko. Untuk sesaat ia tersesat dalam ketenangan dan kedamaian yang terpancar dari sana. Sesaat kemudian, gadis itu baru menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam perangkap. Terlambat. Ia tidak sempat melarikan diri ketika pasokan oksigen dirampok habis dari paru-parunya. Selaput tipis selembut sutra seolah membalur bibirnya dengan madu surgawi hingga otaknya mendadak kosong melompong sebelum meledak bersama jutaan nebula yang merajut syaraf-syaraf dalam tempurung kepalanya.


Keiko pusing dan limbung ketika Andrew menarik dirinya menjauh. Ia mengerjap dengan linglung, seperti gadis bodoh yang baru saja tenggelam di laut lepas, megap-megap kehabisan napas.


Andrew terkekeh puas dan mengusap sudut bibir Keiko dengan ibu jarinya. Sedikit bengkak karena ia meng*isapnya terlalu kuat. Pria itu sedikit menunduk dan kembali mendekatkan wajahnya ke bibir Keiko. Sebelum gadis itu sempat memberikan reaksi, ia menjulurkan lidah dan menjilat bagian yang bengkak itu sekilas.


Tubuh Keiko seolah disengat ubur-ubur. Sedikit kebas dan mati rasa, tapi juga gatal dan seperti kesemutan. Sialan. Otaknya mendadak beku. Secara naluriah matanya kembali terpejam, tapi sentuhan hangat dan manis itu tak kunjung ia rasakan. Akhirnya gadis itu membuka mata dengan hati-hati dan mendapati Andrew sedang menatapnya dengan mata bulat besarnya yang menyebalkan. Ekspresi pria itu jelas sedang menggodanya!


“Kamu! Benar-benar menjengkelkan!” sentak Keiko seraya menarik tubuhnya menjauh. Seluruh wajahnya bersemu merah dadu.


“Aku ketagihan,” aku Andrew sambil menatap bibir Keiko lekat-lekat.


“Benar tidak mau?” Andrew mengulum senyum dan melambai-lambaikan tangan di depan wajah Keiko. “Tidak mau kabur denganku?”


Mata Keiko memicing ketika melihat dua buah karcis yang dipegang oleh Andrew. Itu adalah tiket masuk ke Festival Lampion Yamaga! Festival itu hanya diadakan setahun sekali setiap tanggal 15-16 Agustus di Kuil Omiya di Kota Yamaga. Festival lampion itu merupakan perayaan untuk memperingati ketika Kaisar Keiko dan para pengiringnya terhalang oleh kabut di perjalanan, para penduduk desa menyalakan obor untuk menerangi jalan mereka.


Keiko memutar tubuhnya dengan cepat dan menatap Andrew dengan sorot berbinar.


“Sekarang tanggal berapa?”


“15 Agustus.”


“Dari mana kamu tahu mengenai festival lampion ini?”


Andrew memainkan alisnya dengan sombong sambil berkata, “Tentu saja aku tahu.”


“Kamu ... kamu benar akan mengajakku ke sana?”


Andrew mengangguk. “Dua hari. Aku sudah mencari penginapan dan—“


“Terima kasih!” Keiko menghambur ke arah Andrew dan memeluknya dengan sangat bersemangat. “Aku akan bersiap-siap sekarang! Oh, tidak perlu! Bukankah kita akan kabur? Ayo, cepat, kita pergi sekarang!”


Keiko berdiri dan menariki tangan Andrew menuju pintu.


“Cepat sedikit! Sebentar lagi dokter dan perawat akan datang untuk memeriksa. Jangan sampai ketahuan, kalau tidak ... tidak akan keburu sampai di Yamaga tepat waktu. Kita harus bergegas sekarang!”


Andrew tertawa lepas melihat antusiasme kekasihnya. Ia sengaja tidak memberitahu bahwa ia sudah melobi para dokter dan perawat agar berpura-pura tidak mengetahui pelarian mereka ini. Biarlah semuanya menjadi sedikit lebih seru dan menegangkan untuk Keiko.


Benar saja, setiap melewati setiap tikungan dan lorong, Keiko mengintip seperti seorang penjahat yang akan melarikan diri. Mau tidak mau tingkahnya itu membuat Andrew mengulum senyum. Pria itu hanya diam dan mengikuti permainan “penjahat kabur” itu bersama kekasihnya.


Ketika mencapai basement, “kebetulan” sekali tidak ada satpam yang berjaga di sana. Mata Keiko berkilat bahagia karena mengira pelariannya itu berjalan mulus, tidak tahu sama sekali kalau kekasihnyalah yang telah mengatur semuanya.


“Di mana mobilmu?” tanyanya dengan sedikit tidak sabar. Ia menengok ke kanan dan kiri seperti seorang pencuri yang takut tertangkap basah.


“Ke sini!” ujar Andrew seraya menarik tangan Keiko ke arah kanan.


Andrew pun memainkan peranannya dengan sangat baik. Mereka merunduk dan berjalan cepat di bawah kamera CCTV, lalu menuju sebuah sedan metalik yang terpakir paling ujung. Andrew membuka kunci mobil dengan tombol, lalu memberi isyarat kepada Keiko untuk masuk.


“Pakai sabuk pengamanmu, Baby!” perintah Andrew seraya menghidupkan mesin.


Keiko memasang sabuk pengamannya dengan patuh, lalu menatap mobil-mobil di basement yang seolah berlari ke belakangnya ketika mobil yang ia tumpangi melesat maju. Jantungnya berdebar-debar karena adrenalin yang terpompa ke seluruh pembuluh darahnya. Setelah beberapa hari yang terasa membosankan, kini ia kembali merasa bersemangat, sungguh tidak sabar ingin mengikuti festival lampion bersama Andrew!


***