Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Terlalu memanjakanmu



Deg. Deg. Deg ....


Suara detak jantung yang kencang dan tak beraturan menarik perhatian Keiko. Gadis itu mendongak dan memperhatikan ekspresi Andrew yang terlihat sedikit rumit. Jakunnya bergerak naik turun dengan cepat, sedangkan bibirnya beberapa kali membuka dan menutup tanpa suara. Sepertinya pria itu sedang gelisah.


Apa yang sedang dia pikirkan?


Benar saja. Tak lama kemudian, suara Andrew yang serak dan pelan terdengar memecah keheningan.


“Maafkan aku. Tadi itu aku benar-benar tidak sengaja untuk menyentuhmu. Maksudku, aku tidak tahu kalau tanganku akan mendarat di sana ... itu ... aku benar-benar minta maaf,” jelas pria itu dengan suara terbata-bata.


Keiko diam-diam menahan tawa ketika melihat wajah Andrew memerah dan terlihat bersalah. Sebenarnya, setelah agak tenang, ia pun sadar bahwa Andrew tidak mungkin sengaja melakukannya. Kalau tadi pria itu tidak menolongnya, mungkin saja cederanya lebih parah dari sekedar terkilir seperti sekarang. Namun, baru kali ini ia menyaksikan penampilan Andrew yang malu dan gugup seperti ini. Harus ia akui, pria itu terlihat cukup imut dan menggemaskan, membuatnya semakin ingin menggoda ....


“Benarkah? Tidak mau mengakui kalau kamu memang mesum? Kamu bahkan tidak tahu malu mengambil kesempatan dari seorang gadis yang sedang terluka,” ujar Keiko dengan nada suara penuh ejekan. Ia juga sengaja mencibir dengan cukup keras agar Andrew mendengarnya dan semakin merasa bersalah.


“Tidak!” sangkal Andrew dengan cepat, “Aku hanya tidak ingin kamu jatuh. Aku tidak dengan sengaja menyentuhnya. Kamu harus percaya, aku ....”


Pria itu melirik ke bawah dan menyadari binar yang terpancar dari sepasang mata bulat itu tidak terlihat sedang marah atau menuduhnya, melainkan seperti tatapan seorang bocah yang jail dan iseng. Ia memicing dan menahan napas, menyadari kalau gadis itu sedang mengerjainya.


“Kamu sedang menertawakanku?” tanyanya sambil menatap dengan ekspresi rumit ke arah gadis yang masih mengulum senyum itu.


“Tidak!” bantah Keiko sambil berkedip pelan, membuat bulu matanya yang lentik terlihat semakin menggoda.


.


Andrew menggertakkan gigi dan diam. Ia benar-benar merasa bersalah dan ingin meminta maaf, tapi gadis nakal ini jutru menjadikannya sebagai lelucon? Bagus sekali.


“Sakamoto Keiko, aku terlalu memanjakanmu, ya ...,” gumamnya sambil mempercepat langkah kaki menuju rumah pondok yang sudah terlihat di ujung tikungan jalan setapak.


“Apa?” tanya Keiko, berpura-pura menjadi bodoh.


“Berhenti menatapku, atau rasakan sendiri akibatnya nanti.”


Keiko segera memalingkan wajah dan menatap ke arah lain. Akan tetapi, bayangan wajah imut Andrew ketika merasa malu dan bersalah terus berputar di kepalanya, membuatnya kembali mengulum senyum dan mengigit bibir untuk menahan tawa. Tak lama kemudian, ia merasakan cekalan Andrew di pundaknya semakin kencang.


Gadis itu mendongak dan menyadari Andrew sedang mengatupkan rahangnya erat-erat. Suara geligi yang bergemerutuk entah mengapa membuat Keiko semakin senang dan bersemangat. Ia kembali menatap dan memperhatikan perubahan raut wajah Andrew dengan penuh minat.


Rasakan! Memangnya enak? Huh! Selama ini dia yang selalu menggodaku. Sekarang biarkan dia berada di posisiku, merasakan gugup dan malu. Hehehe ....


“Diam dan tutup matamu,” gerutu Andrew dengan kesal ketika mendengar suara tawa yang tertahan menggelitik naik dari bibir manis yang hanya berjarak beberapa jengkal dari dagunya.


Tidak, sebenarnya ia lebih merasa gugup dan malu dibandingkan kesal. Lututnya mulai gemetaran. Kulit kepalanya mati rasa karena ditatap sedemikian rupa oleh Keiko, sampai-sampai langkah kakinya mulai terasa goyah. Ia benar-benar khawatir akan terpeleset dan membuat mereka berdua terguling menuruni jalan setapak yang masih cukup curam.


“Hentikan. Jangan menatapku seperti itu. Kamu akan membuat kita berdua jatuh lagi,” geram Andrew dengan suara serak yang lolos dari sela giginya.


“Kenapa? Bukankah kamu menyukaiku? Lalu mengapa aku tidak boleh menatapmu? Bukankah seharusnya kamu merasa senang?” cecar Keiko dengan memasang wajah polosnya.


Andew memicing, sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas, menampilkan garis lengkung yang terlihat menyeramkan.


“Tunggu sampai kita tiba di rumah. Lihat bagaimana aku akan membereskanmu,” ujar Andrew pelan, kemudian kembali memfokuskan pandangannya ke depan. Otaknya terus memberi sugesti agar seluruh sistem syarafnya mengabaikan gadis yang sedang berada dalam gendongannya itu. Kalau tidak ... ia sungguh tidak tahan untuk memberi pelajaran kepada gadis itu sekarang juga.


Mendengar ancaman Andrew seketika membuat Keiko bungkam. Wajahnya yang semula terlihat cerah dan berseri mendadak pias. Ia menggigit bibir dan berkata, “A-ku hanya bercanda ... jangan dimasukkan ke hati, ya.”


Andrew hanya mendengkus pelan dan tidak menjawab. Bulir keringat mulai keluar dari pori-pori, berkumpul dan menyatu di kening dan leher. Pondok kayu sudah terlihat, semakin dekat ... hanya beberapa langkah lagi mereka sudah sampai. Ia kembali melirik ke bawah dan mendapati Keiko sedang menyembunyikan wajahnya. Gadis itu menunduk dalam-dalam.


“Huh. Kenapa? Lidahmu digigit hantu? Atau ... tidak sabar untuk sampai di rumah?” goda Andrew seraya menyeringai puas.


“Tidak!” seru Keiko seraya mengetatkan cekalan tangannya dan tanpa sadar meremas kemeja pria itu.


“Rupanya memang sudah tidak sabar. Kamu boleh menatapku sepuasmu nanti ...,” goda Andrew lagi ketika merasakan jemari Keiko yang menempel di dadanya mencengkeram erat hingga kemejanya kusut.


Keiko melotot. Ia mengepalkan tangan dan meninju dada Andrew tanpa mengurangi tenaganya sama sekali.


“Uhuk!”


Andrew terbatuk hingga tubuhnya tersentak ke belakang, hampir membuat mereka berdua terjungkal di anak tangga. Untunglah ia bisa mengendalikan kakinya yang sempoyongan. Ia menggeram pelan, lalu melangkah dengan cepat menuju kamar Keiko.


Tuan Sergio dan empat orang anak buahnya yang sedang duduk di ruang tamu terbengong melihat bos mereka berderap menuju kamar sambil menggendong Keiko. Mereka saling menatap, lalu menggedikkan bahu dan berjalan keluar dari ruangan itu. Mereka benar-benar tidak mau ikut campur.


Lagipula, bisa-bisa boss mereka yang lebih muda itu mengusir mereka kalau sampai ingin tahu urusan pribadinya. Kebetulan juga sudah selesai sarapan, jadi mereka berjalan menuju dermaga. Dengan demikian, hanya tinggal Andrew dan Keiko yang tersisa di dalam rumah.


***


Sabarr, dikit lagi jadiannn...


*eh


*spoiler


😂😂😂


Jangan lupa like, komen, dan vote yg banyak yaa...


mwuah!


Btw, kalau gendongnya begini kira2 otak Mr.Roux tetap mesum juga gak ya?


Hum....