Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Mengapa menangis?



Andrew berkacak pinggang dan berpikir sejenak. Memang sudah sangat lama ia tidak pulang ke mansion ini. Namun, seingatnya, ruangan yang biasanya digunakan sebagai kamar tamu ada di sayap timur. Kemungkinan besar ruangan itu yang ditempati oleh Keiko sekarang.


Pria itu bergegas ke arah kanan, memutari bagian depan mansion dan berbelok ke sisi timur. Ia memicing dan memberi isyarat kepada pengawal yang berjaga agar tetap diam. Pria-pria berseragam itu hanya bisa mengangguk dengan patuh dan bersikap seolah-olah tidak melihat tuan muda mereka yang mengendap-endap seperti pencuri di rumahnya sendiri.


Akan tetapi, beberapa saat kemudian mereka tertegun ketika melihat Andrew berhenti dan memberi isyarat kepada dua orang pengawal bertubuh paling besar untuk mengikutinya. Meski tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh Andrew, kedua pengawal itu tetap mengekor di belakangnya dengan patuh.


Ketika tiba di bawah ruangan yang ia duga menjadi kamar untuk Keiko, Andrew bersiap untuk memanjat. Sekarang dua orang pengawal bertubuh besar itu sudah paham mengapa Tuan Muda Roux mengajak mereka. Itu untuk membantunya memanjat ke balkon!


“Lempar aku!” perintah Andrew seraya bersiap mengulurkan kedua tangannya untuk menggapai sisi luar balkon.


“Baik, Tuan.”


Kedua pengawal itu memegang kaki Andrew, masing-masing kiri dan kanan, kemudian mengangkatnya perlahan. Ketika tubuh mereka sudah tegak dan posisi Andrew sudah mantap, salah satu dari pengawal itu mulai menghitung.


“Satu. Dua. Tiga!”


Bersamaan dengan lambungan yang dilakukan oleh kedua pengawalnya, Andrew mengencangkan otot tungkainya, menjejak dengan kuat untuk memberi dorongan kepada tubuhnya.


Hup!


Ia berhasil mencekal besi pembatas dengan erat. Sepersekian detik kemudian, otot bisepnya berkontraksi, memberikan gaya untuk menarik tubuhnya ke atas. Urat-urat di leher dan pergelangan tangannya menyembul ke permukaan kulit saat tubuhnya perlahan terangkat hingga akhirnya kepalanya berhasil melewati batas dasar balkon. Ia mengangkat kaki dan menaikannya ke lantai, kemudian menggunakannya sebagai tumpuan untuk berdiri dengan stabil.


Fiuh ....


Kedua pengawal yang menahan napas sejak tadi akhirnya bisa bernapas dengan lega. Mereka segera kembali ke tempat jaga masing-masing. Jika Tuan Marco tahu mereka membantu tuan muda untuk menyelinap seperti ini, mungkin gaji mereka akan dipotong. Namun, mereka juga tidak punya pilihan lain, hanya bisa berharap agar Tuan Marco tidak memeriksa kamera keamanan yang ada di setiap sudut mansion.


Di atas, Andrew segera melompati pagar pembatas dan menghampiri jendela kaca yang tertutup rapat. Ia menempelkan wajahnya dan mengintip ke dalam. Seringai lebar muncul di wajahnya ketika mendapati Keiko sedang telungkup di atas kasur. Ia segera menekuk jari telunjuk dan mengetukkannya ke jendela kaca.


Tuk. Tuk. Tuk.


Keiko terkejut mendengar suara ketukan itu. Ia tersentak bangun dan menoleh mencari sumber suara. Matanya membola. Ia bergegas bangun dan beranjak menuju jendela, menempelkan ibu jarinya ke panel sehingga benda itu bergerak terbuka.


“Andrew, apa yang kamu lakukan? Bagaimana bisa naik ke sini?” desis Keiko dengan mata bulatnya yang tampak cemas.


“Aku merindukanmu, jadi meminta pengawal untuk membantuku menyusup ke sini,” jawab Andrew sambil menyeringai lebar. Namun, tak lama kemudian, keningnya berkerut dalam.


“Gadis bodoh, kenapa menangis? Apakah ayahku dan Alfred menindasmu?” tanyanya seraya meraih wajah Keiko dan mengusap jejak air mata yang tertinggal di sana.


“A-aku tidak ... aku tidak menangis,” sangkal Keiko, menggeliat dalam pelukan Andrew dengan resah.


“Tidak ada yang menindasku,” imbuhnya lagi, takut jika Andrew akan salah paham terhadap ayahnya atau si Tua Alfred.


“Lalu mengapa menangis?”


“Aku hanya ....” Keiko menggigit bibir dan mendongak, menatap Andrew dengan sorot yang memelas. “Aku hanya rindu rumah dan ayahku ....”


Andrew terdiam sesaat, kemudian menggandeng tangan Keiko untuk kembali masuk ke kamar. Ia mendudukkan gadis itu di sofa, lalu berlutut di depannya dan mendesah pelan.


“Aku baru berpisah denganmu sebentar, tapi kamu sudah merindukan rumahmu. Apakah aku harus selalu berada di sisimu agar kamu tidak berpikir yang macam-macam?” ujarnya dengan ekspresi sedikit tidak berdaya.


Pria itu lalu menggenggam jemari Keiko dan menempelkannya ke dadanya. “Kamu bisa merasakannya? Jantungku sakit jika kamu bersedih ....”


Keiko mendengkus dan menarik tangannya. Ucapan Andrew terdengar manis sekaligus lucu, membuatnya tidak bisa menahan senyum.


“Omong kosong apa,” gerutu gadis itu seraya memalingkan wajah dengan malu-malu.


“Nah, begitu lebih cantik.” Andrew bangun dan duduk di sisi Keiko. “Aku—“


“Nona Keiko?”


“Itu sepertinya pelayan. Kamu sembunyi dulu. Cepat,” bisik gadis itu seraya mendorong tubuh Andrew menuju kamar mandi.


“Hey. Kenapa harus sembunyi? Kita bukan sedang selingkuh,” protes Andrew.


Namun, Keiko tidak mau mendengar ocehan pria itu. Ia terus mendorong tubuh jangkung Andrew hingga masuk ke dalam kamar mandi.


“Tunggu di sini! Jangan bersuara.” Keiko lalu buru-buru keluar dan menutup pintu kamar mandi.


Ketukan masih terus terdengar dari luar. Keiko berjalan cepat menuju pintu membukakannya. Tampak dua orang pelayan wanita berdiri di depan pintu dan memberi hormat kepadanya.


“Halo, Nona. Saya Marry dan ini rekan saya, Sofia. Maaf mengganggu istirahat Anda. Tuan Besar meminta kami untuk menyiapkan apa yang Anda butuhkan,” ujar salah seorang pelayan yang rambutnya ikal sebahu. Gadis itu tampak enerjik, matanya bulat dan ceria, sedangkan rekannya yang bernama Sofia memiliki rambut lurus dengan paras yang terlihat lebih kalem.


“Halo, panggil aku Keiko saja,” balas Keiko sambil tersenyum.


“Baik, Nona Keiko. Apakah saat ini ada yang Anda butuhkan?” tanya Marry,


“Oh ... um ... bisakah kalian kembali lagi nanti? Aku ... aku masih sedikit jetlag.”


“Baik, kalau ada yang Anda perlukan, kami ada di sini.” Kedua gadis itu membungkuk dengan sopan, kemudian memutar tubuh dan berdiri tegak di sisi kanan dan kiri pintu.


“Oke.” Keiko menelan ludah, tersenyum kikuk dan hendak menutup pintu.


Namun, belum juga pintu tertutup rapat, dari ujung lorong terdengar suara si Tua Alfred yang bertanya kepada semua orang yang berpapasan dengannya.


“Apa kalian melihat Tuan Muda? Tuan Besar sedang mencarinya.”


Tentu saja tidak ada satu orang pun yang melihat di mana Mr.Roux junior berada. Keiko hanya bisa menahan napas ketika akhirnya Alfred tiba di depannya dengan napas memburu.


“Nona Keiko, apakah Tuan Muda menghubungi Anda? Tuan Besar ingin bertemu dengannya dan mendiskusikan sesuatu,” ujar pria tua itu.


“Aku—“


“Ada apa ayah mencariku?” sela Andrew dari balik tubuh Keiko, membuat gadis itu tiba-tiba merasa kedinginan dan sedikit membeku.


Andrew Roux ... pria ini benar-benar ....


Keiko tidak tahu harus memasang ekspresi wajah seperti apa. Ia hanya bisa menggertakkan gigi dan menyeringai dengan mata menyipit menatap Andrew. Sekarang, apa yang akan digosipkan para pelayan di belakangnya?


Si Tua Alfred pun jelas terkejut akan kemunculan Andrew yang tiba-tiba, tetapi pria itu segera berdeham dan bersikap seolah tidak ada yang aneh dengan kemunculan pria itu di kamar Keiko. Ada hal yang lebih penting yang harus ditangani sekarang.


“Ini mengenai Nona Cecille. Dia sedang menuju kemari. Karena Anda ada di sini, sebaiknya Anda dan Nona Keiko turun untuk membicarakannya dengan Tuan Marco.”


Keiko bisa merasakan perubahan tubuh Andrew ketika mendengar ucapan Alfred barusan, seperti ada aura dingin yang memancar dari tubuh pria itu. Namun, perubahan itu hanya dirasakan oleh Keiko sekilas. Atau, ia yang terlalu banyak berpikir?


***


Part ini saya dedikasikan untuk kalian yang tak jemu membaca season 1 berulang-ulang. Itu sangat berarti.


Terima kasih tak terhingga untuk kalian.


Love from Alex and Kinara.


Hug from Andrew and Keiko.