
Setengah jam kemudian, saat mobil berhenti di depan pintu Balaikota, Keiko merasa separuh jiwanya masih tertinggal di mansion keluarga Roux. Tubuhnya terasa melayang saat Andrew menggandengnya memasuki pelataran bangunan berwarna putih itu. Rupanya pernikahan sipil dilakukan di tempat itu, sedikit berbeda dengan kantor catatan sipil yang ada di Jepang.
Gadis itu hanya memasang senyum lebar dan terus mengangguk kepada beberapa pegawai yang menyapa saat berpapasan dengan mereka. Bahkan satpam yang berjaga di dekat pintu masuk pun memberi hormat ketika Marco memimpin anak dan calon menantunya berjalan masuk.
Ketika memasuki aula, seorang pria paruh baya yang memakai pakaian resmi langsung menyambut rombongan Marco Roux secara formal.
“Selamat datang, Tuan Marco, saya ikut senang akhirnya putra Anda akan segera menikah,” sapa pria itu seraya mengulurkan tangan ke arah Marco Roux.
“Calon menantumu cantik sekali,” pujinya lagi.
“Terima kasih, Rony, kau harus datang ke resepsinya minggu depan. Aku sudah meminta Alfred untuk membagikan undangan,” balas Marco Roux dengan wajah berbinar bahagia.
“Dengan senang hati aku akan datang,” balas pria yang disapa dengan nama Rony itu.
Dari interaksi keduanya, Keiko bisa sedikit menebak bahwa Tuan Rony adalah kenalan ayah Andrew. Bisa jadi pria itu yang dihubungi oleh Marco Roux saat mereka baru berangkat dari rumah tadi, buktinya pria itu langsung menyambut mereka secara resmi. Padahal jika dilihat dari penampilannya, jelas Tuan Rony itu memiliki status yang tidak biasa. Apakah dia adalah sang walikota?
“Silakan ikuti saya,” ajak Tuan Rony.
Ketiga orang itu segera mengekor di belakang Tuan Rony. Ketika melewati ruang tunggu, Keiko bisa melihat bahwa ada cukup banyak pasangan yang sedang mengantri untuk membuat akta nikah.
Sambil berjalan, Andrew menjelaskan secara singkat bagaimana proses pernikahan sipil di Paris dilakukan. Orang-orang yang mengantri itu harus mendaftar di loket untuk mendapatkan formulir, lalu menyerahkan salinan kartu identitas diri secara lengkap. Setelah mengisi formulir, mereka harus melakukan sesi wawancara dengan walikota/petugas balaikota secara terpisah, kemudian menunggu setidaknya selama satu sampai dua bulan sebelum mendapatkan akta nikah, setelah itu baru resepsi pernikahan diadakan.
Keiko sedikit kehabisan kata-kata. Prosesi itu lebih rumit dari yang ia kira. Mulanya ia mengira mereka akan dibawa ke loket pertama, tetapi rupanya tebakannya salah. Tuan Rony langsung berjalan menuju ruang administrasi, membuka pintunya dan mempersilakan ketiga tamunya untuk masuk.
Gadis itu sedikit tercengang. Ia mengira jika harus mengikuti prosedur rumit yang tadi dijelaskan oleh Andrew. Namun, sepertinya Marco Roux sudah melobi walikota. Apakah ini yang dimaksud dengan memakai jalur belakang? Menggunakan koneksi untuk membantu di saat terdesak ... Keiko sungguh tidak tahu harus memberi komentar apa.
Setelah mempersilakan ketiga tamunya untuk duduk, Tuan Rony kemudian memberi instruksi kepada dua orang pria yang berada di sana untuk membantu Andrew dan Keiko mengurus akta nikah mereka.
“Tunggu sebentar, formulirnya masih disiapkan.”
“Tidak masalah, kami akan menunggu,” balas Marco sambil tersenyum puas. Setidaknya, mereka tidak harus ikut mengantri di depan dan menunggu hingga dua bulan! Sesekali menyalahgunakan kekuasaan, tidak masalah ‘kan?
“Jangan khawatir, aku sudah memberi tahu kepada mereka untuk memprioritaskan anakmu. Seharusnya tidak akan memakan waktu lama.”
“Terima kasih atas bantuanmu.” Marco menepuk pundak Tuan Rony dengan tulus.
“Dengan kerabat sendiri, tidak perlu terlalu sungkan. Kalau begitu, aku pergi sibuk dulu.” Tuan Roby menoleh ke arah Andrew dan Keiko, kemudian berkata, “Selamat untuk kalian.”
“Terima kasih, Tuan,” balas Andrew dan Keiko bersamaan.
“Baik. Sampai jumpa lagi.”
Setelah Tuan Roby pergi, tiba-tiba Keiko baru teringat sesuatu. Jeda semuanya terlalu singkat sehingga ia tidak sempat memikirkannya tadi. Dengan sedikit ragu ia menoleh ke arah Marco Roux, memikirkan bagaimana reaksi pria itu jika ia mengatakan ganjalan di hatinya sekarang.
Gadis itu benar-benar gugup. Ia takut ayah Andrew akan berubah pikiran dan membatalkan semuanya secara tiba-tiba. Akan tetapi, ia juga ingin agar semuanya jelas sejak awal, tidak mau membuat pria tua itu merasa tertipu.
“Ayah,” panggil Keiko setelah mengumpulkan keberaniannya.
“Ada apa?”
“Um ... mungkin waktu dan tempat sekarang tidak terlalu cocok, tapi aku perlu berbicara mengenai ... itu ... latar belakang keluargaku.”
Marco Roux melambaikan tangannya dengan santai.
Keiko tercekat. Pelupuk matanya terasa panas. Ia berdeham untuk menjernihkan suaranya yang seolah tersangkut di tenggorokan sebelum menjawab, “Tapi, nama baik keluarga Roux, kalau orang lain sampai tahu—“
“Siapa yang berani menindas menantuku? Sejak hari ini, seekor semut pun tidak akan berani menggigitmu. Bahkan jika putraku yang tidak tahu diuntung ini berani menyakitimu, aku yang akan menghajarnya dengan tanganku sendiri. Ayahmu merawat dan membesarkanmu dengan susah payah, mana boleh ditindas oleh orang lain. Sudah. Jangan berpikiran macam-macam lagi. Mengerti?”
Marco Roux bukannya tidak tahu bagaimana latar belakang Keiko. Tadi ia langsung meminta anak buahnya untuk memeriksa gadis itu, menghubungkannya dengan berita kudeta antar mafia di Jepang baru-baru ini. Ia dapat menyimpulkannya ketika membaca berkas laporan yang dikirim ke ponselnya, apalagi jika dikaitkan dengan pernyataan Andrew bahwa seluruh sumber daya yang diambil dari Phoenix.Co digunakan untuk melindungi Keiko.
Tidak ada catatan kriminal yang tertulis atas nama Sakamoto Keiko, bahkan hampir tidak ada informasi apa pun mengenai gadis itu di internet. Jadi, Marco Roux benar-benar tidak mempermasalahkan apa latar belakang gadis itu. Yang lebih penting, Keiko mampu mengubah putranya, hal yang tidak bisa dilakukannya selama bertahun-tahun dalam hidupnya. Andrew bersedia menikah dan meneruskan usahanya, ia sudah bisa meninggal dengan tenang.
Keiko yang mendengar jawaban itu tidak bisa menahan diri untuk menangis. Ia benar-benar merasa terharu sekaligus sedih karena mengingat ayahnya. Sayang sekali ayahnya tidak bisa melihat momen bahagianya ini.
“Sudah, tidak usah menangis, nanti orang mengira aku sedang memarahimu.” Marco Roux pura-pura merajuk dan memalingkan wajahnya, padahal ... ia sendiri juga ingin menangis ....
Keiko menyusut air matanya dan berdiri tegak. Ia memberikan penghormatan sebanyak tiga kali sambil berkata, “Terima kasih, Ayah. Aku pasti akan menjadi anak yang berbakti.”
“Bagus. Itu sudah lebih dari cukup.”
Andrew yang dari tadi hanya diam akhirnya mengulas senyum lega. Sejujurnya ia juga agak sedikit khawatir kalau ayahnya akan menolak Keiko. Namun, untungnya itu tidak terjadi.
“Jangan menangis lagi, nanti jelek saat difoto,” guraunya seraya membantu menghapus sisa-sisa air mata yang menempel di pipi Keiko.
“Tuan Muda, Nona, silakan isi formulir ini. Kalau sudah selesai, langsung ke loket dua untuk foto, ya,” ujar salah seorang pria yang tadi diberi perintah oleh Tuan Rony.
“Baik. Terima kasih.”
Sepasang kekasih itu kemudian mengisi semua data dalam formulir dengan teliti. Setelah selesai, Keiko pergi ke kamar mandi sebentar untuk merapikan riasannya yang luntur karena terkena air mata, kemudian bersama Andrew pergi untuk foto di bilik nomor dua yang ditunjukkan oleh petugas.
Tidak sampai satu jam kemudian, Marco Roux yang menahan diri sejak tadi akhirnya tidak bisa menyembunyikan semua emosinya lagi ketika melihat petugas balaikota menyerahkan akta nikah kepada putranya. Ia menangis seperti seorang bocah kecil yang tidak diberi permen, menangis hingga matanya memerah dan bengkak. Andrew sampai kesulitan untuk membujuknya.
“Ayah, jangan menangis lagi ... nanti orang akan mengira Anda tidak merestui pernikahan kami,” bujuk Keiko ketika melihat tangisan ayah mertuanya mulai mengundang perhatian orang-orang.
“Baik ... baik ... tidak menangis lagi. Ayo, pulang. Masih ada banyak hal yang harus dipersiapkan bukan?” Marco Roux mengendalikan diri dan merapikan kemejanya yang lisut. Ia menegakkan tubuh dan berjalan keluar dari balaikota seperti baru saja memenangkan sebuah pertarungan besar.
Sementara itu, Keiko yang berjalan bersisian bersama Andrew masih sedikit tidak percaya kalau sekarang ia sudah resmi menjadi Mrs.Roux.
Apakah ini bukan mimpi?
***
Cie ciee ... yang sah jadi Mrs.Roux 😂😂😂
Siap2 kondangan onlen kitaaa.
Dandan yang cantik yaaa, jangan lupa ajak pasangan.
Yang jomlo, mojok aja sama Clark 🤣🤣
Btw, othor harap kalian semua terhibur membaca tulisan ini 🥰🥰