
Setelah dirawat selama satu hari di rumah sakit, Hansel akhirnya diperbolehkan untuk pulang. Ia kembali ke apartemennya dan beristirahat dengan tenang. Ia membeli makanan cepat saji untuk makan siang, merokok, memeriksa email dan pekerjaannya sebentar, lalu bermalas-malasan di atas sofa sepanjang hari. Malamnya, ia hanya memakan sepotong roti dan segelas kopi, lalu pergi tidur. Hari berlalu begitu saja, tidak ada yang menarik.
Hari berikutnya ia bersiap untuk pergi ke kantor. Setelah berganti pakaian dan memakai sepatu, ia turun menggunakan lift. Penampilannya yang cuek dan acuh tak acuh itu menarik perhatian beberapa penghuni apartemen lainnya, terutama para gadis muda.
Gadis-gadis yang berasal dari beragam etnis itu menatap hingga ia menghilang dari pandangan mereka. Meskipun berdarah Asia, gen yang dimiliki oleh pria itu cukup bagus, tingginya 190 sentimeter, tidak kalah jauh dari pria asing yang berlalu lalang di dekatnya.
Mendengar bisik-bisik para gadis saat ia lewat, Hansel hanya bersikap seolah tidak mendengarnya. Ia keluar dari lift dan berjalan dengan tenang menuju mobilnya di basemen. Pria itu menyalakan kendaraannya dan melesat keluar menuju Injan Entertainment. Karena belum terlalu hafal jalanan kota Paris, ia masih menggunakan bantuan GPS.
Hansel memang sengaja tidak memakai jasa sopir atau meminta tolong asistennya untuk mengantar jemput. Ia merasa hal itu tidak praktis. Lagi pula jika ia menyetir sendiri, ia bisa pergi ke mana pun tanpa harus merepotkan orang lain.
Beberapa karyawan sudah datang ketika ia tiba di lobi utama. Mobilnya diparkir di lot khusus yang memang disediakan untuknya. Ketika berjalan masuk, satpam dan manager yang sedang berbincang di dekat pintu masuk segera menyapanya dengan sopan.
“Selamat pagi, CEO Hansel.”
“Pagi,” balas Hansel seraya mengangguk sekilas.
Ia berjalan menuju lift dan membiarkan kotak kaca itu membawanya ke lantai 12. Seulas senyum tipis muncul di wajahnya. Dipikir-pikir, kehidupannya yang sekarang lumayan juga, tidak bisa dikatakan buruk. Meski berbeda jauh dari kehidupannya di Jepang, setidaknya di sini ia bisa hidup dengan tenang, dan secara tidak langsung sepertinya hal itu mempengaruhi kepribadiannya. Sekarang ia merasa menjadi pribadi yang lebih ramah dan santai, tidak terlalu memusingkan hal-hal sepele yang tidak penting.
Dulu, mungkin karena terlalu sering berhubungan dengan dunia mafia yang kelam, karakternya menjadi lebih dingin dan tertutup, hampir tidak pernah ada senyuman di wajahnya. Ia juga lebih sering menutup diri dan bersikap formal, bahkan terhadap Keiko sekali pun. Mungkin saja karena sikapnya itu maka Keiko tidak pernah bisa membuka hati untuknya.
Mengingat Keiko membuat Hansel menyeringai kaku. Ia dengar dari Betty kalau Andrew sedang membawa Keiko bulan madu keliling Eropa. Hatinya masih terasa sedikit tidak nyaman setiap kali mengingat bahwa ia sudah tidak bisa mendapatkan Keiko. Akan tetapi, rasanya sudah tidak seburuk pertama kali. Mungkin karena ia terus menyugesti dirinya sendiri untuk melupakan wanita itu. Atau karena melihat Keiko benar-benar bahagia bersama Andrew sehingga ia mulai bisa merelakannya. Entahlah ....
“Selamat pagi, Tuan Hansel,” sapa Betty seraya bangun dari kursinya.
“Pagi, Betty. Apa saja jadwal hari ini?”
Betty segera membawa berkas di atas meja dan mengikuti atasannya menuju ruangan utama di depan meja kerjanya. Ia segera menjelaskan jadwal hari itu dan menyerahkan berkas-berkas yang perlu ditandatangani. Setelah itu, ia bergegas keluar untuk membuatkan secangkir kopi.
“Terima kasih,” ucap Hansel saat Betty meletakkan nampan berisi kopi di meja tengah.
“Sama-sama, Tuan. Kalau ada apa-apa, saya ada di luar.”
“Oke.”
Hansel lalu sibuk mempelajari kontrak kerjasama yang akan dilakukan dengan Beauty Agency. Seulas senyum yang tidak terlihat jelas maknanya muncul di wajah pria itu, seolah sedang mencibir dan menertawakan dirinya sendiri. Ia yang dulunya bergelut dalam bisnis kotor, kini harus berkecimpung dalam dunia fashion dan selebriti, hal yang sama sekali tak terpikirkan olehnya sebelumnya. Paris yang terkenal sebagai kota mode sejak ratusan tahun lalu membuatnya mengambil keputusan ini. Dan ternyata rasanya tidak terlalu buruk, ia cukup menyukai pekerjaan barunya ini.
Tidak terasa sudah hampir jam makan siang ketika Hansel selesai memeriksa semua berkas dan membubuhkan tanda tangan. Ia baru hendak baru dari kursinya ketika terdengar ketukan. Selang beberapa detik kemudian, kepala Betty menyembul dari balik pintu.
“Tuan, ada yang mencari Anda.”
“Siapa?” tanyanya.
“Um, Nona Cecille. Dia bilang sudah membuat janji dengan Anda sebelumnya.”
Mata Hansel berkilat sesaat, sudut bibirnya berkedut. Mendadak ia menjadi bersemangat, tapi di permukaan, air mukanya terlihat tetap tenang.
“Suruh dia masuk.”
“Baik.”
Betty menutup pintu, tapi tak lama kemudian pintu itu kembali terbuka. Cecille melangkah masuk dengan dagu mendongak, memberikan kesan angkuh dan arogan. Tanpa disuruh, gadis itu duduk di sofa kulit di tengah ruangan, kemudian memberikan tatapan menelisik kepada setiap barang yang ada di sekitarnya.
“Seleramu tidak buruk,” ujarnya setelah puas menilai.
Hansel terkekeh pelan dan berjalan menghampiri gadis itu. Gaun putih gading yang dikenakannya membuatnya terlihat seperti dewi Athena yang memikat.
Pria itu duduk di depan Cecille dan berkata, “Angin apa yang membawamu ke sini? Seingatku, kita tidak ada janji sebelumnya.”
Cecille mendengkus, raut wajahnya berubah kaku. Ia menyibak rambut ikal keemasannya ke balik bahu sebelum menjawab, “Papa dan Mama yang memaksaku untuk mengunjungimu, mengajak makan siang sebagai ungkapan terima kasih.”
Hansel mengangkat alisnya dengan santai dan membalas, “Aku tidak butuh belas kasihan. Kalau tidak ada yang lain, silakan pergi. Masih ada yang harus aku kerjakan.”
Cecille melotot, tidak menyangka bahwa Hansel akan menolaknya secara terang-terangan seperti ini. Bibirnya sedikit cemberut ketika membalas, “Siapa yang kasihan kepadamu?”
“Aku tidak mau kalau kamu terpaksa.”
“Aku ... tidak ....” Cecille menggigit bibir dan menunduk, meremas tasnya dengan sedikit gugup. Ia berdeham sebelum melanjutkan, “Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”
“Oh ....” Hansel berpura-pura melihat jam yang melingkar di tangannya sebelum berkata, “Masih ada waktu 30 menit. Makan di kafetaria saja?”
“Um, oke.”
Hansel bangun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Cecille. Mereka berdua berjalan bersisian menuju ruang makan eksklusif yang dikhususkan untuk para general manager, direktur, CEO, yang kadang juga digunakan untuk menjamu tamu perusahaan.
Tanpa sadar Hansel mengulum senyum. Sekarang ia merasa harinya lumayan baik.
***