Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Harmonis



Laut Agea-Garis pantai Santorini.


Keiko berjalan bersama pejalan kaki lainnya. Ia menyusuri bangunan-bangunan tradisional khas Cyclades yang didominasi oleh warna putih. Bangunan-bangunan unik itu berdiri di tepi tebing, berjajar rapi di sepanjang garis pantai. Beberapa di antaranya memiliki atap yang sama birunya dengan laut di bawah sana.


Senyum lebar membingkai wajah Keiko sejak turun dari perahu cepat yang mengantar ia dan Andrew dari Silversea Cruises menuju Santorini. Dilihat dari ekspresi wajahnya itu, sepertinya ia sudah tidak marah kepada Andrew yang menidurinya seperti serigala kelaparan tiga hari lalu.


Tiga hari lalu, saat sadar, ia sudah berada di kota Biarritz. Sebuah kota yang sangat elok dengan pantai yang indah, salah satunya adalah pantai Plage du Miramar. Setelah menikmati hidangan laut yang segar dan lezat di sana—meskipun dengan wajah yang cemberut, Andrew mengajaknya ke dermaga. Di sana sebuah speedboat sudah menunggu, siap mengantar mereka ke Silversea Cruises.


Saat pertama kali melihat kapal pesiar itu, rahang Keiko hampir terlepas. Mulai dari model, interior, sampai fasilitas yang tersedia, semuanya sangat memukau. Keiko sampai kehabisan kata-kata ketika memasuki kamarnya yang melebihi standar hotel bintang lima.


Setelah berangkat dari Paris, mereka mampir ke Sicily, Italia. Keiko tidak menyangka bahwa pantai dan laut bisa begitu memikat hati. Pasirnya yang berupa kerikil-kerikil kecil membuat air laut benar-benar tampak jernih. Setelah puas berkeliling dengan perahu kecil seharian dan mengambil ratusan foto dengan ponselnya, Keiko mengajak Andrew untuk menginap satu malam di salah satu penginapan tradisional yang ada di tepi pantai. Tentu saja Andrew tidak menolak. Pria itu sangat memanjakannya sampai di luar batas, menuruti semua permintaannya tanpa terkecuali. Selain itu, Andrew juga tidak menyentuhnya sama sekali. Sepertinya pria itu benar-benar membiarkannya beristirahat.


“Sangat senang?”


Suara teguran dari balik tubuhnya mengembalikan kesadaran Keiko. Ia menoleh dengan cepat, meraih dagu Andrew dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir suaminya itu.


“Sangat senang! Terima kasih, Suamiku!” seru Keiko setelah melepaskan ciumannya.


Tubuh Andrew menegang mendapat ciuman yang tiba-tiba itu, begitu pun sepotong daging yang ada di bawah sana. Ia buru-buru memalingkan wajah dan memikirkan hal lain sebelum daging itu berontak dan mendirikan tenda dengan semena-mena di sela pahanya.


Sementara Keiko yang tidak tahu pergolakan batin suaminya sudah kembali berlari ke sana kemari, membeli topi lebar dan mengambil pose di beberapa spot foto yang tidak terlalu ramai. Ia lalu kembali ke tempat Andrew masih mematung, menarik tangan pria itu agar mengikutinya ke tepi pagar pembatas dan bersiap melakukan swafoto.


Tepat sebelum Keiko melambai di depan ponsel untuk mengambil gambar, Andrew menoleh dan mencium pipinya. Keiko terkejut, tapi gambar sudah diambil. Ia buru-buru mendekatkan ponsel dan memeriksa foto barusan. Hasilnya membuatnya tercengang. Dengan latar belakang langit dan laut biru, Andrew yang mengenakan kaus oblong berwarna abu-abu tua tampak sangat memikat, bibir yang seksi dan padat itu menempel di pipinya ... pose ini benar-benar terlihat alami, membuat jantungnya berdebar-debar tak karuan.


“Istriku sangat imut, kirimkan fotonya kepadaku,” pinta Andrew saat melirik ponsel istrinya.


Keiko menggigit bibir malu-malu dan mengirimkan foto itu ke ponsel suaminya. Dalam hati ia memaki diri sendiri, mengapa bertingkah seperti remaja puber yang baru mengenal cinta.


“Sudah hampir sore. Kembali ke kapal?” tawar Andrew saat melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 15.00.


Keiko mengangguk dengan patuh sambil menjawab, “Oke.”


Perlu waktu satu jam untuk kembali ke dermaga. Itu berarti mungkin sudah lebih dari pukul empat sore ketika mereka sampai di Silversea Cruises.


...***...


Tebakan Keiko benar, jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul setengah lima sore saat mereka naik ke kapal. Ia langsung pergi ke kamar mandi dan berendam dalam bathtub. Pegal dan nyeri baru terasa di kakinya. Ia menyalakan pemanas air dan mengisi bak mandi sampai penuh, lalu meluruskan kaki dan berbaring dengan nyaman sambil menutup mata.


“Lelah?”


Keiko terkejut mendengar suara bass itu dalam kamar mandi. Ia membuka mata dan mendapati suaminya yang hanya memakai celana pendek berdiri tidak sampai dua langkah di hadapannya. Tubuh suaminya benar-benar sempurna, bagaikan pahatan yang dikerjakan langsung oleh tangan para dewa. Pupil mata Keiko bergetar. Tiba-tiba seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya dan membuatnya sulit bicara.


Ia buru-buru berdeham sebelum menjawab dengan suara yang masih tetap terdengar serak, “Lumayan. Kakiku pegal.”


Wanita itu sama sekali tidak menyadari jika penampilannya yang seperti itu telah menyulut bara api ... magma yang menggelegak di perut bagian bawah suaminya.


“Kemari, biar aku pijit,” ujar Andrew seraya duduk di tepian bathtub.


Keiko yang tidak menyadari nada terselubung dalam ucapan suaminya segera mengangkat kakinya dari air dan meletakkannya di tepian bathtub.


Melihat satu kaki istrinya masih di dalam air sedangkan kakinya yang lain terangkat ke arahnya, otak Andrew berubah keruh. Sangat keruh sehingga rasanya ia ingin melompat masuk ke dalam sana dan ....


Glek.


Andrew menelan ludah. Jakunnya bergulir naik turun seperti lift yang macet. Tangannya sedikit gemetar ketika menyentuh telapak kaki Keiko. Ia memusatkan konsentrasi dan mulai memijit perlahan.


Saat Andrew menekan bagian di dekat mata kaki, Keiko tiba-tiba mendesis sambil mendongak. Ia tahu itu adalah gerakan refleks karena menahan rasa sakit, tapi tetap saja ... di matanya gerakan itu seolah sedang mengundangnya untuk ... um, seakan tubuh mereka sedang menyatu dan ia menekan dengan keras sehingga membuat istrinya gemetar ....


Sial. Seluruh konsentrasinya buyar!


Sekarang kening Keiko mengerut. Ia menggigit bibir dengan mata masih terpejam erat. Sesekali desah*an lolos dari bibirnya saat jemari Andrew memijit otot betisnya yang terasa kaku.


“Andrew!” serunya ketika melihat wajah suaminya sudah sangat dekat, membuat jantungnya hampir copot karena terkejut.


Menyadari kabut yang mengambang dalam tatapan suaminya membuat Keiko tiba-tiba merinding. Tanpa sadar ia melirik ke bawah dan mendapati bahwa sang monster sudah bangun. Seketika wajahnya memucat. Bayangan Andrew menindihnya dan tidak mau melepaskannya mendadak membuatnya ingin melarikan diri. Instingnya untuk bertahan hidup sangat kuat.


“An-drew ....”


“Hum?”


“ Sudah, kakiku sudah tidak sakit lagi.”


“Tapi di sini sakit,” balas Andrew seraya menarik tangan Keiko dan meletakkannya di sana.


Keiko melotot. Rasanya seperti sedang memegang bara api! Ia buru-buru ingin melepaskan tangannya, tapi Andrew menekannya semakin keras, bahkan menarik tubuhnya masuk ke dalam pelukannya.


“K-kamu ... umph!”


Semua suara protes Keiko teredam ketika lidah suaminya menelusup masuk. Sekejap kemudian, tubuhnya sudah terayun ke atas, bersandar di tembok yang dingin dan merasakan air hangat dari shower membasahi tubuh mereka berdua.


“Masih sakit tidak?” tanya Andrew dengan suara yang serak dan dalam.


Keiko men*desah tertahan. Sekarang tidak sakit, entah kalau nanti monster itu memasukinya.


Melihat ekspresi wajah istrinya yang tampak kesulitan, Andrew menunduk dan membujuk, “Aku akan pelan dan hati-hati ... kalau sakit, kamu boleh memukulku ....”


Akhirnya hanya bisa pasrah, membiarkan tangan besar suaminya merajalela dan menguasai tubuhnya, menyentuh di mana-mana, meninggalkan bekas di seluruh permukaan kulitnya hingga ia mengerang karena menginginkan lebih ....


Melihat istrinya sudah lebih relaks, Andrew menekan perlahan dan menerobos masuk.


“Ah ... S-sayang, p-pelan ....” Keiko merintih seraya mencengkeram bahu suaminya erat-erat. Rasanya masih seperti dirobek oleh belati raksasa, pedih dan menyakitkan.


Andrew berhenti bergerak, hanya bibir dan tangannya yang terus menjelajah dengan hati-hati ... mengusap dan membelai, sesekali mencecap dan menjilat dengan rakus hingga rasanya tubuh Keiko berubah menjadi air, basah dan lembab.


Pria itu mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar, berbaring di atas selimut yang tebal dan lembut, tertimpa cahaya matahari senja dari kaca jendela yang terbuka lebar ...


Kaca di mana-mana ... setiap gerakan yang mereka lakukan terpantul dengan sempurna. Wajah Keiko merah padam, entah karena rasa malu, atau karena gairah yang membuncah. Ia menyambut dengan antusias setiap gerakan Andrew yang menyiksa sekaligus membuatnya mendamba.


Suara ombak yang memecah di badan kapal berbaur dengan rintihan ambigu yang terdengar dari atas ranjang. Hanya ada mereka berdua dalam ruangan itu, tapi rasanya seperti sedang disaksikan oleh seluruh dunia. Sensasi itu membuat Keiko menegang.


Andrew menggeram dan menahan diri agar tidak lepas kendali. Urat-urat di leher dan pelipisnya mencuat, berdenyut seiring tempo gerakannya yang semakin cepat.


Keiko memekik. Tubuhnya membusur saat Andrew menahan pinggulnya dan menekan dengan kuat. Sangat kuat sehingga ia tak bisa menahannya lagi. Ia melingkarkan kakinya di pinggang Andrew ... membelitnya dengan kuat, tak bisa mengendalikan dirinya dan gemetar ....


Di antara semua kekacauan yang indah itu, ia bisa merasakan tubuh suaminya pun gemetar hebat sebelum ambruk ke atasnya.


Andrew tersenyum lebar dan mengecup kening Keiko yang dipenuhi keringat. Bersama istrinya adalah kenikmatan paling sempurna yang pernah ia rasakan.


Sore itu, sepasang suami istri yang hanya mengenakan selimut marun untuk menutupi tubuh polos mereka tampak sangat harmonis. Tanpa kata-kata, hanya saling berpelukan dan merasakan detak jantung masing-masing ... duduk di tepi kamar sambil menyaksikan matahari perlahan terbenam di garis batas cakrawala ....


***


Santorini, Greece





gambar hanya pemanis, tolong cek kadar gula masing2 yes😁