
“Saya akan bertanggung jawab, Tuan,” ucap Hansel. “Saya ingin menikahi putri—“
“Diam!” Sang Marquess meraung dan menarik kerah baju Hansel, lalu membantingnya ke lantai.
“Berani-beraninya kamu!” teriaknya lagi seraya melayangkan sebuah tendangan ke bahu Hansel.
“Papa! Dia tidak bersalah!” seru Cecille seraya berlutut di depan Hansel yang sedang meringis kesakitan. “Ini salahku! Papa pukul saja aku, oke! Dia tidak bersalah.”
Seluruh tubuh sang Marquess gemetar hebat karena amarah. Ia menudingkan telunjuknya ke arah Hansel seraya berseru, “Aku pikir kamu pria bermartabat! Tapi rupanya—“
“Papa, tidak seperti itu. Sungguh. Dia menolongku,” sela Cecille seraya memeluk kaki ayahnya. Matanya yang bulat dan jernih mulai memerah dan berair. Suaranya terdengar sedikit sengau ketika memohon kepada ayahnya, “Ini bukan kesalahannya, Papa ... bahkan jika dia tidak mau bertanggung jawab, kita tidak bisa menuntutnya karena ini semua salahku ....”
Sang Marquess sangat marah sehingga untuk pertama kali dalam hidupnya, ia mengangkat tangan dan hendak menampar putrinya.
“Antonio!” seru Maria yang baru pulih dari keterkejutannya. Semua rangkaian peristiwa di hadapannya terjadi dengan sangat cepat. Otaknya bahkan belum selesai mengolah semua informasi yang datang bersamaan itu.
Keheningan yang panjang mengambang di udara saat tangan sang Marquess tidak mengenai wajah putrinya. Urat yang menonjol di pelipisnya berkedut karena menahan emosi. Ia memelototi Hansel yang sedang mencekal pergelangan tangannya dengan erat. Cekalan itu tidak mengendur meski ia telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskannya.
“Jangan memukul wanita hamil, Tuan. Nanti bayinya terkejut,” ucap Hansel seraya melepaskan pergelangan tangan sang Marquess. Ia lalu menunduk dan membantu Cecille untuk bangun.
“Sudah kubilang aku bisa mengatasinya,” kata pria itu seraya memapah Cecille menuju kursi. “Duduk dengan tenang, kalau terjadi sesuatu kepada bayiku, aku tidak akan memaafkanmu.”
Cecille belum sempat merespon, Hansel sudah menoleh ke arah sang Marquess yang masih mematung di tempatnya dan berkata, “Tuan, Anda bisa memukuliku sesuka hati Anda, tapi jangan menyentuhnya. Dia dan bayi dalam perutnya adalah batasanku. Saat Anda melewati batasanku, jangan salahkan aku jika tidak memandang siapa Anda.”
Antonio bahkan lebih tercengang lagi melihat pemuda di hadapannya berani menantangnya secara terang-terangan seperti itu.
“Siapa kamu?! Sialan! Dia putriku! Aku berhak melakukan apa pun kepadanya!” teriak Antonio dengan sangat marah.
“Tidak lagi, karena dia sekarang calon istriku.”
Kalimat yang begitu sombong dan arogan membuat sang Marquess kehabisan kata-kata. Pria tua itu hanya bisa menunjuk dada Hansel sambil tergagap.
“Kamu ... kamu ... dasar lancang!”
Antonio mengepalkan tangannya dan berseru dengan lantang, “Pengawal! Ambilkan tongkatku! ”
“Sayang!” seru Maria yang sejak tadi tidak tahu harus melakukan apa. “Jangan terlalu keras, mari bicarakan baik-baik,” bujuknya seraya memegang ujung lengan baju suaminya.
“Apanya yang baik-baik?” Antonio mendengkus seperti banteng yang terluka. “Berandalan ini menghamili putriku, tentu saja aku harus memberi pelajaran kepadanya!”
“Papa!” Cecille bangun dari tempat duduknya, tapi satu tatapan tajam dari Hansel menghentikan gerakannya. Tanpa sadar ia menyentuh perutnya dan kembali duduk dengan patuh.
Tak lama kemudian, seorang pelayan menghampiri Antonio dan menyerahkan benda yang disebutnya “tongkat”, tapi benda itu lebih mirip sebuah cambuk kayu yang terbuat dari rotan. Hansel menghela napas dan berlutut, bersiap untuk menerima hukumannya.
“Kamu berani membawa aib bagi keluargaku?” geram sang Marquess.
“Anak itu bukan aib. Dia adalah anugerah.”
Cetar!
Tubuh Hansel tersentak ke depan saat bilah rotan menghantam punggungnya dari belakang. Rasa panas dan pedih menjalar seperti ular dari neraka yang sedang melilit tubuhnya dengan ketat. Ia menggertakkan gigi untuk menahan rasa sakit yang mendera.
Sementara itu, di atas sofa, Cecille menutup mulutnya dengan tangan untuk meredam isak tangis yang tertahan. Ini semua adalah kesalahannya, dan Hansel menanggung semua untuknya. Semua karena kebodohan dan sikap keras kepalanya ....
“Aku merawat dan menjaganya dengan sepenuh hati, kamu merusaknya begitu saja?!”
Cetar!
Cetar!
Kemeja di punggung Hansel sobek, menampilkan tiga garis merah yang bersilangan di permukaan kulitnya. Satu garis merah terlihat lebam dan ada sobekan sepanjang satu jengkal. Cairan merah cerah merembes keluar dari luka sobek itu, membasahi kemeja putihnya. Warna yang kontras itu terlihat sangat mencolok, Cecille bahkan tidak berani membayangkan sesakit apa rasanya.
“Antonio, hentikan! Kamu akan membuatnya mati!” seru Maria seraya menarik tangan suaminya yang sudah kembali terangkat. “Kalau dia mati, putrimu akan menjadi janda sebelum menikah. Kamu mau seperti itu?”
Teriakan itu dengan ampuh menghentikan gerakan sang Marquess. Pria tua itu melemparkan rotan di tangannya ke lantai dan menendang punggung Hansel sehingga pemuda itu tersungkur.
“Pergi dari rumahku!” perintahnya dengan suara menggelegar.
Hansel menumpu tubuhnya dengan kedua tangan dan kembali berlutut.
“Aku tidak akan pergi sebelum Anda merestui pernikahan kami,” jawabnya dengan tenang.
Ketenangannya itu terlihat sedikit tidak alami, juga sedikit menakutkan. Sang Marquess merasa terintimidasi. Ia bisa memastikan jika orang lain yang dipukuli seperti itu pasti sudah menjerit dan meminta ampun, tapi pemuda di hadapannya itu bahkan masih bisa bersikap sangat tenang dan ... berwibawa? Antonio mengernyit karena pemikirannya sendiri. Hansel Roux memang memiliki aura yang berbeda dan membuatnya merasa cukup tertekan.
Cecille bangun dengan takut-takut dan berlutut di sisi Hansel. Ia mengabaikan tatapan penuh peringatan dari pria di sampingnya dan memohon, “Papa, dia sangat baik kepadaku ... izinkan kami menikah, ya? Bayi ini ... dia cucu pertamamu, tolong jangan terlalu kejam kepada ayahnya ....”
Antonio memelototi putrinya, tapi Maria menarik tangannya dan membujuk agar tidak terlalu keras kepada putri dan calon menantu mereka.
Semua yang terjadi tidak luput dari perhatian Hansel. Diam-diam ia meraih jemari Cecille dan menggenggamnya erat-erat. Seumur hidup ia belum pernah dilindungi oleh siapa pun. Dibela seperti ini membuat hatinya terasa hangat. Apalagi Cecille memohon seperti itu ... mengatakan bahwa ia adalah ayah dari bayinya.
Perlahan sudut bibir Hansel tertarik ke atas. Rasanya ia masih bisa menahan sepuluh cambukan lagi jika itu bisa membuat Cecille bersikap baik kepadanya.
Cecille yang kebetulan sedang menoleh ke arah Hansel sedikit terpana melihat pria itu sedang menatapnya sambil menyeringai seperti orang bodoh.
Ia mencubit telapak tangan pria itu dengan keras dan berbisik, “Kenapa tersenyum seperti idiot! Papa masih marah!”
“Kamu yang membuatku menjadi idiot,” balas Hansel pelan. “Biarkan saja dia marah.”
Dengan begitu kamu akan lebih memedulikanku ....
***