Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Rumah Sakit Militer



Kota Chiba.


Helikopter melambat dan berputar di atas sebuah bangunan yang sangat luas. Ketika helikopter semakin rendah, Keiko bisa melihat bahwa gedung berwarna cream itu berdiri di atas lahan yang ukurannya kira-kira seluas lima kali lapangan bola. Tampak beberapa helikopter militer berada di helipad, juga pengawal bersenjata yang berjaga di rooftop.


Diam-diam gadis itu melirik ke arah Andrew yang sedang melihat ke luar dengan wajah serius. Ia bertanya-tanya dalam hati, seberapa penting kedudukan pria itu dalam organisasi ini? Tidak mungkin jika orang biasa bisa memiliki akses langsung seperti ini.


Meski sangat penasaran, Keiko tidak mau menanyakannya kepada Andrew. Biar saja pria itu yang mengatakannya sendiri, ia tidak mau terlalu ikut campur.


“Sabar, ya. Sedikit lagi kita mendarat,” ujar Andrew yang tidak menyadari kalau Keiko sedang menatapnya dengan intens.


“Hum,” gumam Keiko pelan.


Sesungguhnya, sedikit lebih lama lagi pun tidak masalah. Dekapan Andrew membuatnya merasa sangat nyaman dan enggan turun. Nanti kalau sudah diurus oleh dokter, bukankah ia tidak memiliki alasan lagi untuk dipeluk oleh pria itu.


Beberapa detik kemudian, pipi Keiko memanas mendapati pemikirannya yang agak nakal itu.


“Kenapa wajahmu memerah?” tanya Andrew seraya mengulurkan tangan untuk menyentuh kening Keiko.


“Tidak demam,” ujar pria itu lagi dengan nada sedikit lega.


Keiko menggigit bibir dan membuang muka. Apa yang akan dikatakan oleh Andrew jika mengetahui pemikirannya tadi?


“Ada apa? Apa yang sedang kamu khawatirkan?” tanya Andew lagi ketika melihat gelagat aneh kekasihnya.


“Tidak ada,” jawab Keiko sambil menggelengkan kepalanya.


Kening Andrew berkerut. Ia tampak sedikit tidak percaya. Untunglah helikopter segera mendarat di atas helipad sehingga Keiko tidak perlu repot-repot menjelaskan kepada pria itu.


Empat orang perawat sudah menunggu di dekat landasan. Mereka langsung mendekat setelah helikopter berhenti. Dengan sigap perawat-perawat itu membantu menaikkan Keiko ke atas brankar dan menutup tubuhnya dengan selembar selimut berwarna biru tua yang hangat dan lembut.


Karena masih harus mengurus Clark dan Leon, Andrew tidak bisa mengantar Keiko ke ruang perawatan. Ia hanya bisa menitipkan Keiko kepada Kim dan menyerahkan proses pengobatan gadis itu sepenuhnya ke tangan para dokter.


“Baby, aku harus mengurus beberapa hal lagi. Kamu jangan khawatir, ya. Aku akan segera kembali untuk menemanimu,” ujar Andrew sembari mengusap pipi Keiko dengan hati-hati.


“Hum. Jangan cemaskan aku. Pergi dan selesaikan tugasmu,” jawab Keiko seraya tersenyum lembut, “Aku akan baik-baik saja.”


“Kekasihku penurut sekali,” ujar Andrew dengan ekspresi wajah yang sangat puas, “Tunggu aku kembali, aku akan membawakanmu hadiah.”


Keiko melotot. Andrew benar-benar memperlakukannya seperti seorang bocah kecil. Ia merasa sedikit malu. Ia tahu Kim dan para perawat berpura-pura tidak melihat tingkah konyol Andrew, tapi mereka diam-diam mengulum senyum dan menahan tawa. Benar-benar membuat Keiko ingin menutup wajahnya dengan selimut.


“Pergilah. Kamu akan membuat orang-orang ini muntah darah karena mulut manismu,” gerutu Keiko dengan bibir mengerucut.


Andrew tertawa lepas sebelum menjawab, “Baik, aku pergi sekarang.”


Pria segera melompat kembali ke dalam helikopter dan memerintahkan agar anak buahnya kembali mengudara. Sedang terjadi adu mulut di kediaman Keluarga Nakamura. Kepala pelayan sama sekali tidak mengizinkan pasukan militer yang sudah tiba di sana untuk masuk. Kepala pelayan itu juga memerintahkan agar pasukan elite yang bekerja di bawah komandonya untuk melawan pasukan EEL yang ada di sana jika ada yang berani menerobos masuk.


Andrew sudah memerintahkan pasukannya agar menunggu. Namun, semuanya sangat tidak stabil. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi dalam waktu lima menit, bukan? Oleh karena itulah Andrew meminta agar pilot melaju dengan kecepatan penuh. Saat ini, satu menit pun sangat berarti.


Sementara itu, Keiko yang sedang didorong menuju ruang perawatan mulai merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Semua sel-selnya menjerit dan mengirimkan sinyal ke otaknya secara bersamaan. Hal itu membuatnya mengerang pelan tanpa sadar. Aneh sekali, mengapa tadi ia seolah tidak merasakan semua itu? Apakah pengaruh Andrew Roux sebesar itu terhadap tubuhnya? Seperti morfin yang bisa meredakan rasa sakit, benar-benar sudah mencapai tahap yang mengkhawatirkan.


“Sebentar lagi kita sampai, Nona. Mohon bersabar, ya,” ujar salah seorang perawat yang berjalan di sisi Keiko.


“Ya, tidak apa-apa,” jawab Keiko sambil memejamkan mata. Tiba-tiba ia merasa sangat lelah, seolah seluruh tenaganya baru saja dikuras habis. Ia ingin beristirahat sebentar.


Samar-samar Keiko masih bisa melihat Kim berjalan cepat di sisi brankar, mengantarnya sampai ke depan sebuah pintu besi lalu berhenti di sana.


Keiko mencoba untuk mengangkat tangannya dan memberi tahu Kim bahwa ia baik-baik saja, tapi tenaganya seperti sudah terkuras habis, tidak ada lagi yang tersisa. Aneh, tadi ia masih bisa menggoda Andrew ....


Ah, lagi-lagi Andrew ....


Seulas senyum tipis tersungging di bibir Keiko yang pucat. Matanya sudah separuh terpejam. Ia hanya mengeluarkan suara seperti gumaman yang tidak jelas ketika didorong masuk ke dalam ruangan yang serba putih. Kilasan cahaya lampu samar-samar tertangkap oleh pupilnya, tapi matanya benar-benar sudah tidak bisa diajak kompromi.


Kelebatan dokter, atau mungkin suster? Entah. Ia sudah tidak bisa membedakannya. Bayangan-bayangan itu bergerak ke sana-sini dengan cepat disertai percakapan yang terdengar semakin samar di telinga Keiko. Akhirnya ketika sebuah tusukan jarum menggigit lengan kirinya, gadis itu mendesis pelan sebelum akhirnya benar-benar memejamkan mata. Hawa dingin yang menyapu permukaan kulitnya ketika selimut disingkapkan perlahan menghilang. Suara-suara yang menyerupai dengungan lebah itu pun lenyap.


Setelah perawat membersihkan tubuh Keiko dari debu dan kotoran yang menempel, dokter wanita yang bertugas segera bertindak cepat. Ia membersihkan semua luka yang ada di tubuh gadis itu dengan cairan antibakteri, lalu menyemprotkan obat khusus yang membantu mempercepat penutupan luka ringan seperti luka gores sekaligus menghilangkan lebam dan bengkak.


“Ada luka gores yang cukup dalam di betis dan pinggangnya, Dok. Sepertinya memerlukan beberapa jahitan,” ujar salah seorang perawat yang tadi membersihkan tubuh Keiko.


“Siapkan peralatannya,” perintah sang dokter seraya memeriksa bagian tubuh yang tadi disebutkan oleh perawatnya.


Memang luka itu cukup dalam, terutama luka di bagian pinggang. Untungnya tidak terjadi pendarahan yang parah. Dengan sigap wanita itu melakukan jahitan di bagian kulit yang robek, lalu menyemprotkan cairan khusus anti radang dan anti infeksi. Setelah selesai, luka itu ditutup dengan plester nano teknologi yang khusus dikembangkan oleh Phoenix.Co.


Setelah serangkaian proses pengobatan itu selesai, sang dokter dan para perawat yang ada dalam ruangan itu baru bisa menghela napas lega.


"Syukurlah tidak ada luka dalam," gumam sang dokter seraya melepas maskernya.


Meski tidak diungkapkan dengan kata-kata, tapi semua petugas medis yang ada dalam ruangan itu sebenarnya cukup tertekan dengan status gadis yang baru saja mereka obati.


Siapa yang tidak tahu Kapten Andrew Roux? Desas-desus sudah beredar santer di dalam organisasi. Pria itu berhasil membersihkan nama baiknya dan bahkan juga sukses menumpas orang-orang yang menjadikannya kambing hitam. Semuanya dihabisi satu per satu.


Dengar-dengar kali ini jika dia berhasil menangani masalah di kediaman Keluarga Nakamura, maka Mr.X akan mengangkatnya menjadi wakil pimpinan. Itu artinya Andrew Roux akan menjadi pemilik kekuasaan tertinggi setelah Mr.X itu sendiri. Jadi, siapa yang berani menyinggungnya?


“Jaga Nona Sakamoto baik-baik. Kabari perkembangannya setiap jam, jangan lengah. Musuh bisa saja masih mengincarnya,” pesan sang dokter kepada para perawat.


“Baik, Dokter.”


Dua orang perawat yang ada dalam ruangan itu pun tahu, nasib baik mereka bergantung dari hasil operasi ini. Jika terjadi sesuatu pada pasien mereka maka ... ah, sungguh tidak sanggup membayangkannya.


Diam-diam orang-orang itu memperhatikan alat monitor yang menunjukkan aktivitas organ vital Sakamoto Keiko, berharap gadis itu dapat bangun tanpa kekurangan apa pun dan memuji kinerja mereka di depan Kapten Andrew.


***


Bantu Mr.Roux dan Miss Keiko dengan like dan vote yang banyak yaa...


makasihh😍


KYAAA SENENG BANGETT AKUUU😍😍😍


MAKASIH BANYAK UNTUK KALIAN SEMUA, KESAYANGANKU, UNTUK PERTAMA KALINYA KARYAKU MASUK RANKING VOTE.


INI BENER2 BERARTI BUATKU.


SUMPAH SAMPE MELOTOT KARENA GA PERCAYA! RASANYA GEMETERAN KEK LG DITATAP SM MR.ROUX😆😆😆😆


sekali lagi makasih banyak untuk kalian semuaaa, lope lopee sekebonn❤️❤️❤️❤️❤️