Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Petapa Tua



Ketika keluar dari kamar mandi, Keiko melihat aneka makanan sudah terhidang di atas meja, tapi suaminya tak terlihat. Ia menoleh ke sekeliling untuk mencari keberadaan pria itu.


Ke mana dia pergi?


“Andrew?” panggilnya sambil melongok ke kamar sebelah.


Sebuah tangan tiba-tiba melingkar di pinggang Keiko, menarik tubuhnya hingga menempel di dada bidang yang liat dan padat.


“Merindukanku?” bisik Andrew seraya mengendus leher istrinya.


Keiko memutar bola matanya. Suaminya semakin lama semakin narsis dan genit! Bagaimana ia harus menghadapi pria itu ke depannya?


“Aku ingin mengajakmu sarapan bersama,” gerutu Keiko seraya berputar dan menatap suaminya dengan mata menyipit, “Kamu dari mana?”


“Pergi mengambilkanmu baju,” jawab Andrew, “Kim baru saja mengantarkannya. Terlalu repot kalau kita harus kembali ke rumah.”


“Bukankah masih ada baju ganti di lemari?”


“Ya, tapi tidak akan cukup untuk dua minggu.”


“Dua minggu? Memangnya kita akan ke mana?” tanya Keiko, sedikit merasa penasaran.


Andrew mencubit ujung hidung istrinya sebelum menjawab, “Pergi bulan madu. Ayo, cepat sarapan. Setelah itu kita langsung berangkat.”


“Sekarang?” Mata Keiko membola.


“Hum. Aku sudah memesan Silversea Cruises.” Andrew menuntun istrinya menuju meja makan sambil meneruskan, “Kita akan menjelajahi perairan laut Eropa selama kurang lebih dua minggu. Katakan, apakah ada tempat khusus yang ingin kamu kunjungi?”


“Kapan kamu melakukannya? Mengapa begitu tiba-tiba? Kenapa tidak memberitahuku lebih dulu?” cecar Keiko.


“Eng ... sebenarnya aku sudah mempersiapkan ini sejak lama,” jawab Andrew sambil menyeringai kikuk.


“Huh? Sejak kapan?”


“Sejak kita belum bertemu.”


“Apa?” Kali ini Keiko benar-benar tidak mengerti. Ia menatap suaminya dengan kening berkerut.


“Aku sangat ingin melakukan ini untukmu dulu, tapi ....” Senyum Andrew berubah getir. Ada banyak hal yang tidak sempat ia lakukan dulu, dan ia akan menebus semuanya sekarang.


“Oh ....”


Melihat perubahan air muka suaminya membuat Keiko mengerti meski pria itu tidak melanjutkan ucapannya. Sorot mata Keiko melembut, sebuah lengkungan muncul di garis bibirnya secara alami. Ia maju satu langkah dan memeluk suaminya erat-erat.


“Aku di sini sekarang,” ucap Keiko seraya mendongak dan memandang Andrew dengan tatapan yang dipenuhi cinta, “Ayo, pergi bulan madu, Suami ....”


Andrew menyentuh ujung dagu Keiko, lalu menunduk dan mengecup bibirnya dengan sangat lembut, menciumnya dengan sangat hati-hati dan menggunakan seluruh perasaannya. Menit dan detik yang menyiksa sepanjang hidupnya seolah tak berarti apa-apa sekarang. Seandainya harus mengulang dari awal, ia akan memilih untuk tetap menunggu dan mencari wanita dalam pelukannya ini. Tidak akan menyesali pilihannya sama sekali.


Keiko membalas ciuman Andrew dengan lembut, memberi tahu apa yang ia rasakan kepada suaminya melalui ekspresi cinta yang paling primitif. Ada banyak hal yang telah mereka lalui untuk bisa sampai ke tahap ini, dan ia tidak ingin kehilangan momen yang berharga, sekecil apa pun itu.


Andrew melepas pagutannya dan mengusap bibir istrinya. Ia mengulum senyum dan bergumam, “Hidangan pembukanya manis sekali, aku jadi lapar.”


Ucapan dan tatapan pria itu dipenuhi ambiguitas, membuat sekujur tubuh Keiko tiba-tiba meremang, otaknya membunyikan alarm tanda bahaya.


“Aku juga lapar!” sahut Keiko cepat, buru-buru menjauhkan diri dan berjalan menuju meja yang dipenuhi makanan.


Andrew terkekeh pelan dan menyusul istrinya. Ia duduk di seberang wanitanya dan mengambil secangkir kopi dan setangkup sandwich. Ia duduk dengan santai, mengamati istrinya yang sedang meneguk segelas susu hangat. Cahaya matahari yang jatuh di wajah wanita itu membuatnya tampak bersinar. Setiap kali dia bergerak, seolah dunia di sekitar Andrew melambat, seluruh perhatiannya hanya terpusat kepada Sakamoto Keiko. Ia mematri setiap gerak-gerik istrinya itu dalam memorinya.


Andrew mengerjap dan menjawab, “Ya, Sayangku.”


“Kenapa melamun? Kamu tidak makan?”


“Yang ingin kumakan tidak bersedia dimakan,” jawab Andrew dengan ekspresi tidak berdaya.


Keiko terbengong sejenak, lalu mengambil sandwich dan menyumpalkannya ke mulut Andrew. Apanya yang tidak bersedia dimakan? Benar-benar mesum!


Andrew mengunyah sandwich dalam mulutnya sambil terkekeh pelan. Ia lalu meneguk kopinya dan menikmati sisa roti tangkup yang ada di atas piring.


Keiko cemberut, meski begitu ia tetap menghabiskan salad buahnya, lalu mengambil seporsi Creme Brulee. Setelah habis, ia mengambil sepiring panekuk dan menyiramnya dengan sirup maple.


Andrew yang menyaksikan semua itu hanya bisa mengangkat alis dan terus memperhatikan dengan penuh minat. Ia tidak menyangka selera makan istri mungilnya lumayan besar juga.


Merasa diperhatikan, Keiko mendongak. Pandangannya bersibobrok dengan manik hitam suaminya yang memancarkan kilau jenaka.


“Apa? Kenapa melihatku seperti itu?” gerutunya pelan. Bibirnya semakin mengerucut ketika menambahkan, "Kamu yang membuatku kelaparan."


“Tidak. Aku senang melihatmu makan banyak. Harus begitu supaya bisa mengimbangi tenagaku—“


“Otakmu tidak bisa memikirkan hal yang lain, ya?” potong Keiko dengan kesal.


“Tidak,” balas Andrew sambil menggelengkan kepalanya dan memasang wajah polos, “Kamu bayangkan saja seorang petapa yang sudah puasa selama puluhan tahun dan tiba-tiba mengetahui bahwa ternyata daging rasanya sangat enak. Kamu pikir, dia bisa berhenti memikirkan atau tidak menginginkannya lagi?”


Keiko hampir muntah darah. Analogi macam apa pula itu? Siapa petapa? Siapa yang daging? Suaminya benar-benar sudah tak tertolong lagi.


Keiko menghabiskan sisa panekuknya dengan cepat, mengusap bibirnya dengan serbet makan, lalu bangun dari tempat duduknya.


“Kamu bisa menikmati dagingnya nanti, jangan terus mengomel dan menyindir seperti seorang petapa tua.”


Andrew yang baru saja menyeruput kopinya langsung menyemburkan cairan itu dari mulutnya. Ia terbahak, tersedak dan terbatuk hingga air mata mengalir di pipinya.


“Apa yang kamu lakukan?” Keiko mengambil serbet dan membersihkan tumpahan kopi di dagu dan leher suaminya, juga yang menyiprat di meja.


Andrew yang masih tertawa merengkuh pinggang istrinya dan bertanya di sela tawa, “Siapa petapa tua? Kamu baru saja mengataiku petapa tua? Bagaimana staminaku, apa kamu tidak tahu?”


Nyali Keiko menyusut melihat kilat berbahaya dalam tatapan suaminya. Ia menyeringai kaku dan mencoba melepaskan cekalan Andrew di pinggangnya sambil menjawab, “Tidak ... tidak berani. Suamiku yang paling kuat, sangat muda, temperamen juga sangat bagus. Aku tidak berani ....”


Andrew bergeming, tidak berniat melepaskan mangsanya sama sekali. Ia hanya mengendurkan cekalannya sedikit, tapi begitu Keiko bergerak mundur, ia mengikuti dan mengikis jarak di antara mereka. Senyumnya tampak tenang, persis seperti langit biru yang tidak memberikan tanda apa pun sebelum badai datang.


“Suamiku, kamu menakutiku,” cicit Keiko, berusaha mengecilkan tubuhnya dan kabur.


“He-he ... sudah tahu takut?”


Keiko mengangguk cepat, lalu menggeleng ... mengangguk lagi ... ia ‘kan hanya membalas godaan pria itu saja, mengapa sekarang seolah-olah ia yang melakukan kesalahan?


Ingin menangis ... hiks ....


“Sepertinya istriku sudah cukup beristirahat, bagaimana kalau kita mencoba kekuatan fisik petapa tua ini?”


Keiko tiba-tiba panik. Seharusnya tadi ia menutup mulut saja!


***