
Tepat di awal musim semi, resepsi pernikahan antara Hansel dan Cecille diadakan di kediaman Marquess of Alrico. Cecille yang meminta agar upacara pernikahan dan resepsinya mengusung tema garden party. Ia juga tidak menginginkan liputan media. Pesta itu benar-benar untuk kalangan tertutup.
Kastil miliknya yang sangat luas itu disulap seperti taman bunga dalam buku dongeng, tempat para peri biasa terbang di antara bunga-bunga dan menikmati cahaya matahari. Kuncup-kuncup bunga di taman yang baru bermekaran menjadi dekorasi alami yang menguarkan aroma semerbak di mana-mana. Satu pohon wisteria berusia ratusan tahun yang ada di halaman samping sedang mekar, menjuntai turun sampai hampir menyentuh tanah.
Bangunan yang megah itu dihias sejak gerbang masuknya. Deretan buket bunga dan pita-pita cantik menghiasi pilar-pilar yang menjulang tinggi. Meja-meja disusun rapi dengan aneka hiasan dan set peralatan makan di atasnya, masing-masing dikelilingi oleh aneka kursi yang terlihat sangat elegan. Beragam jenis kudapan dan minuman tersedia di meja panjang di setiap sudut ruangan. Para pelayan hilir mudik untuk memastikan tidak ada yang terlewat.
Pukul empat sore, tamu-tamu sudah berdatangan. Mobil-mobil diparkir di halaman paling luar. Ada lima ratus undangan yang dibagikan oleh sang Marquess untuk keluarga para Earl dan Viscount. Tidak banyak karena Cecilla hanya meminta kalangan dekat saja yang datang. Sedangkan untuk Hansel sendiri, ia tidak punya banyak kenalan selain rekan bisnis dari Injan Entertainment.
Di kamar depan kastil yang menghadap taman, Cecille duduk di depan kaca. Seorang MUA sedang memberikan sentuhan terakhir untuk riasannya. Cahaya matahari sore yang membias di kaca jendela memantulkan cahaya pelangi di depan wajahnya. Dua orang gadis yang bertugas untuk menjadi pengiring pengantin duduk tak jauh darinya tampak sudah siap.
Cecille menoleh sekilas ketika mendengar suara pintu terbuka. Seorang pelayan melangkah masuk dan menyampaikan pesan dari ayahnya.
“Nona, para tamu sudah datang. Pastur juga sudah tiba. Anda diharapkan untuk keluar sepuluh menit lagi.”
“Sebentar lagi selesai,” jawab sang MUA.
“Oke, akan saya sampaikan kepada Tuan Besar.” Pelayan itu pun keluar dari ruangan dan kembali ke tempat sang majikan dan istrinya sudah menunggu.
Tiba-tiba Cecille merasa gugup. Ia takut melakukan kesalahan kecil saat mengucapkan janji pernikahan, atau adanya insiden yang akan merusak acara pernikahannya ini. Tidak mudah untuk meyakinkan papanya bahwa Hansel adalah pria yang pantas dan layak untuk mendampinginya selama sisa hidupnya. Pernikahan sekali seumur hidup ini, jangan sampai tidak berjalan sesuai rencananya.
“Sudah selesai, Nona.”
Ucapan sang MUA membuat Cecille refleks menoleh ke cermin. Ia menatap puas pada pantulan bayangannya yang tampak natural.
“Terima kasih,” ucapnya kepada wanita berambut perak yang sudah mendandaninya dengan sangat cantik.
“Sama-sama, Nona. Selamat menempuh hidup baru, semoga Anda bahagia selamanya.”
Cecille tersenyum lebar. Ia sungguh berharap doa itu terkabul. Pengiringnya segera menghampiri ketika melihatnya bangkit berdiri. Salah satu dari mereka menyerahkan buket bunga tangan untuk Cecille, kemudian mengangguk dengan sopan.
Dua orang pelayan segera membukakan pintu untuk Cecille. Wanita itu berjalan keluar dan melangkah di atas karpet merah yang terbentang di depan pintu hingga ke ujung sayap timur kastil, tempat upacara pernikahan akan diadakan.
“Putriku sangat cantik,” ucap Antonio dengan mata berkaca-kaca. Ia sudah hampir menangis kalau Maria tidak mencubit lengannya berulang kali untuk mengingatkannya.
“Papa, Mama ....” Cecille mendekat dan berdiri di antara kedua orang tuanya.
Antonio menggandeng tangan putrinya dan mulai berjalan menuju ujung altar. Sepanjang jalan Cecille bisa merasakan semua tatapan mata tertuju ke arahnya dengan sorot penuh kekaguman, decak kagum dan dengung pujian samar-samar terdengar oleh telinganya, membuatnya semakin gugup.
Namun, tak lama kemudian perhatian orang-orang teralihkan ketika mendengar derap kaki kuda mendekat dari sisi barat. Cecille ikut menoleh ke arah sumber suara dan terpana menatap calon suaminya yang terlihat seperti seorang pangeran yang duduk di atas kuda putih. Di belakangnya, dua orang pria pengiring pengantin pria yang menunggangi kuda cokelat tampak tak kalah memesona.
Antonio menghentikan langkahnya tepat di ujung altar dan menunggu Hansel datang untuk menjemput putrinya.
Cecille tidak mengalihkan tatapannya sama sekali ketika Hansel melompat turun dari kuda dan berjalan ke arahnya. Calon suaminya benar-benar terlihat sangat tampan.
“Jaga putriku baik-baik,” pesan Antonio sebelum menyerahkan Cecille kepada calon menantunya.
“Tenang saja, Tuan. Aku akan menjaganya dengan baik seumur hidup,” jawab Hiro. Pria itu kemudian berlutut dan mencium punggung tangan Cecille dengan lembut.
“Ayo,” ajaknya seraya menggandeng tangan calon istrinya dan berjalan menuju altar.
Ia menunduk dan berbisik, "Gugup tidak?"
Cecille membalasnya dengan anggukan samar.
Mau tidak mau Cecille tersenyum sekilas. Suasanya hatinya mendadak menjadi jauh lebih baik.
Di deretan bangku paling depan yang dikhususkan untuk keluarga, Andrew dan Keiko yang sudah datang sejak tadi menyaksikan semuanya sambil tersenyum lebar, terutama Keiko ... untuk sementara wanita itu seolah lupa bahwa akhir-akhir ini ia tidak bisa berdekatan dengan suaminya. Mereka duduk saling menempel, sesekali mendekatkan kepala untuk berbisik dan berbincang pelan.
Marco Roux yang menjadi wali untuk Hansel duduk di barisan kursi yang sama dengan Antonio dan Maria. Kedua orang itu tampak akrab dan saling menyapa dengan hangat, sepertinya sudah melupakan perselisihan karena pembatalan pertunangan antara Andrew dan Cecille beberapa waktu lalu. Saat upacara pernikahan dimulai, para orang tua itu memperbaiki sikap duduk mereka dan mengikuti dengan ekspresi serius.
“Cecille sangat cantik, Hiro beruntung karena mendapatkannya,” gumam Keiko pelan.
“Aku lebih beruntung karena mendapatkanmu,” balas Andrew seraya mencuri sebuah ciuman sekilas ke pipi istrinya.
Keiko memutar bola matanya dan mengerucutkan bibir. Suaminya benar-benar narsis dan tidak mau kalah!
Ia kembali menatap ke depan dan memperhatikan pengantin yang sedang mengucapkan janji pernikahan dengan khidmat. Itu membuatnya teringat akan upacara pernikahannya sendiri sehingga seulas senyum tipis muncul di wajahnya. Ia sungguh berharap Hiro akan bahagia bersama Cecille sampai selamanya. Namun, sebersit rasa sedih muncul ketika mengingat bahwa pernikahannya juga pernikahan Hiro sama-sama tidak dihadiri oleh kedua orang tua mereka. Padahal tadinya semua masih lengkap saat acara pertunangan mereka beberapa bulan lalu.
“Lucu bagaimana takdir dan kehidupan mempermainkan nasib manusia, bukan?” gumam wanita itu tanpa sadar.
“Takdir tidak mempermainkan, itu adalah sebab-akibat dari karma baik dan buruk di masa lalu,” balas Andrew tak kalah pelan, tapi Keiko masih bisa mendengarnya.
Wanita itu menoleh ke arah suaminya dan mengulas senyum lagi. Itu benar. Apa yang kita lakukan baik di masa lalu atau masa sekarang, semuanya pasti saling terkait dan menimbulkan sebab-akibat satu sama lain.
“Jadi menurutmu kamu lebih baik darinya makanya mendapatkan aku, begitu?” godanya.
Andrew menegakkan postur tubuhnya dan menyentuh dasi kupu-kupu di lehernya sebelum menjawab dengan sombong, “Tentu saja, di kehidupan ini dan selanjutnya, hanya aku yang pantas mendapatkanmu, Baby.”
Keiko terkekeh dan menggeleng tak berdaya. Bahkan di pesta pernikahan orang lain pun suaminya masih sangat arogan dan tidak tahu malu!
“Lupakan, jangan ganggu aku lagi. Aku ingin menikmati momen sakral ini tanpa interupsi darimu,” ujar Keiko sebelum menoleh ke depan dan duduk dengan anggun.
Di depan sana, Hansel sedang memakaikan cincin ke jari manis Cecille. Wajahnya yang sungguh-sungguh terlihat cukup menawan. Sekilas Keiko bisa melihat jari-jari pria itu sedikit gemetar, sepertinya karena gugup. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke wajah Cecille yang tampak malu-malu, lalu turun ke perutnya yang masih tampak rata. Jika benar Cecille sedang hamil seperti tebakan Andrew, mungkin mereka akan melahirkan di waktu yang berdekatan.
Diam-diam Keiko mengusap perutnya dengan sangat lembut. Begitu juga bagus ... anak-anaknya akan langsung memiliki keluarga baru ketika mereka terlahir ke dunia yang kejam ini. Ia sungguh berharap mereka akan hidup rukun di masa depan.
Keluarga ....
Satu kata itu membuat senyuman di wajah Keiko tampak semakin lebar.
**
jangan lupa like dan vote yaa,makasihh