
Cecille meringkuk di atas lantai dan menangis dengan sangat kasihan. Ia bahkan tidak mendengar suara pintu yang kembali terbuka, juga langkah kaki yang perlahan menghampirinya.
“Dasar bodoh, menangis seperti itu ... siapa yang menindasmu, hum?”
Hansel mendesah tak berdaya dan mengulurkan tangan untuk memeluk Cecille. Tadinya ia sudah ingin pulang, tapi entah mengapa ada dorongan dalam hatinya untuk kembali dan memeriksan keadaan Cecille. Benar saja, melihat wanita itu menangis membuatnya merasa tidak rela.
Cecille begitu terkejut hingga tangisannya tiba-tiba berhenti. Ia terlalu malu untuk mengangkat wajahnya. Dengan gugup ia mengusap sudut matanya dengan telapak tangan. Ia ingin berdiri, tapi tubuhnya tiba-tiba melayang. Secara refleks ia mengulurkan tangan untuk berpegangan di leher Hansel. Beberapa saat kemudian, tubuhnya sudah berbaring di atas ranjang.
“Jangan menangis lagi ...,” ucap Hansel seraya mengeringkan sisa air mata di wajah Cecille dengan sapu tangan, lalu mengusap rambut wanita itu dengan penuh kelembutan.
“Cecille, aku tahu kita tidak saling mencintai untuk saat ini, tapi setidaknya ... beri aku kesempatan untuk mencoba. Aku berjanji akan menjagamu dengan baik.”
Cecille yang meringkuk dalam pelukan Hansel seolah terhipnotis dengan aroma maskulin yang menguasi indra penciumannya. Jarak mereka terlalu dekat, dan ia tidak berani asal bergerak. Tangan Hansel yang melingkar di pinggangnya membuatnya merasa sedikit sesak napas. Ia sungguh tidak menyangka Hansel akan kembali untuknya. Kalau terus seperti ini ... takutnya hatinya akan goyah ....
“Aku tahu aku tidak setampan Andrew, bahkan kekayaanku tidak mencapai seperempat dari miliknya, tapi bisa kupastikan aku tulus kepadamu.”
Rambut keemasan di depan wajahnya tampak berkilau dan sangat harum. Hansel tak dapat menahan diri untuk menggulung helaian rambut yang indah itu dan menghidu aromanya sebelum kembali berkata, “Kita sama-sama mencintai orang lain selama bertahun-tahun, orang yang tidak bisa menjadi milik kita. Mari lupakan itu dan memulai semuanya dari awal, oke?”
Cecille masih belum bersuara. Kepalanya yang bersandar di dada Hansel membuatnya bisa mendengar detak jantung pria itu dengan sangat jelas. Iramanya begitu stabil, begitu hidup ... begitu ... nyata ....
Tanpa sadar tangan wanita itu terulur dan menyentuh dada bidang di hadapannya, tubuhnya merapat, lalu sedetik kemudian ia tertegun karena responnya yang di luar kendali itu. Ia menelan ludah. Ada hal-hal yang memang tidak mungkin tergapai dan berada di luar jangkauannya. Lalu, ada juga yang begitu dekat dan tak kalah memesona. Haruskah ia mengabaikannya karena masih merasa tidak rela? Bagaimana jika apa yang ditawarkan di depannya ini pun akhirnya menghilang?
Wanita itu perlahan mendongak. Mata birunya bertemu dengan manik hitam yang menatapnya dengan sorot lembut dan penuh perhatian.
Hansel menopang kepalanya dengan lengan. Tatapan yang ragu-ragu dan terlihat sedikit naif dari Cecille terlihat sangat menggoda. Ia memiliki dorongan yang sangat kuat dalam hati untuk menunduk dan mencium bibir merah itu.
“Kudengar mereka akan segera memiliki bayi. Kalau tidak, kita juga bikin satu? Bayi montok dengan mata biru pasti terlihat sangat menawan. Bagaimana menurutmu?”
Cecille melotot dan mendesis, “Kamu pria sinting!”
Hansel terbahak sampai kepalanya mendongak. Namun, entah mengapa kali ini tawanya terdengar cukup menarik di telinga Cecille, tidak semenjengkelkan biasanya. Perlahan sudut bibir wanita itu tertarik ke atas. Dibujuk dan diperhatikan rasanya tidak buruk ... Hansel Roux tidak semengesalkan yang ia kira.
...***...
Sementara itu, di pinggir Kota Paris, seorang pria bergelung dengan nyaman di samping istrinya. Bahkan dalam tidurnya ia bermimpi dengan sangat indah sehingga seringai lebar muncul di wajahnya, terlihat seperti orang bodoh yang baru saja mendapatkan lotre.
Keiko bergulat dengan tangan dan kaki yang melingkari lengan dan pinggangnnya, kemudian menggeliat keluar dari pelukan itu. Namun, belum sempat menjauh, lengan yang kokoh dan panjang itu sudah kembali merengkuh dan menyeret tubuhnya hingga menempel ke dada suaminya.
“Mau ke mana? Ini masih pagi,” gumam Andrew dengan suara serak.
“Kamar mandi. Kamu ingin aku buang air kecil di sini?” gerutu Keiko. Pria itu memeluknya sepanjang malam, membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.
“Apa yang membuatmu begitu senang sepagi ini?” tanya Keiko yang baru keluar dari kamar mandi. Penampilan suaminya yang berantakan dan asal-asalan itu tetap terlihat menawan, membuatnya semakin kesal saja.
“Oh ... seharusnya mulai sekarang tidak akan ada lagi yang mengganggu kita,” jawab Andrew seraya membuka mata. Ia menepuk sisi kosong di sisi ranjang, memberi isyarat kepada istrinya agar mendekat.
“Kemari,” pintanya.
“Tidak mau!” jawab Keiko cepat.
Wanita itu berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Melihat Andrew tersenyum membuatnya ingin marah untuk alasan yang ia sendiri tidak mengerti. Ia tidak suka melihat melihat suaminya tersenyum, atau tertawa! Terlihat sangat menusuk mata!
Andrew mengernyit. Tidak biasanya Keiko bersikap seperti itu. Ia bangun dari ranjang dan berjalan menghampiri istrinya yang sedang duduk dengan wajah masam.
“Apa aku melakukan kesalahan?” tanyanya seraya berjongkok dan memegang kedua tangan istrinya. “Semalam kamu sudah tidur ketika aku pulang. Aku tidak tega membangunkanmu ... maaf ....”
“Tidak ada.”
Meski menjawab demikian, Keiko menarik tangannya dan bergeser. Ia sendiri tidak mengerti mengapa tiba-tiba ingin marah kepada suaminya, padahal kemarin mereka baik-baik saja. Namun, ia tidak bisa menahan dorongan itu. Ia benar-benar kesal melihat wajah suaminya!
Andrew memijit pelipisnya. Apakah ini termasuk salah satu sindrom wanita hamil? Itu artinya ia harus menanggung ini semua selama kurang lebih tujuh bulan ke depan?
Hanya bisa menerimanya dengan pasrah ....
“Aku buatkan sarapan? Mau makan apa?” tawar pria itu seraya bangkit berdiri.
“Tidak perlu. Biar pelayan saja yang menyiapkannya.”
Andrew mengangkat alisnya. Ini pertama kali Keiko menolaknya menyiapkan makanan untuknya. Sekarang ia benar-benar berpikir keras, kesalahan apa yang sudah diperbuatnya sehingga istrinya merajuk seperti ini. Sedetik kemudian, sorot keterkejutan muncul di pupil matanya yang bergetar. Tidak mungkin Keiko tahu semalam Cecille telan*jang dan menempel di tubuhnya seperti lintah, ‘kan? Tiba-tiba ia merasa takut. Sangat takut sehingga seluruh tubuhnya menjadi dingin.
Pria itu kembali berlutut dan merangkum wajah Keiko dengan tangannya sambil berkata, “Baby, aku bisa jelaskan. Itu tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Kali ini Keiko yang mengernyit dalam, tidak mengerti mengapa suaminya panik seperti itu.
“Jelaskan apa? Apa yang aku pikirkan? Aku hanya kesal melihat wajahmu. Pergi. Jangan dekat-dekat,” gerutu Keiko seraya menepis tangan suaminya.
Andrew terdiam. Jadi ... Keiko tidak tahu? Hanya kesal kepadanya tanpa alasan. Ia tidak tahu harus tertawa atau menangis.
***