
Setelah selesai beristirahat dan retouch, Andrew menggandeng tangan Keiko menuju hall utama yang digunakan untuk tempat resepsi. Suasana lebih semarak dibandingkan sore tadi. Ada begitu banyak tamu yang datang. Mungkin karena ada jamuan makan malam yang terbuka untuk umum, halaman Hotel Le Bristol terisi penuh oleh orang-orang yang berjejal dan ingin menyaksikan pernikahan termegah tahun itu.
Jika halaman dan seluruh ruangan hotel yang lain digunakan untuk menjamu tamu umum, hall utama hanya menampung tamu khusus yang memiliki surat undangan. Tidak ada yang bisa masuk ke sana jika tidak terdeteksi oleh pemindai biometrik yang sudah terhubung dengan data penerima undangan.
Seluruh ruangan yang sangat luas itu dihias dengan aneka bunga segar dan lampu hias yang sangat menawan. Meja prasmanan tersedia di setiap sudut ruangan untuk memudahkan tamu mengambil sajian yang dihidangkan. Meja khusus minuman terisi dengan red wine, champagne, port, cocktail, sherry, limun, dan aneka minuman bersoda.
Saat memasuki ruangan, gaun Keiko berkilau tertimpa cahaya lampu, mengundang decak kagum sekaligus iri dari setiap wanita yang ada di ruangan itu. Desain Almira Gonzales membuat setiap butiran berlian di gaun itu terlihat seakan menempel di tubuh Keiko, bertaburan di pundak hingga lengan, lalu menyatu dengan gaun yang terkembang sempurna.
Andrew menuntun Keiko berjalan menuju pelaminan yang dihias seperti tahta untuk raja dan ratu. Marco Roux dan Alfred mengapit di sisi kiri dan kanan, sedangkan para pengiring duduk di bangku deretan paling depan, berhadapan dengan pelaminan.
Tak lama kemudian, seorang WO bergegas menghampiri Andrew dan Keiko sambil membawa nampan berisi anggur pernikahan. Andrew mengambil cawan berisi anggur dan memberikannya kepada Keiko, lalu mengambil untuk dirinya sendiri.
Berdiri di hadapan semua orang, satu-satunya penerus Keluarga Roux itu tersenyum lebar dan berkata, “Terima kasih untuk tamu undangan yang telah menyempatkan diri untuk datang dan berbagi kebahagiaan bersama kami ... juga untuk rekan-rekan di luar sana, silakan nikmati jamuan yang ada. Bersulang untuk kebahagiaan dan kemakmuran.”
Andrew dan Keiko mengangkat cawan berisi anggur, berputar menghadap para tamu dari sisi kiri ke kanan, lalu menenggak habis isi cawan dalam satu tegukan. Suara tepuk tangan dan sorak sorai kembali membahana, tidak hanya di dalam hall utama, tapi juga di sepanjang lorong-lorong hotel dan halaman luar. Meski tidak dapat melihat pasangan pengantin secara langsung, orang-orang itu cukup puas melihat tampilan hologram yang diproyeksikan di tengah halaman, membuat mereka seolah sedang berhadapan langsung dengan pasangan pengantin itu.
Andrew tersenyum dan membantu Keiko untuk duduk di kursi pengantin, gaunnya yang lebar dari pinggul ke bawah membuatnya cukup kesulitan. Selain itu, Keiko tidak ingin merusak butiran berlian yang memenuhi seluruh permukaan gaunnya, jadi ia duduk dan bergerak dengan sangat hati-hati.
“Masih gugup?” tanya Andrew di dekat telinga Keiko.
Keiko tersenyum dan menggeleng pelan, kemudian balik berbisik di samping Andrew, “Tidak segugup tadi, sekarang sudah lumayan."
Dilihat dari depan, bahasa tubuh kedua mempelai menjadi topik pembicaraan hangat. Para tamu undangan bisa melihat dengan jelas kalau pasangan suami istri itu benar-benar saling mencintai, terlihat dari cara mereka saling menatap dan berinteraksi. Begitu katanya.
Hansel yang tidak tahan dengan semua omong kosong itu segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja tempat minuman. Ia mengambil segelas wine dan menghabiskannya dalam satu tarikan napas, lalu mengambil gelas kedua ... ketiga ... kepalanya mulai terasa sedikit berputar. Alih-alih berhenti, ia mengulurkan tangan ke area champagne dan port.
Ingar-bingar di sekelilingnya sangat ramai, tapi ia merasa asing dan sendirian. Berdiri di sudut ruangan sambil mengamati para tamu yang saling menyapa dan bercengkerama, ia pun mencari seseorang yang mungkin bisa diajak kerja sama dengan Injan Entertainment.
Akan tetapi, saat menyisir seluruh ruangan, ia mendapati seorang gadis cantik yang sedang duduk di bagian yang sedikit berbayang menatap dengan ekspresi yang rumit ke arah pengantin di atas pelaminan. Sudut bibir Hansel berkedut. Sepertinya ia baru saja menemukan sesuatu yang menarik. Ia mengambil segelas port lagi, berjalan menghampiri gadis berambut pirang itu dan duduk di sebelahnya.
“Halo, Nona ... dari ekspresi, tampaknya Anda sama sekali tidak berbahagia melihat mempelai,” tegur Hansel sambil lalu. Ia tampak sangat menikmati penemuannya ini: ia bukan satu-satunya orang yang patah hati karena acara pernikahan Andrew dan Keiko.
Cecille menoleh ke arah Hansel dengan mata menyipit, seolah sedang menatap seekor lalat pengganggu yang membuatnya kesal.
“Pergi dari hadapanku,” gerutu gadis itu sebelum kembali menatap pelaminan dengan sorot yang membara. Seharusnya itu adalah dirinya yang duduk di samping Andrew Roux, bukannya gadis jelek itu!
Cecille berdecak sebal. Bryan yang tidak bisa diandalkan itu mendadak tidak bisa datang untuk menemaninya malam ini, membuatnya benar-benar tampak menyedihkan dan merasa semakin dicampakkan.
Menghadapi penolakan itu, Hansel hanya mendengkus ringan dan menyesap minumannya perlahan. Setidaknya menemukan teman yang sama-sama patah hati membuat ia merasa lebih baik. Lucu dan menjengkelkan memang, tapi membuat hatinya terasa sedikit lebih nyaman.
Hansel mencondongkan tubuhnya ke depan dan bergumam pelan, “Kamu menginginkan pria di atas pelaminan itu?”
Cecille melotot. Ia menoleh dengan cepat dan kembali memarahi Hansel, “Kenapa masih di sini? Menganggu saja.”
Hansel terkekeh pelan. Mungkin karena pengaruh alkohol, ia menjadi lebih berani dan mengabaikan penolakan yang terang-terangan itu.
“Berhentilah berharap. Mereka tidak dapat dipisahkan, kalau itu yang sedang kamu pikirkan,” balas Hansel dengan ekspresi acuh tak acuh, tapi ada rasa getir yang memenuhi kerongkongannya.
Ia lalu mendesah pelan dan melanjutkan, “Kalau tidak, kita berkencan saja? Aku dan kamu sama-sama patah hati, mungkin kita bisa saling mengobati. Namaku—”
“Dasar sinting!”
“Apa?!”
Percakapan yang saling tumpang tindih itu diselimuti oleh keheningan sesaat. Cecille menatap Hansel dengan sorot menyelidik, sedangkan pria itu masih terus menyesap minumannya dengan acuh tak acuh.
“Siapa namamu? Yang baru saja kamu katakan.” Cecille menatap lawan bicaranya dengan sedikit minat. Tidak mungkin ia salah dengar, ‘kan?
“Hansel Roux. Dan kamu adalah ...?”
Cecille mengabaikan pertanyaan Hansel dan kembali berkata, “Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Apa kamu seorang penyusup yang mengaku-ngaku?”
Hansel mengacungkan telunjuknya dan menjawab, “Bagaimana seorang penyusup bisa menjadi pengiring pengantin pria?”
Um ... itu benar, tapi ....
“Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya.”
“Itu karena aku lama tinggal di Jepang.”
“Jepang ...?”
Cecille melihat wajah Hansel, lalu menoleh ke pelaminan ... kembali memperhatikan Hansel, lalu melihat pengantin wanita ....
“Wanita itu ... istri Andrew, kamu memiliki hubungan dengannya?” tanya Cecille dengan penuh harap. Sepertinya ia telah menemukan seorang sekutu!
“A-ah ... dulu, sekarang tidak lagi, dia kakak iparku.”
“Beri aku nomormu.”
Mata Hansel berbinar. “Sudah tertarik kepadaku?” tanyanya dengan penuh percaya diri.
“Pria gila. Aku hanya ingin kita bekerja sama. Kamu bisa mendapatkan kembali kekasihmu, begitu pun aku ....”
Hansel terbahak hingga wajahnya mendongak, seolah perkataan gadis di hadapannya adalah lelucon terkonyol yang pernah ia dengar.
“Mimpimu terlalu tinggi, Nona. Sudah, lupakan mereka. Berkencan denganku saja, oke?”
Mata Cecille menyipit. Ia membuka tas tangannya dan mengambil sesuatu dari sana dan meletakkannya di atas meja.
“Kamu masih mabuk. Hubungi aku ketika otakmu sudah lebih waras,” ujar gadis itu sebelum bangkit dan berjalan menjauh.
Hansel meraih kartu nama yang ditinggalkan di atas meja dan memindainya di ponsel. Ia membaca nama yang tertera ketika nomor ponselnya tertaut ke kontak.
Cecille ....
Sudut bibir pria itu berkedut. Nama yang cantik, seindah mata biru cerahnya yang memikat, lumayan untuk mengalihkan pikirannya dari Sakamoto Keiko ....
***