
Andrew mengendalikan helikopter agar tetap stabil. Sesekali ia melakukan komunikasi dengan anak buahnya yang telah menunggu di landasan pacu, mengonfirmasi bahwa semua yang ia perintahkan sudah dilakukan dengan benar. Ia tidak ingin melakukan kesalahan lagi, seperti rencananya untuk berlibur bersama Keiko yang berakhir dengan pertumpahan darah.
Mungkin sebaiknya ia langsung membawa Keiko kembali ke Paris. Di sana orang-orangnya lebih banyak, juga anak buah ayahnya yang tak kalah sedikit dengan kemampuan yang selevel dengan kadet EEL. Dengan adanya semua fasilitas itu, gadisnya pasti lebih aman.
Di bangku belakang, kepala Keiko miring ke kiri dengan mata terpejam. Rupanya tanpa sadar gadis itu tertidur dalam posisi duduk. Tubuhnya sedikit merosot ke bawah sehingga Hiro bergeser mendekat dan menahan kepala gadis itu dengan bahunya. Ia menghela napas panjang. Seluruh tenaganya terkuras habis hanya dengan melakukan gerakan kecil itu.
Namun, sekejap kemudian, deru napasnya yang berat dan tertahan kini melembut dengan irama yang stabil. Kehangatan yang memancar dari tubuh Keiko memberinya sedikit rasa nyaman, seperti morfin yang mampu meredakan rasa sakit. Lamat-lamat ia ikut memejamkan mata dan tertidur.
Andrew menoleh sekilas dari depan dan mengumpat dalam hati. Ia mengarahkan cermin di bagian atas kepalanya kepada Hiro, menatap pria itu dengan tatapan ingin membunuh. Akan tetapi, Hiro tidak bergerak sama sekali. Sekarang kening Andrew berkerut. Ia khawatir Hiro bukannya sedang tertidur, tapi pingsan. Pria itu pun menghilangkan ego dan rasa cemburunya, kemudian fokus ke depan. Hanya lampu-lampu yang berkelap-kelip di bawah sana yang menemaninya mengarungi langit malam.
Entah berapa lama kedua orang di kursi belakang itu saling menempel dan tertidur pulas meski bising suara mesin dan baling-baling cukup mengganggu. Bahkan ketika helikopter sudah mendarat, mereka tidak terganggu sama sekali.
Andrew lebih dulu melompat turun dan memerintahkan tenaga media yang sudah menunggu untuk naik dan memeriksa kondisi Hiro.
Hiro terkejut dan tersentak dari tidurnya ketika merasakan ada yang menjamah tubuhnya. Ia mengerjap dengan linglung dan menoleh ke sekeliling dengan waspada. Ia baru merasa lega ketika melihat Andrew berdiri di bawah sambil berkacak pinggang.
“Karena kamu sudah sadar, cepat menyingkir dari tubuh kekasihku!” seru Andrew dengan acuh tak acuh, bahkan tidak berusaha untuk menutupi nada tidak suka dalam suaranya.
Hiro mendengkus pelan dan mengikuti instruksi perawat yang memintanya untuk berdiri. Tubuhnya dipapah dengan hati-hati untuk turun, lalu langsung diarahkan untuk berbaring di atas brankar. Dokter pun bergerak dengan sigap memeriksa detak jantung, tekanan darah, dan keadaan organ vital pria itu.
“Pasien kehilangan darah cukup banyak, juga sedikit kelelahan. Harus segera diinfus dan diberi transfusi darah,” lapor Dokter itu setelah pemeriksaannya selesai.
“Bawa pergi dan obati dia.”
“Baik, Mr.Roux.”
Brankar itu segera didorong menuju pesawat jet. Para tenaga medis kemudian memindahkan Hiro ke tandu dan menggotongnya ke atas, membawanya ke dalam salah satu kamar privat yang ada dalam kendaraan udara itu.
Hiro menyandarkan kepala ke bantal dan memejamkan mata, pasrah ketika tim medis melakukan tindakan kepadanya. Ia sudah terlalu lelah untuk melakukan apa pun. Perlahan matanya kembali terpejam setelah jarum infus ditancapkan ke punggung tangannya. Tak lama berselang, suara-suara percakapan di sekitarnya semakin pelan sebelum akhirnya tidak terdengar lagi sama sekali.
Sementara itu di sisi lain, Andrew yang sudah melompat ke atas helikopter segera membangunkan Keiko dengan hati-hati. Ia tidak ingin membuat gadis itu terkejut.
“Baby, kita sudah sampai,” bisik Andrew pelan di dekat telinga Keiko.
Pria itu mengulurkan tangan dan mengusap pipi Keiko yang sepertinya terkena percikan darah. Ia tidak sempat memperhatikannya tadi karena mereka harus bergerak dengan cepat demi menghindari musuh. Sekarang noda itu sudah mengering sehingga sulit untuk dibersihkan. Setidaknya, harus dicuci dengan menggunakan sabun.
“Maafkan aku sudah membuatmu sedih. Aku memang tidak berguna,” gumamnya lagi seraya merapikan rambut Keiko yang berantakan.
“Benar-benar seperti kelinci kecil yang pemalas, bersandar kepada siapa pun yang berada di dekatmu, hum?” gerutu Andrew, sedikit kesal ketika mengingat gadisnya tidur bersisian dengan Hiro.
Pria itu lalu meletakkan satu tangannya di bawah lekukan lutut Keiko, sedangkan tangan yang lain menopang punggungnya. Ia bangun perlahan dan membawa tubuh Keiko dalam gendongannya. Dengan langkah panjang dan stabil, ia berjalan menuju pesawat jet yang sudah bersiap di landasan pacu. Ketika kakinya mulai menapaki anak tangga menuju pintu pesawat, gadis dalam dekapannya menggeliat pelan.
Bulu mata Keiko bergerak-gerak sebentar sebelum kelopak matanya membuka. Manik bulatnya tampak terkejut ketika mendapati wajah Andrew berada sangat dekat dengannya. Refleks gadis itu meraih kerah baju Andrew dan berpegangan dengan erat ketika menyadari tubuhnya sedang dibopong menaiki pesawat.
Setelah benar-benar sadar dengan keadaan di sekitarnya, Keiko membuka mulut dan bertanya, “Andrew, di mana Hiro?”
Andrew melirik kekasihnya dengan tatapan yang tajam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Rasa cemburunya kembali berkobar seperti api yang baru saja disiram bensin.
Keiko yang menyadari kesalahannya segera mengganti pertanyaannya demi keselamatan dirinya sendiri, “Sayang, apa yang terjadi pada keningmu. Kamu berdarah. Sakit tidak?”
Andrew mengabaikan pertanyaan barusan dan menanggapi pertanyaan Keiko sebelumnya. “Mencemaskan pria lain di hadapanku. Sakamoto Keiko, nyalimu benar-benar sangat besar,” ujarnya sambil membaringkan Keiko ke atas sofa dengan sedikit keras, membuat gadis itu mengaduh dan mengusap bokongnya yang terasa sakit.
Andrew menunduk dan mengurung tubuh Keiko dengan kedua tangannya. Ia mendekat hingga mata bulat Keiko yang mengerjap-ngerjap gugup itu terlihat dengan jelas.
“A-aku ... itu hanya ... aku ....” Keiko tergagap-gagap dan merutuki kebodohannya dalam hati. Mengapa pula ia harus mengingat Hiro saat sadar? Kalau begini ... seharusnya tadi ia berpura-pura tidur saja dan tidak mengatakan apa pun.
“Setelah tidur berdampingan dengannya di sepanjang jalan, begitu membuka mata yang kamu tanyakan adalah dia.” Andrew mencubit dagu Keiko hingga wajah gadis itu mendongak. “Keiko, apa kamu pikir aku sangat murah hati?”
“Lain kali tidak lagi,” jawab Keiko cepat, “Selamanya hanya akan memikirkanmu saja. Oke?”
Sudut bibir Andrew tertarik ke atas. Matanya berkilat licik ketika menjawab, “Janji saja tidak cukup. Aku butuh tindakan nyata sebagai bukti.”
Keiko menggigit bibirnya sambil menatap lurus ke mata Andrew. Ia menoleh ke bibir pria itu, lalu kembali menatap matanya yang seolah memancarkan isyarat rahasia. Keiko jelas tahu apa maksud kekasihnya. Akan tetapi, ini di dalam pesawat. Bagaimana kalau tiba-tiba ada yang datang?
“Lihat, kamu tidak bersungguh-sungguh dengan ucapanmu itu.” Andrew pura-pura merajuk ketika melihat ekspresi ragu-ragu yang terpancar dari wajah Keiko.
Pria itu melengos dan hendak berdiri. Namun, sebuah tangan mungil menarik kerah bajunya dengan keras, membuat tubuhnya kembali tersentak ke bawah. Sedetik kemudian, gumpalan yang lembab dan kenyal menempel di bibirnya, bergerak-gerak kaku dan kikuk. Akan tetapi, ia belum sempat membalas dan merespon, Keiko sudah menjauhkan wajahnya dengan gerakan secepat kilat.
“Sudah, ‘kan? Sekarang sudah oke?” tanya gadis itu dengan sorot penuh harap.
Mata Andrew berkilat-kilat dengan ekspresi yang campur aduk. Gadis kecil ini sedang menggodanya, ya?
***