
Sebuah mobil Bentley hitam perlahan menyusuri jalanan kota Tokyo. Lampu-lampu jalanan menyinari para pejalan kaki dan kendaraan-kendaraan lain yang hilir mudik. Aktivitas dan keceriaan di luar sana berbanding terbalik dengan wajah-wajah tegang yang ada dalam mobil.
Jovanka duduk di bangku depan bersama salah satu anak buah Mr. Tanaka, sedangkan Andrew dan Hiro duduk di kursi belakang. Dua orang itu hanya diam dan menatap kaca jendela di sisi mereka masing-masing. Hiro masih teringat dengan wajah sendu Keiko ketika ia berpamitan tadi. Gadis itu terlihat jelas berusaha untuk tetap tegar, tapi Hiro juga tahu tunangannya itu hanya berpura-pura untuk kuat. Air matanya ketika mereka berpelukan tadi menjelaskan semuanya.
Tiba-tiba Hiro menoleh ke arah Andrew dan berkata, “Kalau terjadi sesuatu padaku, tolong jaga dia baik-baik. Meski terlihat keras dan tangguh, hatinya sebenarnya sangat lembut.”
Andrew tertegun untuk beberapa saat. Dalam situasi seperti ini, ia sama sekali tidak menyangka pria di sampingnya itu akan membahas hal ini secara terang-terangan. Andrew tahu apa dan siapa yang dimaksud oleh Hiro. Akan tetapi, untuk sesaat ia tidak tahu harus merespon seperti apa. Ia ingin berpura-pura tidak mengerti apa yang sedang dikatakan oleh Hiro, tapi ketika ia menoleh ... sorot mata Hiro menunjukkan bahwa pria itu sudah tahu semuanya.
“Ini bukan waktu yang tepat untuk—“
“Ini saat yang tepat, Mr. Roux. Aku tidak tahu apakah bisa keluar dari sana hidup-hidup. Aku ingin memastikan kamu bisa menjaganya dengan baik,” sela Hiro cepat.
Ia tidak mau memberi kesempatan kepada Andrew untuk mengelak. Saat ini, satu-satunya harapan bagi Keiko adalah Andrew, jadi ia tidak akan repot-repot memikirkan ego dan harga diri. Baginya, yang paling penting adalah keselamatan Keiko.
Di kursi depan, Jovanka menahan napas. Dugaannya benar, ada sesuatu antara Andrew dan gadis Jepang itu! Ia mengepalkan tangan kuat-kuat. Meski kesal, Jovanka tetap menatap lurus ke depan dan bersikap seolah tidak mendengar percakapan di belakangnya.
Mobil yang mereka tumpangi memasuki kawasan Shinjuku, lalu tak lama kemudian berbelok memasuki pelataran Zeotrope. Andrew masih tetap diam. Ada banyak yang ingin ia sampaikan, tapi waktunya benar-benar tidak tepat. Selain karena ada Jovanka yang sudah pasti mendengar pembicaraan ini, mereka juga sudah sampai di tujuan. Lebih cepat semua urusan ini selesai akan lebih bagus. Mereka bisa duduk dan berbicara setelah kembali ke markas nanti. Mungkin ia akan menegosiasikan masa hukuman Hiro dengan Mr. Tanaka karena pria di sampingnya itu sangat kooperatif.
“Kita sudah sampai,” ujar Andrew seraya membuka pintu, “Aku akan memberi aba-aba kalau sudah di dalam.”
“Aku tidak akan turun dari mobil ini sebelum kamu berjanji,” balas Hiro dengan suara yang jernih dan tenang. Ia tidak akan ke mana-mana meskipun orang-orang ini menodongkan moncol senjata ke langit-langit mulutnya.
Satu kaki Andrew yang sudah keluar melayang di udara. Semua gerakannya terjeda sesaat sebelum akhirnya ia berbalik dan membalas tatapan Hiro yang menuntut jawaban.
“Aku bersumpah akan menjaganya dengan baik. Bukan karena permintaanmu, tapi karena aku mencintainya. Apakah jawaban ini cukup membuatmu puas, Tuan Kobayashi?”
Mendengar jawaban itu, alih-alih merasa marah, Hiro justru terkekeh pelan dan bergumam, “Aku sudah menduganya. Tatapanmu itu, bukan tatapan yang biasa diperlihatkan oleh orang asing. Baik. Kali ini, mati pun aku tenang ....”
“Tidak akan ada yang mati. Bersiaplah!” seru Andrew sebelum turun dari mobil.
Ia langsung berjalan menuju pintu masuk yang dijaga oleh setengah lusin pria bertubuh kekar dan penuh tato. Setelah dipindai dan menunjukkan kartu member, Andrew melangkah memasuki ruangan temaram yang dipenuhi dengan dekorasi berupa memorabilia film fantasi dan sci-fi itu.
Lautan manusia sudah memenuhi lantai dansa meski belum terlalu malam. Beberapa pengunjung duduk di meja-meja yang berderet di depan bar, saling berteriak dan melontarkan lelucon-lelucon kotor. Andrew merangsek perlahan di antara kerumunan. Ia memesan whiski seri Malt car Ichiro yang cukup langka kepada bartender, lalu memilih untuk duduk di salah satu meja yang masih kosong.
Ia menyesap minuman dalam gelas perlahan mengedarkan pandangan, mencoba menemukan tanda-tanda keberadaan anak buah Robert. Mencari di antara gerombolan manusia yang sangat banyak bukan perkara yang mudah. Untunglah ada Jimmy yang membantu Andrew melakukan tugasnya.
Andrew mengeluarkan kartu bridge yang ia bawa dan menatanya di atas meja. Tangannya tidak terlihat sengaja ketika menyenggol ujung kartu hingga beberapa di antaranya jatuh ke lantai. Ketika menunduk untuk mengambil kartu yang jatuh, ia melirik sekilas ke arah kanan. Dua orang pria yang memiliki lipatan sapu tangan kuning berbentuk segitiga di saku jas mereka sedang berdiri di ujung anak tangga.
“Bagus. Sepertinya ini akan berhasil pada percobaan pertama,” ujar Andrew seraya kembali bangun dan meletakkan kartunya ke atas meja.
Ia memutar bulatan kecil di pinggir jam tangannya dan berkata, “Bawa umpan masuk.”
“Copy,” jawab Jovanka dari alat komunikasi. Ia turun dan membukakan pintu mobil untuk Hiro.
“Jangan macam-macam kalau ingin gadismu tetap aman,” ancamnya sebelum memberi jalan untuk Hiro.
Hiro mendengkus pelan dan menjawab, “Aku tidak akan melepaskanmu kalau sampai dia terluka.”
“Cepat jalan!” seru Jovanka seraya memelototi pria di hadapannya.
Hiro merapikan jasnya dan berjalan pelan ke dalam Zeotrope. Para pengawal memberinya jalan tanpa memeriksanya lebih dulu. Mereka sudah mengenal Hiro yang hampir setiap minggu datang ke sana. Lagipula, bisa dibilang Zeotrope adalah salah satu anak perusahaan yang “dikuasai” oleh keluarga Kobayashi.
Pria itu melangkah tanpa ragu-ragu, memasuki ruangan yang penuh dengan ingar-bingar musik dan aroma minuman beralkohol. Wanita-wanita bertubuh ramping dan seksi meliuk-liuk di atas panggung dengan pakaian yang minim, sedangkan para pria berteriak-teriak dan melontarkan kata-kata yang tidak senonoh. Air muka Hiro tidak berubah, seolah semua hiruk-pikuk itu tidak mengganggunya sama sekali.
Andrew menoleh sekilas ke arah pintu masuk, terus mengikuti tiap langkah Hiro dengan ekor matanya. Ia baru saja akan mengkonfirmasi kepada Jovanka bahwa Hiro sudah tiba ketika tiba-tiba mejanya dikelilingi oleh beberapa pria bersenjata. Moncong-moncong pistol itu di arahkan ke kepalanya.
“Tuan ingin bertemu denganmu,” ujar salah seorang pria itu dengan wajah datar tanpa ekspresi.
“Benarkah? Siapa tuan kalian?” tanya Andrew seraya menyunggingkan seulas senyum tipis.
“Jangan banyak bicara! Cepat bangun!” bentak pria itu lagi sambil mengarahkan gagang pistol ke arah Andrew.
“Baiklah. Di mana tuanmu?”
Andrew berkelit cepat dan segera bangun. Untuk saat ini, ia harus mengulur waktu sebelum Robert bertemu langsung dengan Hiro. Jadi ... mau tidak mau, ia harus mengalah dan menuruti kemauan mereka.
***