
Sudah lebih dari enam jam Keiko berlutut. Gadis itu berlutut hingga paha dan betisnya mati rasa. Matanya merah dan bengkak, tapi air matanya tidak mau berhenti. Semua kenangan bersama sang ayah bermunculan dalam kepalanya, mengirimkan rasa manis dan pahit yang asing. Tenggorokannya seolah disumpal bongkahan kapas yang membuatnya merasa sangat tidak nyaman.
Keiko sangat ingin memejamkan mata, berharap semua hal yang ia alami beberapa hari terakhir hanyalah mimpi ketika ia kembali membuka mata.
Ia sangat ingin semuanya kembali seperti semula ketika terbangun nanti. Bahkan meski ia tidak mencintai Hiro, ia masih berharap mereka baik-baik saja setelah melakukan pertunangan beberapa minggu lalu. Setidaknya, ayahnya masih akan tetap hidup, bukan?
Sayangnya, ia tahu itu semua tidak mungkin. Alam bawah sadarnya berharap seperti itu, tapi akal sehatnya terus mengingatkan bahwa mau tidak mau, suka atau tidak suka, situasi seperti ini pasti akan tetap terjadi suatu saat nanti.
Mungkin tidak sekarang, tapi satu minggu, dua bulan, tahun depan? Ini hanya masalah penundaan waktu saja. Orang-orang itu sudah menargetkan ayahnya dan Tuan Kobayashi, sudah pasti tidak akan ada jalan keluar. Saat itu, jika tidak ada Andrew Roux, maka ... bukankah nyawanya juga sudah hilang?
Keiko mengerjap beberapa kali ketika suara ketukan di pintu samar-samar mengusik indera pendengarnya. Ia menajamkan telinga, lalu mendengar suara Andrew yang sepertinya cukup cemas memanggil namanya dari balik pintu.
Gadis itu perlahan bergerak untuk bangun, dengan susah payah menumpu bobot tubuhnya di tepi meja dan duduk di atas ranjang. Cahaya matahari yang terpantul dari kaca jendela membiaskan cahaya keemasan. Rupanya sudah lewat dari tengah hari, tapi belum terlalu sore.
“Keiko ... apakah kamu baik-baik saja?” tanya Andrew lagi ketika tak kunjung mendapat respon dari gadis di dalam kamar. Di tangannya ada segelas susu hangat. Ia benar-benar sangat khawatir dengan kondisi Keiko.
“Ya. Tunggu sebentar,” jawab Keiko pelan. Suaranya terdengar serak dan kering.
Ia masih bersedih, tapi ada hal lain yang masih harus ia kerjakan. Abu ayahnya harus segera dilarung di laut. Gadis itu berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Ia menepuk-nepuk pipinya sebentar, lalu keluar dan membukakan pintu.
Andrew tertegun melihat penampilan Keiko yang menyedihkan. Sosok ceria dan bersemangat itu berubah kusam dan layu. Dengan hati-hati Andrew menyodorkan gelas di tangannya sambil berkata, “Ini, minumlah dulu.”
Pria itu menatap lurus ke manik bulat di hadapannya dan melanjutkan, “Aku sudah menyiapkan beberapa hal untuk ... um, kamu bisa memeriksanya nanti kalau sudah merasa lebih baik. Kalau ada hal lain yang kamu perlukan untuk prosesi itu, katakan saja kepadaku atau Kim.”
Keiko membalas tatapan Andrew yang tampak tulus. Jari-jari ramping gadis itu terulur untuk menerima gelas keramik yang diserahkan kepadanya seraya bergumam pelan, “Terima kasih atas semua kebaikanmu. Aku akan membalasnya suatu hari nanti.”
Andrew terdiam sejenak sebelum menjawab, “Tidak perlu berterima kasih kepadaku. Anggap saja aku sedang membayar utangku kepadamu di masa lalu.”
Ia langsung berjalan menjauh sebelum Keiko sempat membalas ucapannya. Keiko terpana. Ia hanya bisa menatap punggung Andrew yang menjauh, lalu mencengkeram gagang gelas erat-erat.
Apa maksud pria itu? Apakah semua ucapannya mengenai reinkarnasi itu sungguh-sungguh?
Uap susu yang hangat dengan aroma manis menerpa wajah Keiko. Rasa hangat perlahan merambat ke dalam hatinya. Semua perhatian dan tingkah laku Andrew membuatnya merasa tidak sendirian. Masih ada orang yang peduli terhadapnya.
Gadis itu menutup pintu dan melangkah kembali ke dalam kamar. Ia berdiri di dekat jendela sambil menatap deburan ombak yang menghantam batu karang. Tangannya terangkat, membawa ujung gelas ke dekat bibir dan menyesap isinya pelan-pelan.
Dengan sangat hati-hati Keiko memutar cincin dan melepaskan benda itu dari jarinya. Ia mengangkat benda itu, lalu membaca huruf dan simbol yang terukir di bagian dalam cincin. Ia baru menemukan ukiran itu minggu lalu, saat tidak sengaja melepasnya saat hendak mandi.
Ayahnya selalu berpesan agar ia menjaga cincin itu dengan hati-hati, jangan pernah memberikannya kepada siapa pun. Saat itu ia berpikir sang ayah berkata seperti itu hanya karena ingin ia menyimpan benda itu dengan baik. Namun, sekarang sepertinya arti benda itu tidak sesederhana yang ia pikirkan.
Ia sudah memutuskan, setelah menyebar abu ayahnya di laut, ia akan mulai menyelidiki orang-orang yang mengkhianati ayahnya dan Hiro, lalu membalaskan dendam keluarga Sakamoto dan Kobayashi. Mungkin ia bisa mulai menyelidiki dari cincin ini. Mengenai bagaimana caranya ... akan ia pikirkan nanti. Sekarang yang penting adalah mengurus abu ayahnya lebih dulu.
Gadis itu memakai kembali cincinnya, lalu menghabiskan susu dalam gelas. Ia menatap guci abu di dekatnya dengan nanar. Tekadnya sudah bulat, ia akan menuntut balas kepada mereka yang sudah membunuh anggota keluarganya dengan cara yang sangat kejam. Satu per satu, mereka akan menerima rasa sakit yang sama.
Suara ketukan kembali membuyarkan lamunan Keiko. Ia bergegas membuka pintu, mengira Andrew Roux kembali untuk mengatakan sesuatu. Namun, rupanya Kim yang datang. Wanita itu membungkuk sopan ketika melihat Keiko berdiri di hadapannya.
“Nona, ini disiapkan oleh Kapten untuk Anda,” ujar Kim sambil menyerahkan sebuah papper bag kepada Keiko, “Kalau ada hal lain yang Anda perlukan, silakan katakan kepada saya.”
“Baik, terima kasih,” jawab Keiko seraya menerima kantung yang diserahkan kepadanya.
Gadis itu segera ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya dengan cepat, lalu mencoba setelan hitam yang ada dalam papper bag. Ukurannya sangat pas, terlihat sederhana dan tidak berlebihan, tapi tetap meninggalkan kesan berkelas. Ada juga sebuah bross mutiara yang mungil dan elegan di dalam tas itu. Keiko mengambilnya dengan hati-hati dan menyematkannya di dada. Tanpa sadar sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas. Dapat dikatakan selera Andrew Roux sangat bagus, hampir sama dengan seleranya sendiri.
Tidak menunggu lama, Keiko merapikan rambut dan memoles sun screen ke wajahnya, tanpa bedak atau perona pipi. Ia juga hanya mengoles sedikit pelembab bibir, lalu berjalan keluar sambil membawa guci abu milik ayahnya. Ia memaksakan selusa senyum tipis ketika melihat Andrew dan Kim sudah menunggunya di ruang tamu.
Andrew merasa sedikit lebih baik ketika melihat lengkungan halus yang sempat tersungging di bibir Keiko. Setidaknya, penampilan gadis itu sudah tidak sekacau tadi. Selain itu, ia senang karena baju yang ia belikan sangat cocok dipakai oleh Sakamoto Keiko.
“Sudah merasa lebih baik?” tanya Andrew.
Keiko mengangguk dengan mantap sembari bergumam, “Hum, lumayan. Terima kasih.”
“Bagus. Ayo, kapal sudah menunggu di dermaga.”
Sekali lagi Keiko mengangguk dan berjalan dengan patuh di belakang tubuh Andrew. Siluet yang tinggi dan kokoh di hadapannya itu memberi rasa aman dan nyaman yang tak terungkapkan. Perlahan-lahan keraguan Keiko terhadap Andrew semakin berkurang. Salah satu penyebabnya adalah karena ia mengingat perkataan Hiro saat pertemuan terakhir mereka.
Hiro dengan jelas mengatakan bahwa Andrew menyukainya. Sebagai seorang pesaing, tidak mungkin Hiro asal bicara kalau tidak cukup yakin akan kredibilitas rivalnya. Ia yakin Hiro tidak akan memercayakannya kepada sembarang orang.
Seringai tipis kembali menghiasi wajah Keiko. Cahaya matahari sore terasa hangat, menjalar hingga ke dalam hatinya. Ternyata diperhatikan oleh seseorang rasanya tidak terlalu buruk.
***