
Andrew menerobos kerumunan orang di lobby. Situasi benar-benar kacau di luar. Pria-pria berseragam semi militer tampak berdebat dengan beberapa petugas polisi. Ada Jimmy di antara kerumunan itu, tampak berusaha menjadi perantara bagi kedua belah pihak. Andrew merasa lega karena rekannya itu baik-baik saja. Hanya Clark yang belum bisa dihubungi.
Sambil berjalan menuju mobil Bentley yang tadi mengantarnya, Andrew mencoba menghubungi sahabatnya itu sekali lagi. Namun, hasilnya tidak seperti yang ia harapkan. Alat komunikasinya tidak berfungsi sama sekali. Ponsel pribadinya terjatuh entah di mana, ia tidak mau membuang waktu dengan mencari benda itu di antara puing-puing dalam gedung.
Andrew setengah berlari menghampiri salah satu anak buah Mr.Tanaka yang bertugas sebagai supir, lalu berkata, “Pinjami aku ponselmu.”
Pemuda itu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel miliknya dan menyerahkannya kepada Andrew. “Silakan, Tuan,” ujarnya dengan sopan.
“Terima kasih,” kata Andrew sebelum menekan kombinasi angka yang sudah dihafalnya. Sambil menunggu panggilannya terhubung, ia masuk ke dalam mobil dan memberi isyarat agar pria yang duduk di balik kemudi untuk segera menjalankan kendaraan itu.
“Di mana posisimu?” tanya Andrew ketika mendengar suara Clark dari ponsel.
“Drew?” balas Clark dari ujung telepon, “Aku masih di kediaman keluarga Kobayashi. Benar-benar kacau. Semuanya terjadi dengan cepat. Aku tidak bisa menyelamatkan mereka. Kudengar Sakamoto Zen juga ... kamu harus memberi tahu gadis itu ....”
Suara Clark terdengar sedikit panik. Andrew seolah bisa melihat raut bersalah di wajah sahabatnya itu. Dia pasti merasa gagal karena tidak bisa menjalankan misi dengan baik. Ia bisa mengetahuinya karena kondisinya di sini pun sama kacaunya dengan keadaan Clark. Ia gagal melindungi Hiro dan tidak dapat menangkap Robert. Ryuchi ... bedebah itu menghilang entah ke mana.
“Aku mengerti. Tenangkan dirimu,” ujar Andrew seraya memelankan nada suaranya, “Ada yang tidak beres dalam misi kali ini. Kamu berhati-hatilah. Aku akan kembali ke markas untuk memeriksa keadaan Keiko. Akan kukabari lagi nanti.”
Setelah memutuskan sambungan telepon, Andrew mengembalikan ponsel itu kembali kepada pemiliknya
“Terima kasih,” ujarnya lagi sambil menatap mobil-mobil kepolisian yang semakin banyak berdatangan, “Tolong antarkan aku ke pusat pengobatan.”
“Baik, Kapten,” jawab pria itu seraya membelokkan setir ke arah kanan di persimpangan jalan.
Mobil melaju cepat, menyalip kendaraan lain dengan gesit. Andrew mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas paha sambil berpikir keras. Kerutan di keningnya bertambah banyak ketika ia mencoba mencari simpul rumit yang mengaitkan semua kasus ini satu per satu. Hiro benar, pasti ada orang dalam yang membocorkan rencana mereka kepada Robert sekaligus Ryuchi, kalau tidak ... mana mungkin dua orang itu muncul di saat yang tepat. Anak buah Robert bahkan langsung mengenalinya dan menggiringnya untuk bertemu dengan pemimpin mereka. Akan tetapi, mengapa orang itu mengirim Ryuchi juga?
Andrew berusaha berpikir dari sudut pandang si pengkhianat. Apa yang akan didapatkannya, atau sedang diincarnya sampai berani bertaruh seperti ini? Kalau sampai rencananya gagal, bukan orang-orang pemerintah saja yang mengincarnya, tapi juga para mafia ... tunggu, bukankah Hiro mengatakan bahwa Ryuchi sudah memiliki stempel keluarga Kobayashi dan Sakamoto?
Apakah si pengkhianat juga mengincar hal yang sama? Jika dia berhasil mendapatkan benda itu, bukankah dia bisa menjadi penguasa dalam dunia hitam dan putih? Menjadi ketua mafia tapi juga tetap menjadi anggota EEL. Benar-benar licik ... hum, pantas saja Mr.X memintanya untuk turun langsung dan mengawasi di lapangan ....
“Kapten, kita sudah sampai.”
“Hum.”
Andrew turun dan segera menuju pintu masuk. Ia mendekat ke kotak persegi dan mendekatkan wajahnya di depan scanner.
Bip.
Bip.
Bip.
Access Denied.
Andrew mendekatkan wajahnya sekali lagi, tapi siapa sangka hal itu justru memicu alarm level satu yang menandakan adanya bahaya. Seluruh tubuh Andrew menegang ketika melihat satu kompi pasukan mendekat ke pintu masuk. Ekspresi wajah mereka tidak terbaca, membuat insting Andrew waspada.
“Kapten Roux, Mr.Tanaka ingin bertemu dengan Anda,” ujar pria yang berdiri paling depan, “Silakan ikuti kami.”
Meski benaknya dipenuhi banyak tanya, Andrew mengekori pria itu tanpa banyak tanya. Ia tahu mereka hanya menjalankan perintah. Pria-pria bersenjata itu mengantarnya ke ruangan Mr.Tanaka seperti sedang mengawal seorang tahanan. Hal itu membuat Andrew semakin yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.
“Sir,” sapa Andrew setelah membuka pintu dan mendapati Mr.Tanaka sedang berdiri membelakanginya.
Pria tua itu membalikkan tubuh dan menatap tajam ke arah Andrew sebelum bertanya, “Kenapa meninggalkan pasukanmu di sana?”
“Kobayashi Hiro memberitahuku bahwa asistennya telah memiliki dua stempel keluarga dan sedang mengincar nyawa Sakamoto Keiko, oleh karena itu aku—"
“Bagaimana kamu bisa yakin pada pria itu?” sela Mr.Tanaka tanpa mengalihkan tatapannya yang dingin.
“Dia tidak mungkin berbohong. Dia terluka parah akibat tembakan asistennya dan—“
“Kalau begitu jelaskan padaku, di mana pria yang terluka parah itu? Jovanka tidak menemukan siapa pun dalam ruangan itu selain mayat-mayat anak buah Robert!” teriak Mr.Tanaka sambil menggebrak meja sehingga menimbulkan gema yang keras dalam ruangan itu.
Andrew terhenyak dan berseru, “Apa?!”
Bagaimana bisa? Jelas-jelas pria itu hampir kehabisan darah, tidak mungkin menghilang begitu saja.
“Sir, untuk bangun saja pria itu tidak bisa. Tidak mungkin dia menghilang begitu saja, kecuali ada yang membantunya.”
Mr.Tanaka menekan meja dengan kedua tangannya, lalu menatap Andrew dengan sorot yang membara.
“Satu-satunya orang yang terakhir kali melihatnya adalah dirimu.”
Mendengar perkataan itu membuat Andrew sadar, seseorang baru saja menjebaknya. Dan ia dengan bodohnya masuk ke dalam perangkap itu.
Sial.
***
Haiii....
semoga kalian suka ☺
jangan lupa like dan vote yaa, terima kasih...