
Seperti ada meteor yang melintas di balik kelopak matanya, sekelebat cahaya putih yang menyilaukan membuat Keiko berkedip. Ketika membuka mata kembali, ia seolah masuk ke dimensi yang berbeda. Dari dekat, ia bisa melihat kilau cincin yang terpantul karena cahaya matahari pagi. Di tepi danau, Andrew sedang berlutut dan melamar ... tunggu, itu bukan Andrew ....
Keiko gemetar. Gadis di depan sosok yang mirip Andrew itu terlihat persis seperti dirinya, tapi juga seolah merupakan sosok yang berbeda. Apa yang kedua orang itu bicarakan, ia bisa mendengar semuanya dengan sangat jelas. Ia merasa seperti sedang bermimpi, tapi juga terasa sangat nyata.
“Baby?”
Andrew mengguncang tubuh Keiko pelan. Gadis itu seperti sedang menatap lurus ke arah sebuah titik yang tak kasat mata dengan sangat fokus.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya lagi ketika menyadari reaksi Keiko yang sedikit aneh.
Dalam satu tarikan napas panjang, kesadaran Keiko kembali. Seolah baru saja menyelam jauh ke dasar samudra, napasnya termengah-mengah. Tulangnya kehilangan daya untuk menopang tubuhnya dengan kokoh sehingga limbung dan hampir jatuh.
“Hey, apa yang terjadi kepadamu?” Andrew menopang tubuh Keiko dengan sigap, sedikit panik karena keanehan yang ditunjukkan oleh kekasihnya itu.
“Ayo, masuk dan duduk sebentar,” sambungnya lagi seraya menuntun Keiko untuk kembali masuk ke dalam.
Ia mendudukkan Keiko di sofa, kemudian akan berbalik menuju pantry untuk mengambilkan minuman. Akan tetapi, Keiko mencekal pergelangan tangannya dengan erat, mencegahnya untuk pergi.
“Aku melihatmu,” gumam Keiko pelan.
Gadis itu mendongak untuk membaca ekspresi di wajah Andrew sebelum melanjutkan, “Aku melihat kita ... maksudku mereka. Mereka berdua sangat mirip dengan kita. Apakah itu yang kamu maksud dengan kehidupan masa lalu kita? Hal seperti itukah yang kamu lihat?”
Sorot mata Andrew dipenuhi dengan keterkejutan. Ia berjongkok dan menggenggam jemari Keiko dengan hati-hati, kemudian bertanya dengan penuh harap, “Remember me, Baby?”
Mata Keiko mengembun ketika ia mengangguk pelan. Hidungnya terasa pedih dan masam. Pria di hadapannya ini ... cinta macam apa yang dia miliki sehingga seluruh semesta mengabulkan permintaannya. Berapa lama waktu yang pria itu habiskan untuk mencari dirinya? Berapa banyak tenaga dan materi yang sudah dia korbankan?
Wajah Andrew mengabur dalam pandangan Keiko, terhalang oleh gumpalan air yang membuat kelopak matanya terasa berat. Gadis itu mengerjap, membuat dua bulir bening bergulung menuruni pipinya, susul menyusul seperti butiran salju di musim dingin. Ia ingin membuka mulut dan mengatakan sesuatu, tapi gelombang memori itu terus menghantam kepalanya tanpa henti. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana perasaannya terhadap pria itu dulu ... pada suatu waktu ... ketika semuanya harus berakhir dengan sangat menyakitkan.
“Baby, jangan menangis lagi ... aku di sini, aku menemukanmu. Selalu akan menemukanmu. Kita akan baik-baik saja, berhenti menangis, ya ...,” bujuk Andrew sambil mengulurkan tangan untuk memeluk Keiko.
Ia mendekap Keiko dengan sangat erat, seakan ingin menyatukan tubuh mereka agar tidak terpisah lagi. Ia mengusap-usap pundak gadis dalam pelukannya itu dengan penuh rasa sayang. Rasa dalam hatinya kini benar-benar tak dapat dijelaskan dengan kata-kata, terharu karena akhirnya Keiko mengingat semuanya, juga bahagia yang membuncah sampai-sampai ia merasa jantungnya sudah hampir meledak karena terlalu bersemangat. Dadanya terasa penuh dan sesak karena sukacita
“Terima kasih sudah mencari dan menemukanku,” ujar Keiko dengan suara yang serak.
“Terima kasih karena sudah memberiku kesempatan,” balas Andrew tanpa melepaskan pelukannya, menciumi puncak kepala kekasihnya tanpa henti.
Ia sama sekali tidak menyangka jika inisiatif kecilnya untuk membawa Keiko ke tempat itu akan berdampak sangat besar. Beban berat yang selama ini menghimpit hatinya terangat sudah. Ia benar-benar merasa lega dan bahagia.
“Maafkan aku karena tidak mengenalimu sebelumnya. Maafkan aku karena sempat meragukanmu. Aku pasti sudah membuatmu sangat menderita ....”
“Tidak apa-apa, Baby. Tidak perlu meminta maaf, itu bukan kesalahanmu.”
Keiko benar-benar merasa menyesal karena tidak mengingat Andrew sebelumnya. Memang beberapa kali kilasan itu pernah muncul ketika ia bersentuhan dengan Andrew, tapi ia pikir itu hanya kebetulan belaka. Namun, kali ini, ia tidak akan pernah meragukan Andrew lagi. Selamanya tidak akan.
Ia menghisap bibir Andrew dengan keras hingga pria itu mengerang, lalu menyusupkan lidahnya ke dalam, mencicipi rasa manis dari setiap bagian yang tersentuh olehnya. Bibirnya membujuk dan merayu, kemudian mendesah pelan ketika Andrew membalasnya dengan sangat antusias.
Dalam pelukan Keiko, tubuh Andrew berubah menjadi magma yang menggelegak, panas dan membara. Seluruh pori-porinya terbuka, membuat uap air keluar dan berkumpul seperti butiran mutiara yang berpendar di permukaan kulit. Air mata Keiko yang asin bercampur dengan saliva yang entah milik siapa, tapi ia tidak peduli, hanya terus membalas pagutan dari gadisnya yang membuatnya meletup-letup dalam rasa bahagia dan cinta.
Keiko menjauhkan wajahnya ketika paru-parunya sudah tak kuasa menampung karbondioksida. Ia menatap Andrew dengan senyum lebar di wajahnya, mengatur deru napas yang terengah agar mereda, kemudian berkata, “Aku bersedia, Mr.Roux ....”
Mata Andrew membola, sedikit terkejut dan menatap kekasihnya yang tampak bercahaya seperti peri, lalu bertanya dengan sedikit rasa tidak percaya, “Kamu yakin?”
Keiko mengangkat wajahnya dan mencium pipi Andrew sekilas. “Seratus persen,” jawabnya sambil tersenyum manis.
Binar di mata Andrew tak kalah memesona dan bercahaya ketika mendengar jawaban Keiko. Kalau bukan karena gengsi, mungkin ia sudah akan melompat dan berlari keliling ruangan itu sambil berteriak seperti orang gila.
Tangan pria itu sedikit gemetar ketika mengeluarkan kembali cincin yang tersimpan di saku jasnya, lalu menyematkan benda itu di jari manis Keiko. Lengkungan di bibirnya seolah hampir mencapai batas telinga ketika melihat cincin itu sangat pas di jari manis Keiko.
“Cantik sekali,” pujinya dengan sungguh-sungguh.
Keiko menatap cincin di jari manisnya dengan takjub. Benda itu memang terlihat sangat cantik dengan taburan permata yang sangat indah.
“Memang sangat cantik. Terima kasih," balas Keiko dengan tulus.
“Tidak, maksudku kamu yang sangat cantik. Bahkan saat menangis pun tetap cantik.”
Keiko ingin membantah, tapi saat ia mendapati seringai bodoh di wajah Andrew, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
“Terima kasih, pacarku juga sangat tampan.” Keiko balik memuji dengan wajah semringah, “Aku sangat mencintaimu.”
“Benarkah?” tanya Andrew sedikit tidak mempercayai pendengarannya. Selama ini, Keiko hampir tidak pernah memujinya secara terang-terangan, apalagi menyatakan cinta.
“Um, aku mencintaimu, Andrew Roux ... sangat ....”
Pagi itu, ketika akhirnya cahaya matahari benar-benar menerangi seluruh daratan, senyum Andrew Roux adalah yang paling bersinar di antara semuanya.
***
Bonus untuk kalian, kesayangan aku🥰
Jangan lupa like, komen, dan vote yang banyakkk
mwuahhh!!!