
Saat tiba di pelataran Berlyn’s Club, seorang valet langsung menyambut dan membawa pergi mobil Hansel, sedangkan seorang pria berjas hitam langsung menyambutnya di pintu masuk.
Hansel mendongak sekilas. Bangunan berwarna hitam dengan corak merah tua itu sangat tinggi, mungkin lebih dari 50 lantai, lebih terlihat seperti apartemen daripada bar.
“Member atau pertama kali, Tuan?” tanya pria itu dengan sopan.
“Pertama kali,” jawab Hansel singkat.
“Bagaimana kalau kami menawarkan kartu member untuk Anda? Ada banyak fasilitas yang bisa Anda gunakan, salah satunya adalah dapat memiliki ruang VIP sendiri sehingga tidak perlu bercampur dengan tamu yang lain.” Pria berjas itu mengarahkan Hansel untuk berjalan menuju meja resepsionis.
Hansel mengangkat alisnya. Bukankah itu sama saja dengan klub yang lain?
Seolah mengerti apa jalan pikiran Hansel, pria di depannya segera menambahkan, “Anda berhak menikmati apa pun yang ada dalam ruang VIP, juga mendapat fasilitas berupa kamar pribadi di lantai atas club yang bisa Anda gunakan kapan saja.”
Oh ... pantas saja ....
Hansel tersenyum simpul. Penawaran ini cukup menarik. Ia menerima brosur yang diserahkan oleh seorang gadis cantik berseragam tosca, membacanya sekilas, lalu menyetujui untuk menjadi member Berlyn’s Club. Semuanya dilakukan dengan sangat cepat. Ia bahkan tidak keberatan sama sekali dengan harga kartu keanggotaan yang hampir mencapai angka 1 milyar per tahun. Ia punya uang dan hidup sendiri, nikmati saja ... kalau habis, cari lagi ....
Pria itu mendekatkan wajahnya ke pimindai retina, menunggu hingga mesin mengeluarkan bunyi “bip”, lalu voila, sudah selesai. Ia mendapat sebuah kartu berwarna emas yang berukuran sekitar 3 x 4 sentimeter sebagai kartu identitas member. Nomor keanggotaannya itu juga tersambung langsung ke ponselnya. Si gadis cantik lalu menjelaskan di mana ruang VIP dan kamar pribadinya dengan ringkas.
“Terima kasih, Tuan Hansel. Semoga Anda berkenan dengan pelayanan kami,” ujar pria berjas yang membantu seluruh proses dari awal sampai akhir.
“Sama-sama.”
Hansel memasukkan kartu member ke dalam dompet, sekaligus menarik 10 lembar uang dan menyerahkannya kepada pria itu dan gadis resepsionis.
Tanpa malu atau ragu, pria berjas itu menerima lembaran uang yang diserahkan kepadanya dan membungkuk semakin dalam. Dengan bersemangat ia pun mengantar Hansel menuju lift dan memberi tahu sekali lagi bahwa ruangannya berada di lantai 20, ruangan nomor 12B.
Hansel mengangguk sekilas, lalu masuk ke dalam lift. Kotak besi itu tampak penuh. Setidaknya ada enam orang di dalam. Awalnya Hansel acuh tak acuh, fokus pada angka-angka di depannya. Namun, saat salah seorang wanita di sampingnya menyebutkan sebuah nama yang familiar, seolah ada antena di kepalanya yang langsung berdiri tegak dan mencari sinyal.
“Maksudmu Cecille putri Marquess of Alrico?” tanya seorang gadis berambut cepak dengan mata membulat, menatap teman di sampingnya dengan ekspresi tak percaya.
“Ya. Itu yang aku dengar,” jawab temannya dengan yakin, “Natalie bilang gadis itu akan membuka party di hall utama malam ini, semua orang diundang untuk datang.”
“Dasar gadis bangsawan gila.”
“Yeah, kudengar sekarang dia sedang mengoceh.”
“Mengenai Andrew Roux.”
“Siapa lagi? Hanya pria itu yang bisa membuat Cecille menjadi sinting.”
“Dasar tidak tahu malu. Bukankah dia datang ke pernikahan pria itu dua hari lalu?”
Kedua orang perempuan itu terkekeh dan lanjut bercakap-cakap, tidak sadar jika semua perkataan mereka didengar oleh pria yang berada di sisi kanan mereka.
Hansel mengeratkan giginya. Bagus sekali. Gadis sialan itu ada di sini juga, bahkan membuka party untuk semua orang. Benar-benar gadis kurang diajar. Lihat bagaimana ia memberinya pelajaran nanti.
Pria itu mendengkus dan berjalan keluar ketika lift berhenti di lantai 20. Saat melihat seorang petugas keamanan di depan pintu lift, Hansel menghampirinya dan menanyakan di mana letak hall utama.
“Ada di lantai ini, Tuan,” jawab pria itu seraya menunjuk ke lorong sebelah kiri, “Anda tinggal berjalan lurus, nanti ada sebuah pintu merah besar di ujung.”
Bagus sekali. Tidak perlu jauh-jauh mencarinya ....
Setelah mengucapkan terima kasih, Hansel berderap menuju lorong yang ditunjukkan oleh petugas tadi. Namun, belum separuh perjalanan, pria itu tiba-tiba berhenti. Jika ia muncul sekarang, apakah Cecille akan menuduhnya sebagai penguntit? Padahal jelas-jelas ia tidak sengaja datang ke sini.
Hansel mengepalkan tangan lalu memutar tubuhnya. Mungkin lebih baik kalau sekarang ia pergi ke ruangan VIP-nya lebih dulu, keluar setelah party dimulai sepertinya tidak akan terlalu mencolok. Ia mengamati angka penunjuk di depan pintu-pintu yang berjejer rapi, lalu dengan cepat menemukan angka 12B di sayap kanan. Ia mendekatkan wajah ke pemindai retina, tak lama kemudian lampu berubah hijau dan pintu bergerak terbuka.
Ruangan luas dengan nuansa merah dan hitam langsung memberi kesan mewah dan privat. Lampu yang tidak terlalu terang, tapi juga tidak terlalu redup memberi kesan intim dan rahasia. Ada kabinet kayu dan mini bar berisi aneka minuman di sisi kanan, sebuah sofa kulit berwarna hitam di sisi kiri dengan model letter L, juga sebuah meja kaca dengan bingkai merah darah.
Ada sebuah pintu berwarna abu-abu di sebelah sofa. Hansel pergi ke sana dan membukanya. Rupanya itu adalah toilet merangkap kamar mandi yang juga dilengkapi dengan bathtub. Sangat bagus. Pantas saja harganya pun selangit.
Baru saja ingin duduk di sofa, terdengar bunyi “bip-bip” dari pintu. Dengan kening mengernyit, pria itu beranjak menuju pintu dan membukakannya. Ia mematung ketika mendapati seorang gadis belia bertubuh molek berdiri di depan pintunya.
“Siapa kamu?” tanyanya setelah pulih dari keterkejutannya.
“Selamat siang, Tuan Hansel. Saya adalah Lanny, pendamping Anda hari ini,” jawab gadis itu sambil tersenyum lebar. Mata bulatnya mengedip dengan sangat perlahan, memberi kesan imut dan menggoda.
“Aku tidak membutuhkanmu. “
Hansel ingin menutup pintu, tapi suara lembut gadis itu menghentikan gerakannya.
“Saya adalah bagian dari fasilitas keanggotaan Anda, Tuan.”
“Pergi.” Hansel membanting pintu tepat di depan hidung gadis itu.
Ia berjalan menuju sofa dan mengempaskan bokongnya dengan kesal. Ia sama sekali tidak tertarik dengan gadis mana pun saat ini. Otaknya sedang dipenuhi dengan rencana untuk party nanti ... rencana untuk membalas gadis sialan yang merusak suasana hatinya lalu pergi berpesta. Benar-benar ....
Tunggu.
Mata Hansel berkilat. Hampir seperti anak panah yang terlepas dari busurnya, pria itu melesat kembali menuju pintu dan membukanya lebar-lebar.
Untung saja gadis itu masih berdiri di sana.
“Masuk,” perintahnya seraya memberi isyarat agar gadis itu mengikutinya.
Lanny tersenyum cerah dan mengekori Hansel seperti seekor anak anjing yang bertemu majikannya.
“Duduk.”
Gadis itu duduk dengan patuh. Ini adalah tugasnya, melakukan apa pun yang diperintahkan oleh sang tamu tanpa mempertanyakannya sedikit pun.
“Siapa namamu tadi?”
“Lanny, Tuan Hansel.”
“Oke, Lanny. Temani aku ke hall utama nanti malam. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, bukan?”
Nanti malam? Hall utama?
Mata Lanny bersinar. Tentu saja ia tahu ....
“Mengerti, Tuan.”
Hansel mengangguk puas. Sempurna. Ia tidak perlu repot-repot mencari alasan lagi. Kalau ia membawa seorang gadis, tidak mungkin Cecille berpikir bahwa ia sedang menguntit, ‘kan?
Tanpa sadar seringai lebar muncul di wajahnya, benar-benar sudah tidak sabar menunggu sampai malam.
***