
Keiko menutup mata dan bersiap menerima rasa sakit yang akan mendera tubuhnya, tapi ia justru mendarat di atas permukaan yang tidak terlalu keras, juga tidak terlalu empuk. Perlahan ia membuka mata, lalu menyadari sedang berada di atas tubuh Andrew. Napas hangat pria itu terasa jelas menerpa lehernya. Namun, ada yang terasa aneh. Sambil menggertakkan gigi, gadis itu menurunkan pandangannya.
“Dasar mesum! Kamu memanfaatkan kesempatan!” teriaknya sambil melototi salah satu tangan Andrew yang berada tepat di atas dadanya, sedangkan wajah pria itu hampir menempel dengan lehernya.
“A-aku t-tidak ... ak-u hanya ....”
Andrew berusaha mengelak dan menarik wajahnya menjauh, tapi cukup sulit dengan posisi mereka sekarang yang tumpang-tindih di atas tanah. Terlebih lagi benda kenyal yang bersentuhan dengan telapak tangannya itu membuatnya tidak bisa berkonsentrasi dengan baik. Rasanya seluruh tubuhnya terbakar karena panas yang tiba-tiba menyerang inti tubuhnya, membuatnya tanpa sadar mengerang pelan.
“Diam!” Keiko berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri dan tidak melayangkan tamparan ke wajah Andrew.
Andrew hanya bisa pasrah karena tahu dirinya tidak bisa membela diri. Tangannya memang mendarat di tempat yang tidak tepat. Tadinya ia hanya ingin menahan agar tubuh Keiko tidak menabrak tubuhnya dengan keras. Sekarang menyangkal pun tidak bisa. Ia juga tidak tahu harus tertawa atau menangis karena ingatannya memberi tahu bahwa hal yang sama pernah terjadi di masa lalu. Akhirnya pria itu berhasil melepaskan tangannya setelah sedikit memiringkan tubuhnya dan Keiko mengangkat bahunya..
Keiko menumpu berat badannya pada kedua tangannya dan mencoba untuk bangun, tetapi salah satu kakinya tertindih oleh paha Andrew, sedangkan kaki yang lain berada di atas betis pria itu. Dilihat dari sudut mana pun, posisi ini benar-benar ... ah, sial!
“Aduh! Sepertinya kakiku terkilir,” gumam Keiko ketika merasakan pergelangan kakinya yang tertindih berdenyut nyeri setiap kali ia mencoba untuk bangun.
“Terkilir?” tanya Andrew dengan cemas, “Jangan bergerak, biar aku periksa.”
Pria itu membantu Keiko untuk bergeser dari atas tubuhnya dengan sangat hati-hati, lalu ia bangun dan menggulung kaki celana gadis itu. Pergelangan kaki Keiko memang terlihat memar dan bengkak.
Keiko meringis menahan sakit ketika Andrew menyentuh pergelangan kakinya. Benar-benar sangat sakit.
“Jangan sentuh,” ujarnya seraya mendesis pelan. Pergelangan kaki yang bengkak itu menjadi sangat sensitif terhadap sentuhan.
“Biarkan aku membantumu,” ujar Andrew seraya mengulurkan tangan, hendak menggendong Keiko yang masih menyeringai kesakitan di atas tanah.
“A-apa? Tidak perlu. Aku bisa ... hey, apa yang kamu lakukan?” protes Keiko ketika tubuhnya melayang sejenak sebelum berada dalam dekapan Andrew. Lagi-lagi wajahnya merona dengan cepat. Merah dan panas.
“Tenang sedikit. Kamu bisa membuat kita berdua jatuh lagi,” gerutu Andew pelan ketika Keiko terus meronta-ronta dalam gendongannya. Pria itu tiba-tiba melupakan rasa sakit di siku dan punggungnya karena menghantam tanah dengan cukup keras tadi.
Keiko mengacuhkan gerutuan Andrew. Ia terus menariki baju pria itu seraya berseru, “Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri.”
Keiko mendelik.
Apanya yang pria bermoral dan bermarbat? Benar-benar mesum!
Lagipula jika tadi Andrew tidak berusaha menolongnya, setidaknya ia akan jatuh dalam damai, tidak perlu merasa malu karena insiden yang tak terduga tadi. Keiko menggigit bibirnya untuk menahan kata-kata kasar yang mungkin bisa lolos dari bibirnya karena kesal. Benar-benar merasa sudah ternoda ... ingin menangis, hiks ....
“Tidak tahu malu,” desis gadis itu dengan suara pelan sebagai bentuk protes yang terakhir, lalu berhenti meronta dan berpegangan erat pada lengan Andrew.
Andrew mengulum senyum dan membalas, “Gadis pintar.”
Keiko mendengkus dan membuang muka, sama sekali tidak ingin peduli kepada pria itu lagi.
Hanya bisa mengancam dan menggodanya. Huh! Benar-benar menjengkelkan.
Diam-diam gadis itu mencuri pandang ke arah Andrew, lalu buru-buru membuang muka sebelum pria itu menyadarinya. Pernyataan cintanya tadi sungguh membuat Keiko bimbang. Bagaimana ia bisa memberi jawaban sekarang jika hatinya masih dipenuhi keraguan ... meski sebenarnya ia tidak mau menyangkal jika ia mulai tertarik kepada pria itu.
Ketika bersama Andrew Roux, Keiko merasa semua akan baik-baik saja. Tak peduli apa pun yang terjadi, ia yakin pria itu sanggup menjadi pelindungnya. Akan tetapi ... ia benar-benar belum bisa tenang kalau keberadaan Hiro pun belum bisa dipastikan. Apakah tunangannya itu masih hidup atau benar sudah meninggal? Ia tidak mungkin menjalin hubungan dengan siapa pun sebelum hubungannya dengan Hiro diputuskan.
Meski Hiro sendiri sudah memercayakan dirinya kepada Andrew, tapi Keiko takut tiba-tiba pria itu muncul dan ingin merebutnya kembali. Bagaimana jika saat itu tiba, ia sudah benar-benar jatuh cinta kepada Andrew. Apa yang harus ia lakukan nanti seandainya hal itu terjadi? Belum lagi masalah segel yang diincar semua orang. Jika semua beban ini belum hilang, bagaimana ia bisa memikirkan perasaannya dengan tenang.
Tanpa sadar Keiko mendesah pelan dan mengigit bibirnya. Kepalanya benar-benar pusing. Kalau mungkin, ia ingin menghilang saja ... pergi entah ke mana dan menjadi orang lain, menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja tapi penuh kedamaian.
Mendengar gadis dalam gendongannya mengembuskan napas pelan membuat Andrew penarasan. Ia menunduk dan mendapati mimik wajah gadis itu sungguh tidak baik. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya tertekan. Andrew ingin menanyakan apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu. Namun, saat pandangan mata pria itu secara tidak sengaja bergeser ke bawah, napasnya tiba-tiba tercekat.
Wajah Andrew memerah dengan cepat ketika melihat sesuatu yang menyembul dari balik kaus Keiko. Ingatan tentang gundukan lembut yang menempel dengan pas dalam genggamannya tadi kembali membuat salah satu bagian tubuhnya memberikan reaksi.
Andrew hampir tersedak. Buru-buru ia mengalihkan pandangan dan menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya sudah hampir meledak karena otaknya terus memaksakan ingatan-ingatan ketika ia menghabiskan berjam-jam di atas ranjang bersama Kinara Lee. Itu benar-benar sebuah kenangan yang tidak mudah untuk dilupakan.