Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Masih kurang dekat?



Melihat tingkah Keiko yang kembali merajuk membuat Andrew tertawa pelan. Ia mengulurkan tangan untuk melepaskan kalung yang selama puluhan tahun menemaninya ke mana-mana, menggenggamnya erat sebelum meraih tangan Keiko dan meletakkan benda itu di sana.


“A-apa ini?” tanya Keiko sedikit terkejut.


Ia ingin menarik kembali kembali tangannya, tapi Andrew lebih dulu menautkan jemari mereka dan menggenggamnya erat-erat. Keiko memaksa untuk melepaskan tangannya, tetapi cekalan Andrew semakin kencang mengunci pergelangan tangannya, tidak memberi celah untuk menghindar.


Keiko mendongak dan menatap Andrew dengan penuh rasa ingin tahu. Apa sebenarnya yang sedang dilakukan oleh pria itu?


“Sakamoto Keiko, dengarkan aku baik-baik. Jika aku tidak kembali, pergilah ke Paris. Aku sudah meminta pengacara untuk mengalihkan semua propertiku atas namamu. Kamu hanya perlu menandatanginya saja. Tunjukkan stempel yang ada pada mata kalung ini. Tidak akan ada yang menyulitkanmu, termasuk ayahku sekali pun.”


“Apa yang terjadi? Memangnya kamu mau pergi ke mana?” cecar Keiko, mulai merasa curiga melihat gelagat Andrew yang sedikit aneh. Raut wajah pria itu pun terlihat sangat serius, tidak ada kesan bahwa dia sedang bercanda.


Mendadak Keiko merasa khawatir. Perkataan Andrew membuat pikirannya berasumsi yang tidak-tidak. Apakah ada kemungkinan pria itu tidak akan kembali? Mengapa dia seolah sedang mengucapkan salam perpisahan?


Tidak. Tidak boleh.


Keiko pikir pria di hadapannya itu hanya akan pergi untuk mengontrol situasi. Bukankah begitu? Lalu mengapa sekarang mendadak menjadi seserius ini? Seolah dia akan pergi jauh dan mungkin tidak selamat. Jantung Keiko berdentam-dentam tak beraturan. Mimik acuh tak acuh di wajahnya menghilang, digantikan oleh sorot kecemasan yang tidak dapat ia tutupi. Gadis itu benar-benar cemas dan takut. Takut kalau Andrew benar-benar tidak kembali.


“Tidak apa-apa, jangan khawatir ... mungkin tidak seburuk yang aku pikirkan. Hanya untuk berjaga-jaga kalau ... kalau kita tidak bisa bertemu lagi ... carilah seorang pria yang baik untuk menemanimu, ya. Kamu harus berjanji untuk menjalani kehidupanmu dengan baik, dengan begitu aku bisa pergi dengan tenang. Berjanjilah. Aku mohon.”


“Kalau tidak terlalu buruk, mengapa kamu bicara omong kosong seperti ini?” cetus Keiko dengan suara yang sedikit gemetar, “Pergi sana! Jangan memintaku untuk berjanji yang tidak-tidak!”


Gadis itu merenggut paksa tangannya dan membuang muka, mencoba menghalau rasa panas yang membuat matanya mengembun. Pedih. Ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba merasa ketakutan seperti ini. Ia benar-benar takut jika Andrew Roux tidak akan kembali. Lalu, ke mana ia harus pergi? Ke mana ia harus pulang? Untuk apa mewariskan segalanya tapi meninggalkannya sendirian di dunia yang begini luas.


“Jangan menangis, aku tidak akan mati dengan mudah,” ujar Andrew ketika melihat satu bulir bening menetes dari pipi Keiko. Ia mengulurkan tangan untuk menyeka air mata itu, tapi Keiko menepisnya dengan keras.


“Aku tidak menangis! Sana pergi!” sangkal gadis itu dengan suara yang semakin serak. Bahunya bergetar karena menahan isak tangis. Kerongkongannya seolah tersumbat oleh gumpalan kapas, membuatnya semakin merasa tidak nyaman.


Ah, air mata sialan ini kenapa tidak mau berhenti? Lagipula, memangnya siapa dia sehingga aku harus menangisinya? Hanya seorang pria asing saja ....


Andrew menarik napas dalam-dalam. Ia sama sekali tidak menyangka jika Keiko akan merespon seperti ini. Apakah ini menandakan bahwa Sakamoto Keiko memiliki perasaan khusus untuknya?


“Keiko, katakan padaku ... apa kamu menyukaiku? Untuk terakhir kali, setidaknya ... beri aku kepastian agar aku bisa pergi dengan tenang,” ujar Andrew dengan hati-hati, bersiap jika gadis itu tiba-tiba membalikkan tubuh dan memukul kepalanya dengan bantal, atau meninjunya hingga terpental.


“Tidak suka!” jawab Keiko cepat.


Meski menjawab seperti itu, air mata Keiko justru semakin deras. Kedua tangannya terkepal erat. Ia tidak mau memikirkan kemungkinan jika harus kehilangan Andrew Roux, setelah ayahnya ... Hiro ... siapa lagi yang ia miliki kini?


Andrew menghela napas dan berkata, “Baiklah kalau begitu. Aku akan pergi ... sepuluh menit lagi ... kalau ... kalau kamu ....”


Pria itu tidak menyelesaikan perkataannya. Ia berdiri dan hendak berjalan keluar. Akan tetapi, sesaat sebelum mencapai daun pintu, ia mendengar suara berdebam dari belakang.


Ia tidak sempat berbalik untuk melihat apa yang terjadi saat tubuhnya tiba-tiba tersentak ke depan dengan cukup keras. Tak lama kemudian, dua lengan mungil yang cantik melingkari pinggangnya.


Andrew membeku, terlalu takut untuk bergerak. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kalau bukan karena napas hangat Keiko yang menembus masuk dari kemeja dan menggelitik punggungnya, ia pasti mengira dirinya sedang berhalusinasi saja. Namun, rasa hangat yang menjalar dari balik tubuhnya membuat pria itu yakin bahwa Keiko benar-benar sedang memeluknya.


Ia mengulurkan tangan dengan hati-hati, lalu mengusap punggung tangan yang melingkari pinggangnya dan berkata dengan nada membujuk, “Jangan menangis lagi, ya ... aku akan secepatnya kembali untuk menjemputmu. Apa pun yang terjadi, aku akan kembali untukmu.”


Pria itu ingin memutar tubuhnya dan melihat wajah Keiko yang sedang mendekapnya dari belakang, tapi gadis itu mengunci tubuh Andrew dan tidak mengizinkannya untuk berputar.


“Kamu menyuruhku berjanji untuk patuh. Baik, aku berjanji. Tapi kamu juga harus berjanji untuk kembali dengan selamat. Tidak peduli apa pun yang terjadi, kamu harus kembali ....” ujar Keiko dengan suara serak karena menahan emosi yang bercampur dalam dadanya.


Andrew mengurai senyum. Senyum yang sangat lebar dan hangat. Rasa hangat itu mencapai dasar hatinya, lalu kembali meluap keluar melalui binar indah yang terpancar dari matanya.


“Apakah kamu sedang mengkhawatirkanku, Baby?” tanya Andrew pelan, jemarinya mengusap lembut tangan Keiko dengan penuh rasa sayang.


Untuk pertama kalinya, Keiko tidak menolak perlakuan Andrew. Ia justru membenamkan wajahnya semakin dalam ke punggung pria itu dan menghidu aroma tubuhnya yang menenangkan.


“Sedikit,” gumam Keiko pelan. Wajahnya mulai memanas karena rasa malu.


Andrew terkekeh pelan dan kembali bertanya, “Apakah itu berarti kamu ... um, kamu memberikanku kesempatan untuk mendekatimu?”


“Apakah sekarang ini masih kurang dekat?” sahut Keiko dengan kesal karena pria bodoh itu masih tidak mengerti. Menyadari kemungkinan ini adalah pertemuan terakhir mereka membuatnya sadar, waktu terlalu singkat untuk disia-siakan. Apa yang akan terjadi di masa depan, bukankah mereka dapat menghadapinya bersama?


Andrew menghela napas dalam-dalam. Apa yang ia rasakan sekarang benar-benar sangat sulit untuk diungkapkan. Bahagia yang membuncah, juga kelegaan dan sedikit rasa takut. Sekarang setelah Keiko membalas perasaannya, ada lebih banyak kecemasan yang muncul. Ia takut kalau ia tidak berhasil kembali dan menjemput gadis itu seperti yang ia janjikan ....


***


Yeeee, jadiaannn....


*Makan-makaaan**😂😂😂*