
Dari pantulan lampu sorot senjata yang terjatuh di dekat kaki Andrew, muncul bayangan dari balik sosok yang baru saja tumbang ke atas tanah. Bayangan itu maju dengan ragu-ragu, lalu berhenti ketika cahaya menerpa wajahnya yang mungil dan pucat. Sekilas, tangannya yang memegang sebilah pedang terlihat sedikit gemetar.
“Kamu tidak apa-apa?” bisik Keiko seraya menghampiri Andrew dan berdiri di hadapannya. Noda darah yang menetes dari pedang dalam genggamannya terlihat kontras dengan kilat keperakan bagian dan tertimpa cahaya.
“Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih,” jawab Andrew setelah pulih dari rasa terkejutnya. Keiko baru saja menyelamatkannya.
“Sama-sama. Ayo, bangun,” ujar Keiko seraya mengulurkan tangan ke arah Andrew..
Andrew hanya terdiam menatap Keiko. Penampilan Keiko yang seperti itu, tampak sedikit rapuh sekaligus memancarkan aura berbahaya. Ia tidak tahu harus merasa kasihan atau kagum kepada gadis itu.
“Jangan menatapku seperti itu,” sambung gadis itu lagi ketika menyadari Andrew sedang menatapnya dengan mimik wajah yang terlihat rumit.
“Dari mana kamu ... maksudku, gadis lain tidak akan ....” Andrew meraih tangan kekasihnya kekasihnya dan berdiri. “Gadis lain pasti sudah akan menangis ketakutan,” sambung pria itu lagi seraya memungut dua pucuk senjata dari tanah dan mematikan lampu sorotnya.
Keiko memaksakan diri untuk tertawa pelan dan membalas, “Anda lupa, Mr.Roux? Aku putri seorang mafia.”
“Hum ....” Andrew menggumam pelan dan menggandeng tangan Keiko. “Ayo, Putri sang mafia, kita keluar dari tempat ini dan menjadikanmu sebagai gadis biasa. Aku sedikit ngeri melihatmu memegang pedang itu ...,” godanya.
Keiko tertawa gugup. Sejujurnya, tubuhnya sedikit gemetaran. Meski ini bukan pertama kalinya ia membunuh, rasanya tetap sedikit tidak nyaman ketika menyadari bahwa ia baru saja merenggut nyawa seseorang secara paksa.
Andrew seolah paham akan kegelisahan kekasihnya. Ia mengusap punggung tangan Keiko dan berkata, “Jangan salahkah dirimu. Dalam kasus ini, jika kamu tidak membunuh pria tadi, maka kita yang akan mati. Jadi ... terima kasih sudah menyelamatkanku.”
Keiko menggumam pelan dan memaksakan seulas senyum. Andrew benar, kalau ia tidak melakukannya, maka mereka yang akan mati. Mungkin Ryuchi akan menyuruh anak buahnya untuk menyiksa perlahan-lahan sebelum akhirnya membunuh mereka.
“Sisa dua orang lagi. Kamu bisa?” tanya Andrew saat melihat lampu sorot di sisi kiri dan kanan pondok kayu. Sepertinya dua musuh yang tersisa telah kembali ke posisi semula.
“Um. Mari habisi mereka dan keluar dari sini.”
Andrew lalu menuntun tangan Keiko untuk berjalan ke lokasi awal, tempat Hiro masih menunggu sambil bersandar pada batang pohon. Meski tidak terlihat dengan jelas, tapi Keiko bisa merasakan bahwa Hiro sedang kepayahan menahan rasa sakit. Napasnya terdengar sedikit tersengal dan berat.
“Kalian tidak apa-apa?” tanya Hiro ketika melihat Keiko kembali bersama Andrew. Ia menghela napas lega karena gadis itu baik-baik saja. Baru saja ia sudah hendak menyusul ke arah kedua orang itu pergi tadi. Untunglah mereka sudah lebih dulu kembali.
“Jangan khawatir, kami baik-baik saja,” jawab Keiko.
“Aku dan Keiko akan mengurus dua orang itu. Kamu tetap di sini saja, kondisimu tidak memungkinkan,” ucap Andrew sambil maju dan mengintip dari balik pohon.
Hiro tampak ingin membantah, tapi Keiko lebih dulu menyahut, “Diam di sini. Aku akan menjemputmu kalau sudah aman. Jangan cemas, aku akan baik-baik saja.”
Gadis itu langsung menyambar tangan Andrew dan menariknya menjauh sebelum Hiro sempat menahan mereka. Hanya mengandalkan cahaya dari sinar bulan, kedua orang itu melangkah perlahan-lahan, merunduk melewati rumpun perdu dan semak-semak.
“Aku akan maju lebih dulu, kamu berjaga dari belakang. Bisa tidak?” bisik Andrew pelan.
“Um. Baik.”
Krieeet ....
Suara pintu yang terbuka terbawa angin malam, terdengar cukup nyaring di tengah kesunyian malam. Salah satu dari pria bersenjata yang ada di bagian depan pondok kayu melangkah masuk, sedangkan rekannya menunggu di luar. Pria itu mengedarkan pandangan dengan waspada, sesekali menyorotkan lampu penerang di ujung senjata ke pepohonan yang berderet rapi di sekeliling pondok.
Andrew memungut sebuah batu dan melemparkannya ke sisi kanan, menimbulkan suara berderak yang keras ketika menimpa batang pohon.
Pria di depan sana menoleh dengan sigap, kemudian menyoroti sumber suara. Ia tampak mengamati dengan saksama, kemudian perlahan mulai berjalan mendekat.
Andrew berjalan memutar dengan hati-hati, menyamakan langkahnya dengan entakan kaki musuhnya untuk meredam gemerisik yang mungkin timbul akibat perpindahan itu. Setelah sampai di balik belukar yang cukup lebat, ia kembali memungut sebuah batu yang cukup besar dan melemparkannya ketika pria bersenjata itu sedang menoleh ke belakang untuk memanggil temannya.
Terdengar seruan berupa gumamam tidak jelas dari dalam pondok sebagai jawaban. Akhirnya si pria bersenjata melangkah maju sendirian sambil mengumpat. Ia menyoroti semak-semak di sebelah Andrew sehingga terpaksa membuat Andrew tiarap di atas tanah sambil menahan napas.
Setelah cahaya lampu bergerak ke sisi yang berlawanan, Andrew melongok untuk melihat posisi lawannya.
Bagus sekali.
Dengan satu gerakan cepat, Andrew melompat dan menyergap musuhnya dari belakang. Ia menghujam belati ke leher pria itu sekuat tenaga. Namun, sebelum senjata tajam itu bersarang di tempat yang seharusnya, sasarannya sudah lebih dulu berkelit seraya melayangkan sebuah tendangan memutar. Serangan itu mengenai dada Andrew dengan telak, membuatnya mengaduh dan terpental sejauh satu meter. Belati di tangannya ikut terpental entah ke mana.
“Bedebah! Ingin menjebakku? Huh?!” umpat pria bertubuh bongsor itu dengan mata berkilat nyalang. Ia lalu berteriak memanggil rekannya dengan suara kencang.
Dalam sekejap, seorang pria yang bertubuh tak kalah atletis segera menerjang keluar dari pondok. Pria yang memakai topi safari itu mengacungkan senjatanya dengan wajah beringas dan menghantamkan ujungnya ke kepala Andrew.
Andrew berkelit ke samping, meraup tanah dan melemparkannya ke wajah pria itu.
“Bedebah sialan!” raung pria bertopi itu, "Aku akan membunuhmu, Anak Jal*ang!"
Ia mengusap wajahnya dengan panik, tidak mengira Andrew akan melakukan serangan tiba-tiba. Namun, gerakannya itu justru membuat pasir dan butiran debu yang masuk ke dalam matanya menggores selaput matanya. Raungannya semakin keras ketika rasa sakit yang sangat menyengat matanya. Ia mengulurkan tangan dan berjalan tanpa arah, meraba-raba dalam kegelapan dan terus mengumpat tanpa henti.
Sementara pria satunya yang memakai jaket army segera melompat maju dan menodongkan senjatanya ke kepala Andrew. Tidak mau melakukan kesalahan yang sama seperti rekannya, pria itu tidak memberi jarak terlalu jauh dari Andrew. Tangannya memegang gagang senjata dengan kokoh sambil memasang kuda-kuda jika Andrew tiba-tiba menyerang. Di kepalanya, sudah terbayang hadiah yang akan ia dapatkan jika berhasil membawa Andrew ke hadapan bosnya. Ia bisa berlibur dan melakukan apa pun yang ia inginkan. Oh, pasti akan sangat menyenangkan.
“Jangan bergerak, atau isi kepalamu akan berceceran ke mana-mana,” gertak pria itu seraya menyeringai kejam.
***